NovelToon NovelToon
Istriku Mengubah Hidupku

Istriku Mengubah Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ramirisss

Bumi mengalami kehancuran dengan munculnya banyak Monster melalui retakan dimensi, hingga bencana ini disebut sebagai The Chaos.

Manusia mulai beradaptasi dan berevolusi. Kini setiap manusia punya Status Window sebuah layar hologram mengambang yang hanya dapat dilihat oleh pemiliknya. Dan manusia pun disebut sebagai Userator. Namun tidak semua Userator itu kuat, karena syarat menjadi kuat adalah Awakening.

Arka adalah Userator biasa yang belum Awakening, ia bekerja sebagai kuli bangunan. Tiba-tiba dinikahkan dengan seorang gadis bernama Sisil untuk melunasi hutang Ibunya.

Siapa sangka setelah menikah—Arka malah Awakening, kekuatannya meningkat.

[Bahagiakan Istrimu untuk mendapatkan banyak keuntungan dan meningkatkan kekuatanmu!]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramirisss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25 Rencana Seseorang

​Sore menjelang di kawasan karantina militer. Arka berjalan santai menyusuri koridor beton luar setelah menyelesaikan perburuan. Langkah kakinya mengarah lurus ke area parkir bawah tanah, berniat untuk segera pulang dan menemui belahan jiwanya.

​Namun, baru berjalan beberapa belas meter, seluruh indra tajam Arka mendadak menangkap sesuatu yang ganjil.

Insting bertarungnya yang melampaui batas manusia biasa bergetar—ada sekelompok orang yang bergerak sembunyi-sembunyi, mengintai posisinya dengan hawa membunuh yang tersamar.

​‘Seseorang sengaja mengincarku?’ batin Arka, seulas senyum dingin terukir di sudut bibirnya.

​Alih-alih menghindar, Arka justru sengaja membelokkan arah langkahnya menuju ke area reruntuhan bangunan kosong yang sepi dan terisolasi dari jangkauan radar pengawasan. Ia sengaja membiarkan dirinya masuk ke dalam perimeter jebakan para pengintai tersebut.

​Begitu Arka tiba di tengah area mati yang tidak ada orang sama sekali, pergerakan udara di sekitarnya mendadak menderu kencang.

​WUSH! WUSH! WUSH!

​Tiga orang pria bersetelan zirah tempur hitam legam melompat turun dari balik reruntuhan dinding, langsung mengepung dan menghadang jalur pelarian Arka dengan kecepatan penuh.

Dari fluktuasi mananya, mereka jelas merupakan Userator kelas atas yang berpengalaman. Mereka menatap Arka dengan senyuman keji, seolah-olah sedang memandangi seekor domba lemah yang siap disembelih.

​Arka berdiri tegak, melipat kedua tangannya di dada dengan ekspresi yang sangat tenang. "Siapa kalian?"

​"Hehehe, kau tidak perlu tahu siapa kami," sahut pria di barisan depan dengan nada mengejek. "Kau hanya perlu tahu satu hal... kami di sini datang khusus untuk mencabut nyawamu hari ini."

​"Melihat perawakan dan gerak-gerik kalian... Apakah kalian adalah kelompok Userator bayaran yang biasa melakukan jasa pembunuhan ilegal?" tanya Arka, nadanya terdengar seperti sedang mengobrol biasa.

​"Oh, ternyata kau cukup berwawasan juga ya," pria itu terkekeh sinis, menghunus sebilah pedang berlapis racun. "Sayang sekali, takdirmu harus berakhir di sini karena kau sudah menjadi target mati dari pelanggan kami."

​"Lalu, siapa orang yang sudah membayar kalian untuk membunuhku?" tanya Arka lagi, memicingkan matanya.

​"Hehehe, mana mungkin kami membocorkan identitas dan nama pelanggan kami sendiri. Itu melanggar kode etik profesi, tahu!" ucap salah satu Userator bayaran itu sembari bersiap menerjang ke depan.

​"Hmm, kalau begitu... terpaksa akan kubuat mulut busuk kalian itu mengatakannya sendiri secara sukarela," ucap Arka pelan.

