NovelToon NovelToon
Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi Hani, diterima wawancara di perusahaan besar adalah impian. Namun, impian itu berubah jadi ketegangan saat ia tahu sang pewawancara adalah Reza, cowok nakal yang sering membully-nya saat SMA, yang ternyata adalah anak pemilik perusahaan.

Reza awalnya pangling melihat Hani yang kini bertransformasi menjadi sangat cantik dan memikat. Namun, begitu membaca nama lengkap Hani di CV, Reza langsung ingat bahwa mereka dulu sekelas. Terpesona oleh kecantikan Hani sekarang sekaligus dihantui rasa bersalah masa lalu, Reza langsung meloloskan Hani dan bertekad menebus dosanya.

Reza melakukan segala cara untuk meminta maaf dan mengambil hati Hani. Sayangnya, Hani bukan perempuan lemah yang mudah luluh. Akankah sikap dingin Hani runtuh oleh perjuangan Reza, ataukah Reza harus menerima kenyataan bahwa beberapa luka masa lalu memang mustahil disembuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Koridor lantai empat gedung Baskara Group mendadak sunyi senyap. Ketegangan yang tercipta begitu pekat, hingga deru napas beberapa staf yang berdiri agak jauh dari sana pun nyaris terdengar.

Di tengah keheningan yang mencekam itu, Narendra Baskara berdiri dengan wajah mengeras, memancarkan wibawa yang luar biasa sekaligus kemarahan yang tertahan.

"Reza!" suara Narendra memecah keheningan dengan nada rendah namun penuh penekanan. "Papa bertanya kepadamu. Benar apa yang baru saja kamu katakan?"

Reza menarik napas berat. Pria yang biasanya tampil penuh percaya diri dan arogan di depan para bawahannya itu kini tampak begitu ketakutan di hadapan ayahnya. Ia melirik Hani yang masih berdiri membelakanginya dengan punggung yang tegak kaku, lalu kembali menatap ayahnya.

"Benar, Pah," jawab Reza lirih. Keberaniannya menguap. Rasa bersalah dan malu yang bercampur baur membuat kepalanya tertunduk dalam. "Dulu... saat SMA, Reza sering merundung dan mengejek Hani."

Plak!

Suara tepukan tangan Narendra yang menghantam berkas di tangan sekretarisnya terdengar begitu nyaring di koridor sunyi tersebut. Wajah pria paruh baya itu memerah menahan amarah.

Sebagai seorang pengusaha yang merangkak dari bawah dan sangat menjunjung tinggi etika bisnis serta kemanusiaan, mendengar putra tunggalnya melakukan tindakan serendah itu adalah tamparan keras bagi harga dirinya.

"Papa tidak pernah mendidikmu menjadi seorang pengecut dan penindas, Reza!" desis Narendra, matanya menyala tajam. "Kamu tahu betapa kerasnya Papa membangun reputasi perusahaan ini? Dan kamu, dengan mudahnya menginjak-injak masa depan orang lain demi kesenangan masa kecilmu yang bodoh?"

Reza terdiam. Ia tidak memiliki kalimat satu pun untuk membela diri. Matanya diam-diam mencuri pandang ke arah Hani.

Dari samping, ia bisa melihat rahang wanita itu mengetat, jemarinya terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa sakit hati yang Hani simpan selama bertahun-tahun seolah terpancar nyata dari gestur tubuhnya.

"Minta maaf," perintah Narendra dingin.

Reza mendongak, sedikit terkejut. "Pah..."

"Minta maaf sekarang juga kepada Hani! Di hadapan Papa, di hadapan semua orang di sini!" suara Narendra meninggi, tidak menerima bantahan apa pun.

Reza menelan ludah dengan susah payah. Egonya sebagai pewaris tunggal Baskara Group memberontak, namun rasa bersalahnya jauh lebih besar. Lebih dari itu, ada dorongan aneh di dalam dadanya, sebuah keinginan mendalam untuk melihat Hani tidak lagi menatapnya dengan pandangan penuh kebencian.

Reza melangkah maju, memperkecil jarak antara dirinya dan Hani. Ia berhadapan langsung dengan wanita yang kini tampak begitu berkilau, sangat berbeda dengan Hani yang dulu sering ia tangisi di sudut kelas.

"Hani..." Reza memulai, suaranya bergetar tanpa kepura-puraan. "Aku tahu kata maaf tidak akan pernah cukup untuk menghapus semua luka yang aku buat dulu. Aku tahu aku brengsek, egois, dan bodoh. Aku benar-benar minta maaf. Tolong, maafkan aku."

Hani menatap mata Reza, mencari-cari kebohongan atau sisa-sisa kepuasan dari sang penindas yang dulu sering menertawakannya.

Namun, yang ia temukan di sana hanyalah penyesalan yang tulus dan pancaran keputusasaan yang aneh. Meski begitu, hati Hani yang telah membeku karena trauma tidak bisa luluh begitu saja. Ia hanya diam, memberikan keheningan yang menyiksa bagi Reza.

Melihat Hani yang bergeming, Narendra melangkah maju. Tindakan pria paruh baya itu berikutnya membuat semua orang di koridor tersebut menahan napas serentak.

Narendra Baskara, salah satu orang terkaya di negeri ini, pemilik kerajaan bisnis raksasa membungkukkan tubuhnya di hadapan Hani, seorang pelamar kerja yang baru saja lulus kuliah.

