"Setelah lima tahun menjadi pelayan tak bergaji bagi suami dan keluarga mertuanya, Rania pergi membawa luka dan kembali sebagai badai yang akan menghancurkan kerajaan mereka."
Selamat membaca...jangan lupa dukung authir yaa...terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hidangan Terakhir di Meja Luka
Lantai marmer yang dingin terasa menusuk hingga ke tulang melalui telapak kaki Rania yang telanjang. Jam di dinding ruang makan menunjukkan pukul satu dini hari, tapi wanita itu masih bergelut dengan kain pel dan air sabun yang mulai menghitam. Di atas meja makan yang panjang, sisa-sisa pesta perayaan kenaikan jabatan Rendra masih berantakan. Piring-piring dengan noda lemak membandel, gelas kristal yang menyisakan sedikit anggur mahal, serta remah-remah makanan yang berserakan, seolah-olah mengejek Rania.
Ia tidak diundang dalam pesta itu. Padahal, dialah yang memasak seluruh hidangannya sejak pagi buta. Rendra melarangnya keluar dari dapur dengan alasan sederhana yang menghancurkan harga diri: "Teman-temanku adalah orang-orang kelas atas, Rania. Aku tidak mau mereka melihat istriku yang hanya memakai daster dan berbau bawang."
Rania mengusap peluh di dahinya dengan punggung tangan yang kasar. Tangannya yang dulu halus kini dipenuhi luka kecil akibat pisau dan kulit yang mengelupas karena terlalu sering terpapar deterjen kimia. Selama lima tahun pernikahan, Rania telah berubah dari seorang wanita berpendidikan menjadi bayangan di rumahnya sendiri.
"Masih belum selesai?" sebuah suara tajam memecah keheningan.
Rania menoleh. Ibu Ratna, ibu mertuanya, berdiri di ambang pintu dengan piyama sutra mahalnya.
"Sedikit lagi, Bu," jawab Rania lirih. Suaranya serak karena tenggorokannya sakit, gejala flu yang ia abaikan demi melayani tamu-tamu suaminya.
"Lambat sekali. Kamu itu dibayar bukan untuk bermalas-malasan," cibir Ibu Ratna sambil melangkah mendekat, matanya menatap tajam ke lantai yang baru saja dipel. "Lihat ini! Masih ada bercak air! Pel lagi dari ujung sana! Dasar tidak becus. Heran saya, kenapa Rendra dulu mau menikahi wanita yatim piatu seperti kamu. Hanya bisa menyusahkan saja."
Rania terdiam. Dadanya sesak, seolah ada bongkahan batu besar yang menghimpit jantungnya. Ia ingin berteriak bahwa rumah ini tetap berdiri tegak karena pengabdiannya, tapi bibirnya terkunci karena rasa baktinya yang salah arah.
Tiba-tiba, suara tangis kecil terdengar dari lantai atas. Itu suara Abid. Tangisan yang terdengar sesak dan tidak wajar.
Rania langsung melepaskan alat pelnya. "Abid ... itu suara Abid, Bu."
"Paling cuma mimpi buruk! Selesaikan dulu pekerjaanmu!" teriak Ibu Ratna, tapi Rania tidak peduli. Ia berlari menaiki tangga, mengabaikan teriakan makian mertuanya yang menggema di ruang tamu.
Di dalam kamar kecil yang pengap di ujung lorong—kamar yang diberikan Rendra untuk anak mereka karena kamar utama yang lebih luas dipakai Tyas untuk menyimpan koleksi tasnya—Rania menemukan Abid. Bocah berusia empat tahun itu meringkuk dengan tubuh bergetar hebat. Wajahnya merah padam, dan napasnya terdengar tersengal-sengal.
"Sayang ... Abid, ini Bunda," Rania menyentuh dahi anaknya dan langsung tersentak. Panas sekali. Rasanya seperti menyentuh air yang mendidih.
"Bunda ... sesak ... sakit..." rintih Abid dengan mata yang sulit terbuka.
Panik mulai menjalari saraf Rania. Ia tahu ini bukan demam biasa. Abid memiliki riwayat asma, dan demam tinggi seperti ini bisa memicu serangan yang fatal. Ia segera menggendong Abid dan berlari menuju kamar utama yang luas dan sejuk di lantai dua.
Tanpa mengetuk, Rania membuka pintu kamar itu.
"Mas! Mas Rendra! Bangun! Abid sakit parah, Mas! Kita harus ke rumah sakit sekarang!"
Di dalam kamar, Rendra sedang bersandar di kepala ranjang sambil memainkan ponselnya. Ia tampak segar, sama sekali tidak terlihat mengantuk. Namun, yang membuat jantung Rania seolah berhenti berdetak adalah pemandangan di layar ponsel suaminya yang terpantul di cermin besar di atas kepala ranjang.
Rendra sedang melakukan panggilan video. Di layar itu, seorang wanita cantik bernama Gisela sedang tertawa manja, hanya mengenakan pakaian tidur tipis yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.
"Sstt, Sayang, sebentar ya, pengganggu datang," ucap Rendra pada wanita di ponselnya dengan nada lembut yang tidak pernah lagi ia gunakan pada Rania.
