NovelToon NovelToon
Ibu Pengganti Untuk Anak Kembar Sang CEO

Ibu Pengganti Untuk Anak Kembar Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Ibu Tiri
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: bbsya

Demi membiayai pengobatan rumah sakit ibunya, Alya terpaksa mengambil keputusan paling nekat dalam hidupnya: menerima tawaran menjadi pengasuh sekaligus "Ibu Pengganti" rahasia. Tugasnya tidak mudah, ia harus menjinakkan Leon dan Lulu, sepasang anak kembar jenius berusia empat tahun yang terkenal super rewel dan selalu berhasil mengusir puluhan pengasuh sebelumnya.
​Namun, sebuah keajaiban terjadi. Di hari pertama mereka bertemu, si kembar langsung memeluk Alya dan memanggilnya "Mama".
​Hal itu membuat Adrian Vasillo, seorang CEO dingin, kejam, dan tidak tersentuh, terkejut setengah mati. Adrian yang selama ini menutup hatinya dari wanita, akhirnya menawarkan kontrak pernikahan demi kebahagiaan anak kembarnya. Alya mengira tugasnya hanya berpura-pura menjadi ibu yang baik di depan si kembar. Namun, ia keliru.
Di balik tatapan dingin Adrian, pria itu mulai menuntut hak-haknya sebagai seorang suami nyata. Di saat perasaan Alya mulai goyah, satu per satu rahasia masa lalu mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bbsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan di Balik Dinding Kaca

Suasana makan malam di kediaman Vasillo terasa seperti berada di dalam ruang hampa udara. Bunyi dentingan garpu dan pisau yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya suara yang mengisi ruangan. Leon dan Lulu duduk berdampingan, sesekali melirik ke arah Alya dan Adrian bergantian dengan mata bulat mereka yang polos. Anak-anak sekecil mereka pun bisa merasakan ada ketegangan yang pekat di antara kedua orang dewasa itu.

"Mama, supnya tidak enak?" tanya Lulu memecah keheningan, jemari kecilnya menyentuh lengan Alya.

Alya tersentak dari lamunannya. Ia memaksakan sebuah senyuman hangat, lalu mengusap rambut Lulu. "Enak kok, Sayang. Mama hanya sedang memikirkan jadwal kontrol kesehatan Nenek besok."

"Nenek yang ada di rumah sakit ya, Ma?" sahut Leon, menyendok nasi gorengnya dengan hati-hati. "Kapan Leon dan Lulu bisa ikut melihat Nenek?"

Alya melirik ke arah Adrian yang duduk di ujung meja. Pria itu tampak tenang memotong daging steaknya, seolah-olah perdebatan hebat mereka sore tadi tidak pernah terjadi.

"Nanti ya, kalau Nenek sudah pindah ke kamar yang lebih bagus," jawab Adrian tiba-tiba, suaranya terdengar bariton dan tenang. Ia meletakkan garpunya, lalu menatap kedua anaknya. "Besok Nenek akan dipindahkan ke kamar baru. Kamarnya besar, ada televisinya, dan dokternya banyak. Setelah itu, baru Leon dan Lulu boleh berkunjung bersama Mama."

Lulu bersorak kecil. "Hore! Lulu mau bawakan gambar bunga untuk Nenek!"

"Leon mau bawakan robot!" timpal sang kakak tidak mau kalah.

Alya hanya bisa terdiam, hatinya terasa diaduk-aduk. Di satu sisi, ia sangat bersyukur karena Adrian menepati janjinya untuk memberikan fasilitas medis terbaik bagi ibunya. Namun di sisi lain, kenyataan bahwa semua kemewahan ini dibeli dengan harga dirinya dan sebuah rahasia besar membuat makanan di mulutnya terasa hambar.

"Bik Sum," panggil Adrian setelah menyelesaikan makannya. "Bawa anak-anak ke atas. Waktunya mereka mandi dan bersiap tidur."

"Baik, Tuan Besar," Bik Sum segera mendekat, menuntun si kembar keluar dari ruang makan.

Begitu pintu ruang makan tertutup rapat, menyisakan mereka berdua, atmosfer hangat yang sempat tercipta langsung menguap tanpa bekas.

Alya meletakkan sendoknya dengan pelan. "Terima kasih untuk fasilitas rumah sakit ibu saya."

"Aku hanya menjalankan bagianku dari kontrak yang sudah kamu tanda tangani," sahut Adrian dingin, menyeka bibirnya dengan serbet kain. "Aku tidak pernah ingkar janji, Alya."

"Termasuk janji untuk menghancurkan hidup orang lain?" tanya Alya dengan nada menyindir yang halus namun tajam. "Malik sudah memberi tahu saya apa yang kamu lakukan pada Kevin."

Adrian tidak terkejut. Ia bersandar pada kursinya, menatap Alya dengan sepasang mata elang yang tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun. "Dia melanggar batas privasiku. Di dunia bisnis, membiarkan orang seperti dia berkeliaran sama saja dengan memelihara bom waktu."

