"Paksu... Calla janji tobat dan bakal jadi istri yang solehot buat Paksu! Asal... jangan taroh Calla di barak militer, Calla enggak mau merangkak dilumpur!"
Demi wasiat Papa, Callanta (21 tahun) terpaksa menikah dengan pria berbaju kumal yang dikira karyawan biasa. Namun pasca-nikah, pria itu membuka jaketnya dan berubah menjadi Komandan Pasukan Khusus berusia 38 tahun yang kaku, galak, dan seumuran pamannya!
Takut dididik fisik di barak karena sifat manjanya, Calla langsung mengeluarkan mode cegil (cewek gila): merayu sang suami dengan janji jadi "Istri Solehot" (Solehah tapi Hot).
Dimulailah perang domestik yang kocak: disiplin militer vs daster mini, tangisan bombay vs bentakan bariton, hingga aksi sang Komandan yang terpaksa lari maraton tengah malam demi menjaga imannya—sementara Calla asyik ronda di pinggir lapangan sambil bawa raket nyamuk listrik!
Mampukah Komandan kaku menjinakkan istri kecilnya? Atau justru ia yang takluk di bawah kuasa raket nyamuk sang Ismut (Istri Imut)?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.1
"Jangan mati dulu, Pa! Calla janji nggak bakal borong tas mewah lagi! Calla janji bakal belajar masak! Pa, bangun, Paaa!"
Suara tangisan melengking itu memecah kesunyian ruang ICU yang didominasi bunyi digit konstan alat pacu jantung. Callanta Brielle Davis, dengan mata sembap dan hidung merah merona, menggenggam erat tangan ringkih ayahnya. Rambut panjangnya berantakan, jauh dari citra gadis sosialita yang biasanya selalu tampil sempurna.
"Ca... Calla..." Harjuno Davis membuka matanya perlahan, suaranya terputus-putus di balik masker oksigen.
"Iya, Pa! Calla di sini. Papa mau apa? Mau buah? Mau Calla panggilin dokter paling mahal se-Indonesia?" Calla mendekatkan telinganya, air matanya menetes ke seprai rumah sakit.
Harjuno menggeleng lemah. Matanya melirik ke arah sudut ruangan yang remang-remang. "Papa... nggak bisa temenin kamu lagi. Kamu... terlalu polos. Gampang ditipu cowok brengsek."
"Nggak, Pa! Calla udah pinter sekarang!" Calla sesenggukan.
"Bohong. Minggu lalu kamu hampir transfer sepuluh juta ke akun giveaway palsu," bisik Harjuno, membuat Calla mendadak tersedak ludahnya sendiri di tengah tangisan. Harjuno menghela napas berat, lalu memberi isyarat dengan jarinya ke arah sudut ruangan. "Al... ke sini."
Seorang pria yang sejak tadi berdiri dalam diam di kegelapan melangkah maju. Calla mendongak, mengerutkan keningnya di balik sisa-sisa air mata. Pria itu memakai topi pet yang ditarik agak rendah, jaket kain usang berwarna hijau tua yang kedodoran, dan celana jin longgar yang warnanya sudah memudar. Wajahnya tertutup masker kain hitam, hanya menyisakan sorot mata yang tajam dan dingin.
"Dia... Alaric," ucap Harjuno parau. "Anak sahabat lama Papa. Orang biasa... kerja swasta biasa. Tapi dia jujur, bisa jagain kamu."
Calla melongo, menatap pria kumal di depannya dari atas sampai bawah. "Hah? Tapi Pa—"
"Nikah sama dia... sekarang. Ini... permintaan terakhir Papa, Calla. Biar Papa tenang." Harjuno mencengkeram tangan Calla, napasnya mulai memburu, membuat layar monitor di sampingnya berbunyi semakin cepat.
"Pa! Papa jangan sesak napas gitu, Calla takut! Iya, iya, Calla mau! Calla nikah sama siapa aja asal Papa jangan pergi!" jerit Calla panik total.
