Keiko selalu menganggap legenda hanyalah cerita pengantar tidur.
Saat pulang ke desa terpencil tempat neneknya dimakamkan, ibunya memaksa ia membawa sebuah jimat pelindung dan memperingatkannya agar tidak mengucapkan sembarang permohonan selama Festival Dewa Kucing.
Bagi Keiko, semua itu terdengar konyol.
Di tengah festival yang dipenuhi lampion, topeng kucing, dan kisah-kisah tentang Bakeneko, ia hanya tertawa.
"Aku bahkan bersedia menikah dengan Bakeneko kalau memang mereka benar-benar ada."
Ia tak pernah menyangka, candaan itu didengar oleh sesuatu yang telah menunggu selama ratusan tahun.
Sejak hari itu, batas antara mitos dan kenyataan mulai menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan Menuju Kuil
Keiko membuka mata saat cahaya matahari mulai menyelinap melalui celah jendela. Beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar, berusaha mengingat alasan mengapa semalam ia sulit tidur.
Dentang lonceng.
Suara itu masih terngiang jelas di telinganya.
Ia melirik jam di meja kecil. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
"Benar-benar cuma mimpi..."
gumamnya pelan sambil bangkit dari tempat tidur.
Begitu keluar kamar, suasana rumah kembali sunyi. Tidak ada suara ibunya yang sedang memasak atau mengingatkannya sarapan. Untuk sesaat, Keiko merasa sedikit canggung tinggal sendirian di rumah peninggalan neneknya.
Ia menyiapkan sarapan sederhana berupa roti dan secangkir kopi instan. Sambil makan, pikirannya kembali tertuju pada jimat yang hilang.
Kalau pulang tanpa jimat itu, ibunya pasti tidak akan berhenti mengomel.
"Aku harus menemukannya hari ini."
Setelah membereskan meja, Keiko mengenakan sepatu olahraga, memasukkan sebotol air minum ke dalam tas kecil, lalu keluar rumah.
Udara pagi di Tsukimori terasa jauh lebih segar dibanding hari sebelumnya. Embun masih menempel di dedaunan, sementara beberapa warga sudah mulai menyapu halaman rumah mereka.
Keiko berhenti di depan sebuah toko kelontong kecil yang baru saja membuka pintunya. Aroma roti yang baru matang bercampur wangi teh hijau memenuhi udara pagi. Seorang perempuan paruh baya tampak sibuk menata minuman di rak luar toko. Begitu melihat Keiko, perempuan itu langsung tersenyum ramah.
"Selamat pagi Bibi," sapa Keiko sambil sedikit membungkukkan badan.
"Selamat pagi," balas perempuan itu. "Kau cucunya Haruka, bukan?"
Keiko tampak terkejut. Ia tidak menyangka masih ada warga yang mengingat keluarganya. "Iya. Saya Keiko."
"Wajahmu tidak banyak berubah sejak kecil," ujar perempuan itu sambil terkekeh pelan. "Dulu kau sering bersembunyi di belakang nenekmu setiap kali dia mengaJakku mengobrol."
Keiko ikut tersenyum. Ia sendiri hampir tidak mengingat kejadian itu. "Sudah lama sekali saya tidak ke sini."
"Desa ini memang tidak banyak berubah. Hanya orang-orangnya yang semakin tua."
Suasana hening sejenak sebelum Keiko teringat tujuan sebenarnya. "Maaf, sebenarnya saya ingin bertanya sesuatu."
Perempuan itu menghentikan pekerjaannya lalu menoleh.
"Ada yang bisa kubantu nak?"
"Saya kehilangan sebuah jimat kecil berwarna merah. Ibu memberikannya sebelum saya berangkat ke Tsukimori."
"Di mana kau terakhir kali melihatnya?"
"Sebelum festival dimulai. Setelah itu saya baru sadar benda itu hilang."
Perempuan itu mengangguk pelan sambil mencoba mengingat sesuatu. "Kalau begitu... mungkin ini hanya kebetulan."
"Maksud Bibi?" Dahi gadis itu berlipat
"Pagi tadi ada seorang pencari kayu mampir membeli minuman. Ia bercerita melihat benda kecil berwarna merah tergantung di ranting pohon sakura dekat jalur menuju Kuil Dewa Kucing."
Keiko langsung mengernyit. "Jalur menuju kuil?"
"Iya."
Keiko menggeleng pelan. tangannya ikut tidak setuju
"Itu tidak mungkin Bibi."
Perempuan itu tampak bingung. "Kenapa?"
"Saya sama sekali tidak ke arah gunung semalam." Keiko mencoba mengingat kembali seluruh kegiatannya di festival. "Saya hanya berkeliling di sekitar panggung pertunjukan, lalu pulang. Jalur menuju kuil letaknya cukup jauh dari sana."
Perempuan itu ikut terdiam. Kerutan tipis muncul di dahinya, seolah baru menyadari kejanggalan itu.
"Kalau begitu..." gumamnya lirih, "...bagaimana benda itu bisa berada di sana?"
Keiko mengangkat bahu. "Itu juga yang membuat saya heran."
Perempuan itu tidak langsung menjawab. Pandangannya beralih ke arah pegunungan yang menjulang di belakang desa. Setelah beberapa saat, ia berkata pelan, "Entah benda itu milikmu atau bukan. Pencari kayu itu hanya melihat sesuatu yang berwarna merah dari kejauhan. Ia tidak sempat mendekat."
Keiko mengikuti arah pandangnya.
"Kalau memang bukan milik saya, paling tidak rasa penasaran saya akan hilang."
Perempuan itu tersenyum tipis "Kau memang mirip nenekmu." sambungnya mengingat masa lalu "Dulu beliau juga selalu mencari jawabannya sendiri sebelum mempercayai perkataan orang lain."