​"Coba saja kalau kau memang bisa, kuli bangunan sial—"

​BZZZZT—SHUUT!

​Belum sempat kalimat makian itu selesai terucap, ruang di sekitar ketiga pembunuh bayaran itu mendadak bergetar hebat. Dalam satu fraksi detik yang tidak masuk akal, pemandangan reruntuhan kota Jakarta seketika runtuh dan berganti total. Kaki mereka tidak lagi menginjak beton, melainkan tanah merah yang tandus dan berbau belerang pekat.

​Mereka telah diseret masuk ke dalam dimensi milik Arka.

​"K-Kita ada di mana sekarang?!"

"Sial! Tempat terkutuk apa ini?! Kenapa lanskap dunianya mendadak berubah?!"

​Ketiga pembunuh bayaran itu langsung didera kepanikan massal yang teramat sangat. Detik berikutnya, atmosfer di dalam dimensi Sonoro mendadak berubah menjadi luar biasa kelam dan pekat, seakan-akan ada sebuah tirai raksasa yang menutupi seluruh pasokan cahaya matahari dari atas langit.

​Ketika mereka memberanikan diri untuk mendongak dan mengedarkan pandangan ke sekeliling, lutut ketiga Userator kelas atas itu seketika lemas hingga nyaris ambruk ke tanah. Wajah mereka pucat pasi laksana mayat.

​Di sekeliling mereka, sejauh mata memandang, telah berdiri berbaris rapat jutaan pasang mata merah menyala yang memancarkan tekanan hawa membunuh tingkat dewa.

Mereka dikepung oleh ratusan monster raksasa berukuran setinggi gedung pencakar langit dari kelas Overlord, puluhan ribu monster mengerikan dari kelas Elite, serta ratusan ribu barisan pasukan monster dari kelas Common. Seluruh legiun makhluk buas itu berdiri kokoh, menatap ketiga pembunuh bayaran tersebut laksana serangga kecil yang siap dikunyah hidup-hidup.

​"A-Apa-apaan semua ini?!"

"Ini... Kita sedang berada di dalam neraka!!"

"Sialan! Apa yang sebenarnya sudah dilakukan oleh bocah itu?!"

"Informasi dari klien benar-benar salah! Sialan, katanya target kita hanyalah seorang kuli bangunan miskin tak berdaya?! Bagaimana mungkin seorang kuli bangunan bisa melakukan hal segila ini?!" teriak pemimpin pembunuh bayaran itu dengan suara melengking histeris karena ketakutan yang amat sangat.

​Tap.

​Arka memanifestasikan dirinya mendadak, berdiri tegak di hadapan mereka dengan sepasang mata yang berkilat dingin. "Jadi... bagaimana? Apakah kalian masih berniat untuk tetap menutup mulut busuk kalian itu di hadapanku, hm?"

​"A-Ampun, Tuan!! Ampun!! Kami menyerah!!" Ketiga pembunuh bayaran itu langsung menjatuhkan diri, bersujud menyentuh tanah dengan tubuh yang gemetar hebat.

"Kami akan memberi tahu semua hal yang kami tahu! Tolong jangan bunuh kami!!"

​"Siapa bajingan yang menyuruh kalian?" tanya Arka mutlak.

​"D-Dia adalah seorang wanita paruh baya dari distrik bawah! Kami dibayar mahal olehnya untuk membunuh seorang pria kuli bangunan yang bernama Arkana Herssen!" ucap sang pemimpin dengan cepat tanpa berani menyembunyikan apa pun.

​Arka mengernyitkan dahinya. ‘Wanita paruh baya? Apakah... Ibu tiri Sisil?’ batin Arka merunut logika.

"Apakah hanya itu perintah yang diberikan kepada kelompok kalian?"

​"I-Iya, Tuan! Itu perintah khusus untuk sub-kelompok kami! Sementara sisa kelompok kami yang lain... saat ini ditugaskan untuk pergi menangkap dan menculik seorang wanita muda yang bernama Raisilya Putri!" jelasnya ketakutan.

​BOOOMM!

