NovelToon NovelToon
Pembalasan Istri Yang Terbuang

Pembalasan Istri Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Alana tidak menyangka pernikahannya dengan Rendi harus berahir di tengah derasnya air sungai,Rendi dan Lisa selingkuhannya,dengan teganya membuang Alana kesungai untuk menghabisinya dan menguasai harta peninggalan orang tua Alana .Untung saja ada Arka yang menolongnya,dengan di bantu Arka,Alana kembali bangkit membalas penghianatan Suaminya dan mengambil hartanya yang sudah dirampas Rendi dan Lisa
Bagaimana selanjutnya kehidupan Alana Dan Arka ??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terbuang karena penghianatan

Dinginnya lantai marmer di ruang tengah kediaman keluarga Adiguna tidak sedingin hati Alana saat ini. Tubuhnya meringkuk, mencoba melindungi perutnya dari tendangan yang mungkin datang kapan saja.

Napasnya tersengal, berbau amis darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Di atasnya, berdiri laki-laki yang lima tahun lalu mengucap janji suci didepan penghulu untuk menjaganya seumur hidup. Rendy Adiguna, pria itu, kini menatapnya dengan tatapan yang lebih menjijikkan daripada melihat sampah.

"Sudah berapa kali kukatakan, Alana? Jangan pernah menyentuh barang-barang milik Lisa!" bentak Rendy. Suaranya menggelegar, memantul di dinding-dinding rumah mewah yang kini terasa seperti penjara bawah tanah bagi Alana.

Alana mencoba bersuara, meski tenggorokannya terasa seperti teriris sembilu. "Aku ... aku hanya ingin merapikannya, Mas. Kamar itu berantakan, dan aku hanya "

*PLAK!*

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Alana, memaksanya kembali tersungkur. Kepalanya berdenyut hebat. Pandangannya mengabur, namun ia masih bisa melihat sosok perempuan lain yang berdiri di balik punggung Rendy. Lisa. Perempuan itu berdiri dengan angkuh, mengenakan gaun sutra tipis, menyilangkan tangan di dada dengan senyum kemenangan yang tipis, hampir tak terlihat namun sangat menyakitkan.

"Rendi sudahlah," ucap Lisa dengan suara yang dibuat selembut mungkin, sebuah kepura-puaan yang memuakkan. "Mungkin Mbak Alana memang cemburu karena aku mendapatkan perhatian lebih darimu. Tapi tidak perlu kasar begitu, kasihan dia."

Rendy berbalik, menatap Lisa dengan binar cinta yang tidak pernah lagi ia berikan kepada Alana. "Dia harus diberi pelajaran, Lisa. Dia harus tahu posisinya di rumah ini. Dia bukan lagi nyonya rumah. Dia hanya parasit yang beruntung belum aku ceraikan."

Hati Alana hancur berkeping-keping. (Parasit? )Selama lima tahun, ia telah memberikan segalanya. Ia melepaskan kariernya, mengabdikan seluruh hidupnya untuk mengurus rumah tangga, bahkan membiayai bisnis Rendy di awal pernikahan dengan seluruh warisan orang tuanya yang telah tiada. Namun, setelah Rendy berada di puncak kesuksesan, pria itu membawa Lisa masuk ke rumah mereka, memperkenalkannya sebagai asisten pribadi yang kemudian dengan cepat bergeser menjadi wanita simpanan yang terang-terangan.

"Mas ... tolong ingat janjimu," bisik Alana parau. Air mata menetes, membasahi luka di pipinya. "Aku istrimu yang sah. Mengapa kau membiarkan wanita ini menginjak-injak harga diriku?"

Rendy tertawa dingin. Ia berjongkok, menjambak rambut Alana hingga kepala perempuan itu terdongak paksa. "Istri sah? Kau hanyalah beban, Alana. Kau tidak bisa memberiku keturunan, kau membosankan, dan sekarang kau hanya membuat rumah ini terasa sesak. Lisa jauh lebih berharga darimu."

Lisa melangkah maju, berjongkok di samping Rendy, dan mengelus pipi Alana yang lebam dengan ujung kuku merahnya yang tajam. "Dengar, Mbak. Dunia ini berputar. Dulu kau di atas, sekarang kau di bawah kakiku. Seharusnya kau sadar diri dan pergi dengan tenang sebelum keadaan menjadi lebih buruk."

Malam itu menjadi malam yang paling panjang bagi Alana. Setelah disiksa secara verbal dan fisik, ia dikurung di dalam gudang belakang yang pengap tanpa diberi makan. Di dalam kegelapan, di antara tumpukan barang bekas yang berdebu, Alana memeluk lututnya. Ia bertanya-tanya pada Tuhan, dosa apa yang telah ia perbuat hingga harus menanggung penderitaan seberat ini?

