Rumah mewah di tengah hutan yang di akui kepemilikan nya oleh sepasang suami istri , karena rumah mewah itu memiliki banyak kamar dan dekat dengan tempat wisata akhir nya mereka sewakan untuk para wisatawan yang ingin menginap dengan harga murah tapi pemandangan alam sekitar mampu memanjakan mata .
Tanpa di sadari sepasang suami istri itu jika tak gratis untuk bisa memiliki rumah mewah itu .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zulia Almanshur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Bau Melati
Tepat jam dua pagi bu Wati terbangun karena mendengar ada nya aktifitas di dapur tapi bu Wati melihat pak Soni masih tertidur pulas di samping nya .
Bu Wati penasaran siapa yang telah memasak malam - malam di dapur dan rasa penasaran itu membawa nya melangkah dan berjalan ke dapur .
Tercium bau bunga melati yang sangat menyengat dari dapur tapi bu Wati berfikir positif dan merasa itu hanyalah bau bunga melati yang tumbuh subur di samping rumah .
Seperti nya pemilik rumah memang sangat menyukai bunga melati sehingga sepanjang samping rumah di tanami bunga melati .
Samar - samar bu Wati mendengar suara perempuan melantunkan tembang jawa
" Lingsir wengi , Sepi durung bisa nendra
Kagodha mring wewayang , Ngerindhu ati
Kawitane , Mung sembrana njur kulina
Ra ngira yen bakal nuwuhke tresna
Nanging duh tibane , Aku dhewe kang nemahi
Nandang branta , Kadung lara
Sambat , sambat sapa "
( Saat menjelang tengah malam , Sepi belum bisa tidur
Tergoda dengan bayangmu , Di dalam hati
Awal mulanya , Cuma bercanda terus terbiasa
Tidak menyangka kalau bisa menjadi cinta
Kalau sudah saatnya , Aku sendiri akan mengalami
Jatuh cinta , Terlanjur sakit
Mengeluh , mengeluh sama siapa )
Bu Wati berjalan pelan mendekat pada meja makan .
" Siapa kamu ? " . Tanya bu Wati memandang perempuan yang sibuk memasak di hadapan nya .
Perempuan itu menoleh . Sesaat tidak ada yang aneh dengan perempuan itu . Wajah nya manis , hidung nya mancung dan rambut nya panjang bergelombang .
Tapi pandangan mata nya terlihat kosong dan bibir nya terlihat sangat pucat . Perempuan itu memakai kebaya coklat sebagai atasan nya dan kain batik senada sebagai bawahan nya .
" Aku hanya perempuan tidak waras yang mengorbankan anak - anak ku untuk membuat aku dan suami ku menjadi kaya " . Jawab perempuan itu pelan akan tetapi mata nya tetap memandang ke depan tanpa berkedip .
Terlihat kesedihan di mata nya akan tetapi tidak ada air mata yang keluar .
" Lalu , kenapa kamu di sini ? " . Tanya bu Wati ragu .
" Aku cuma masak untuk aku berikan pada anak - anak ku , kedua anak ku menyukai makanan yang berbeda , yang satu suka makan sayuran dan yang satu nya makan ikan " . Perempuan itu berkata dengan tatapan lurus kedepan padahal bu Wati berada di samping meja makan .
" Tapi di mana anak mu ? " . Tanya bu Wati yang tidak melihat siapa pun di dapur .
Bu Wati merasa heran jangankan suara anak - anak , bahkan rumah itu tidak memiliki tetangga .
" Bu " . Panggil pak Soni yang baru sampai di dapur . Pak Soni terbangun karena tidak mendapati bu Wati di samping nya dan memutuskan untuk mencari bu Wati .
Pak Soni yang terbiasa menggunakan lengan nya menjadi bantal bu Wati membuat nya mudah terbangun ketika melihat bu Wati tidak lagi ada di samping nya .
Bu Wati menoleh mendengar panggilan pak Soni .
" Ibu ngapain berada di sini , kalau ibu haus kenapa nggak bangunin bapak saja biar bapak yang mengambilkan " .
" Ini loh pak , ada yang numpang masak buat anak - anak nya kata nya , iya kan mbak .... " . Bu Wati menghentikan kalimat nya ketika tidak lagi mendapati perempuan itu .
" Mana bu ? " . Pak Soni celingak - celinguk mencari perempuan yang di maksud bu Wati , sementara di sana tidak ada siapapun selain mereka berdua .
Bu Wati yang masih terkejut sebab tidak lagi mendapati perempuan itu di dapur semakin pucat wajah nya .