NovelToon NovelToon
CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:871
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN😎

Riko terpaksa menikah dengan Rani akibat hutang yang tidak bisa dia bayar,melihat kesempatan itu Rani langsung memberikan sebuah kontrak pernikahan,dan riko terpaksa menyetujui kontrak pernikahan itu,karena dia terlilit hutang akibat perusahaannya bangkrut setelah kalah tender dengan perusahan milik Rani.

Baca saja klo mau tau cerita selanjutnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Percikan Cemburu yang Gengsi

Suasana tegang di dalam ruangan VIP perlahan mencair setelah Pak Baskoro mengalihkan pembicaraan ke topik yang lebih netral. Namun bagi Dion dan Bu Siska, sisa makan malam itu terasa hambar dan menjepit tenggorokan. Riko telah berhasil menancapkan taringnya, membuktikan bahwa meski perusahaannya sedang di ambang batas, isi kepalanya tidak bisa dibeli atau diremehkan.

Sekitar pukul sembilan malam, makan malam keluarga itu akhirnya selesai. Riko dan Rani melangkah keluar terlebih dahulu menuju lobi utama restoran, sementara orang tua Rani dan kerabatnya masih menyelesaikan urusan administrasi dan toilet di dalam.

Begitu pintu kaca lobi terbuka, angin malam Jakarta yang sedikit lembap langsung menyapa kulit. Rani melepaskan gandengan tangannya dari lengan Riko, kembali memasang wajah dinginnya yang kaku. Sandiwara di depan keluarga telah usai untuk sementara.

"Analisis proyekmu tadi di dalam... lumayan juga," ucap Rani pelan, matanya menatap lurus ke arah jalanan tanpa menoleh ke arah Riko. Itu adalah pujian tertinggi yang bisa keluar dari mulut seorang Rani yang penuh gengsi.

Riko terkekeh pelan, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jas. "Hanya analisis dasar, Rani. Aku tahu kamu sengaja mengambil margin tipis itu untuk menyingkirkanku dari tender. Aku hanya tidak menyangka sepupumu yang sok tahu itu bahkan tidak membaca berkas operasional perusahaannya sendiri."

Rani tidak sempat membalas ucapan Riko karena sebuah suara langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa terdengar mendekat dari arah pintu masuk lobi.

"Rani!"

Seorang pria dengan setelan jas satin berwarna biru terang dengan potongan rambut klimis berjalan mendekat dengan langkah lebar. Wajahnya tampan, namun garis wajahnya memancarkan keangkuhan yang teramat sangat. Di pergelangan tangannya, melingkar sebuah jam tangan mewah yang harganya bisa digunakan untuk membeli sebuah rumah klaster.

Pria itu adalah Hendra, anak konglomerat pemilik Wijaya Group sekaligus pria yang selama ini dipaksakan oleh Bu Siska untuk menjadi suami Rani.

Hendra berhenti tepat di depan Rani, mengabaikan keberadaan Riko seolah-olah Riko hanya seonggok patung bernyawa di sana. "Rani, jadi rumor itu benar? Kamu benar-benar menikah diam-diam di Kantor Catatan Sipil kemarin? Kenapa kamu nekat melakukan ini, Rani?! Tante Siska sudah bilang padaku kalau kita akan dijodohkan bulan depan!"

Rani memundurkan langkahnya satu senti, tatapannya seketika berubah menjadi sedingin es yang membeku. "Pernikahanku bukan urusanmu, Hendra. Dan kurasa ibuku tidak punya hak untuk mengatur hidupku. Aku sudah menikah dengan pria pilihanku sendiri."

Hendra tertawa sinis, kepalanya menggeleng frustrasi sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya pada Riko. Sepasang mata Hendra menatap Riko dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan yang sarat akan kebencian dan penghinaan.

"Pria pilihanmu? Pria seperti ini?!" Hendra melangkah maju, memperkecil jarak dengan Riko dengan gestur mengintimidasi. "Heh, Riko Pratama. Aku tahu siapa kamu. Kamu adalah CEO dari Pratama Corp, perusahaan kelas teri yang kemarin hampir saja digulung tikar oleh bank karena tidak bisa bayar utang. Kamu pikir aku tidak tahu kalau perusahanmu itu kalah telak dalam tender kemarin?"

Riko tidak bergerak setapak pun. Dia menatap Hendra dengan pandangan datar yang tenang, seolah teriakan Hendra hanyalah gonggongan angin lalu. Ketenangan Riko justru membuat Hendra kian meradang.

"Dengar ya, Riko," Hendra menunjuk dada Riko dengan jarinya yang memakai cincin batu permata. "Kamu itu cuma pecundang yang sedang beruntung. Kamu memanfaatkan situasi saat Rani sedang tertekan agar kamu bisa numpang hidup dan menyelamatkan perusahanmu yang sekarat itu, kan? Berapa banyak uang yang kamu minta dari Rani untuk melunasi utang-utangmu, hah? Dasar pria parasit!"

Parasit.

Kata itu bergaung tajam di lobi restoran yang cukup sepi. Monolog batin Riko bergolak hebat. Amarahnya memuncak hingga ke ubun-ubun. Tangannya di dalam saku celana sudah mengepal begitu kuat hingga buku jarinya memutih. Harga dirinya sebagai seorang pria seolah diinjak-injak di depan umum oleh pria yang bahkan tidak tahu bagaimana rasanya membangun bisnis dari nol.