Keesokan harinya, pintu gudang terbuka kasar. Rendy muncul dengan wajah yang tampak lebih tenang, namun matanya memancarkan kegelapan yang lebih pekat.

Di belakangnya, dua pria berbadan besar mengikuti.

"Bangun," perintah Rendy singkat.

"Mas ... kau mau membawaku ke mana?" tanya Alana gemetar. Harapan kecil muncul di hatinya, mungkinkah Rendy menyesal dan ingin membawanya ke rumah sakit?

Namun harapan itu pupus seketika saat Rendy memerintahkan kedua pria itu untuk menyeretnya. "Bawa dia ke mobil. Kita akan menyelesaikan ini semua hari ini."

Alana meronta, namun tubuhnya yang lemah tidak mampu melawan. Ia dilemparkan ke kursi belakang mobil dengan tangan terikat. Di sepanjang perjalanan, ia melihat pemandangan kota yang semakin menjauh, digantikan oleh pepohonan rimbun dan jalanan setapak yang sepi. Mereka menuju jembatan tua yang melintasi sungai yang dikenal memiliki arus bawah yang sangat deras.

Mobil berhenti tepat di tengah jembatan.

Rendy turun, lalu menarik Alana keluar. Lisa menyusul, berdiri di samping mobil sambil menyesap kopi, seolah-olah ia sedang menonton pertunjukan hiburan di sore hari.

"Mas, apa yang kau lakukan? Tolong, jangan begini!" Alana menjerit histeris. Angin kencang menerpa rambutnya yang kusut. Di bawah sana, air sungai yang keruh menderu dengan ganas.

Rendy menatap Alana dengan tatapan kosong. "Kau tahu, Alana? Selama kau masih hidup, aku tidak bisa menikahi Lisa secara resmi. Harta yang kau pegang atas nama orang tuamu juga tidak bisa berpindah tangan sepenuhnya jika kau masih ada. Jadi, anggap saja ini adalah pengorbanan terakhirmu untuk kebahagiaanku."

"Kau gila, Rendy! Kau pembunuh!"

"Bukan aku yang membunuhmu," ujar Rendy sambil tersenyum tipis. "Kau yang memutuskan untuk bunuh diri karena depresi. Semua orang akan mempercayai itu setelah aku menyebarkan surat wasiat palsu yang sudah kusiapkan."

Rendy memberi isyarat kepada dua pria tadi. Mereka membawa tubuh Alana yang terikat. Alana berteriak sekencang mungkin, memanggil nama suaminya, memohon belas kasihan, namun yang ia dapatkan hanyalah tawa kecil dari Lisa di kejauhan.

Alana meronta sekuat tenaga saat kedua pria berbadan besar itu mengangkat tubuhnya yang terikat. Tangan dan kakinya yang diikat erat dengan tali plastik membuatnya hanya bisa menggeliat putus asa. Angin kencang di atas jembatan tua itu menerpa wajahnya yang pucat dan lebam, sementara suara deru sungai di bawah sana terdengar seperti panggilan maut yang tak kenal ampun.

"Mas... Mas Rendy! Tolong... tolong aku!" jerit Alana dengan suara parau yang sudah serak karena menangis semalaman. Air mata mengalir deras di pipinya yang memar, bercampur dengan debu dan darah kering dari luka di sudut bibirnya. "Aku minta maaf ... Aku benar-benar minta maaf, Mas!"

Rendy berdiri tegak di pinggir jembatan, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, wajahnya datar tanpa ekspresi. Lisa bersandar di mobil sambil tersenyum tipis, seolah sedang menikmati drama murahan.

"Mas, dengar aku ... Aku tahu aku salah," lanjut Alana dengan suara yang semakin pecah. Kedua pria itu menahan tubuhnya tepat di tepi pembatas jembatan yang rendah. "Aku minta maaf karena tidak bisa memberimu anak ... Aku minta maaf karena aku membosankan ... Aku minta maaf karena aku tidak sebaik Lisa ... Tolong, Mas ... Aku akan berubah! Aku janji akan berubah!"

Tubuh Alana diguncang isak tangis hebat. Ia berusaha menoleh ke arah suaminya, matanya yang sembap penuh permohonan putus asa.

"Mas Rendy ... tolong jangan lakukan ini... Aku masih mencintaimu. Lima tahun kita bersama... ingat dulu? Aku yang selalu mendukungmu saat bisnismu belum sukses. Aku yang mengorbankan segalanya... Warisanku, karierku, bahkan kesehatanku... Semua untukmu, Mas. Aku minta maaf kalau aku pernah membuatmu kecewa. Aku minta maaf kalau aku tidak cukup baik ... Tapi tolong ... tolong kasihani aku. Jangan bunuh aku ... Aku masih ingin hidup. Aku masih ingin memperbaiki semuanya."

