NovelToon NovelToon
AKU BUKAN PABRIK ANAK

AKU BUKAN PABRIK ANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mei Sandra

Halo... sekian lama vakum akhirnya aku kembali ke platform kesayangan kita semua. Aku akan kembali aktif sebagai penulis menemani waktu senggang anda semua. Semoga bukuku bisa menjadi teman setia anda semua. Terima kasih.

Luna seorang dokter Onkologi berbakat dinikahi oleh seorang lelaki yang mengaku seorang karyawan di salah satu perusahaan besar bidang Farmasi. Lelaki itu menikahi Luna tanpa banyak tanya latar belakang Luna karena tahu Luna adalah anak yatim-piatu yang besar di panti asuhan. Lelaki itu mengira Luna hanya seorang perawat rumah sakit tanpa menyelidiki pekerjaan Luna sesungguhnya.

Ternyata di balik pernikahan ini tersimpan misteri yang tidak diketahui oleh Luna. Luna mengira suaminya memang seorang karyawan yang memiliki gaji kecil. Secara diam-diam Luna mendukung suaminya dengan memberinya obat hasil penelitiannya. Lalu apa yang didapatkan oleh Luna. Mari kita simak bersama-sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei Sandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harapan Indah

Hari ini Luna gembira sebab suaminya akan pulang. Suaminya telah bertugas selama dua bulan tanpa kabar berita. Dan kini tiba-tiba mengirim kabar kalau dia kan pulang hari ini. Anjas meminta Luna tidak ke mana-mana menunggunya pulang.

Wanita mana tak bahagia bakal jumpa suami yang dia cintai. Luna mencintai Anjas tanpa syarat. Tak sekalipun Luna menuntut ini itu dari Anjas termasuk memaksa Anjas berada di sisinya selalu.

Luna tahu diri tak berani meminta lebih asalkan Anjas bertanggungjawab terhadap dirinya dan buah hati mereka.

Luna sengaja memasak lebih banyak menunggu kehadiran suaminya. Sebelumnya Luna tinggal sendirian tetapi setelah Luna hamil Anjas meminta Luna mencari kawan. Kebetulan dekat rumah ada seorang janda tua hidup sebatang kara. Luna rekrut janda tua itu menemaninya selama Anjas mencari rezeki.

Luna memasak ditemani mbok Yem yang sudah dia anggap seperti ibu sendiri. Mbok selalu ada untuk Luna walau tidak menemani Luna bila malam tiba. Mbok Yem pulang ke rumahnya yang tak jauh dari rumah Luna.

Wajah Luna berseri-seri menunggu kehadiran suami yang sudah dua bulan tak ada kabar. Kepulangan Anjas menjadi kabar terbaik pernah diterima Luna.

Mbok Yem memperhatikan kebahagiaan Luna sambil membayangkan masa muda yang tak jauh beda dengan Luna. Setiap hari menunggu kepulangan suami tapi pada akhirnya dia mendapatkan kekecewaan. Suaminya kembali membawa keluarga baru meminta mbok Yem terima kehadiran madunya.

Mbok Yem tak terima berakhir perceraian. Mbok Yem menjalani hari-hari kelabu tanpa ada teman hidup. Anak juga tak punya sehingga hatinya semakin kelam.

Mbok Yem berharap Luna tak mengalami nasib seperti dirinya. Suami jarang pulang berakhir kepahitan. Mbok Yem kenal Luna sebagai anak baik. Tak banyak menuntut walau sering ditinggal kerja.

Akhirnya Luna berhasil menyelesaikan masakan menyambut suami. Tinggal tunggu Anjas pulang membawa kegembiraan bagi Luna. Tidak ada yang lebih membahagiakan Luna selain kehadiran suaminya. Tidak perlu hadiah apapun asalkan Anjas sering pulang.

Luna akhiri kegiatan di dapur lalu mandi menunggu orang penting dalam hidupnya. Lelaki yang menjadi tiang sandaran bagi Luna. Luna telah mempercayakan seluruh hidupnya kepada Anjas.

Luna baru saja menikmati waktu santai setelah menghabiskan sebagian waktu di dapur. Deringan telepon di meja ruang tamu mengusik ketenangan jiwa Luna.

Secepat kilat Luna menyambar benda pipih di atas meja mengira itu adalah panggilan masuk dari orang yang dia tunggu. Hati Luna berbunga-bunga menerima panggilan yang dia tunggu-tunggu dari tadi.

