NovelToon NovelToon
Menikahi Ayah Mantanku

Menikahi Ayah Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dunia_halusinasi

Diana Ayuningtyas, Berniat memberikan kejutan. dengan sengaja mendatangi Apartemen Gilang Wijaya - sang kekasih, untuk merayakan ulang tahunnya.

Tetapi malah mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya ternyata tinggal bersama wanita lain.

"Kamu siapa ?"

"Aku? Aku tunangan pemilik Apartemen ini!"

Duarrr...

Diana langsung terdiam mematung, tidak ingin percaya.

"Sayang ! Siapa yang datang ?"

Tapi suara Gilang dari dalam, yang memanggil wanita di depannya ini dengan panggilan mesra, membuatnya tidak bisa menahan nya lagi.

Sebelum Gilang datang, Diana segera pergi dengan air mata yang perlahan mengalir.

Lift perlahan tertutup, matanya menatap lurus ke depan, hatinya bergemuruh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia_halusinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Suasana di rumah baru

Bab 9: Suasana di Rumah Baru

Perjalanan menuju kediaman Arga memakan waktu sekitar empat puluh menit dari area tempat Diana tinggal sebelumnya.

Semakin jauh melaju, pemandangan di luar jendela berubah,

dari keramaian kota menjadi lingkungan yang lebih tenang.

Rumah-rumah di sekitarnya terlihat luas dan mewah, dikelilingi pepohonan rindang yang memberikan kesejukan alami.

Diana menatap ke luar dengan pandangan takjub.

Ia belum pernah masuk ke lingkungan perumahan se-elit ini sebelumnya.

Jantungnya kembali berdebar, kali ini bukan karena gugup semata,

tapi juga karena tidak percaya dia sudah sejauh ini dan sedikit rasa rendah diri.

“Apa yang kamu lihat ?” bisik Arga, menyadari pandangan Diana yang tak lepas melihat ke sekeliling.

Diana menoleh, tersenyum malu. “Aku hanya… belum pernah melihat tempat seindah ini. Rasanya seperti masuk ke dunia yang berbeda.”

Arga tertawa pelan, suaranya terdengar menenangkan.

“Ini hanya tempat tinggal biasa. Nanti kamu akan terbiasa. Mulai hari ini, ini juga rumahmu, Diana.”

Mendengar kalimat itu, dada Diana terasa hangat.

Ia mengangguk perlahan, mencoba menenangkan pikirannya sendiri.

Tuhan begitu baik padaku, karena sudah memberikan kebahagiaan sampai sejauh ini.

Kurahap ini gak akan cepat berakhir.

Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah gerbang besar yang tinggi dan kokoh.

Begitu melihat mobil Arga, penjaga gerbang segera membukakan pintu lebar-lebar dengan hormat.

"Selamat Sore Tuan " Ucap para penjaga serempak,

Arga hanya mengangguk dan mengangkat tangannya.

Mobil melaju masuk melewati halaman yang luas dan tertata rapi dengan taman bunga serta rumput yang dipotong rapi.

Di hadapan mereka berdiri sebuah bangunan dua lantai dengan arsitektur yang elegan namun tidak berlebihan,

memancarkan kesan mewah namun tetap terasa hangat.

Begitu mobil berhenti di depan teras,

seorang wanita paruh baya dengan pakaian rapi dan senyum ramah segera menyambut mereka.

Itu adalah Bu Mari, asisten rumah tangga yang sudah bekerja di sana sejak lama.

“Selamat datang kembali, Tuan Arga,” sapa Bu Mari sopan, lalu matanya beralih ke arah Diana dengan tatapan ingin tahu.

“Bu Mari, ini Diana. Mulai hari ini dia adalah istri saya dan akan tinggal di sini bersamaku,” jelas Arga dengan nada tegas namun hangat.

“Perlakukan dia seperti layaknya nyonya rumah di sini.”

Wajah Bu Mari terkejut sesaat, namun ia segera menunduk hormat dan tersenyum lebar.

“Baik, Tuan. Selamat datang, Nyonya Diana. Semoga betah tinggal di rumah ini.”

“Terima kasih, Bu Mari,” jawab Diana dengan sopan, berusaha terlihat tenang meski hatinya masih berdebar kencang.

Mereka masuk ke dalam rumah, dan Diana kembali terpesona melihat tata ruangannya.

Semuanya terlihat bersih, rapi, dan tertata dengan seleranya orang kaya, namun tidak terasa dingin atau menakutkan.

Ada nuansa kehangatan yang menyelimuti setiap sudut ruangan.

“Mari, aku tunjukkan kamarmu dulu,” ajak Arga sambil mengangkat salah satu koper Diana.

“Tidak perlu, Pak Arga, biar saya saja yang mengangkatnya,” cegah Diana buru-buru,

Ia merasa tidak enak melihat Arga yang justru mengangkat barang bawaannya.

Arga hanya menggeleng dan berjalan mendahuluinya menaiki tangga.