Suara Alana semakin lirih, namun penuh keputusasaan yang mendalam. Ia berusaha meraih kaki Rendy dengan jari-jarinya yang terikat, meski jaraknya terlalu jauh.

"Mas ... tolong ... aku mohon. Aku akan pergi dari rumah ini kalau itu maumu. Aku akan menandatangani surat cerai hari ini juga. Aku akan memberikan semua harta yang kau inginkan ... Aku tidak akan menuntut apa pun. Aku hanya ingin hidup ... Tolong, Mas Rendy ... ingat janji pernikahan kita dulu. Kau bilang akan melindungiku ... Kau bilang aku adalah segalanya bagimu... Mengapa sekarang kau tega melakukan ini? Aku minta maaf... aku minta maaf atas segalanya ... Tolong ampuni aku ... Tolong jangan dorong aku ke bawah ... Aku takut, Mas ... Aku sangat takut ..."

Alana menangis tersedu-sedu, tubuhnya gemetar hebat. Napasnya tersengal-sengal karena teror yang melumpuhkan. Ia terus meracau memohon, suaranya yang pecah bergema di antara tiupan angin.

"Mas ... lihat aku ... ini aku, Alana, istrimu... Aku belum siap mati ... Aku masih punya mimpi ... Tolong kasihani aku ... Aku akan jadi istri yang baik ... Aku akan layani kau dan Lisa kalau itu maumu ... Aku rela jadi pembantu di rumah ... Asal jangan bunuh aku ... Tolong ... tolong ... aku minta tolong ... Mas Rendy ... suamiku ... tolong selamatkan aku ..."

Rendy hanya diam, menatap Alana dengan tatapan dingin yang kosong. Lisa tertawa kecil dari kejauhan, seolah permohonan Alana hanyalah hiburan baginya.

"Mas ... aku minta maaf... aku minta maaf ... tolong ... tolong aku..."

Alana terus mengulang-ulang kata-kata itu seperti mantra terakhirnya, suaranya semakin lemah seiring tenaganya yang habis. Air mata tak henti mengalir, hatinya hancur total saat menyadari bahwa pria yang dulu ia cintai dengan sepenuh jiwa kini berdiri di sana, siap mengakhiri hidupnya tanpa sedikit pun belas kasihan.

"Selamat tinggal, Alana. Temui orang tuamu di neraka," desis Rendy tepat di telinga Alana.dan memberi kode pada kedua anak buahnya.

Tanpa ragu, kedua pria itu melepaskan pegangan mereka. Tubuh Alana meluncur jatuh. Untuk sesaat, ia merasa seperti terbang, sebelum akhirnya gravitasi menariknya jatuh menghantam permukaan air yang keras seperti beton.

"BYUR!"

Rasa dingin yang menusuk tulang langsung menyergapnya. Air sungai yang pekat masuk ke dalam hidung dan mulutnya. Alana berjuang, mencoba melepaskan ikatan di tangannya, namun arus sungai terlalu kuat. Ia terseret ke bawah, berputar-putar di dalam kegelapan air. Paru-parunya mulai terbakar, menuntut oksigen yang tidak ada.

Di detik-detik terakhir kesadarannya, Alana melihat cahaya matahari dari permukaan air yang perlahan menjauh. Ia merasakan tubuhnya membentur bebatuan sungai, rasa sakit menjalar ke seluruh sarafnya sebelum akhirnya semuanya menjadi hitam.

("Jika ada kehidupan setelah ini ...") batinnya di antara sisa napas terakhir. ("Aku bersumpah akan membalas setiap tetes darah dan air mata ini.")

1
sunaryati jarum
Emak ingin tahu hasilnya
MayAyunda: ditunggu 😁
total 1 replies
sunaryati jarum
Sudah dah dig dug Rendy.Kau sebenarnya belum pandai berbisnis dan memimpin perusahaan,tapi sifat tamakmu membawamu sampai tahap ini Kamu belum menikmati harta yang kau rampas, sudah masuk penjara.
MayAyunda: He he
total 1 replies
MayAyunda
siap kak ,ditunggu kak 😍🙏
sunaryati jarum
Ayo lekas beraksi ,Elena
MayAyunda: ok siap beraksi kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Kutunggu langkah pembalasan kamu,Elena
MayAyunda
terimkasih kak
sunaryati jarum
Nah jangan nangis bangkit dan atur strategi untuk membalas mereka serta merebut kembali semua harta milikmu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!