Kegembiraan Luna sedikit mencair tatkala melihat nama yang tertera di layar ponsel. Bukan dari orang yang dia harapkan namun Luna menerima panggilan itu. Luna menempelkan benda itu di telinga setelah klik bulatan hijau.

"Halo assalamualaikum..."

"Waalaikumsalam Bu Luna... Maaf mengganggu waktu istirahat ibu! Ini ada pasien ibu dari jauh. Dia sangat berharap bisa berjumpa dengan ibu."

"Bukankah sudah kukatakan hari ini aku tidak praktek?"

"Sudah kukatakan Bu tetapi orangnya bersikeras ingin bertemu dengan ibu karena dulu Ibu yang mengoperasi dia."

"Memangnya Dia berasal dari mana?"

"Katanya berasal dari ibukota... Sebelumnya dia adalah pasien ibu yang sudah sembuh. Dia ingin kontrol ulang penyakitnya."

Luna menghela nafas tidak bisa mengabaikan nasib pasiennya. Apalagi orangnya datang dari jauh hanya untuk bertemu dengannya. Luna harus bertanggung jawab sebagai seorang dokter. Luna sudah terpilih menjadi seorang dokter maka dia wajib memikirkan kesehatan setiap pasien.

"Baiklah... Aku akan ke sana." Luna mengalah mengingat orang datang dari jauh hanya untuk check up. Itu tandanya dia menghargai Luna sebagai dokternya. Sebagai balasannya Luna juga harus menjaga perasaan orang itu.

Luna memberi pesan kepada mbok Yem untuk jaga rumah sampai dia kembali. Mengurus seorang pasien tidak akan memakan waktu yang lama. Paling juga setengah jam sudah selesai. Maka itu Luna bergegas berangkat ke tempat prakteknya yang tidak jauh dari rumah. Paling hanya memakan waktu 10 menit.

Luna mengeluarkan motor matic kesayangan yang akan mengantarnya ke tempat kerja. Pagi Luna bertugas di rumah sakit sedangkan di sore hari Luna buka praktek barengan sama dengan dokter lain di salah satu klinik tak jauh dari rumah.

Luna mengurangi kegiatan sejak perutnya semakin menggunung. Usia kehamilan Luna sudah 7 bulan lebih jadi dia harus banyak istirahat agar tubuh tetap fit jelang hari kelahiran. Paling aktivitas kecilan di sekitar Klinik. Luna sudah ajukan cuti bertugas di rumah sakit. Sekarang Luna fokus menjaga kehamilan agar tak ada kendala melahirkan nanti.

Tak butuh waktu lama akhirnya motor matic Luna berhenti di Klinik tempat dia bekerja. Suasana lumayan ramai dipenuhi pasien-pasien yang datang mencari kesembuhan.

Luna ayunkan langkah masuk ke klinik mengharap tak ada pasien lain selain pasien datang dari luar kota. Luna ingin cepat pulang menyambut kehadiran suaminya. Luna tak sangkal kalau dia rindu pada suaminya yang tidak pulang selama dia bulan. Terakhir dia pulang tanpa nginap. Begitu jumpa Luna dia langsung balik ke kota tempat dia bekerja.

Anjas selalu gunakan sibuk di kantor sebagai alasan tidak pulang jenguk Luna. Selama mereka menikah Anjas cuma berkunjung tiga empat kali. Itu hanya satu hari tanpa peduli bagaimana perasaan Luna selalu ditinggal pergi.

Luna berusaha pikir positif tanpa pikir yang aneh-aneh. Luna hanya tahu Anjas sedang berjuang untuk kebahagiaan keluarga kecil mereka. Acuan Luna hanyalah satu panggilan telepon dari Anjas. Hampir setiap hari Anjas mencari kabar tentang kesehatannya. Itu sudah cukup memuaskannya ego Luna sebagai istri terabaikan.

"Bu dokter..." seseorang menyadarkan Luna dari lamunannya.

"Eh Siti...mana pasiennya?" Luna bertanya dengan ramah buang jauh image dokter sombong. Menjadi dokter tidak perlu arogan merasa sudah menjadi manusia paling hebat. Skill itu amanah dari Allah jadi wajib dibagikan kepada orang yang memerlukan bantuan dokter.

"Sudah di ruang praktek Bu dokter..."

"Ada berapa pasien?"

