Terbangun dari koma, Amira Zoe dipaksa masuk ke dalam pernikahan sandiwara tanpa cinta oleh Daniel Narendra, seorang CEO kaya. Semua demi menjadi sosok "ibu" bagi Felia, putri Daniel yang kritis karena trauma kehilangan ibu kandungnya, Selena. Amira bersedia membimbing bocah itu, asalkan statusnya tetap menjadi diri sendiri, bukan bayang-bayang masa lalu.
Namun, di balik kemegahan mansion Daniel, sebuah rahasia kelam menanti. Amira menemukan fakta mengejutkan bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya adalah sabotase berencana. Seseorang di lingkaran terdekat sengaja mengincarnya karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Selena, demi memalsukan dokumen dan mencairkan dana asuransi kematian bernilai fantastis. Kini, di tengah getar asmara yang perlahan tumbuh di hatinya, Amira harus bertaruh nyawa mengungkap dalang kriminal tersebut sebelum dirinya benar-benar dihabisi.Akankah pernikahan sandiwara ini membuka jawaban semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Keesokan paginya, rintik hujan telah sepenuhnya reda, digantikan oleh sinar matahari yang menembus samar di sela-sela gorden paviliun belakang.
Daniel melangkah masuk ke dalam ruangan ICU mini itu dengan langkah berat. Sisa-sisa kelelahan semalam masih tercetak jelas di wajahnya.
Ia berdiri di samping ranjang, menatap Amira yang masih terbaring kaku dalam kondisi koma.
Suara ritmis dari mesin patient monitor menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi keheningan ruangan.
Wajah wanita itu tampak begitu damai, menyembunyikan badai trauma yang sempat ia rasakan sebelum kecelakaan terjadi.
Langkah kaki yang teratur dari arah pintu membuat Daniel menoleh.
Lukas berjalan mendekat dengan raut wajah siaga, mengisyaratkan bahwa tugas rahasia semalam telah diselesaikan dengan bersih.
"Semua sudah beres, Tuan Daniel," lapor Lukas dengan suara rendah.
"Mobil sedan putih milik wanita itu sudah hancur total di dasar jurang. Saya sudah memastikan tidak ada dokumen atau barang berharga yang tertinggal di sekitar lokasi. Sementara mobil SUV Anda juga sudah diamankan di bengkel pribadi kita untuk perbaikan tanpa rekaman asuransi. Pihak berwajib tidak akan mencium kejadian ini."
Daniel mengangguk puas, namun tatapannya kembali tertuju pada wajah Amira.
"Bagaimana dengan latar belakangnya? Apakah kamu sudah mencari tahu siapa sebenarnya wanita ini?"
Lukas menggelengkan kepalanya dengan dahi berkerut.
"Belum ada petunjuk, Tuan. Saat dievakuasi dari tempat kejadian, tidak ada kartu identitas, dompet, atau tanda pengenal apa pun yang melekat pada tubuhnya. Ponselnya pun tidak ditemukan, kemungkinan hancur atau terlempar jauh ke dalam jurang bersama mobilnya. Dia benar-benar tanpa identitas saat ini."
Daniel terdiam. Tanpa identitas, wanita ini seolah-olah memang diciptakan takdir untuk menghilang dari dunianya yang lama dan masuk ke dalam hidup Daniel sebagai Selena.
Di saat keduanya sedang tenggelam dalam obrolan serius, pintu paviliun tiba-tiba terbuka sedikit.
Langkah kaki kecil yang tergesa-gesa terdengar mendekat.
"P-papa... Felia mau melihat Mama."
Suara cicit polos itu seketika memecah ketegangan.
Felia berdiri di ambang pintu dengan boneka beruang di pelukannya, menatap ke arah ranjang dengan mata bulat yang penuh kerinduan.
Mendengar kedatangan nona kecilnya, Lukas segera tanggap.
