Pernikahan lima tahun yang sia-sia, Liana Varella adalah seorang anak yang menjadi pembayaran utang ayahnya. Diusianya yang menginjak sembilan belas tahun, seharusnya dia melanjutkan kuliahnya, namun kini dia terikat oleh pernikahan yang hancur.
Suaminya, Alistair Sterling yang menjanjikan cinta hingga mati. Kini membawa seorang wanita lain dari keluarga konglomerat, hanya dalam waktu tiga tahun pernikahan. Dengan mudahnya dia membawa wanita lain ke rumah tangga mereka.
Hanya karena satu alasan, Liana dikira "Mandul" oleh keluarga Sterling hingga dihina, dan di abaikan keluarga besar itu. Di ambang ujung jurang, seseorang muncul dihidup Liana, dan berkata.
"Mengapa Tidak Bercerai?"
Liana tertegun, lalu berpikir keras hingga akhirnya dia sadar. Selama ini untuk apa dia bertahan jika suaminya menganggap dia tidak ada?
Penasaran? Ayo baca selengkapnya! Bahasa campuran, baku dan non baku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arssya Assyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
C001: Liana Varella
...Selamat Baca...
Dulu, hidup Liana Varella adalah lukisan yang indah dan damai. Ia tumbuh sebagai anak tunggal di keluarga yang hangat.
Ayahnya, Gerald Varella, adalah sosok penyayang yang selalu menggendongnya tinggi ke udara, sementara ibunya, Elara, adalah wanita lembut yang selalu mencium keningnya sebelum tidur.
Mereka adalah keluarga harmonis yang menjadi iri banyak tetangga. Liana tumbuh dengan penuh kasih sayang, bermimpi suatu hari nanti ia akan masuk ke universitas impiannya,
Mengambil jurusan sastra, dan menjalani hidup sesuai keinginannya sendiri.
Namun, takdir sering kali tidak berjalan sesuai rencana. Segalanya berubah drastis saat Liana menginjak usia tujuh belas tahun.
Ia mendapati kenyataan pahit bahwa ibunya ternyata berselingkuh dengan pria lain, menghancurkan kepercayaan dan kehormatan rumah tangga mereka.
Sejak hari itu, Gerald berubah menjadi pria yang berbeda. Rasa sakit hati dan kecewa membuatnya lari ke hal-hal buruk.
Ia mulai sering berjudi, menghabiskan malam-malamnya dengan alkohol, dan perlahan tapi pasti,
Kekayaan yang dimiliki keluarga Varella menguap begitu saja, berganti menjadi tumpukan surat tagihan dan utang yang menumpuk.
Puncak dari semuanya adalah utang besar yang ayahnya miliki pada keluarga Sterling—keluarga bangsawan kaya raya yang namanya harum di seluruh negeri.
Gerald tidak sanggup membayar, dan ancaman kehancuran nyaris menyentuh ubun-ubun mereka.
Sampai akhirnya, di usia Liana yang ke-19, sebuah tawaran datang. Keluarga Sterling bersedia menghapus seluruh utang ayahnya, dengan satu syarat:
Liana harus dinikahkan dengan satu-satunya pewaris utama keluarga itu, Alistair Sterling.
Mimpi kuliah, mimpi bebas, dan mimpi masa depan indah yang pernah Liana gantungkan di langit-langit kamarnya, runtuh seketika.
Ia tidak punya pilihan. Demi menyelamatkan nama baik sisa keluarganya, demi nyawa ayahnya, Liana mengangguk pasrah.
Upacara pernikahan itu digelar sangat megah dan mewah, layaknya perayaan kerajaan. Seluruh elit sosial hadir, gemerlap lampu dan hiasan bunga memenuhi ruangan.
Di mata semua orang, Liana adalah wanita paling beruntung yang mendapatkan jodoh paling sempurna, tampan, kaya, dan berkuasa.
Namun, di balik gaun putih mahal itu, Liana tahu kebenarannya: ia bukan pengantin wanita, melainkan barang jaminan pelunasan utang.
Alistair Sterling, saat itu berusia 24 tahun, memang tampak begitu mempesona.
Di tahun-tahun awal pernikahan mereka, ia memberikan kasih sayang yang cukup untuk membuat Liana sedikit berharap.
Alistair tertarik pada kecantikan dan kepolosan Liana. Ia memperlakukannya dengan manis, memanjakannya, dan sering kali mengatakan bahwa Liana adalah harta terindah yang dimilikinya.
