NovelToon NovelToon
‎The Return Of The Phoenix And Princess Of The Dawn

‎The Return Of The Phoenix And Princess Of The Dawn

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: MUSTIKA DEWI

‎"Dulu Ku tulis takdirmu untuk menderita, sekarang malah..aku yang harus bertarung nyawa merubah takdir itu." ‎ ‎Ling Xie seorang penulis novel kolosal, tidak sengaja terjebak ke dalam cerita novelnya sendiri. Ia terbangun ke dalam cerita nya sendiri. Ia terkejut mendapati dirinya terbangun dari tidur, dan masuk ke dalam tubuh putri Jin Ling Xie. Seorang protagonis, yang ia ciptakan untuk hidup sengsara, seorang putri yang terbuang, dan di fitnah sebagai wanita murahan, oleh Putri Li Mei Feng seorang putri palsu dari kerajaan Feng Ling. ‎ ‎Di dunia yang kejam ini, ia harus bertahan hidup dengan bantuan Sistem. Misinya sungguh berat dan tidak main-main. Ia harus mengembalikan takdir putri yang terbuang itu, untuk merebut posisi putri mahkota Kerajaan Feng Ling yang asli, dari tangan Li Mei Feng si putri palsu itu. Serta merebut kembali jodoh sejatinya yaitu seorang pangeran Zhong Yang. Dan membersihkan nama baik Ibu kandung nya, Selir Agung Ling Mei Rong dari fitnahan Yan Shi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUSTIKA DEWI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dibalik Cadar Putih

Langit di atas Ibu Kota Kerajaan Feng Ling tampak mendung, seolah-olah awan hitam sengaja berarak menutupi kemegahan istana yang dibangun di atas kebohongan. Di sebuah gang sempit pinggiran kota, rakyat jelata berkumpul di depan sebuah rumah kecil yang tua. Mereka tidak sedang menunggu pembagian gandum, melainkan menunggu sosok yang mereka sebut sebagai "Tabib Cadar Putih"

Di dalam rumah yang kecil itu, Ling Xie berjalan dengan anggun. Jari-jarinya yang lentik menyentuh kening seorang anak kecil yang menggigil hebat karena demam. Meski mengenakan pakaian kain kasar yang pudar, aura ketenangan terpancar dari tubuhnya.

Sial, aku ingat bagian ini, batin Ling Xie sambil menghela napas.

"Ini adalah bab yang ku tulis saat aku sedang patah hati. Aku membuat karakter Putri Ling Xie menderita di tempat paling kumuh sebagai pembuka konflik. Sekarang, aku sendiri yang harus merasakannya."

Ling Xie memejamkan mata. Di bahu belakangnya, tanda lahir Phoenix emas berdenyut hangat di balik kain bajunya sebuah rahasia yang bahkan ia sendiri belum sepenuhnya pahami. Cahaya terang keemasan yang sangat tipis mengalir dari ujung jarinya ke tubuh anak itu. Seketika, napas sang anak menjadi stabil.

"Terima kasih, Tabib Agung! Terima kasih!" sang ibu menangis tersedu sambil bersujud.

"Simpan terima kasihmu untuk Dewa," suara Ling Xie terdengar lembut namun berwibawa dari balik cadarnya.

"Pergilah, beri dia air rebusan akar teratai ini."

Saat Ling Xie melangkah keluar, suasana damai itu pecah oleh derap langkah kaki kuda yang kasar. Sekelompok pengawal istana berbaju zirah emas datang menerjang kerumunan rakyat.

"Minggir, rakyat rendahan! Beri jalan untuk Putri Li Mei Feng!" teriak salah satu pengawal sambil mengayunkan pecut.

Ling Xie berdiri mematung di ujung jalan. Di atas kereta kencana yang megah, duduklah seorang wanita muda dengan pakaian Hanfu sutra merah yang menyilaukan. Itulah Li Mei Feng. Wajahnya cantik, namun bibirnya melengkung penuh kesombongan. Ia sengaja menghentikan keretanya tepat di depan rumah kecil itu, menutup hidungnya dengan kipas sutra seolah udara di sana beracun dan menjijikan.

"Siapa gadis ini?" tanya Li Mei Feng dengan nada meremehkan. "Berani-beraninya dia memakai cadar putih di wilayahku? Hanya wanita dari rumah bordil yang suka bersembunyi di balik kain agar harga jualnya lebih mahal!"

Tawa pelayan-pelayan di belakang Li Mei Feng pecah. Di antara mereka, tampak Jin Lim Jian, Kakak Kedua Ling Xie yang asli. Bukannya membela, Jin Lim Jian justru menatap Ling Xie dengan iba namun terlihat lemah dan tak berdaya.

"Mei Feng, sudahlah... mungkin dia hanya orang miskin yang sedang mencari nafkah," ucap Jin Lim Jian dengan suara lirih.

"Kakak Lim, kau terlalu baik hati," sahut Li Mei Feng dengan kebencian yang mendalam.

"Dengar, wanita murahan! Aku tahu siapa kau. Kau adalah Ling Xie, gadis yang sering menggoda lelaki di kedai arak, bukan? Jangan coba-coba berlagak menjadi tabib suci di sini!"

Li Mei Feng memberi isyarat pada pengawalnya. "Hancurkan tempat ini! Aku tidak ingin ada tempat kotor yang menampung wanita penghibur di kota ini!"