Ia membungkuk hormat kepada Daniel. "Saya permisi untuk mengurus hal lain dulu, Tuan," bisiknya, lalu melangkah keluar dengan tenang, memberikan ruang bagi keluarga kecil itu.
Daniel segera berjalan menghampiri Felia, lalu mengangkat tubuh mungil putrinya itu ke dalam gendongannya.
Ia membawa Felia mendekat ke sisi ranjang tempat Amira terbaring kaku, dikelilingi oleh bunyi ritmis mesin medis yang konstan.
Begitu jarak mereka dekat, mata bulat Felia langsung berbinar.
Tangan kecilnya terulur, menyentuh lembut jemari Amira yang bebas dari selang infus.
"M-mama..." cicit Felia dengan suara yang bergetar menahan rindu.
Air mata kecil mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Mama, Felia rindu M-ama..."
Daniel hanya bisa terdiam dengan dada yang terasa sesak.
Ia membiarkan putrinya melepaskan seluruh kerinduan pada wanita asing yang kini terpaksa menyandang nama Selena tersebut. Namun, momen emosional itu mendadak terinterupsi.
Tok, tok, tok!
Suara ketukan pintu yang tegas memecah keheningan paviliun.
Suster pengasuh Felia melongokkan kepalanya dari balik pintu dengan raut wajah yang tampak tegang dan cemas.
"Tuan Daniel, maaf mengganggu. Di depan, ada Nyonya Gayatri datang," lapor suster itu dengan suara setengah berbisik.
Gayatri. Ibu kandung mendiang Selena, sekaligus mantan mertua Daniel yang terkenal angkuh, tajam, dan selalu mengawasi setiap gerak-geriknya sejak kematian Selena setahun lalu.
Kedatangan wanita itu yang mendadak jelas bukan sekadar kunjungan kekeluargaan biasa.
Daniel mengeraskan rahangnya. Kilat ketegangan menyelimuti tatapannya, namun ia dengan cepat menguasai diri. Ia menganggukkan kepalanya dengan tenang kepada sang suster.
"Bawa Felia kembali ke kamarnya sekarang," perintah Daniel rendah seraya menurunkan putrinya dari gendongan.
Setelah Felia dibawa keluar, Daniel menatap Amira sekali lagi—memastikan selimutnya terpasang rapi untuk menyembunyikan identitas medisnya—sebelum ia melangkah keluar dengan waspada untuk menemui sang ibu mertua yang sudah menunggu di ruang utama.
Badai baru yang sesungguhnya kini telah tiba di rumahnya.
Gayatri berdiri tegak di tengah ruang tamu, menatap nanar sebuah foto pernikahan berbingkai emas yang terpajang di dinding.
Di dalam foto itu, mendiang putrinya, Selena, tersenyum begitu anggun.
Wanita paruh baya yang berbalut pakaian mewah dan perhiasan berkilau itu tidak menoleh sedikit pun bahkan saat mendengar langkah kaki Daniel mendekat.
Atmosphere di ruangan itu seketika mendingin, sarat akan ketegangan yang tertahan.
"Aku mendengar kabar burung yang sangat menarik, Daniel," ujar Gayatri, suaranya terdengar datar namun tajam, memecah keheningan.
Ia baru membalikkan tubuhnya, menatap mantan menantunya dengan tatapan menyelidik.
"Aku dengar kamu membawa pulang seorang wanita yang wajahnya sangat mirip dengan putriku ke rumah ini. Boleh Mama lihat?"
Daniel menghentikan langkahnya beberapa meter di depan Gayatri.
Ekspresi wajahnya mengeras, berubah menjadi topeng sedingin es yang tidak bisa ditembus.
Daniel menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Tidak bisa, Ma. Dia sedang koma, dan dokter spesialis sedang melakukan penanganan intensif di dalam. Ruangannya harus steril."
Mendengar penolakan itu, Gayatri tidak marah. Ia justru menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan sarkasme.