​Mendengar nama istrinya terancam diculik, aura petir hitam di sekujur tubuh Arka meledak aktif secara ekstrem. Wajah tampannya mendadak berubah menjadi luar biasa murka dan dingin, memancarkan niat membunuh yang sanggup membekukan sirkulasi darah ketiga orang di bawahnya.

​"K-Kami sudah menceritakan seluruh kebenarannya, Tuan... Tolong, sesuai janjimu... bebaskan kami dari tempat ini!" pinta mereka meratap memelas.

​Arka menatap mereka dari atas dengan pandangan rendah.

"Kapan... aku pernah berjanji untuk melepaskan bajingan seperti kalian?" ucap Arka dingin, lalu melambaikan tangan kanannya ke samping.

​BLAAAMMM!!!

​Sebelum ketiga pembunuh bayaran itu sempat merespons atau menjerit, sebuah hantaman kepalan tangan batu raksasa milik Golem kolosal kelas Overlord jatuh menghujam lurus dari langit, meremukkan tubuh ketiga orang tersebut hingga hancur lebur menyatu dengan tanah dalam sekali pukul tanpa sisa.

​Arka mengedarkan pandangan ke sekeliling dimensinya, menatap barisan makhluk buas yang tunduk patuh pada otoritasnya.

‘Aku tidak menyangka kalau menutup banyak retakan dimensi di luar sana dan menggabungkan residu energinya bisa meningkatkan kualitas ekosistem monster di dalam Sonoro sepesat ini... Sekarang, legiun monster milikku bahkan didominasi oleh kelas Overlord,’ batin Arka puas, sebelum akhirnya memejamkan mata untuk melakukan teleportasi keluar dari dimensinya sendiri.

​BZZZT—

​Kembali ke tempat parkir semula di dunia nyata, Arka langsung merogoh saku jaketnya dengan terburu-buru, mengambil ponsel pribadinya dan menekan nomor kontak istrinya.

Jantungnya berdegup kencang karena khawatir. Begitu panggilan tersambung, suara manis yang akrab terdengar di seberang sana.

​"Halo, Mas Arka?" sahut Sisil dengan nada lembut laksana dewi.

​"Ada apa, Mas?" tanya Sisil lagi dari balik pengeras suara.

​"Kamu... kamu sekarang sedang berada di mana, Sayang?!" tanya Arka dengan nada panik yang tidak bisa disembunyikan.

​"Aku lagi ada di luar rumah, Mas. Kebetulan sedang jalan-jalan sore di sekitar taman terluar kompleks PIK 2, ditemani dan dijaga oleh Julius dan Sera," jawab Sisil santai.

​"Apakah kondisi sekitarmu aman? Kamu tidak apa-apa, kan? Barusan aku mendapat informasi kalau ada sekelompok orang jahat yang dikirim khusus untuk mencoba menculikmu!" ucap Arka meyakinkan keselamatan istrinya.

​Di seberang telepon, Sisil menatap pemandangan di depannya dengan pandangan datar yang dingin. Di atas aspal taman yang sepi, tampak belasan pria berbadan kekar bersenjata lengkap tergeletak hancur, bersimbah darah, dan tewas mengenaskan akibat patah tulang parah.

Sisil sendiri dengan sangat santai sedang berdiri dengan satu kakinya menginjak kepala dari salah satu mayat penculik yang sudah hancur. Julius dan Sera berdiri tegak di kanan-kirinya sembari membersihkan sisa darah di sarung tangan mereka.

​Namun, saat berbicara di telepon dengan suaminya, nada suara Sisil seketika berubah menjadi luar biasa manja, manis, dan lugu laksana gadis tanpa dosa.

"Aku tidak apa-apa kok, Mas, sungguhan. Mas tidak perlu cemas... Julius dan Sera sangat hebat, mereka berhasil membereskan seluruh orang-orang aneh itu dengan sangat cepat sebelum mereka sempat menyentuhku, hehe."

​Sisil menggeser kaki dari atas kepala mayat tersebut, lalu bertanya dengan nada cemas yang lembut, "Mas Arka sendiri bagaimana di sana? Tadi aku sempat mendengar interogasi singkat dari orang-orang ini... katanya mereka juga mengirim tim bayaran terkuat untuk menargetkan nyawa Mas."

