Bagi dunia luar, Justin Devano Ardiansyah adalah perwujudan dari malaikat maut. Sebagai pemimpin tertinggi The Ardiansyah Syndicate, dia adalah pria berdarah dingin yang menguasai dunia bawah tanah ibu kota dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan darah, pengkhianatan, dan kemewahan yang hampa. Namun, sebuah konspirasi besar dan pengkhianatan anak buahnya membuat Justin terdesak, terluka parah, dan terdampar di sebuah desa terpencil yang jauh dari peradaban kota.
Di sanalah ia merangkak ke sebuah gubuk bambu milik Kimberly seorang gadis desa yatim piatu yang hidup sederhana sebagai penjual jamu tradisional keliling.
Kimberly tidak tahu siapa pria bertato naga yang sekarat di dapurnya. Yang dia tahu, pria itu membutuhkan pertolongan. Dengan ketulusan dan keberanian yang murni, Kimberly merawat sang mafia, menjahit lukanya dengan alat seadanya, dan memberikan ketenangan yang belum pernah Justin rasakan sepanjang hidupnya. Mata polos dan ketulusan Kimberly berhasil mencairkan gunun
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vinna naa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Memijat Sang Penguasa
Setelah melewati hiruk-pikuk pasar tradisional yang penuh drama dengan preman pasar, sore hari di mansion Ardiansyah diselimuti oleh aroma terapi yang menenangkan.
Sesuai janjinya, Kimberly memanfaatkan jahe merah yang mereka beli untuk dibuat menjadi wedang hangat.
Namun, melihat suaminya yang pulang dengan pundak yang tampak kaku setelah membaca tumpukan berkas keuangan di ruang kerja, Kimberly tahu jahe saja tidak akan cukup.
Di dalam kamar tidur utama yang luas, Justin duduk di tepi ranjang king size, kemeja hitamnya sudah ditanggalkan, menyisakan kaos dalam abu-abu tipis yang memperlihatkan lekuk otot punggung dan bahunya yang kokoh, lengkap dengan tato naga yang meliuk artistik.
Di dahinya tertempel selembar saputangan basah untuk meredakan pusing.
Tok, tok.
Kimberly masuk membawa nampan berisi dua cangkir wedang jahe dan sebotol kecil minyak kelapa alami yang sudah dicampur dengan rempah-rempah hangat.
"Diminum dulu, Mas," ucap Kimberly, meletakkan nampan di meja nakas lalu duduk di samping Justin.
Justin membuka matanya perlahan, mengambil cangkir wedang itu dan menyesapnya, rasa hangat dan pedas alami langsung menjalar di tenggorokannya, membuat ketegangan di kepalanya sedikit berkurang.
"Terima kasih, Kim. Pikiranku rasanya mau pecah mengurusi laporan audit dari Kael."
"Makanya, Mas jangan terlalu memaksakan diri. Sini, biar aku bantu kurangi pegalnya. Mas Justin balik badan, coba tengkurap atau membelakangiku," perintah Kimberly sambil membuka tutup botol minyak herbalnya.
Justin menaikkan sebelah alisnya, menatap botol minyak itu dengan pandangan curiga.
"Kau mau melakukan apa?"
"Mau memijatmu, Mas. Di desa, kalau badanku pegal setelah menumbuk jamu seharian, aku selalu minta dipijat. Ini ilmu turunan dari ibuku, dijamin pegalnya hilang. Ayo cepat balik badan," desak Kimberly, menepuk kasur di depannya.
Seorang Justin Devano Ardiansyah tidak pernah membiarkan siapa pun berdiri di belakang punggungnya dalam jarak dekat terutama saat dia sedang tidak memakai pakaian pelindung.
Itu adalah aturan dasar bertahan hidup bagi seorang pemimpin mafia untuk menghindari tusukan dari belakang.
Namun, menatap mata bulat Kimberly yang penuh perhatian yang tulus, aturan baku dunia bawah tanah itu menguap begitu saja.
Justin membalikkan tubuhnya, duduk membelakangi Kimberly, Kimberly menuangkan sedikit minyak hangat ke telapak tangannya, menggosoknya hingga terasa panas, lalu menempelkannya ke pundak lebar Justin.
Begitu telapak tangan kecil Kimberly menyentuh kulitnya, Justin refleks menegangkan seluruh otot tubuhnya, punggungnya mengeras seperti batu karang.
"Mas... santai saja. Jangan tegang begitu, tanganku bisa kram kalau memijat batu," keluh Kimberly, mencoba menekan otot belikat Justin.
"Aku... tidak terbiasa ada orang di belakangku, Kim," jawab Justin jujur, suaranya terdengar sedikit kaku.
"Ini aku, Mas. Istrimu. Bukan musuhmu dari distrik barat," bisik Kimberly lembut di dekat telinga Justin.
