Kepergian kekasihnya membuat Naya menyadari akan kehilangan yang begitu mendalam. Luka yang ditawarkannya pun begitu hebat hingga membuat Naya harus benar-benar pulih dari rasa sakit hati.
Dan seiring berjalannya waktu, Zaki datang dan mengubah kehidupannya yang dulu begitu terasa hampa penuh luka tersebut kini penuh kebahagiaan yang tak pernah ia miliki sebelumnya.
Namun sayangnya, kebahagiaan itu harus mereka perjuangkan bersama agar tetap bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI BAWAH KABUT ITU...
Dinginnya udara langsung menyergap begitu langkah mereka mencapai batas akhir perjalanan. Setelah berkilometer menanjak menundukkan jalur gunung yang terjal, mereka akhirnya tiba di puncak pendakian.
Di sekeliling mereka, beberapa pendaki lain sudah lebih dulu tiba. Ada yang sibuk mendirikan tenda, dan ada pula yang sekadar duduk bersandar melepas lelah. Namun, pandangan Naya langsung terpaku pada bentang alam di depan matanya.
Lautan kabut putih yang tebal dan pekat berarak pelan, menelan puncak-puncak bukit di sekitarnya hingga menyisakan siluet samar yang megah. Pohon-pohon gunung yang kerdil tampak seperti bayangan misterius di balik tirai putih. Angin berembus konstan, membawa bulir-bulir air halus yang membuat jarak pandang memendek, memaksa siapa pun memicingkan mata demi menembus pekatnya kabut.
Di tengah keindahan yang magis itu, tubuhnya mulai menuntut balas. Keringat yang tadinya mengucur deras sepanjang tanjakan, kini mendadak terasa sedingin es, menusuk-nusuk pori-pori kulit begitu berbaur dengan hawa kabut yang menggigit.
Napas Naya pun mengasap tipis setiap kali ia mengembuskan udara. Rasa lelah yang teramat sangat menyatu dengan sensasi beku yang perlahan mulai membuat jemarinya kaku.
Ya. Lelah.
Ia lelah oleh semua jepitan kehidupan yang menghimpitnya selama ini. Berdiri di sini, di samping Zaki, rasanya bak sebuah mimpi indah yang membuatnya takut untuk terbangun. Ia masih kerap tak percaya bahwa rasa kagum yang ia simpan diam-diam terhadap sosok Zaki bisa terbalas seindah ini.
Hubungan ini sungguh berbeda jika dibandingkan dengan bayang-bayang masa lalunya—layaknya Tian, atau bahkan Randi yang menyisakan luka paling dalam.
Namun, jauh di lubuk hatinya, ada bagian yang mendadak terkecoh oleh keraguan. Tapi ini belum apa-apa, bisik sebuah suara di kepalanya. Ini belum terjadi...
Enggak! batin Naya cepat-cepat menggeleng dan menolak, berusaha mengusir pikiran buruk itu. Tetap saja, rasa takut dan khawatir itu telanjur menyelinap, menggerogoti ketenangannya.
Kemudian, Naya memberanikan diri menoleh ke samping. Ia memandangi profil wajah Zaki dari samping. Garis rahangnya yang tegas, tatapannya yang lurus menembus kabut, dan ketenangan yang selalu pemuda itu pancarkan. Dari binar mata itu, ia tahu ada kejujuran yang mutlak. Ucapan dan janji Zaki selama ini tidak pernah main-main. Namun, sebuah tanya yang menyakitkan mendadak dan lagi-lagi melintas di benaknya, bagaimana jika takdir kembali bercanda? Bagaimana jika garis hidup tidak mengizinkan mereka untuk bersama selamanya?
Seolah merasakan hangat tatapan yang tertuju padanya, Zaki tiba-tiba menoleh ke arahnya.
Naya tersentak. Jantungnya mencelos. Dengan gerakan kikuk, ia langsung membuang muka dan kembali menatap lurus ke depan, berpura-pura sibuk memandangi lautan kabut demi menyembunyikan kegugupan serta isi hatinya yang baru saja telanjang di hadapan pemuda itu.
"Kenapa?" Tanya Zaki datar.
Naya menoleh. "Ke-Kenapa apa?"
"Kenapa kamu memandangku seperti itu?"
Naya cepat menggeleng. "A-Aku tidak memandangmu." Balasnya gelagapan.
Bukannya tersinggung, Zaki justru tersenyum. Itu adalah jenis senyuman yang baru pertama kali Naya dapati selama mereka bersama. Senyum yang tidak lagi menyembunyikan apa pun, begitu tulus, hangat, dan sedikit geli, hingga menerbitkan binar jenaka di kedua matanya. Lengkungan bibir itu seketika meruntuhkan pertahanan Naya, membuat detak jantungnya berdegup semakin tak terkendali.
Sebelum Naya sempat menguasai diri, Zaki melangkah satu tapakan lebih dekat. Kemudian, tanpa permisi, lengan kokohnya bergerak merangkul bahu Naya, menarik tubuh wanita itu hingga menempel pas di sisi badannya.
"Dingin," gumam Zaki pelan, seolah tindakannya barusan hanyalah alasan logis untuk menghalau hawa gunung yang membekukan.
Naya menegang, napasnya tertahan di tenggorokan. "Zaki, ka-kamu..."
