"Jangan pernah jatuh cinta padaku, karena kontrak ini tidak menyertakan perasaan," itulah aturan nomor satu yang ditulis oleh Arga Dirgantara untuk istrinya.
Selama dua tahun, Keysa hidup dalam bayang-bayang. Sebagai istri kontrak, ia adalah asisten yang tak terlihat, tameng perusahaan, dan sosok yang paling dibenci Arga karena dianggap sebagai penghalang kebahagiaan pria itu dengan wanita lain. Keysa sudah siap untuk menyerahkan surat cerai dan pergi selamanya.
Namun, takdir punya rencana lain. Sebuah kecelakaan fatal menghapus memori Arga selama tiga tahun terakhir.
Saat pria itu membuka mata, ia tidak lagi melihat Keysa sebagai 'istri kontrak' yang menyebalkan. Ia melihat seorang wanita yang dingin, cerdas, efisien, dan memiliki tatapan tajam yang membuat jantungnya berdebar tanpa alasan.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Arga dengan nada posesif. "Dan kenapa setiap kali aku melihatmu, aku merasa aku adalah orang paling bodoh karena pernah membiarkanmu menangis?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Makan Siang dan Interogasi
"Keuntungan menjaga kewarasan," balas Keysa sangat tenang. Ia menarik tangannya dengan satu sentakan terukur hingga cengkeraman Arga terlepas. Keysa mundur dua langkah, kembali membangun dinding tak kasatmata di antara mereka. "Kamu mungkin lupa ingatan, Arga. Tapi aku tidak lupa siapa kamu dan bagaimana caramu menghancurkan mental orang-orang di sekitarmu demi ambisi."
Arga terkekeh pelan. Ia justru terlihat semakin penasaran. Baru saja ia membuka mulut untuk membalas, suara ketukan pintu terdengar panik dari luar.
"Mbak Keysa! Bapak Arga!" Reno membuka pintu ruang kerja itu dengan raut wajah seputih kertas. "Maaf mengganggu, tapi pihak klien Jepang baru saja menelepon. Penerbangan CEO mereka mengalami penundaan parah akibat badai di bandara asal. Pertemuan hari ini dibatalkan total dan diundur minggu depan."
Keysa langsung menoleh ke arah meja kerjanya, mengambil tablet, dan mengecek jadwal ulang. "Hubungi pihak hotel, batalkan reservasi ruang VIP dan jamuan makan siangnya. Pastikan tidak ada biaya penalti."
"Baik, Mbak." Reno langsung bergegas menutup pintu kembali.
Ruangan kembali hening. Arga mengelus perutnya yang terbalut kemeja hitam. "Rapat batal, berarti jadwal kita kosong. Ayo makan siang. Kepalaku butuh nutrisi yang banyak."
"Aku memesan makanan dari restoran hotel bintang lima di seberang jalan. Kamu mau steak daging sapi atau salmon bakar?" Keysa mengetik di layar tabletnya dengan cepat.
"Tidak. Aku muak dengan makanan restoran yang rasanya kaku seperti plastik." Arga mengambil jas abu-abunya dari sandaran kursi dan menyampirkannya santai di bahu kirinya. "Bawa aku ke tempat kamu biasa makan siang. Tempat favoritmu."
"Tempat favoritku sama sekali bukan untuk seleramu, Arga. Kamu tidak akan tahan."
"Jangan membantah. Jalan sekarang," perintah Arga mutlak, mendahului Keysa keluar ruangan. Keysa menghela napas panjang, merutuki kebebalan suaminya.
Dua puluh menit kemudian, sedan mewah hitam itu berhenti di gang sempit kawasan Niaga Pusat. Keysa memandu Arga masuk ke Kedai Bakmi Lestari, tempat makan sederhana dengan dinding cat hijau memudar dan meja kayu panjang. Suasana kedai cukup sepi karena jam istirahat kantor belum dimulai.
Arga berdiri kaku di ambang pintu masuk. Matanya memindai kursi plastik merah dan kipas angin gantung. Laki-laki berjas mahal ini salah tempat.
"Duduk di sudut sana. Aku pesankan makanannya." Keysa menunjuk meja dekat jendela.
Arga melangkah pelan, menarik kursi plastik itu, dan duduk dengan sisa arogansi kepemimpinannya. Tak lama, Keysa kembali membawa nampan berisi dua mangkuk bakmi ayam panas lengkap dengan es teh manis. Ia meletakkan mangkuk itu tepat di depan Arga.
"Makan. Jangan protes. Ini makanan paling enak di area kantor kita," ucap Keysa seraya menarik kursi di hadapan suaminya. Ia menuangkan sambal merah ke dalam mangkuknya dan mulai mengaduk mie dengan sumpit kayu.
