NovelToon NovelToon
7-14: Insiden 06-06

7-14: Insiden 06-06

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Time Travel / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:116
Nilai: 5
Nama Author: Dean Jeremia Sp

"Bagaimana cara menangkap pembunuh yang dilindungi oleh waktu itu sendiri?"

Insiden 06-06 bukan sekadar kecelakaan beruntun biasa. Di balik pekatnya polusi Jakarta dan pemadaman listrik total, ada konspirasi berdarah yang terencana rapi.

Samuel, seorang penyelidik BPI yang aslinya otaku garis keras, terpaksa harus menggunakan kartu as rahasianya: kemampuan memanipulasi waktu.
Bersama rekan jeniusnya, Ahmad, Samuel harus melompati belasan rute masa lalu, menjinakkan paradoks, dan menahan sakit kepala yang siap meremukkan otaknya. Baginya, angka 7-14 bukan lagi sekadar penanda hari, melainkan hitung mundur menuju kematian orang paling penting dalam hidupnya.
Saat waktu kehilangan maknanya, mampukah sang "Penguasa Waktu" memutus rantai takdir tak kasat mata ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dean Jeremia Sp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Juan

Jakarta, 10 Juni 2025

03.00 WIB

Samuel telah bersiap. Berbalut pakaian serba hitam yang melekat pas di tubuhnya, ia menyusun rencana matang untuk menyusup ke tempat tinggal Juan. Di tengah keheningan malam Jakarta yang masih sepi, mobil Samuel melesat membelah jalanan dari lokasi transaksi menuju Bekasi Selatan. Ia menancap gas sekencang-kencangnya.

Namun, begitu tiba di titik koordinat tujuan, Samuel tertegun. Ia terpaksa menahan rasa bingung sekaligus dongkol yang mendadak muncul.

"Ini kosan? Jelas-jelas ini apartemen," umpatnya lirih. "Bangke... datanya kosan, tapi nyatanya dia tinggal di apartemen. Menghindari pajak ini orang."

Menepis kejengkelannya, Samuel bergerak taktis. Ia memasang silencer panjang ke ujung laras Glock 21 miliknya, mengeluarkan laptop, lalu jemarinya dengan cepat mulai menanamkan malware berbahaya ke dalam server PLN sektor sekitar. Sembari menunggu sistemnya lumpuh, Samuel mengenakan kacamata night vision-nya. Hijau, dunia di sekitarnya seketika berubah terang.

03.45 WIB

Pet!

Seluruh pasokan listrik di Bekasi Selatan padam total. Di tengah kegelapan pekat yang mendadak itu, Samuel berlari cepat bak bayangan menuju nomor kamar Juan. Sembari menggenggam erat Glock 21, ia melesat lincah. Di sepanjang koridor, matanya menangkap siluet para karyawan apartemen yang panik dan kebingungan karena mati lampu mendadak.

Ada secercah rasa kasihan di hati Samuel melihat mereka harus lembur di jam segini, namun misi ini jauh lebih penting. Berkat pandangan akurat dari night vision, Samuel berhasil mencapai depan kamar Juan dalam hitungan detik. Tanpa menunggu lama, Tus! Samuel menembak slot kunci pintu hingga hancur, lalu menendangnya keras-keras.

Samuel melangkah pelan menembus kegelapan di dalam kamar, mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Juan. Kondisi apartemen itu sangat menjijikkan. Kotor. Obat-obatan terlarang, botol bir kosong, dan kondom bekas berserakan di mana-mana. Samuel membatin heran, bagaimana bisa pemerintah mempekerjakan orang sejatuh ini?

Namun, begitu ia melangkah memasuki ruang televisi, Samuel langsung mendapatkan jawabannya secara brutal.

Bugh!

Sebuah hantaman keras mendadak melumpuhkannya dari sudut mati. Benturan itu begitu telak hingga membuat kacamata night vision di wajahnya hancur berkeping-keping. Samuel terjungkal, otaknya didera kebingungan hebat. Bagaimana mungkin ada orang yang bisa melihat dan melumpuhkannya di tengah kegelapan total seperti ini?