"Cuma satu Bu... Bukankah hari ini ibu tidak terima pasien?" Perawat yang menjadi asisten Luna terkekeh melihat Luna agak linglung. Dia sendiri lupa kalau hari ini tidak terima pasien. Luna sudah duluan kasih tahu jangan terima pasien sebab ada orang paling penting dalam hidupnya akan datang berkunjung.

"Lupa... Maklumlah nutrisi sudah terbagi dua. Sedikit korslet tak apa bukan?" Luna mengelus perutnya yang menggunung. Di situ terdapat dua janin kembar berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Mereka merupakan aset berharga bagi Luna.

"Aku tak sabar mau lihat tampang keponakanku! Ibu akan jalani operasi Caesar bukan? "

"Mungkin begitu... Ayok kita temui pasien kita!" Luna membuka pintu ruang prakteknya. Bau segar minta menyeruak membelai cuping hidung.

Luna selalu jaga kebersihan ruang prakteknya agar pasien tidak terbebani oleh penyakit yang bercokol di tubuh. Bau obat-obatan akan menambah stress pasien. Mereka sudah sakit akan bertambah beban bila disuguhi bau obat-obatan. Luna sengaja ciptakan suasana adem dan fresh agar pasien tenang.

Mata Luna menangkap satu sosok wanita berpenampilan high class duduk di kursi pasien menunggu kehadiran sang penyembuh. Luna lupa-lupa ingat pasien itu karena pasien yang datang berobat sudah capai ratusan orang. Mana mungkin di ingat satu persatu.

"Hai dokter cantik... masih ingat aku?" wanita itu duluan menyapa Luna. Sikapnya luwes dan bersahabat. wanita itu demikian bersemangat seolah-olah dunia ini hanya diwarnai oleh keindahan. Tidak ada kata duka di dalam hidupnya.

Luna berusaha bersikap profesional walaupun sudah melupakan siapa sosok wanita yang pernah jadi pasiennya.

"Mungkin aku butuh sedikit clue untuk ingat setiap pasienku." Luna memutar langkah menuju ke kursinya.

Wanita itu tertawa renyah membuat ruangan jadi semarak. Sungguh seorang wanita periang. Matanya bersinar terang bikin orang terbawa arus kegembiraan.

"Wah kita seperti sedang main teka-teki...aku ini penderita kanker rahim stadium tiga. Dokter yang menangani aku hingga terbebas dari penyakit mematikan itu. Tiga tahun sudah berlalu. Aku ke sini ingin melakukan check up apakah kesehatanku tidak berubah."

Luna terdiam sejenak memutar otak ingat-ingat pasien yang satu ini. Tiga tahun merupakan waktu lumayan panjang untuk mengikis satu memori seseorang. Apalagi pasien Luna silih berganti. Butuh sedikit proses untuk mengingat kembali pasien yang satu ini.

"Aku ingat....kau merelakan rahimmu untuk membersihkan sel-sel kanker di tubuhmu. Apa kabarmu?"

"Seperti yang Bu dokter saksikan...aku sehat dan prima. Aku datang check up untuk memastikan kalau sel kanker tidak pernah kembali."

"Oh gitu ya... silahkan naik ke bed biar kuperiksa." Luna mengambil stetoskop di atas meja untuk mulai laksanakan tugas sebagai dokter.

Wanita itu memandangi perut Luna yang menggunung dengan hati dipenuhi rasa iri. Sampai kapanpun Dia tidak memiliki kesempatan untuk menjadi seorang ibu. Dia sudah kehilangan kesempatan memiliki anak karena rahimnya sudah diangkat gara-gara penyakit kanker.

"Sudah mau melahirkan ya Bu dokter?"

"Masih tujuh bulan..."

"Wah perutnya gede amat...kembar ya?"

"Matamu awas sekali...ini rezeki dari Allah. Kebetulan aku dipercayakan mengandung anak dari suamiku. Bagiku itu Rahmat dari Allah. Tapi kamu jangan kecil hati. Di zaman ini untuk menjadi seorang ibu tidak perlu melahirkan. Di luar sana masih banyak anak-anak membutuhkan pelukan hangat dari orang tua angkat. Kita bisa menjadi orang tua asalkan dibarengi dengan niat yang tulus."

1
arniya
bau bangkai sudah tercium.....
arniya
pembalasan d mulai.....
arniya
firasat......
indy
Siapa yang membuntuti mobil Rendi
indy
biarkan luna menghilang dari pasangan itu
indy
Namany lucu, keluarga Kutilan😄
indy
Jadir kakak...
Mei: Makasih kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!