Namun, sejak awal, cinta Alistair sudah memiliki garis batas yang tegas. Cintanya bukanlah cinta tulus yang menerima apa adanya, melainkan cinta yang memiliki syarat.
Enam bulan berlalu sejak hari pernikahan itu.
Suatu sore yang tenang, saat Alistair sedang sibuk di kantor, Liana duduk di tepi jendela kamar besarnya yang mewah namun terasa dingin.
Di tangannya, ada sebuah buku bersampul kulit berwarna merah tua yang baru saja ia beli dari toko buku langganan.
Judulnya terukir indah dengan tinta emas: "Ratu yang Jatuh, dan Kembali".
Dengan penasaran, Liana mulai membaca lembar demi lembar. Ceritanya mengisahkan seorang gadis muda yang dinikahkan di usia belasan tahun ke dalam keluarga bangsawan yang kaku.
Ia disayangi suaminya di awal, namun karena dianggap tidak bisa memberikan keturunan, ia perlahan mulai disisihkan, dikucilkan, hingga akhirnya suaminya menikah lagi dengan wanita lain yang dianggap lebih mampu memberikan apa yang diinginkannya.
Sang tokoh wanita itu dibuang, hidup dalam kesepian dan penghinaan. Namun, di saat titik terendah hidupnya, muncul sosok pria lain—seorang pria yang lebih tua, berkuasa, dan diam-diam telah mengaguminya sejak lama.
Pria itu adalah paman dari mantan suaminya sendiri. Ia memungut sang tokoh wanita, memanjakannya, dan membantunya bangkit kembali.
Hingga wanita itu bersinar lebih terang dari sebelumnya, dikagumi banyak orang, dan kembali menjadi ratu yang sesungguhnya.
Liana menutup buku itu saat senja mulai memerah di ufuk barat. Matanya berkilau karena terharu.
Ia sangat menyukai kisah itu. Ada rasa bergetar di dadanya seolah cerita itu menyentuh bagian terdalam hatinya.
"Betapa kuatnya dia," batin Liana sambil membelai sampul buku itu.
"Kalau aku berada di posisinya, aku berjanji akan menjadi lebih kuat lagi. Aku tidak akan membiarkan siapapun merendahkanku. Aku pasti bisa lebih baik darinya."
Liana tersenyum tipis, tak pernah sedikit pun terlintas di benaknya bahwa cerita yang ia baca itu bukan sekadar fiksi belaka.
Ia tidak tahu, takdir sedang menuliskan ulang kisah itu kembali, menggunakan namanya sebagai tokoh utamanya.
Satu tahun pernikahan berlalu. Belum ada tanda-tanda kehamilan pada diri Liana.
Alistair masih bersabar. Ia sering berkata pada Liana, "Tenang saja, kamu masih sangat muda. Kita punya banyak waktu." Tatapan matanya masih hangat, perhatiannya masih ada.
Keluarga besar Sterling, meski kaku dan penuh aturan, masih bersikap sopan kepadanya.
Memasuki tahun kedua, keheningan itu masih berlanjut. Rahim Liana masih belum menampakkan hasil. Namun, Alistair tetap bertahan.
Ia mengerti, ia beralasan pada keluarganya bahwa usia Liana yang masih 20 tahun terlalu muda untuk dibebani tanggung jawab memiliki ahli waris.
Di tahun ini, Liana masih merasa ia memiliki tempat di hati suaminya.
Namun, segalanya mulai berubah perlahan saat memasuki tahun ketiga.
Harapan yang tidak terwujud mulai berubah menjadi kebosanan. Alistair yang awalnya sabar, kini mulai sering terlihat mendengus kesal.
Tatapannya pada Liana tak lagi berbinar. Setiap kali ada acara keluarga atau pertemuan sosial, bisik-bisik orang lain semakin sering terdengar.
"Sudah tiga tahun, tapi belum ada kabar?"
"Mungkin dia mandul ya?"
"Sayang sekali, cantik saja tidak cukup kalau tidak bisa meneruskan keturunan."
Kata-kata itu menusuk hati Liana, tapi lebih parah lagi, kata-kata itulah yang masuk ke telinga dan benak Alistair.
Suaminya itu mulai jarang mengajaknya bicara, sering tidur di kamar kerja, dan perhatiannya perlahan menguap menjadi angin.