Jemarinya mulai memijat dengan teknik khusus gerakan memutar yang konstan, menekan titik-titik saraf di sepanjang tulang belikat yang kaku.
Mendengar suara lembut itu, perlahan-lahan pertahanan tubuh Justin runtuh, otot-ototnya yang tadinya keras mulai mengendur, menikmati kehangatan minyak herbal dan sentuhan ajaib dari tangan istrinya.
Rasa hangat menjalar dari punggungnya, mengusir rasa lelah yang menumpuk selama berminggu-minggu.
"Bagaimana, Mas? Terlalu keras tidak?" tanya Kimberly sambil terus menggerakkan jemarinya naik ke arah leher belakang Justin.
"Tidak... ini sangat pas," gumam Justin, suaranya kini terdengar serak dan sangat rileks, sesuatu yang belum pernah didengar oleh siapa pun di luar kamar ini.
Kepala sang mafia yang biasanya dipenuhi strategi perang kini mendadak kosong, digantikan oleh rasa nyaman yang melumpuhkan.
Saat Kimberly sedang fokus memijat tengkuk Justin, pintu kamar tiba-tiba terbuka sedikit tanpa ketukan yang keras. Itu Marco.
Sebagai tangan kanan, dia memiliki akses darurat jika ada laporan yang sangat mendesak.
"Tuan Besar, ini laporan dari pelabuhan timur mengenai—" Kata-kata Marco terputus di tengah jalan.
Pemandangan di dalam kamar membuat pembunuh berdarah dingin itu terpaku di ambang pintu, bos besarnya yang kejam tengah duduk pasrah dengan wajah sayu menikmati pijatan, sementara sang nyonya besar sedang sibuk menekan-nekan pundaknya dengan tangan yang berlumuran minyak kelapa.
Aroma ruangan yang biasanya berbau cerutu mahal kini berubah total menjadi bau dapur aroma jahe dan minyak urut tradisional.
Justin perlahan membuka matanya, melirik tajam ke arah pintu, tatapan matanya seketika berubah dingin, meskipun tubuhnya masih terlalu lemas untuk bangkit.
"Marco. Kau tidak tahu cara mengetuk pintu?" Marco langsung menegakkan tubuhnya, wajah kakunya mendadak memerah karena salah tingkah.
"M-Mohon maaf, Tuan Besar... Saya tidak tahu kalau Anda sedang... ehem, melakukan perawatan tradisional." Kimberly menoleh sambil tersenyum ramah.
"Eh, Marco. Masuk saja kalau ada urusan penting. Ini Mas Justin cuma sedang dipijat karena badannya kaku semua."
"Tidak, Nyonya Besar. Urusannya bisa menunggu besok pagi. Silakan dilanjutkan," ucap Marco cepat, buru-buru menarik knop pintu dan menutupnya kembali dengan rapat sebelum bosnya sempat melemparkan asbak ke arah kepalanya.
Setelah pintu tertutup, Kimberly kembali tertawa kecil melihat kelakuan tangan kanan suaminya, dia menepuk pundak Justin pelan.
"Sudah selesai, Mas. Bagaimana rasanya? Kepalanya masih pusing?"
Justin membalikkan tubuhnya menghadap Kimberly. Wajahnya kini terlihat jauh lebih segar, lingkaran hitam di bawah matanya seolah memudar.
Dia menatap Kimberly dengan pandangan yang dipenuhi kekaguman yang mendalam, tanpa diduga, Justin meraih pinggang ramping Kimberly, menarik tubuh istrinya hingga jatuh ke dalam pelukannya di atas ranjang.
"Mas Justin! Tanganku masih penuh minyak!" pekik Kimberly terkejut.
Justin tidak memedulikannya, dia mendekap tubuh kecil Kimberly erat-erat, menenggelamkan wajahnya di leher sang istri yang wangi melati bercampur jahe.
"Biarkan saja. Jamu dan pijatanmu ini jauh lebih ampuh daripada obat tidur termahal di kota ini, Kim." Justin mengecup pipi Kimberly yang merona merah dengan kelembutan yang dalam.
"Mulai hari ini, kau resmi jadi dokter pribadi dan penjinak resmiku di rumah ini."
Kimberly tersenyum manis, melingkarkan lengannya yang masih agak licin ke leher suaminya, menikmati detak jantung Justin yang kini berdegup tenang di dadanya.
Di dalam kamar utama itu, di bawah kehangatan rumah tangga mereka yang penuh warna dan sedikit jenaka, sang gadis desa kembali membuktikan bahwa kekuatan terbesar untuk menaklukkan seorang pemangsa bukanlah senjata, melainkan ketulusan kasih sayang seorang istri yang tahu persis cara merawat rumahnya.