Sebuah firasat membuat Naya tersentak. Refleks, ia menolehkan kepala ke belakang. Benar saja, di antara kerumunan tipis para pendaki, ia menangkap basah Gani dan Daniel yang ternyata sejak tadi sedang sibuk memperhatikan gerak-gerik mereka berdua dengan tatapan menyelidik.
"Sudah, abaikan mereka," gumam Zaki lagi. Suaranya berat dan tenang, tepat di dekat telinga Naya.
"Tapi—"
Zaki enggan peduli. Alih-alih melepaskan, ia justru semakin merapatkan pelukannya, menyalurkan kehangatan tubuhnya demi mengusir gigilan di tubuh Naya, sekaligus mengunci pandangan wanita itu agar hanya tertuju padanya.
"Jangan melihat ke belakang, Naya. Biarkan masa lalu dan pandangan orang lain menjadi kabut yang hilang disapu angin." Lirih Zaki lembut, namun penuh penekanan. "Aku tidak meminta bersamamu hanya untuk menemanimu di hari yang cerah. Di puncak yang dingin ini, atau di jurang paling gelap sekalipun, aku berjanji akan tetap menjadi rumah tempatmu pulang, jadi tetaplah lihat ke depan hanya bersamaku."
Naya tertegun. "Za-Zaki?"
"Ya?"
"Ba-bagaimana bisa kamu seyakin itu?" tanya Naya tanpa basa-basi lagi. Keraguan yang sejak tadi dipendamnya kini tumpah begitu saja. "Kenapa kamu begitu yakin padaku? Daniel benar, Zaki... masih ada banyak gadis di luar sana yang jauh lebih pantas untuk bersamamu. Kenapa harus aku?"
Zaki tidak langsung menjawab, namun tatapannya mengunci manik mata Naya dengan lekat. "Karena status dan usia kita?" sanggahnya, memotong langsung ke inti ketakutan Naya dengan sama blak-blakannya.
Naya mendadak membisu. Lidahnya mendadak kelu karena tebakan Zaki tepat sasaran.
"Mereka bilang begitu karena mereka hanya melihat dari luar. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya kita jalani," lanjut Zaki, suaranya terdengar begitu tenang namun sarat akan penekanan.
"Maksud kamu?" Naya mengerutkan kening, mencoba mencerna maksud kalimat itu. "Mereka paham kalau kita ada hubungan, Zaki. Dan bagi mereka, hubungan ini aneh."
"Hanya hubungan, Naya. Mereka cuma tahu statusnya, tapi tidak dengan apa yang kita rasakan. Terutama apa yang aku rasakan," tegas Zaki, menyuarakan isi hatinya tanpa ada keraguan sedikit pun. Ia pun mengikis jarak di antara mereka, menatap Naya dengan binar mata yang begitu jujur. "Bagiku, kamu berbeda. Di mata orang lain, di depan murid-murid atau teman-temanku, kamu mungkin memang sosok wanita dewasa yang tegar dan bisa mengayomi siapa saja. Tapi setelah bersamaku, aku tahu sisi lainmu. Kamu itu... rapuh sekaligus berharga di waktu yang bersamaan. Dan egoisku, aku ingin menjadi satu-satunya pria yang mendekap kerapuhan itu."
Di saat itu juga, pertahanan Naya runtuh seketika. Kalimat terakhir Zaki menghantam dada Naya dengan begitu telak, merubuhkan seluruh dinding yang selama ini ia bangun untuk melindungi hatinya. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh begitu saja, mengalir hangat melewati pipinya yang kedinginan, lalu jatuh membasahi jaketnya.
Naya terisak pelan. Selama ini, hidupnya penuh dengan tuntutan untuk selalu menjadi sosok yang kuat, dewasa, dan mandiri. Belum pernah ada satu pun lelaki yang bisa membaca lapisan jiwanya sedalam ini. Tidak ada yang benar-benar mengerti, apalagi menghargai kerapuhan yang ia sembunyikan rapat-rapat seperti yang Zaki lakukan sekarang.
Hanya sosok pemuda yang selama ini hanya berani ia kagumi dalam sunyi, yang keindahannya dalam hidup Naya terasa layaknya sebuah mimpi muluk, justru kini terasa begitu nyata. Dekapan lengannya yang kokoh, kehangatan bau tubuhnya yang khas, dan setiap untai kalimatnya yang jujur, semuanya benar-benar nyata di depan mata.
Melihat air mata Naya yang jatuh, Zaki perlahan melonggarkan sedikit pelukannya, hanya untuk beralih menangkup sisi wajah Naya dengan lembut. Kemudian, ibu jarinya bergerak perlahan, menghapus jejak basah di pipi wanita itu dengan penuh kehati-hatian, seolah wanita itu adalah permata paling rapuh yang bisa pecah kapan saja.
"Jadi, aku mohon..." lirih Zaki menatap lurus ke dalam manik mata Naya yang berkaca-kaca, lalu berbisik dengan nada yang sangat tulus, "... beri aku kesempatan untuk membuktikannya, Naya. Beri aku kesempatan untuk menjaga kamu."
****
Kinan jug ksian krna uda g punya orang tua
Mlah nay tu dr grup sekolahan, bkn dr zaki sendiri