Pria berjaket usang itu—Alaric—menatap Harjuno, lalu beralih ke Calla yang sudah menangis bombay. Ia menghela napas panjang di balik maskernya, lalu berbalik ke arah pintu. "Pak Penghulu, silakan masuk. Saksi dan wali hakim sudah siap."
Calla bahkan tidak sempat berpikir jernih. Otak manjanya mendadak macet. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, seorang penghulu darurat dari pihak rumah sakit sudah berdiri di samping ranjang.
"Saya terima nikah dan kawinnya Callanta Brielle Davis binti Harjuno Davis dengan mas kawin tersebut, tunai."
Suara Alaric terdengar sangat berat, dalam, dan bergema pelan di dalam ruangan. Ada penekanan yang begitu tegas, membuat bulu kuduk Calla meremang seketika. Pria ini... suaranya kok mirip om-om di film aksi?
"Sah?"
"Sah."
Tepat setelah kata "sah" diucapkan oleh para saksi, bunyi panjang yang memilukan terdengar dari layar monitor. Garis hijau di layar itu berubah menjadi lurus sempurna.
BEEEEEEEP.
"PAPAAAAAAA!" Jeritan Calla pecah, meruntuhkan seluruh pertahanannya saat ia ambruk di atas dada sang ayah yang sudah tidak berdenyut lagi.
Tiga jam setelah prosesi pemakaman yang melelahkan dan sepi, kembali kerumah sakit untuk mengurus berkas kematian sang Ayah. Calla berdiri di lobi rumah sakit dengan tas ransel kecil di punggungnya. Semua aset ayahnya sudah dibekukan untuk pengurusan warisan, dan Calla benar-benar tidak tahu harus melangkah ke mana. Ibunya sudah tiada sejak ia kecil.
Sebuah mobil SUV hitam besar berhenti tepat di depannya. Kaca mobil turun, menampilkan sosok Alaric yang masih memakai topi pet dan jaket usang yang sama.
"Masuk," ujar Alaric singkat. Kedengarannya bukan ajakan, melainkan perintah yang tidak bisa dibantah.
Calla mengerucutkan bibirnya, membuka pintu mobil dengan kasar lalu duduk di kursi penumpang sambil memeluk tasnya erat-erat. Sepanjang jalan, keheningan menyelimuti mereka. Calla sibuk menghapus air matanya yang sesekali masih menetes, sementara Alaric fokus menyetir dengan pandangan lurus ke depan.
"Kita... mau ke mana? Rumah kontrakan kamu?" tanya Calla lirih, memecah kesunyian. "Nggak apa-apa deh kalau kecil, asal nggak ada kecoanya. Calla phobia kecoa."
Alaric tidak menjawab. Ia hanya memutar setir, membawa mobil keluar dari jalur kota besar.
"Kamu denger aku ngomong nggak, sih? Oh iya, aku harus panggil kamu apa? Mas? Abang? Kamu umur berapa?" Calla mulai cerewet karena merasa diabaikan.
"Alaric. Panggil nama saja," jawab pria itu dingin.
"Nggak sopan tahu! Keliatannya kamu jauh lebih tua dari aku. Kerutan di deket mata kamu itu udah keliatan walau pake masker," gerutu Calla.
Mobil tiba-tiba melambat. Calla melihat ke luar jendela dan matanya langsung membelalak. Di depan mereka bukan kompleks perumahan atau deretan kontrakan kumuh, melainkan sebuah gerbang besi raksasa yang dijaga oleh dua orang pria berbadan tegap, berseragam loreng lengkap, dan menyandang senapan panjang di dada mereka.
"Lho, lho! Ini di mana?! Kok banyak tentara?!" Calla langsung panik, menggeser duduknya menjauh dari pintu.
Begitu mobil Alaric mendekat, kedua tentara itu mendadak berdiri tegak, meletakkan tangan di pelipis mereka, dan memberikan hormat dengan gerakan patah-patah yang sangat kompak.
"Selamat siang, Komandan!" seru salah satu penjaga dengan suara lantang.