​"Aku aman, Sayang. Mana mungkin orang lemah seperti mereka bisa memiliki kemampuan untuk mengalahkanku," ucap Arka dengan nada bangga demi menenangkan hati istrinya.

​Sisil mengembuskan napas lega yang terdengar sangat manis di telepon. "Syukurlah kalau Mas baik-baik saja... Aku sempat sangat panik tadi."

​"Tapi... aku benar-benar tidak menyangka kalau sosok yang mengirim seluruh pasukan pembunuh ini adalah Ibu tirimu sendiri, Sil. Padahal, kita sudah tidak memiliki hubungan apa pun lagi dengannya," ucap Arka dengan rahang mengatup kesal.

​Mata bulat Sisil seketika berkilat gila dan dipenuhi kegelapan obsesif saat mendengar nama ibu tirinya disebut sebagai orang yang mencoba membunuh suaminya.

‘Wanita tua bangka itu... berani-beraninya mencoba menyentuh dan membunuh Mas Arka-ku tercinta?’ desis Sisil di dalam hatinya yang paling dalam.

​Namun, di mulutnya, Sisil tetap menjawab dengan nada polos, "Aku juga tidak tahu, Mas... Pasti ada sesuatu yang mendasari dan membuatnya nekat melakukan tindakan gila seperti ini."

​"Ya sudahlah, tidak perlu terlalu dipikirkan. Kalau begitu, kamu segera pulang ke vila sekarang ya bersama Julius dan Sera? Aku juga sebentar lagi akan langsung meluncur pulang," instruksi Arka lembut.

​"Iya, Mas. Kebetulan ini aku juga sudah bersiap untuk melangkah jalan pulang kok. Sampai ketemu di rumah, Mas!" ucap Sisil dengan nada ceria sebelum memutus panggilannya.

Begitu ponselnya mati, senyum manis Sisil lenyap, digantikan oleh tatapan mata kosong yang memancarkan aura kematian.

​Sementara itu, di sebuah distrik tengah metropolitan yang mewah, di dalam ruang tamu sebuah mansion besar. Seorang wanita paruh baya berpakaian menor tampak sedang memegang ponselnya dengan senyum lebar yang dipaksakan penuh rasa takzim.

​"Iya, Tuan... Anda tenang saja, tidak perlu khawatir. Saya akan mengusahakan segala cara untuk membawa Sisil kembali ke rumah ini secepat mungkin dan segera menikahkannya dengan Anda," ucap wanita itu penuh kepatuhan.

Bersambung...

1
Alia Chans
lanjut thor😣
like+ bunga🌹✍️






kalo berkenan mmpir y thor😉
Arts: makasih udah mampir
total 1 replies
**Maulina**
lanjut thor💪
Arts: siap, ditunggu ya
total 1 replies
Zem Pioneer
namalu dapin bg?
Zem Pioneer: temen cewek gw baru putus namanya sisil ga lama ini,kali aja lu cowoknya yg gamon...sorry dah 🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Dell AliNka
up yg banyak Tor
Arts: ditunggu ya
total 1 replies
Nyxara_09
keren! btw semangat kak!
Nyxara_09: iya kak, maaf yaa🙏
total 2 replies
sakura
...
Kim Borahae
hii, ceritanya seru.. SUKAAAA😍 Semangat terus ya 💪.


Btw saya pun baru mula menulis novel, kalau ada masa boleh singgah profile dan like .. terima kasih /Grin/
Key Kastara
Halo author, smangat selalu buat cerita kerennya 😍👍
Arts: makasih
total 1 replies
Sahabat Oleng
Hadir thor☝️
Arts: thankyou udah hadir
total 1 replies
Ofu Madu
💪
Ofu Madu
bagus👍..up yg bnyk torr
Arts: ditunggu ya, makasih udah mampir
total 1 replies
Ofu Madu
lanjut 👍
cila_aa
ihh seruu next chapter selanjutnya thor/Smile/
Arts: makasih udah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!