Cinta bersyarat yang ia miliki mulai menghilang karena syarat utamanya—memiliki anak—belum terpenuhi.
Di tahun keempat, perubahan besar terjadi.
Alistair mulai sering pergi keluar, bertemu dengan rekan-rekan bisnis baru.
Di sana ia bertemu dengan Seraphina De Vaux, seorang wanita cantik, berkarisma, dan berasal dari keluarga terpandang yang koneksi bisnisnya sangat menguntungkan bagi keluarga Sterling.
Awalnya, perkenalan itu hanyalah strategi politik dan bisnis. Namun, dihasut oleh orang-orang di sekitarnya dan rasa kecewa pada Liana, Alistair mulai melihat Seraphina sebagai solusi dari segala masalahnya.
Seraphina pandai bicara, pandai mengambil hati, dan tahu persis apa yang harus dikatakan agar Alistair terpesona.
Alistair mulai mengakui pada dirinya sendiri bahwa ia jatuh cinta pada wanita itu.
Ia merasa Seraphina lebih mengerti dirinya, lebih dewasa, dan—yang paling penting—diyakininya bisa memberinya ahli waris yang sangat ia dambakan.
Tanpa banyak mendengarkan penjelasan Liana, Alistair resmi menikah lagi.
Ia membawa Seraphina masuk ke dalam kediaman besar itu, menjadikannya nyonya kedua yang disambut gembira oleh seluruh keluarga besar Sterling.
Sementara Liana? Ia masih tetap menjadi istri sah pertama, namun posisinya kini sudah jatuh, seolah menjadi pajangan usang yang dibiarkan ada di sudut ruangan.
Dan kini, masuklah mereka ke tahun kelima.
Sudah satu tahun berlalu sejak Seraphina masuk ke dalam kehidupan mereka. Selama satu tahun itu, Liana hidup dalam bayang-bayang wanita lain.
Ia hidup dalam rumah yang sama, namun dunianya terasa jauh berbeda. Alistair hampir tidak pernah menoleh padanya lagi.
Segala perhatian, kasih sayang, waktu, dan harta, semuanya dicurahkan untuk Seraphina.
Berita itu akhirnya datang juga, berita yang seolah menjadi pukulan terakhir bagi nasib Liana.
Seraphina hamil.
Kabar itu disambut dengan sukacita luar biasa di seluruh keluarga Sterling. Kakek Theodore tersenyum puas, Margaret—ibu Alistair—menangis bahagia, dan Alistair sendiri terlihat sebagai pria paling bangga di dunia.
Pengumuman itu dibuat meriah, disebarkan ke seluruh lingkaran sosial mereka, seolah-olah mengumumkan kemenangan besar.
Sementara itu, di kamarnya yang luas namun dingin, Liana duduk diam di pinggir tempat tidur.
Tangannya menyentuh perutnya sendiri dengan tatapan kosong.
Orang-orang mengira dia mandul. Alistair percaya dia mandul. Seluruh keluarga Sterling sudah mencapnya tidak berguna.
Padahal, Liana tahu kebenarannya sendiri. Secara medis, dia sehat. Dia subur. Dia tidak pernah punya masalah apa pun.
Hanya saja... Alistair tidak pernah mau tahu, tidak pernah mau memeriksakan diri, dan terlalu cepat menyalahkannya.
Di atas meja samping tempat tidurnya, masih tergeletak buku itu—"Ratu yang Jatuh, dan Kembali". Sampulnya sudah agak lusuh karena sering dibaca ulang.
Liana menatap buku itu lama sekali. Di luar sana, terdengar suara tawa riang Alistair dan Seraphina yang bergema dari lantai bawah, suara perayaan kehamilan wanita yang merebut segalanya darinya.
"Ratu yang jatuh..." gumam Liana pelan, suaranya bergetar namun matanya mulai menajam.
"Baiklah. Biarkan aku jatuh lebih dalam dulu. Tapi ingatlah, aku berjanji... saat aku kembali nanti, aku tidak akan sama lagi."
Liana menghela napas panjang, menyembunyikan rasa sakit hatinya jauh di lubuk terdalam, bersiap menghadapi hari-hari yang terasa semakin panjang dan menyiksa di "sangkar berlapis emas" ini,
Tanpa sadar bahwa di sudut pandang yang tak terlihat oleh siapapun, sepasang mata tajam dan penuh kasih sayang sedang mengawasinya diam-diam, menunggu waktu yang tepat untuk datang dan mengubah segalanya.