Gerbang besi terbuka otomatis. Mobil SUV hitam itu melaju masuk ke dalam area pangkalan yang sangat luas. Di lapangan dalam, Calla bisa melihat belasan pria berbadan kekar tanpa baju sedang merangkak di dalam lumpur, sementara seorang pria lain berteriak-teriak memakai pengeras suara.
Seketika, sebuah ingatan dari fyp TikTok melesat di otak Calla. Sebuah berita viral: 'Anak Manja dan Susah Diatur Akan Dikirim ke Barak Militer untuk Dididik Fisik dan Mental Hingga Tobat.'
Wajah Calla langsung pucat pasi. Air matanya yang tadi sudah surut, kini mendadak mengucur deras seperti keran rusak.
"Hwaaa! Ampun! Nggak mau!" Calla langsung merosot dari kursinya, berlutut di lantai mobil dan memeluk paha kiri Alaric yang sedang menginjak pedal gas.
"Calla, apa yang kamu lakukan? Lepas! Ini berbahaya saat menyetir!" Alaric tersentak, berusaha menjaga keseimbangan mobil hingga akhirnya mengerem mendadak di depan sebuah rumah dinas yang bercat hijau rumput.
"Nggak mau! Hikss... Papa tega banget! Jadi Papa nikahin aku sama kamu biar aku dibuang ke sini?!" Calla makin histeris, menatap Alaric dengan mata kucingnya yang basah kuyup. "Calla tahu Calla nakal! Calla manja! Suka habisin duit Papa! Tapi jangan taruh Calla di barak, Mas Kumal! Calla nggak mau disuruh merangkak di lumpur kayak mereka!" Calla menunjuk ke arah lapangan dengan jari gemetar.
Alaric menghela napas berat, suara embusan napasnya terdengar sangat frustrasi. Pria itu mematikan mesin mobil, lalu perlahan membuka topi pet-nya. Masker kain hitamnya diturunkan ke dagu.
Calla tertegun sebentar. Di balik pakaian usangnya, pria ini ternyata punya wajah yang luar biasa tampan—rahang tegas, hidung mancung sempurna, dan tatapan mata elang yang sangat tajam. Tapi tetap saja, garis-garis tegas di wajahnya menunjukkan kematangan pria usia akhir tiga puluhan. Dia seumuran dengan paman-paman Calla yang suka main golf!
Alaric kemudian membuka resleting jaket usangnya, lalu melepar jaket itu ke kursi belakang. Di balik jaket usang itu, melekat kemeja dinas militer berwarna hijau tua yang melekat ketat di tubuh kekarnya, lengkap dengan papan nama bordir bertuliskan ALARIC VANCE dan tanda bintang berkilau di kerahnya.
"Siapa yang mau membuang kamu ke barak? Ini pangkalan tempat saya bekerja," ujar Alaric, suaranya kini terdengar dua kali lipat lebih berat dan menggelegar dari biasanya. Suara khas komandan yang biasa memberi perintah di medan perang.
Calla menelan ludahnya susah payah. Tubuhnya gemetar melihat seragam itu. "T-tapi... kata Papa kamu karyawan swasta biasa baju kumal..."
"Papa kamu yang menyuruh saya memakai jaket itu agar kamu tidak kabur saat di rumah sakit," jawab Alaric datar. Ia menatap Calla yang masih bersimpuh di lantai mobil sambil memeluk kakinya. "Sekarang berdiri. Kembali ke kursimu."
Melihat suaminya yang berwajah sangar dan kaku itu hanya menatapnya datar, otak cegil Calla langsung berputar mencari cara untuk bertahan hidup. Ia tidak boleh berakhir di lumpur pangkalan ini! Calla mendongak, menatap Alaric lekat-lekat dengan tatapan memohon yang sengaja dibuat se-seksi mungkin, meski hidungnya merah dan air matanya masih mengalir.
"Paksu..." Calla memanggil dengan nada manja yang bergetar.
Alaric mengernyitkan alis tebalnya. "Pak-apa?"