Rendra menoleh pada Rania, wajahnya seketika berubah menjadi beringas. "Apa-apaan kamu main masuk saja?! Tidak punya sopan santun?"
"Mas, lihat Abid! Dia kejang, napasnya sesak! Kita harus ke IGD sekarang, tolong nyalakan mobilnya!" Rania berteriak histeris, air matanya mulai mengalir deras membasahi wajah Abid yang pucat.
Rendra mendengus kasar. Ia bahkan tidak beranjak dari tempat tidur. "Dia cuma demam, Rania. Kamu saja yang terlalu drama. Kasih obat penurun panas juga sembuh. Jangan ganggu waktuku, aku sedang ada urusan bisnis penting dengan Gisela."
"Bisnis apa yang dilakukan tengah malam dengan pakaian seperti itu, Mas?!" suara Rania melengking, penuh luka yang tak tertahankan.
"Anakmu sedang bertaruh nyawa! Di mana nuranimu?!"
Tiba-tiba, Ibu Ratna dan Tyas muncul di ambang pintu, terbangun karena keributan itu.
"Ada apa sih? Berisik sekali!" keluh Tyas sambil menguap. Ia menatap Abid dengan jijik. "Aduh, Kak Rania, jangan bawa anak sakit ke sini. Nanti virusnya menyebar ke kamarku yang baru aku semprot parfum mahal."
"Rendra, lihat istrimu ini. Berani sekali dia meneriaki kamu," kompor Ibu Ratna. "Rania, kalau kamu mau ke rumah sakit, pergi saja sendiri. Jangan manja. Rendra besok ada rapat pagi. Lagipula, anak itu cuma butuh istirahat, kamu saja yang mau cari perhatian suamimu dengan cara murahan seperti ini."
Rania menatap mereka bertiga bergantian. Suaminya yang berselingkuh di depan matanya, mertuanya yang berhati batu, dan adik iparnya yang egois. Mereka semua berdiri di sana, di bawah lampu kristal yang mahal, sementara anaknya sedang berjuang untuk satu tarikan napas di pelukannya.
"Mas ... aku mohon ... pinjamkan aku kunci mobilmu saja kalau kamu tidak mau mengantar," Rania memohon, suaranya sudah pecah menjadi isak tangis yang memilukan.
Rendra tertawa sinis. Ia melempar dompetnya ke arah Rania. Dompet itu mendarat di lantai, terbuka, memperlihatkan beberapa lembar uang ratusan ribu. "Mobil itu baru aku servis, aku tidak mau ada bau muntah anak kecil di dalamnya. Pakai uang itu, panggil taksi online. Dan ingat, setelah ini jangan berani-berani masuk ke kamarku lagi tanpa izin."
Rania tertegun melihat uang yang berserakan di lantai. Ia merasa harga dirinya ikut terinjak bersama uang-uang itu. Dengan tangan gemetar, ia tidak mengambil uang itu. Ia mengeratkan dekapannya pada Abid.
"Baik," bisik Rania. Suaranya kini terdengar berbeda. Bukan lagi rintihan wanita lemah, melainkan suara seseorang yang baru saja kehilangan segalanya, termasuk rasa takutnya.
"Aku akan pergi. Tapi ingat kata-kataku, Rendra. Mulai detik ini, kamu bukan lagi ayah dari anakku. Dan bagi kalian semua ... nikmatilah sisa-sisa kemewahan yang kalian curi dariku. Karena sebentar lagi, aku akan memastikan kalian tidak akan punya lantai untuk berpijak."
"Halah! Banyak bicara! Pergi sana!" usir Ibu Ratna sambil mendorong bahu Rania.
Rania berbalik. Ia menuruni tangga dengan langkah yang berat namun pasti. Di bawah guyuran hujan yang tiba-tiba turun dengan lebatnya, ia berlari keluar dari gerbang rumah megah itu. Tidak ada taksi yang lewat. Ponselnya mati total karena ia tidak sempat mengisinya semalaman akibat sibuk memasak.
Ia terus berlari, mendekap tubuh Abid yang semakin dingin di bawah hujan. Ia menangis, meraung, meminta pertolongan pada kegelapan malam.
Hingga sebuah mobil hitam mewah berhenti mendadak di depannya, menciptakan cipratan air yang tinggi. Pintu mobil terbuka, dan seorang pria tinggi berbalut jas hitam mahal keluar dengan payung di tangan.
Pria itu terpaku menatap sosok wanita yang hancur di depannya. "Rania?"
Rania mendongak dengan sisa kekuatannya. Matanya yang merah menatap pria itu. "Elang ... tolong ... tolong anakku..."
Dan sebelum kesadarannya hilang, Rania bersumpah di dalam hatinya: Jika Abid selamat, ia akan menghancurkan keluarga Rendra hingga ke akar-akarnya. Ia tidak akan lagi menjadi Rania yang lembut. Ia akan menjadi pedang yang akan menebas setiap inci kebahagiaan mereka.
Penyesalan Rendra tidak akan berakhir dengan kata maaf. Penyesalan itu harus dibayar dengan air mata, harta, dan jika perlu ... darah.
pst dapat cap pelakor😄🤭