“Sekarang panggil saja namaku- Arga, atau kalau masih canggung, boleh juga panggil Mas. Jangan lagi memanggil dengan sebutan ‘Pak’ terus-menerus, rasanya terlalu jauh.”

Wajah Diana kembali memerah mendengarnya. “Baik… Mas,” jawabnya pelan, nyaris berbisik.

Telinga Arga terasa panas dan memerah, ternyata panggilan itu terdengar manis.

Arga berdehem kecil.

"Itu lebih bagus" Ujar Arga sedikit salah tingkah

Mereka sampai di depan sebuah pintu kamar yang cukup luas.

Begitu dibuka, mata Diana terbelalak melihat isinya.

Ruangan itu sangat luas, dengan pencahayaan yang terang,

tempat tidur yang besar dan empuk, lemari pakaian yang menjulang tinggi,

serta jendela besar yang menghadap langsung ke taman belakang.

“Kamar ini untukmu. Kalau ada yang kurang atau ingin diubah, katakan saja pada Bu Mari atau langsung padaku,” ujar Arga sambil meletakkan koper di dekat lemari.

Diana melangkah masuk perlahan, merasakan kelembutan lantai dan udara sejuk yang terasa nyaman.

“Ini terlalu bagus untukku… aku merasa tidak pantas tinggal di tempat seindah ini,” gumamnya pelan.

Arga mendekat, berdiri tepat di sampingnya dan menatapnya dengan pandangan lembut.

“Dengar, jangan pernah berpikir seperti itu. Rumah ini terasa hampa jika hanya dihuni oleh barang-barang mahal.

Sekarang kamu ada di sini, jadi ini adalah tempatmu juga. Kamu berhak mendapatkan kenyamanan dan kebahagiaan.”

Kata-kata itu membuat hati Diana terasa sangat tenang.

Ia menoleh dan menatap Arga, kali ini dengan pandangan yang lebih dalam dan penuh rasa terima kasih.

“Terima kasih…aku benar-benar berterima kasih atas segalanya.”

Arga tersenyum, lalu mengusap lembut puncak kepalanya — gerakan yang terasa alami dan penuh kasih sayang,

membuat jantung Diana kembali berdebar kencang namun kali ini terasa nyaman.

“Istirahatlah sebentar. Nanti malam kita makan bersama. Oh ya, ingat rencana kita, dua hari lagi kita akan berangkat ke kampung halamanmu untuk bertemu Ayah dan Ibu. Jadi kamu bisa bersiap-siap apa saja yang perlu dibawa,” tambah Arga sebelum berjalan menuju pintu.

Diana mengangguk-anggukkan kepalanya dan tersenyum.

"Mas !" Panggil Diana

Arga merasa ada ribuan bunga yang bermekaran di kepalanya mendengar panggilan Diana

"Yah, ada yang kamu butuhkan lagi ?" Jawab Arga

"Di mana kamarmu?" Tanya Diana pelan

"Ada di sebelah mu! Jika ada apa-apa. Di dalam juga ada pintu yang terhubung langsung dengan kamarku" Jelas Arga dengan lembut

"Baiklah"

Setelah Arga pergi dan menutup pintu kamar,

Diana berjalan mendekati jendela, memandang ke luar ke arah taman yang indah.

Ia merasakan suasana yang sangat berbeda dari sebelumnya.

Di satu sisi, ia masih teringat pada luka yang ditimbulkan oleh Gilang,

namun di sisi lain, kehadiran Arga seolah membawa angin segar yang menyembuhkan luka itu perlahan.

Cepat atau lambat, aku dan dia pasti akan bertemu.

Dan bagaimana jika hari itu tiba.

Bagaimana jika dia tidak setuju dengan pernikahan ini.

Bagaimana jika dia memaksa kami untuk berpisah.

Ia merogoh saku tasnya dan mengeluarkan buku nikah yang baru saja diterimanya pagi tadi.

Melihat nama mereka tertera berdampingan, perasaan aneh namun hangat menyelimuti hatinya.

Mungkin ini memang jalan yang takdir berikan,

bukan untuk menyakiti, tapi untuk membawanya menuju kehidupan yang lebih baik.

Sementara itu, di ruang kerjanya,

Arga duduk termenung sambil memegang gelas kopi.

Ia sendiri pun terkejut dengan perasaannya yang berubah begitu cepat.

Sejak pertama kali bertemu Diana, ada sesuatu yang membuatnya ingin melindungi gadis itu.

Dan sekarang, melihatnya tinggal di bawah atap yang sama,

ia merasa ada tanggung jawab baru yang membuat hidupnya terasa lebih berwarna.

Namun, di balik ketenangan itu, Arga mengkhawatirkan satu hal:

rahasia pernikahan ini dan kebenaran masa lalu pasti akan terbongkar suatu saat nanti.

Dan ketika itu terjadi, ia harus siap melindungi Diana dari segala kemungkinan masalah yang akan datang.

Aku berjanji, apapun yang terjadi. Aku akan selalu ada untukmu, istriku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!