Veyra Aletha, ia tidak pernah berniat mencintai siapapun selain suaminya. Baginya, Alvero Halim Winata adalah rumah pertama, lelaki yang ia pilih untuk membangun keluarga kecil mereka bersama putra semata wayang mereka, Renzio Althar Halim.
Kehidupan pernikahan tidak selalu berjalan seperti yang dibayangkan. Di tengah kesibukan Alvero yang semakin tenggelem dalam pekerjaan, hadir Regan Han Sebastian, sahabat sekaligus rekan kerja suaminya yang selalu punya waktu untuk hadir saat Veyra merasa sendiri.
Menemani Renzio bermain. Mengantar Veyra saat Alvero sibuk. Datang membawa makanan. Dan perlahan mengisi ruang kosong yang tidak pernah Veyra sadari sebelumnya.
Hingga suatu hari, kecelakaan mengubah segalanya. Veyra dinyatakan hilang di lokasi kejadian.
Saat semua orang percaya Veyra telah hilang, Regan justru membawanya pergi ke Singapura. Menyimpan rahasia besar yang perlahan mengaburkan batas anatara cinta, rasa bersalah, dan obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 01: Kabur Saat Meeting
Lampu-lampu restoran malam itu memantul di halaman. Angin lembut membawa hawa dingin yang menusuk kulit.
Veyra melangkah masuk sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena angin malam Jakarta.
"Mas Al belum selesai kayaknya," ucapnya pelan.
Tangannya mendorong pintu restoran, suara piano langsung menyambutnya pelan. Matanya menyapu sekitar, mencari kursi kosong.
Laki-laki yang sedang ia cari sekarang masih berada di ruang VIP bersama beberapa klient asing dengan setumpuk dokumen dan laptop di atas meja.
Veyra menghela napas kecil. "Belum selesai rupanya."
Saat Veyra hendak mengirim pesan untuk suaminya, seseorang tiba-tiba menarik kursi di depannya.
"Kalau langsung manyun kayak gitu, nanti orang mikir kamu lagi galau."
Veyra langsung menoleh. Regan. Lelaki itu duduk di depannya dengan senyum khas yang selalu lebar.
"Kamu ngaggetin." Veyra tersenyum tipis.
"Bagus. Berarti aku punya bakat jadi hantu."
Veyra terkekeh. Regan memang seperti itu, selalu ceria dan mudah akrab. Bahkan hampir semua karyawan di perusahaannya dekat dengan dia.
Entah kenapa, rasa canggung itu seolah tidak pernah ada saat bersama Regan.
"Alvero masih belum selesai?" tanya Veyra sambil melirik ke ruang VIP.
Regan ikut melihat ke arah yang sama, lalu mengangguk. "Kayaknya masih lama."
"Ya udah deh... aku tunggu aja."
"Yakin?" Regan meyakinkan perempuan di depannya. "Masih lama lho, nggak mau pulang aja?"
Veyra menggeleng. "Nggak, terlanjur di sini juga."
"Kalau mau pulang, biar aku antar." Tawar Regan sambil menatapnya lama.
Veyra kembali menggeleng. Sementara Regan hanya mengangguk.
Cukup lama mereka hanya diam. Regan memperhatikan wajah bosan Veyra beberapa detik sebelum akhirnya menjentikkan jarinya pelan.
"Daripada bengong, keliling mau?"
"Hah?" Veyra mengernyit.
"Ada taman di belakang restoran. Lumayan buat bunuh bosan." Regan menaik-turunkan alisnya beberapa kali.
Veyra ragu sesaat.
Namun sebelum ia menjawab, Regan sudah bangun lebih dulu sambil merapikan kemejanya.
"Ayo. Daripada nanti pingsan nunggu Pak Direktur tercinta."
Veyra mendengus tapi juga tertawa kecil. Akhirnya, Veyra ikut bangun. Mengikuti langkah Regan yang sudah berjalan lebih dulu.
Lampu-lampu gantung kecil menghiasi jalan setapak di sekitar air mancur belakang restoran.
Sekarang Regan berjalan santai di sisi Veyra, sambil menceritakan hal random yang bahkan tidak penting.
"Vey, kamu tahu nggak, Alvero pernah ketiduran waktu meeting," celetuk Regan lagi.
"Terus?" tanya Veyra sambil menoleh.
"Gak aku bangunin. Tapi... aku juga ikut tidur..."
"Serius? Sumpah ya, gak guna banget," potong Veyra cepat, lalu ia ketawa sedikit kencang.
Tatapan Regan jatuh lama ke wajah Veyra yang kini penuh tawa, padahal tadi hanya ditekuk yang membuat bibirnya manyun.
Ada rasa hangat menyelinap ke dada Regan. Dia merasa berhasil menghilangkan rasa bosan pada Veyra. Tatapannya semakin dalam, semakin lembut.
Veyra membalas tatapan Regan sebentar. "Kenapa kamu ikutan tidur juga?"
"Yaa... biar suamimu gak ditegur sendirian. Gimana?"
"Gimana apanya?"
"Baik, kan aku?"
Veyra terkekeh. "Nggak," jawabnya cepat.
Regan tertawa kecil, lalu ia memasukan tangannya ke kolam kecil yang ada di sana. Dan dengan sengaja, airnya dicipratkan ke arah Veyra.
"Regan!" Veyra berteriak kecil.