"Dia hanya seorang fotografer, Adrian! Dia tidak punya niat jahat!" suara Alya sedikit meninggi, rasa frustrasinya kembali meluap. "Kamu menghancurkan kariernya hanya karena dia mengingat masa lalu saya! Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dariku?!"

Adrian bangkit dari kursinya, melangkah perlahan mengitari meja makan panjang itu hingga ia berhenti tepat di belakang kursi Alya. Ia mencondongkan tubuhnya, berbisik tepat di dekat telinga wanita itu, mengirimkan sensor dingin yang membuat bulu kuduk Alya berdiri.

"Aku menyembunyikanmu dari dunia yang kejam, Alya," bisik Adrian, suaranya terdengar rendah dan penuh penekanan. "Kamu pikir masa lalumu itu penting? Tidak. Yang penting adalah masa depanmu sebagai Nyonya Vasillo. Berhentilah bersikap naif. Jika kamu terus menggali apa yang sudah kukubur, kamu hanya akan menemukan hal-hal yang akan membuatmu menyesal telah mengetahuinya."

Alya berbalik, menatap wajah Adrian yang jaraknya hanya beberapa sentimeter dari wajahnya. "Aku tidak akan pernah menyesal mencari kebenaran tentang ibuku dan diriku sendiri, Adrian."

Adrian menatap lekat-lekat bibir Alya yang bergetar karena menahan emosi, lalu beralih pada mata bulat wanita itu yang memancarkan kilat perlawanan. Ada dorongan aneh di dalam benak Adrian untuk meruntuhkan keangkuhan wanita ini, namun ia menahannya. Pria itu menegakkan tubuhnya kembali, memasukkan tangannya ke dalam saku celana.

"Kita lihat saja seberapa kuat prinsipmu itu bertahan," ujar Adrian datar sebelum berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan ruang makan yang kembali dilingkupi keheningan malam.

Keesokan paginya, proses pemindahan ibu Alya ke ruang paviliun VVIP berjalan dengan sangat lancar. Malik mengawal seluruh prosesnya secara langsung, memastikan tim dokter terbaik kepresidenan yang dijanjikan Adrian sudah siap siaga di ruangan baru tersebut.

Alya berdiri di samping bangsal ibunya yang kini berada di ruangan yang sangat luas, mewah, dan dipenuhi fasilitas canggih. Udara di ruangan ini tidak lagi berbau obat-obatan yang menyengat, melainkan aroma terapi yang menenangkan.

"Mbak Alya, semua biaya perawatan, obat-obatan, hingga tindakan operasi akhir pekan ini sudah sepenuhnya didepositokan oleh Tuan Adrian untuk satu tahun ke depan," lapor Malik dengan sikapnya yang selalu sopan dan profesional.

"Terima kasih, Malik," ucap Alya tulus, matanya masih menatap wajah ibunya yang tampak lebih tenang di atas kasur yang jauh lebih nyaman. "Boleh saya menanyakan sesuatu padamu?"

Malik tampak sedikit waspada, namun ia tetap tersenyum tipis. "Silakan, Nyonya."

"Tentang Kevin... fotografer kemarin," Alya berbalik menghadap Malik. "Dia bilang dia punya foto saya empat tahun lalu bersama ibu saya dan seorang pria berjas di sebuah pameran seni. Malik, apakah kamu yang menyaring latar belakang saya sebelum mengajukan saya kepada Adrian?"

"Benar, Nyonya. Saya yang memeriksa seluruh latar belakang Anda," jawab Malik lancar tanpa ragu.

"Lalu, apakah ada pria berjas itu di dalam dokumen masa lalu saya?" pancing Alya, matanya menyipit tajam, mencoba membaca ekspresi wajah asisten kepercayaan Adrian itu.

Ekspresi Malik tetap datar, terlatih sempurna sebagai seorang asisten CEO papan atas. "Dokumen yang saya miliki hanya mencatat bahwa Anda adalah seorang mahasiswi seni yang mengambil cuti akademis karena kekurangan biaya, lalu bekerja paruh waktu di berbagai tempat untuk membiayai pengobatan Ibu Anda. Tidak ada catatan mengenai pria lain, Nyonya."

Alya mengembuskan napas kecewa. "Begitu ya... Terima kasih, Malik."

"Sama-sama, Nyonya. Jika tidak ada lagi yang dibutuhkan, saya harus kembali ke kantor. Tuan Adrian memiliki jadwal rapat besar siang ini," pamit Malik, membungkuk hormat sebelum melangkah keluar dari ruangan.

Setelah Malik pergi, Alya kembali duduk di samping ibunya. Ia menggenggam jemari wanita paruh baya itu dengan erat. "Ibu... sebenarnya apa yang terjadi empat tahun lalu? Mengapa Alya merasa ada bagian dari ingatan Alya yang hilang? Siapa pria berjas yang dikatakan Kevin?"

Namun, seperti biasa, hanya suara ritme detak jantung dari mesin bedside monitor yang menjawab pertanyaan Alya dalam keheningan ruangan mewah tersebut.

1
Rian Moontero
mampiiirr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!