Ling Xie menggenggam erat botol obat di tangannya. Amarah mulai membakar dadanya, dan seiring dengan itu, tanda lahir di bahunya mulai bereaksi panas. Namun, sebelum ia sempat bertindak, seorang pria tampan yang menunggangi kuda hitam melintas di antara mereka.

Pria itu mengenakan zirah naga perak yang berkilau. Sorot matanya setajam pedang, mengunci pandangan Li Mei Feng hingga sang putri palsu itu terdiam seketika.

Itu adalah Pangeran Zhang Yong dari Kerajaan Shen Long.

Zhang Yong tidak menatap Li Mei Feng. Matanya tertuju pada sosok gadis bercadar di ujung jalan. Untuk sesaat, udara seolah berhenti berputar. Zhang Yong bisa merasakan getaran energi yang kuat, sebuah getaran rasa yang hanya bisa dirasakan oleh Naga Emas ketika bertemu dengan Phoenix Emas yang asli.

"Putri Li Mei Feng," suara Zhang Yong terdengar dingin. "Apakah Kerajaan Feng Ling sekarang memiliki hobi menghancurkan tempat pengobatan rakyat?"

Li Mei Feng terkejut. Wajahnya yang semula angkuh mendadak pucat pasi. Ia segera memaksakan senyum manis yang kaku. "Pangeran Zhang Yong, Anda salah paham. Wanita ini bukan tabib, dia hanyalah penipu. Saya hanya ingin melindungi rakyat Feng Ling."

Zhang Yong turun dari kudanya dengan wibawa penuh. "Penipu? Aku baru saja melewati perbatasan Utara, dan rakyat di sana memuja seorang tabib bercadar putih yang menyembuhkan wabah tanpa meminta bayaran. Apakah itu juga penipuan, wahai Putri?"

Li Mei Feng menggigit bibir, lalu menatap Jin Lim Jian dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Kakak Lim Jian, lihatlah... Pangeran Zhang Yong lebih memercayai orang asing daripada aku. Hatiku sangat sakit."

Jin Lim Jian langsung merasa iba. Ia menyeka sudut mata Li Mei Feng, kemudian menatap Zhang Yong.

"Pangeran, adikku hanya mencemaskan ketertiban kota. Gadis bercadar ini... dia memang sering terlihat di kedai-kedai minuman rendah. Dia bukan gadis baik-baik."

Ling Xie akhirnya menengadah. Di balik cadarnya, matanya berkilat tajam bukan karena benci, tapi karena harga diri yang diinjak.

"Pangeran Jin Lim Jian," suara Ling Xie memotong dingin. "Ketulusan seseorang tidak ditentukan oleh di mana dia berdiri, tetapi oleh apa yang ia lakukan dengan tangannya. Jika menolong rakyat yang sedang sekarat dianggap sebagai dosa, maka biarlah aku menjadi pendosa."

Mendengar suara itu, tanda Phoenix di bahu Ling Xie berdenyut panas, merespons kehadiran Zhang Yong yang berdiri hanya beberapa langkah darinya.

"Lancang sekali kau!" bentak Li Mei Feng. "Pengawal, tangkap dia! Bawa dia ke alun-alun untuk dicambuk karena telah menghina martabat istana!"

Para pengawal mulai bergerak, namun sebuah aura naga emas yang sangat kuat mendadak terpancar dari tubuh Zhang Yong, menghentikan langkah mereka.

"Siapa pun yang berani menyentuhnya, harus berhadapan dengan Pedang Naga Emasku," ucap Zhang Yong dingin.

Li Mei Feng gemetar karena malu dan marah.

"Pangeran Zhang Yong! Kau membela seorang wanita seperti ini?"

"Cukup, Li Mei Feng!" Sebuah teguran berat datang dari Jin Ling Jian, Kakak Pertama dari Kerajaan Feng Ling. Ia datang menunggangi kuda perang perkasa dengan zirah tempur yang berderit.

Jin Ling Jian menatap adiknya, Li Mei Feng, dengan tatapan menusuk. "Kau adalah Putri Kerajaan Feng Ling. Tidak pantas berteriak seperti wanita biasa di jalanan. Pulanglah ke istana sekarang!"

"Tapi Kakak Jin.."

"Sekarang!" perintah Jin Ling Jian tanpa bantahan.

Li Mei Feng hanya bisa menghentakkan kakinya dengan kesal dan memerintahkan keretanya untuk pergi. Setelah kereta itu menjauh, Jin Ling Jian beralih menatap Ling Xie. Ia merasakan kerinduan yang aneh pada gadis asing ini, namun ia tetap mempertahankan wajah kaku.

"Nona, jika kau benar-benar seorang tabib, berhati-hatilah. Li Mei Feng memang suka semena-mena."

Ling Xie hanya membungkuk singkat, lalu berbalik pergi tanpa kata. Jin Ling Jian pun pergi meninggalkan lokasi, diikuti oleh Zhang Yong yang sempat memberikan tatapan terakhir yang dalam pada Ling Xie sebelum melanjutkan tugasnya.

1
MUSTIKA DEWI
iya, terima kasih banyak ya.🙏
MUSTIKA DEWI
Maaf, ya. terima kasih banyak sudah koreksi, maklum lah. banyak yg kurang nya🙏
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
kak koreksi lebih sopan panggil ibu suri aja dari pada nyonya 🙏🙏🙏🙏
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
hai kak mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!