"Dunia ini benar-benar sangat lucu, ya?" ucapnya sembari melangkah perlahan mengitari ruangan. "Putriku meninggal dunia setahun yang lalu, dan sekarang tiba-tiba ada wanita lain yang wajahnya kembar identik muncul di hadapanmu. Kenapa bisa kebetulan sekali?"
Gayatri menghentikan langkahnya, menatap Daniel dengan mata yang menyipit penuh kecurigaan.
"Mama pikir, wanita itu hanya pura-pura koma. Itu taktik murahan agar dia bisa masuk ke rumah ini, menarik simpatimu, dan memilikimu, Daniel. Wanita zaman sekarang pandai sekali bersandiwara."
Deg!
Mendengar tuduhan itu, Daniel mencengkeram erat kedua tangannya di dalam saku celana hingga buku-buku jarinya memutih.
Rahangnya mengatup rapat menahan gejolak emosi yang membakar dadanya.
Aku yang menabraknya! Aku yang membuat wanita itu koma! teriak Daniel membatin.
Rasa bersalah dan kemarahan berbaur menjadi satu di dalam hatinya, namun ia harus tetap bungkam demi melindungi rahasia besar ini.
Gayatri mendengus remeh, menganggap diamnya Daniel sebagai bentuk pembenaran.
Ia merapikan tas jinjing bermereknya, lalu menatap Daniel dengan pandangan memperingatkan yang sangat dingin.
"Mama, tidak mau harta peninggalan Selena dan hak asuh Felia jatuh atau diambil oleh wanita kampung tidak jelas seperti dia. Ingat itu, Daniel. Keluarga besar kami akan terus mengawasimu."
Tanpa menunggu jawaban dari Daniel, Gayatri membalikkan badan.
Dengan langkah angkuh yang mengeset lantai marmer, ia melangkah lebar meninggalkan rumah mewah tersebut.
Daniel tetap berdiri terpaku di tempatnya, menatap pintu depan yang tertutup dengan napas yang memburu.
Kedatangan Gayatri barusan memperjelas satu hal: jika Amira terbangun nanti, tantangan yang mereka hadapi bukan hanya meyakinkan Felia, melainkan juga menghadapi tembok kecurigaan keluarga Narendra yang siap menerkam setiap saat.
Setelah kepergian Gayatri yang meninggalkan atmosfer ketegangan di ruang utama, Daniel melangkah kembali menuju paviliun belakang.
Langkah kakinya terasa begitu berat, bergaung di sepanjang koridor sunyi yang kini hanya menyisakan rintik hujan samar di luar.
Ia membuka pintu ruang ICU mini itu dengan perlahan, seolah takut mengusik keheningan yang menyelimuti wanita di dalam sana.
Daniel berjalan mendekati sisi ranjang medis. Ia tidak henti-hentinya menatap wajah Amira.
Di bawah pendar lampu ruangan yang temaram, setiap detail wajah wanita yang tengah terbaring koma itu terus mengacaukan akal sehatnya.
Bentuk alisnya, garis rahangnya, hingga bibir pucat yang terkatup rapat itu benar-benar refleksi sempurna dari masa lalunya.
Rasa lelah, rasa bersalah atas kecelakaan, serta kerinduan masif yang selama setahun ini ia pendam sendiri sebagai ayah tunggal mendadak meluap, mengubur seluruh logika bahwa wanita di hadapannya ini sebenarnya adalah orang asing tanpa identitas.
Daniel membungkukkan tubuhnya perlahan. Dengan gerakan yang sangat rapuh, ia mendekatkan wajahnya dan mencium kening Amira dengan lembut—sebuah kecupan yang sarat akan keputusasaan dan duka yang teramat dalam.
"Selena sayang, aku merindukanmu," bisik Daniel lirih tepat di atas kening Amira.
Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam ilusi dan kebohongan yang ia ciptakan sendiri di malam yang sunyi itu.