Keiko terkekeh pelan.
"Sepertinya sifat itu memang menurun."
Perempuan itu mengangguk kecil, lalu mengambil sebotol air mineral dari lemari pendingin dan menyerahkannya kepada Keiko.
"Kalau kau benar-benar berniat naik ke kuil, bawalah ini. Jalannya lumayan jauh."
Keiko menerimanya sambil mengeluarkan dompet. Namun tangan wanita itu langsung menurunkan dompet yang dipegang gadis itu "Simpan uang mu, Anggap saja oleh-oleh untuk cucu Nona Haruka."
"Saya jadi tidak enak Bi."
"Kalau begitu, lain kali mampirlah lagi ke sini."
Keiko akhirnya mengangguk sambil tersenyum. Setelah mengucapkan terima kasih, ia melangkah keluar dari toko. Sesaat kemudian ia berhenti dan kembali menatap puncak gunung yang berdiri megah di kejauhan.
Sebenarnya ia masih sulit percaya bahwa benda yang dicari bisa berpindah sejauh itu tanpa alasan. Namun semakin dipikirkan, semakin besar pula rasa penasarannya.
"Kalau memang bukan jimatku..." gumamnya pelan sambil mengembuskan napas, "...setidaknya aku bisa memastikan sendiri."
Dengan langkah mantap, Keiko pun berjalan menuju jalur pendakian yang mengarah ke Kuil Dewa Kucing.
Keiko menghela napas panjang.
"Mau tidak mau..."
Ia memang tidak pernah suka mendaki. Sejak kecil, setiap kali diajak neneknya ke kuil di atas gunung, ia selalu mencari alasan agar tetap tinggal di rumah.
Kini, justru ia harus naik sendirian.
Jalan menuju kuil dimulai dari sebuah gerbang torii merah yang berdiri di tepi hutan. Di sampingnya terdapat papan kayu tua bertuliskan beberapa peringatan untuk para pengunjung.
Keiko membaca sekilas, lalu melanjutkan langkah.
Anak tangga batu membentang panjang mengikuti lereng gunung. Di kiri dan kanan tumbuh pohon-pohon cedar yang menjulang tinggi hingga menutupi sebagian cahaya matahari.
Semakin jauh ia mendaki, suara kendaraan dan aktivitas desa mulai menghilang.
Yang terdengar hanya desir angin dan kicau burung dari kejauhan.
"Hah..." Keiko berhenti sejenak untuk mengatur napas. "Masih jauh..." Ia menoleh ke belakang.
Desa Tsukimori kini tampak kecil dari ketinggian. Atap-atap rumah kayu terlihat berderet rapi di antara pepohonan, sementara sungai yang membelah desa memantulkan cahaya matahari pagi.
"Kalau bukan karena jimat itu..." Ia menggeleng sambil tersenyum masam. "...aku tidak akan naik sejauh ini." Perjalanan kembali dilanjutkan.
Di sepanjang jalur, beberapa patung kucing batu berdiri berjajar. Sebagian sudah ditumbuhi lumut, membuat ukiran wajahnya nyaris tak terlihat.
Keiko memperhatikan salah satunya. "Lucu juga." Tanpa sadar, ia mengusap kepala patung itu seperti sedang mengelus seekor kucing sungguhan.
Saat tangannya ditarik kembali, embusan angin tiba-tiba berembus melewati pepohonan.
Daun-daun bergesekan pelan Entah mengapa, Keiko merasa seperti sedang diawasi. Ia menoleh ke kanan namun Tidak ada siapa pun. ia kembali menoleh Ke kiri namun Tetap kosong.
"Mungkin cuma perasaanku."
Ia kembali berjalan. Beberapa menit kemudian, langkahnya kembali terhenti.
Di depan sana tumbuh sebatang pohon sakura tua yang berdiri sendirian di tepi jalan setapak. Meski bukan musim berbunga, ranting-rantingnya tetap tampak indah diterpa cahaya matahari.
Ada sesuatu yang bergantung pada salah satu dahannya. sesuatu berwarna Merah. Keiko langsung mengenalinya.
"Itu..."
Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. "Itu jimatku."
Ia mempercepat langkah, lalu berdiri tepat di bawah pohon.
Benar.
Jimat pemberian ibunya tergantung pada ranting yang tidak terlalu tinggi, bergoyang pelan tertiup angin. "Syukurlah..."
Keiko mengembuskan napas lega. Ia berjinjit, mengangkat tangan untuk meraihnya. Ujung jarinya hampir menyentuh kain merah itu.
Namun tepat pada saat yang sama...Seseorang lebih dulu mengambilnya. Keiko spontan menarik tangannya.
Ia mendongak , tepat di belakang nya berdiri seorang pria berkimono hitam. Tubuhnya tinggi dengan rambut keperakan yang bergerak pelan ditiup angin gunung. Di tangan kanannya tergenggam jimat merah milik Keiko.
Yang paling membuat Keiko terpaku adalah sepasang mata pria itu. Keemasan, Jernih Dan entah mengapa... Terasa sangat asing sekaligus begitu akrab.
Keiko mengernyit. Ia yakin tidak mendengar suara langkah kaki siapa pun sejak beberapa menit terakhir.
Lalu...
Sejak kapan pria itu berdiri di sana?
Pria itu hanya menatapnya dalam diam, tanpa menunjukkan niat untuk menyerahkan jimat yang berada di tangannya.
Keheningan di antara mereka terasa begitu panjang.
Hanya suara angin yang sesekali melewati pepohonan, seolah seluruh gunung ikut menahan napas menunggu siapa yang akan lebih dulu berbicara.