Bukannya berhenti, Regan justru semakin menjadi. "Rasain!"
"Regan awas, ya. Aku balas." kini Veyra ikut memainkan air kolam dari air mancur.
Regan menghindar dengan cepat, tapi Veyra mengejarnya.
"Ampun!" Teriak Regan dramatis.
Veyra akhirnya berhenti, tawanya lepas saat melihat Regan berlari menjauh darinya.
Dari kejauhan, langkah Alvero seketika melambat, ada senyum kecil yang tiba-tiba muncul di wajahnya saat melihat tingkah istri dan rekannnya.
Alvero tidak merasa cemburu, karena ia tahu Regan bersikap seperti itu bukan pada Veyra saja. Jadi Alvero tidak memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Vey," panggilnya.
Veyra langsung menoleh, senyumnya semakin lebar. Ia berlari kecil menghampiri Alvero.
"Mas, udahan meetingnya?" tanya Veyra dengan binar bahagia di matanya.
Alvero mengangguk, tangannya melingkar ke pinggang Veyra. Lalu, mencium lembut pucuk kepala istrinya.
"Dari tadi nunggu?" tanya Alvero.
"Iya, tadi sempat bosen. Untung ada Regan." Veyra menjawab dengan nada sedikit merengek.
"Mas kan udah bilang, kamu nggak perlu nyusul ke sini. Kasihan Renzio ditinggalin."
"Aku udah ajak, tapi dia mau main sama Omanya." Veyra sedikit mendongak, menatap wajah suaminya.
Alvero menggenggam tangan Veyra, mereka mendekati Regan yang masih berdiri di dekat air mancur.
Sisa tawa masih ada di wajahnya, rambut berantakan dan sedikit basah karena cipratan air.
"Udah beres kan?" tanya Regan santai, seolah kerjaan barusan tidak ada sangkutan dengan dirinya.
Alvero mendengus. "Ini harusnya tugas kamu, Regan."
Regan hanya tertawa kecil. Meeting malam ini sebenarnya tugas Regan. Dia meminta Alvero untuk menenmani, namun saat pertengahan meeting, Regan pergi dengan alasan mengambil barang di mobil.
Regan Han Sebastian. Anak tunggal dari Raymond Han Sebastian, pengusaha asal Singapura yang memiliki beberapa perusahaan di Indonesia. Dan paling mencolok adalah perusahaan Reimore Group.
Perusahaan itu berkembang pesat yang menaungi hotel berbintang, kawasan properti elite, serta investasi internasional yang tersebar di berbagai negara.
Karena itulah, Raymond mempercayakan posisi Direktur Operasional kepada Ardion Halim, orang yang dianggapnya lebih dari sekedar rekan bisnis.
Sementara Alvero Halim Winata, putra Ardion, memegang jabatan Direktur Keuangan.
"Aku kesini cuma untuk belajar dari kamu, kenapa harus ikut meeting." Ucapnya dengan ekspresi santai.
"Justru itu, kamu harus..."
Regan menaruh jari telunjuk di bibir Alvero. "Diem! Aku malas jika harus meeting, Alvero. Itu sangat membosankan."
Alvero menepis tangan Regan. Ia mendecak.
Regan tersenyum miring. "Emangnya... kamu mau jabatannya beralih ke aku?"
"Alihkan saja kalau Tuan Raymond setuju," jawab Alvero sambil pergi.
"Al, istrimu ketinggalan!" Teriak Regan. Lalu, ia meraih tangan Veyra dan menariknya pergi dari sana.
Alvero berbalik. "Regan, lepas!" teriaknya.
"Jangan banyak tingkah, aku harus cepet pulang. Kasihan anakku pasti nunggu." Omel Veyra, sambil membuka paksa tangannya dari genggaman Regan.
Regan akhirnya melepaskan tangan Veyra. Dia nyengir lebar, lalu dadah-dadah dengan ekspresi jahil.
Veyra mendelik geli, tapi juga tertawa. "Kalau bukan Regan, males aku ketemu lagi." Katanya.
"Hm," balas Alvero cepat.
Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam mobil. Mesin mobil meraung halus, meninggalkan halaman restoran yang perlahan mulai ramai.
Sementara Regan kembali masuk ke restoran, memesan beberapa makanan dan minuman.
"Rencananya kabur dari meeting tuh mau makan. Malah ketemu Veyra yang lagi bosen," gumamnya sambil mengunyah.
Regan menyendok makanan dengan pura-pura gemetar, lalu merekamnya hanya untuk dikirim kepada Raymond.
'Dadyyy, aku meeting sampai kelaperan.'
Regan tertawa sendiri, lalu kembali makan dengan santai. Tanpa memikirkan beban apapun, apalagi beban perusahaan yang ditanggung, Ardion.
Raymond sengaja mengirim Regan ke Indonesia, bukan tanpa alasan. Raymond rasa, kalau Regan belajar dari Alvero dia tidak akan sungkan. Karena Alvero seumuran dengannya.
Tapi semua ini malah membuat Alvero kewalahan, Regan kadang terlalu banyak bercanda untuk orang-orang perusahaan yang selalu serius.
masih banyak cewek cantik kok. 🤣
normal ya Reg, punya pacar makanya🤣
ngalahin anaknya Al, ih kamu Reg.. 😩🤦🏻♀️🤦🏻♀️
apa Alvaro siap di binor sama Regan