Arga menatap mangkuknya ragu, lalu menyuap perlahan. Matanya sedikit melebar. Rasanya jauh lebih enak dari dugaannya. Ia makan tenang, namun tatapan tajamnya tidak pernah lepas dari wajah Keysa yang menikmati hidangan tanpa memedulikan lingkungan sekitar.
"Kamu rutin makan di tempat pinggiran seperti ini sendirian?" tanya Arga memecah keheningan.
"Ya. Jauh dari pandangan karyawan kantor yang suka membuat gosip, dan jauh dari omelanmu soal efisiensi waktu kerja." Keysa menjawab datar tanpa menatap mata suaminya sedikit pun.
Arga menelan makanannya. Logika bisnis di otaknya terus berputar mencari jawaban atas sikap dingin istrinya. "Melihat cara kita menangani direksi tadi pagi, kita tim yang sempurna, Keysa. Otakku merancang strategi, dan kau mengeksekusinya tanpa celah. Kerja sama kita terlalu berharga untuk dihancurkan lewat perceraian."
Keysa menghentikan suapannya. "Kerja sama kita memang sangat sempurna di atas meja rapat, tapi di luar urusan pekerjaan, hubungan kita adalah murni bencana."
Tepat saat Keysa mengambil pangsit, ponsel di dalam tas selempangnya bergetar hebat. Nada dering memecah obrolan tegang mereka. Keysa segera mengambil ponselnya. Layar terang itu menampilkan nama Harris Pengacara.
Mata Arga yang setajam elang menangkap deretan huruf menyebalkan di layar. Rahang kukuhnya mengeras seketika.
Keysa menggeser tombol hijau. "Halo, Harris? Bagaimana proses pengajuannya?"
"Halo, Key. Berkas ceraimu masuk antrean pengadilan negeri. Sidang mediasi pertama kemungkinan digelar dua minggu lagi. Tapi ada masalah teknis, pengadilan butuh tanda tangan basah langsung dari Arga di lembar persetujuan. Apa suamimu sudah sadar total dan bisa dihubungi?" suara Harris terdengar cukup jelas.
Sebelum Keysa sempat menjawab, tangan besar Arga melesat maju melintasi meja kayu sempit itu. Ia merebut ponsel dari tangan istrinya dengan cepat.
"Hei! Kembalikan ponselku!" Keysa memekik tertahan, menatap Arga dengan amarah menyala.
Arga menempelkan ponsel itu ke telinga tanpa rasa bersalah. "Dengar baik-baik, Pengacara Sialan. Klienmu tidak akan datang ke sidang mediasi mana pun. Jika kau berani mengirim surat panggilan ke alamat kantorku, aku akan mengerahkan seluruh tim legal raksasa Alvandra Group untuk menghancurkan firma hukummu sampai rata dengan tanah. Paham?"
Arga mematikan sambungan sepihak. Ia meletakkan ponsel Keysa di atas meja dengan bantingan pelan namun sarat ancaman berbahaya.
"Apa-apaan kelakuan gilamu ini, Arga?!" Keysa mengebrak meja kedai. Ketenangan wajah datarnya hancur melihat arogansi laki-laki di hadapannya. "Pengajuan cerai itu resmi sah! Kamu sendiri yang terang-terangan menolak mengakui pernikahan ini saat pertama kali sadar di rumah sakit!"
"Itu terjadi sebelum aku menyadari betapa berharganya wanita tangguh yang memegang gelar istriku ini," desis Arga membalas tatapan membunuh Keysa. "Aku sama sekali tidak peduli apa yang terjadi pada masa lalu kita. Aku tidak peduli aturan kontrak konyolmu. Logika murniku menolak melepaskan aset terbaik yang kumiliki ke tangan orang lain."
"Aku bukan aset perusahaanmu! Aku manusia berakal, dan aku sudah muak hidup mati rasa di bawah kendalimu!" Nada suara Keysa meninggi, meluapkan racun yang selama dua tahun ini ia telan sendirian. "Kamu tidak ingat dinginnya matamu menatapku saat aku melakukan kesalahan sekecil debu. Kamu tidak ingat caramu membiarkanku menghadapi wartawan liar sendirian saat skandal proyek lamamu bocor. Kamu menganggapku mesin pencetak solusi, Arga!"
Arga terdiam. Dadanya bergemuruh mendengar rentetan tuduhan tajam tersebut. Bayangan masa lalu kosong membuatnya frustasi.
Arga mendorong mangkuknya menjauh. Ia mencondongkan tubuhnya melintasi meja sempit tersebut, memangkas habis jarak wajah mereka.
"Katakan satu hal paling kejam yang pernah kulakukan padamu di masa lalu, dan aku akan menebusnya sekarang juga."
semoga Arga bisa meluluhkan hati Keysa walaupun harus menunggu waktu yg lama..
apalagi Keysa sosok mandiri tangguh dan badass..