Hino dijebak obat oleh Irmi, kenyataannya Hino sudah punya istri bernama Erni. Bagaimana nasibnya, apakah cerai atau mati?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si tupai yang merokok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Jerat di Pangkal Tangga
Sinar matahari sore yang temaram menerobos masuk melalui ventilasi udara, memantulkan bayangan jeruji besi gerbang pada lantai keramik koridor bawah. Hino melangkah keluar dari kamar depan dengan tubuh yang lelah, baru saja menyelesaikan setengah hari tidurnya setelah semalam suntuk memenuhi jadwal rahang di lantai atas bersama Irmi. Saat kakinya baru saja hendak melangkah menuju area parkir motor untuk berangkat shift siang di minimarket, sebuah langkah kaki yang anggun terdengar menuruni anak tangga lantai dua.
Linda berdiri di undakan tangga ketiga, memegang sebuah gelas kaca berisi es kopi. Pakaian rumahannya yang sedikit longgar mempertegas lekuk tubuhnya yang matang sebagai wanita berusia tiga puluh satu tahun. Ia menatap Hino dengan senyuman sinis yang biasa ia gunakan untuk mengintimidasi mahasiswa di ruang kuliah.
"Baru bangun, Kepala Toko?" sindir Linda, suaranya pelan namun terdengar sangat jernih di koridor yang sunyi. Ia meraba saku blusnya, memperlihatkan ujung ponsel pintarnya yang berisi rekaman pertengkaran panas antara Hino dan Erni malam tadi. "Bagaimana rasanya tidur di kasur mewah hasil memeras modal toko? Sangat berisik sampai rekamanku penuh dengan suara tangisan istrimu."
Hino menghentikan langkahnya. Darah di dalam tubuhnya mendadak berdesir panas. Rasa terhina, lelah batin, dan stres akibat tekanan dari Erni serta Irmi selama satu bulan terakhir ini mencapai titik jenuhnya sore ini. Ditambah lagi dengan gangguan Bu Hina yang terus membuntutinya ke toko, kewarasan Hino sebagai pria runtuh total. Ia tidak lagi peduli dengan gelar dosen atau wibawa intelektual perempuan di hadapannya.
Dengan satu gerakan cepat yang tidak terduga, Hino melangkah maju, mencengkeram pergelangan tangan Linda hingga gelas di genggaman wanita itu hampir terjatuh. Sebelum Linda sempat berteriak, Hino mendorong tubuh matang dosen itu hingga punggungnya membentur dinding semen di sudut tangga.
Tangan kiri Hino bergerak naik, mencengkeram kuat pangkal leher Linda, menekan tenggorokannya hingga napas wanita itu tercekat. Matanya menyalang tajam, menatap lurus ke dalam manik mata Linda yang mendadak melebar oleh rasa syok yang nyata. Hino mendekatkan wajahnya, menempelkan bibirnya tepat di daun telinga Linda, mengembuskan napasnya yang panas bersama bisikan yang sarat akan ancaman jahanam seorang pria yang tidak lagi memiliki rasa takut.
"Sekali lagi kau membuatku muak dengan ucapan dan ponsel sialanmu itu, Linda... aku yang brengsek ini tidak akan segan-segan membuat perutmu ikut berisi seperti dua wanita di bawah," bisik Hino, suaranya rendah, serak, namun memiliki daya tekan seksual yang begitu pekat hingga membuat tubuh Linda gemetar seketika di dalam kungkungannya.
Hino melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar, membiarkan Linda terbatuk kecil sambil memegangi lehernya yang memerah. Wajah arogansi sang dosen runtuh untuk pertama kalinya, digantikan oleh debar jantung yang berpacu brutal akibat dominasi fisik Hino yang begitu liar. Tanpa memedulikan Linda yang masih terpaku di sudut tangga, Hino berbalik dan berjalan keluar menuju motornya, meninggalkan area pekarangan kontrakan dengan deru mesin yang kencang.
***
Satu jam setelah kepergian Hino, suasana di luar gerbang besi mulai menunjukkan kejanggalan baru. Kontrakan dua lantai yang awalnya sengaja dibangun sepi oleh mendiang suami pilot Irmi agar tidak bising, sore ini mendadak diketuk oleh orang asing.
Bu Hina berdiri di tikungan jalan kampung, bersembunyi di balik pohon mangga bersama beberapa ibu-ibu kompleks. Otak liciknya yang dendam setelah ditampar Erni kemarin pagi telah menyusun strategi baru. Karena tidak bisa lagi menembus gerbang bawah yang digembok rapat, Hina sengaja mendatangi area kampus dan memprovokasi seorang mahasiswi tingkat akhir yang sedang frustrasi mencari keberadaan Linda untuk bimbingan skripsi.
Seorang gadis muda berusia dua puluh dua tahun, mengenakan kemeja putih rapi dan rok hitam sambil memeluk map tebal, berjalan ragu-ragu mendekati gerbang kontrakan bawah. Namanya dalah Risa, mahasiswi bimbingan utama Linda yang diberitahu oleh Hina bahwa dosennya sedang bersembunyi di tempat ini.
Risa mengetuk pagar besi dengan ragu-ragu. "Permisi... Bu Linda? Apakah ada orang di dalam?"
Pintu kamar depan terbuka, dan Erni keluar dengan daster mahalnya, wajahnya langsung mengeras ketika melihat seorang gadis muda berwajah polos dan cantik sedang mencari penghuni kontrakan mereka. Di lantai atas, Irmi yang sedang memeriksa sisa berkas toko juga melongokkan kepalanya dari balkon, dahinya berkerut melihat privasi rumah peninggalan mendiang suaminya mulai diinjak oleh anak kuliahan.
Linda yang baru saja selesai menenangkan debar dadanya akibat ancaman leher dari Hino tadi, berjalan keluar ke koridor lantai dua. Matanya melotot tajam saat melihat mahasiswi bimbingannya sendiri sudah berdiri di depan gerbang bawah, memandang ke arah atas dengan mata polos.
Risa mendongak, wajahnya mendadak cerah saat melihat dosen pembimbingnya keluar. "Aduh, Bu Linda! Ternyata Ibu benar ada di sini kata Ibu Hina di depan warung tadi. Bu, tolong saya... skripsi saya harus segera diuji minggu depan, tapi Ibu susah sekali ditemui di kampus."
Erni melangkah mendekati gerbang dengan tatapan penuh selidik yang dingin, memandang Risa dari ujung rambut hingga ujung kaki seolah gadis itu adalah ancaman baru bagi keamanan rumah bawah. Ia menoleh ke arah tangga, menatap Linda dengan senyuman yang sarat akan sindiran. "Oh, jadi laboratorium riset sosialmu sekarang sudah buka cabang sampai ke mahasiswi mudamu sendiri, Bu Dosen?"