Namun, sebelum Riko sempat melayangkan tinjunya ke wajah sombong Hendra, sebuah pergerakan tak terduga terjadi di sampingnya.

Rani melangkah maju. Dengan gerakan yang sangat cepat namun teramat anggun, dia meraih kerah jas Riko, menarik tubuh pria itu mendekat, lalu menjinjitkan kakinya.

Cup.

Sebuah kecupan yang lembut, hangat, dan sarat akan penekanan mendarat tepat di pipi kanan Riko.

Riko seketika mematung. Jantungnya serasa berhenti berdetak selama beberapa detik. Aroma parfum cendana milik Rani mendadak mengepung seluruh indra penciumannya, dan sentuhan bibir wanita itu di kulit pipinya mengirimkan sengatan listrik yang aneh yang membuat sekujur tubuh Riko mendadak kaku. Dia menatap Rani dengan mata yang melebar sempurna, benar-benar syok atas tindakan nekat sang 'istri kontrak'.

Rani melepaskan kecupannya, namun dia tidak menjauh. Dia justru melingkarkan kedua tangannya dengan sangat erat di lengan Riko, menyandarkan separuh tubuhnya ke dada bidang Riko seolah ingin menunjukkan pada dunia bahwa pria ini adalah miliknya sepenuhnya.

Rani menoleh menatap Hendra, sorot matanya tajam bagai sembilu yang siap menguliti mangsanya. "Jaga mulutmu, Hendra. Pria yang kamu sebut parasit ini adalah suamiku yang sah. Dan asal kamu tahu... uang empat setengah miliar yang digunakan untuk menyelesaikan administrasi bank kemarin bukanlah uangku, melainkan hasil dari dana taktis pribadinya sendiri yang sengaja dia simpan."

Rani berbohong dengan sangat lancar tanpa ada kedipan sedikit pun di matanya demi menjaga martabat Riko di depan Hendra.

"Riko jauh lebih berharga dan terhormat daripada pria mana pun yang pernah kutemu, termasuk kamu, Hendra," lanjut Rani, suaranya terdengar dingin namun penuh keangkuhan seorang ratu. "Kamu hanya tahu cara berlindung di balik nama besar orang tuamu, sementara suamiku adalah seorang petarung yang bisa bangkit dengan otaknya sendiri. Jadi, silakan angkat kakimu dari hadapan kami sebelum aku memerintahkan sekuriti untuk menyeretmu keluar."

Hendra berdiri terpaku dengan wajah yang memucat padam. Ciuman mendadak dan kata-kata tajam Rani barusan benar-benar menghancurkan egonya sebagai seorang anak konglomerat. Dia menatap Riko dengan kilat dendam yang membara, lalu berbalik dan melangkah pergi dengan kekalahan yang memalukan.

Bersamaan dengan kepergian Hendra, Bu Siska dan Pak Baskoro keluar dari dalam restoran. Setelah berpamitan singkat dengan mira dan dion—di mana Bu Siska masih memasang wajah masam—Riko dan Rani akhirnya masuk ke dalam mobil untuk perjalanan pulang.

Di dalam kabin mobil yang sunyi, atmosfer mendadak berubah menjadi sangat canggung dan pekat. Riko fokus menyetir, namun fokusnya buyar total. Jantungnya masih berdegup kencang, dan area di pipi kanannya yang tadi dicium Rani seolah masih terasa hangat.

Riko melirik sekilas ke arah kursi penumpang. Rani sedang memalingkan wajahnya menatap ke luar jendela kaca, namun Riko bisa melihat dengan jelas melalui pantulan kaca mobil bahwa kedua pipi wanita dingin itu kini dihiasi rona kemerahan yang sangat pekat. Rani sedang salah tingkah setengah mati.

"Tadi itu... di luar kontrak kerja kita, Rani," ujar Riko pelan, mencoba memecah keheningan dengan nada suara yang sengaja dibuat tenang meski hatinya sedang bergemuruh tak karuan.

Rani berdeham kaku, tidak mengubah posisinya yang tetap menatap ke luar jendela. "Itu... itu dalam keadaan darurat. Aku melakukannya hanya untuk membuat Hendra pergi dan memastikan reputasi pernikahan kita tetap terjaga di depan publik. Jangan berpikir yang macam-macam, Riko."

Riko tersenyum tipis—kali ini sebuah senyuman tulus yang tidak disadari oleh Rani. "Aku tahu itu cuma sandiwara, Nyonya Rani. Tapi setidaknya... terima kasih karena sudah membela harga diriku di depan si brengsek itu."

Rani tidak membalas lagi, dia hanya terdiam dengan debaran jantung yang tidak kalah hebatnya di balik dada. Malam itu, di tengah keheningan jalanan ibu kota, sebuah percikan asing bernama cemburu dan gengsi telah menetas, mulai mengikis dinding pembatas yang sengaja mereka bangun di antara lembaran-lembaran kontrak pernikahan mereka.

1
Markario Putra
Mohon tinggalkan komentar kalian untuk karya baru ku ini gaiss,ini karya aku yg ke 3 gaiss,maklumm lah penulis baruu😄😄😄
Terimakasih untuk kalian yang mau mampir di karya kecil ini🙏
jangan lupa like,hadiah juga jgn lupa🤣🤣😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!