"Paksu! Pak Suami!" seru Calla tanpa malu, mengusap air matanya dengan lengan bajunya sendiri. "Paksu, Calla janji deh mulai hari ini Calla bakal tobat. Calla bakal jadi istri yang solehot buat Paksu!"
Alaric langsung tersedak ludahnya sendiri. "Apa? So-apa?"
"Solehot! Solehah tapi hot!" Calla menegaskan dengan wajah super serius. "Calla janji bakal nurut, bakal belajar salat yang bener, dan... dan Calla bakal pakai baju dinas malam yang seksi buat Paksu setiap hari! Asal... asal Paksu jangan kurung Calla di barak! Calla manja, Paksu, nggak bisa kena angin malam, nanti Calla masuk angin hwaaa!" Calla kembali menangis sesenggukan, menyembunyikan wajahnya di lutut Alaric.
Alaric Vance, Komandan Pasukan Khusus yang ditakuti ratusan prajurit dan pernah melumpuhkan puluhan pemberontak tanpa berkedip, seketika membeku di tempat.
Matanya melebar, menatap puncak kepala istri kecilnya yang ajaib ini. Perlahan, warna merah merambat naik dari leher hingga ke ujung telinga sang komandan galak, menahan rasa malu, syok, sekaligus pening yang luar biasa akibat imajinasi liar dari gadis berusia 21 tahun di bawahnya.
"Calla," panggil Alaric, suaranya mendadak serak karena menahan gejolak aneh di dadanya.
"Nggak mau denger! Pokoknya janji dulu jangan taruh Calla di lumpur!" sahut Calla dari bawah sana.
Alaric memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Ia tahu mendiang sahabat ayahnya menitipkan seorang putri, tapi ia tidak pernah menyangka bahwa yang dititipkan kepadanya adalah sebuah bom waktu berwujud gadis cegil yang manja.
"Duduk di kursimu sekarang, atau saya benar-benar akan menyuruhmu push-up tiga puluh kali di lapangan," ancam Alaric dengan nada dingin militer yang dipaksakan.
Mendengar kata push-up, Calla langsung bergerak secepat kilat. Ia langsung melompat kembali ke kursi penumpang, duduk tegak dengan tangan bersedekap, dan bibir yang dikerucutkan sepanjang lima senti.
"Dasar om-om kaku galak," gumam Calla pelan sekali, hampir seperti bisikan.
Alaric mengabaikan gumaman itu, walau telinganya yang tajam bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Ia membuka pintu mobil, lalu menoleh sedikit ke arah Calla.
"Turun. Selamat datang di rumah dinas saya, Istri Solehot."
Calla langsung melotot menatap punggung tegap suaminya yang berjalan turun duluan. Habislah sudah masa-masa indahnya sebagai tuan putri sosialita. Kini, hidupnya berada di bawah komando penuh pria kaku berusia 38 tahun ini.
resepsi tinggal menghituung hariii detik demi detiik ,,
aseeek aseeek ,, 💃💃💃💃💃
pak komandan udh mulai mencair niiih 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
pengaman tingkat tinggi pak su ,,
jgn lupa kolam air di isi penuhh ,,
sypa tau nnti mlm mau jdi pangeran duyung lgii🤭🤭🤭🤣🤣🤣
kak mksiih buat up ny ,,
sehat selalu
sabar yx pak suu ,,
meski menghadapi calla tu membuat kesabaran setipis tissue 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Perbedaan usia, kepribadian yang bertolak belakang, serta tingkah kocak sang istri menciptakan banyak momen lucu, menggemaskan, sekaligus romantis. Di balik segala kekacauan yang dibuat istrinya, sang komandan perlahan menunjukkan sisi lembut dan posesif yang hanya ia tunjukkan untuk wanita yang dicintainya.
Cocok untuk pembaca yang menyukai romcom penuh tawa, kemesraan pasangan suami istri, dan kisah cinta yang hangat tanpa terlalu banyak drama berat. Selamat membaca dan semoga terhibur!" 💕✨