"Tuan Samuel..."

Suara Juan berbisik jelas, tepat di telinga kanan Samuel. Tubuh Samuel dikunci mati; lehernya dicengkeram erat oleh tangan Juan, sementara perutnya ditekan kuat menggunakan jepitan kaki.

Namun, dari posisi kuncian itu, Samuel langsung menyadari satu hal: Juan adalah seorang amatiran. Orang ini membiarkan kedua tangan Samuel bebas bergerak. Tanpa menunggu pasokan napasnya habis, Samuel mengarahkan moncong Glock 21-nya secara acak ke posisi yang ia perkirakan sebagai bahu Juan.

Tus!

"Aaaaah!!" Jeritan histeris Juan menggema memecah sunyi. Kuncian maut itu seketika terlepas.

Samuel langsung berdiri tegap, merogoh ponselnya, dan memeriksa indikator malware yang sebentar lagi habis. Benar saja, detik itu juga, generator cadangan apartemen berdengung keras. Lampu-lampu kembali menyala terang.

Di bawah siraman cahaya, Samuel melihat Juan yang mengerang kesakitan sembari menyeret tubuhnya, mencoba merangkak kabur menuju kamar tidur. Samuel bergerak cepat, menjegal pintu keluar apartemen menggunakan sebatang kursi, lalu berjalan dingin menghampiri Juan.

Tus!

Satu tembakan dilesatkan tepat bersarang di kaki kiri Juan. Juan mendongak dengan tubuh gemetar, menatap Samuel yang berdiri menjulur di atasnya dengan wajah yang luar biasa tenang—tanpa ada riak amarah sedikit pun.

"Tuan Samuel... Tuan Samuel, kumohon..." Juan meratap, mengemis ampun.

Tus!

Peluru kedua menghantam kaki kanannya.

"Aaaaah!" Juan menangis tersedu-sedu, memegang kedua kakinya yang hancur kesakitan.

Samuel memalingkan wajahnya sejenak ke arah meja dekat TV. Matanya menangkap sebilah pedang yang tergeletak di sana. Detik itu juga, kilasan visual tentang jasad Rizki yang termutilasi di lini masa sebelumnya mendadak berputar hebat di kepalanya. Ketenangan di wajah Samuel runtuh seketika, digantikan oleh amarah yang membakar dada.

"Kau anjing pemerintah, kan?! JAWAB!" bentak Samuel brutal.

Juan yang dirundung ketakutan setengah mati menjawab cepat, "Ya! Benar! Ya! Kumohon jangan tembak lagi!"

Tanpa belas kasihan, Samuel menjambak rambut Juan, lalu menghantamkan wajah pria itu ke lantai berulang kali. Brak! Brak! Emosinya meledak hebat mengetahui seluruh dugaannya terbukti nyata.

"Kau tahu tentang Insiden 06-06?! JAWAB SIALAN!!" Samuel kembali membenturkan wajah Juan ke lantai dengan sangat keras.

Dari bibir Juan yang pecah dan berdarah, terdengar suara lirih, "I-iya..."

"Ceritakan semuanya," bisik Samuel dingin tepat di telinga kanan Juan.

Di bawah tekanan maut, Juan akhirnya memuntahkan seluruh rahasia kelamnya, sebuah kebenaran yang membuat Samuel tersentak kaget.

Intinya, jauh sebelum Juan menyusup ke dalam institusi BPI, ia sudah lama menjadi "anjing" peliharaan pemerintah. Tugas utamanya adalah membunuh dan membungkam orang-orang yang dianggap berbahaya. Karena kinerjanya yang rapi, atasannya memberikan dia posisi strategis di dalam BPI agar Juan bisa bergerak mengeksekusi target dengan fasilitas yang legal.

Tebakan Samuel seratus persen akurat; Insiden 06-06 adalah proyek bentukan pemerintah. Namun, Samuel masih buta mengenai faksi pemerintah yang mana yang menggerakkannya.

Juan kemudian melanjutkan kronologi berdarah malam itu. Pada tanggal 5 Juni, Juan diperintahkan untuk mengamankan berkas rahasia milik Pejabat C yang dinamai Operasi Phoenix. Sial bagi mereka, Pejabat C telah lebih dulu melarikan diri. Mengetahui hal itu, faksi "anjing" pemerintah lainnya segera bergerak memburu siapa saja yang pernah menjalin kontak dengan sang pejabat.

Hingga akhirnya, sang Pemimpin dari komplotan ini merancang sebuah siasat keji. Mereka mendeteksi keberadaan Pejabat C di sekitar Jakarta Pusat. Semua korban yang diperkirakan memiliki keterkaitan dengan Pejabat C sengaja digiring dan dikumpulkan secara paksa di depan kafe tersebut. Untuk menutupi pembantaian massal itu dari publik, dibuatlah skenario tabrakan beruntun dan mati lampu massal. Namun, ada satu variabel yang meleset dari perhitungan sang Pemimpin; Pejabat C ternyata membawa senjata Glock 19 miliknya sendiri dan memilih untuk bunuh diri, bukan dibunuh.

Semua analisis papan tulis Samuel di lini masa lalu terbukti mutlak.

"Siapa pemimpin anjing yang kau maksud itu?!" tuntut Samuel, mencengkeram rahang Juan.

Sebelum sebaris nama keluar dari mulut Juan, layar televisi di ruang tengah mendadak menyala otomatis. Layar itu menampilkan sosok pria misterius yang mengenakan topeng kucing.

"Juan, kau sudah banyak bicara," ucap pria di dalam televisi itu. Suaranya terdistorsi berat. Pria bertopeng itu kemudian mengangkat tangannya, membentuk pose pistol dengan jemarinya, lalu mengarahkannya ke depan. "Bang!"

Samuel awalnya mengira itu hanyalah lelucon murahan dari siaran televisi yang diretas. Namun, saat ia melirik Juan, wajah pria itu sudah pucat pasi dilanda kepanikan yang luar biasa.

Prank!!

Tanpa ada peringatan, kaca balkon di sebelah kiri mereka hancur berantakan. Sebuah peluru penembak jitu berkaliber besar melesat cepat, menghantam dan menghancurkan kepala Juan hingga tak bersisa dalam sekejap mata. Cipratan darah segar seketika mengotori dinding.

Samuel tersentak hebat. Instingnya meneriakkan bahaya, ia harus segera kabur dari lokasi ini sekarang juga! Namun, sebelum kakinya sempat melangkah, suara dari pria bertopeng kucing di televisi mendadak berubah. Efek distorsinya menghilang, digantikan oleh sebuah vokal murni yang sangat familier di telinga Samuel.

"Jangan lari, Samuel."

Langkah Samuel terkunci mati tepat di depan pintu apartemen. Kepalanya berdengung hebat mengenali suara tersebut. Ia mematung, lalu perlahan membalikkan badannya untuk menatap kembali ke arah layar televisi.

Namun, Samuel terlalu fokus pada ancaman di depannya. Ia tidak menyadari bahwa kursi yang ia gunakan untuk mengganjal pintu apartemen di belakangnya telah bergeser terbuka secara senyap.

Bugh!!

Sebuah hantaman benda tumpul mendarat telak di bagian belakang kepala Samuel.

Rasa sakit yang hebat langsung menjalar, membuat pandangan Samuel mengabur dan keseimbangannya runtuh. Sebelum tubuhnya ambruk ke lantai dan kesadarannya hilang sepenuhnya, mata Samuel sempat menangkap dua visual terakhir secara sekilas: wajah pria di balik layar televisi... dan sosok dingin yang baru saja menyerangnya dari belakang.

Sosok itu adalah Wisnu. Sang saksi kunci, sekaligus orang yang seharusnya dijebek di dalam kasus ini.

Di ambang kegelapan, satu pertanyaan besar masih tersisa dan menggantung di kepala Samuel yang kian meredup: Bagaimana bisa Juan melihatnya dengan jelas di tengah kegelapan total tadi?

Pandangan Samuel menggelap. Ia kehilangan kesadaran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!