"Hani," ucap Narendra dengan suara yang terdengar sangat tulus dan sarat akan penyesalan. "Sebagai seorang ayah, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala penderitaan yang harus kamu lalui karena kelakuan buruk anak saya di masa lalu. Saya mengakui saya gagal mendidiknya dengan baik saat itu. Tolong, maafkan kelalaian saya dan kejahatan anak saya."

Hani tersentak. Seluruh pertahanan emosinya seketika goyah. Ia tidak pernah menduga bahwa seorang Narendra Baskara akan merendahkan dirinya sedemikian rupa demi menebus kesalahan putranya.

Rasa canggung dan tidak enak hati langsung menjalar ke seluruh tubuh Hani. Sungguh tidak sopan dan tidak pantas membiarkan seorang pria paruh baya yang terpandang membungkuk meminta maaf kepadanya di tempat umum seperti ini.

"Pak... Pak Narendra, tolong tegakkan tubuh Bapak," ujar Hani cepat, suaranya yang semula dingin kini terdengar gugup. Ia menyentuh lengan Narendra dengan sopan, memintanya untuk berdiri tegak kembali. "Tidak perlu sampai seperti ini, Pak."

Narendra kembali tegak, menatap Hani dengan mata yang penuh harap. "Apakah kamu bersedia memaafkannya?"

Hani melirik Reza yang sedang menatapnya dengan napas tertahan, seolah seluruh hidup pria itu bergantung pada jawaban yang akan keluar dari mulut Hani. Hani menarik napas panjang, menenangkan gemuruh di dalam dadanya. Ia harus bersikap dewasa dan profesional.

"Saya memaafkan perbuatan Pak Reza di masa lalu, Pak Narendra," ucap Hani perlahan.

Namun, sebelum Reza sempat mengembuskan napas lega, Hani langsung melanjutkan dengan nada suara yang kembali mendingin sedingin es. "Saya memaafkan demi ketenangan diri saya sendiri, dan karena rasa hormat saya yang besar kepada Bapak. Namun, memaafkan bukan berarti melupakan. Luka itu tetap ada."

Reza tertegun. Kalimat dingin Hani terasa seperti pisau tak kasat mata yang mengiris dadanya. Wanita ini memaafkannya hanya karena menghormati ayahnya, bukan karena benar-benar telah membuka pintu hati untuknya.

Narendra mengangguk paham. Ia bisa mengerti luka mendalam yang dirasakan Hani. "Saya sangat memahami itu. Dan saya sangat menghargai kebesaran hatimu."

Narendra kemudian menatap Hani dengan pandangan serius. "Baskara Group adalah tempat bagi mereka yang memiliki kompetensi, bukan tempat untuk bermain-main. Berkas CV-mu sangat luar biasa, dan kamu adalah kandidat terbaik yang kami miliki untuk posisi ini. Saya meminta dengan sangat, jangan biarkan kesalahan masa lalu anak saya menghancurkan impianmu untuk berkarier di sini. Ambillah pekerjaan ini, Nak. Saya pribadi yang akan menjamin bahwa anak ini tidak akan pernah menyalahgunakan kekuasaannya untuk mengganggumu lagi."

Hani terdiam, menimbang-nimbang tawaran tersebut dalam benaknya. Bekerja di Baskara Group adalah impiannya sejak lama. Ia telah belajar siang dan malam, membangun portofolio yang sempurna hanya untuk bisa berdiri di gedung ini.

Mengapa ia harus mengorbankan masa depannya hanya karena kehadiran seorang Reza? Jika ia melarikan diri sekarang, bukankah itu berarti ia membiarkan Reza menang sekali lagi?

Tidak. Hani bukan lagi gadis lemah yang bisa diintimidasi. Ia akan menghadapi mimpi buruknya secara langsung.

"Baik, Pak Narendra," jawab Hani akhirnya, suaranya terdengar mantap dan penuh keyakinan. "Saya menerima tawaran pekerjaan ini. Saya akan mulai bekerja senin depan."

Senyum tipis terukir di wajah Narendra, sementara di sampingnya, seulas senyum lebar yang tak mampu disembunyikan terbit di wajah tampan Reza.

Ada secercah harapan yang membuncah di dalam dada pria itu. Hani akan bekerja di divisinya, berada di bawah pengawasannya setiap hari. Reza bertekad, ia akan melakukan apa saja untuk menebus kesalahannya dan membuat sikap dingin wanita itu runtuh perlahan-lahan.

"Terima kasih, Nak Hani. Selamat bergabung di Baskara Group," ucap Narendra hangat sebelum berlalu pergi, meninggalkan Reza dan Hani yang kembali terjebak dalam keheningan yang canggung.

Hani sama sekali tidak menatap Reza. Ia berbalik dan melangkah pergi menuju lift, meninggalkan sang pewaris takhta perusahaan yang hanya bisa menatap punggungnya dengan pandangan campur aduk antara kagum, bersalah, dan ketertarikan yang semakin mendalam.

...****************...

Hari Senin yang dinantikan pun tiba. Hani melangkah memasuki area divisi administrasi utama dengan penuh percaya diri. Ia mengenakan blus putih satin yang dipadukan dengan celana kulot formal berwarna krem hangat.

Rambutnya diikat rapi ke belakang, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah cantiknya dengan sempurna. Kehadirannya langsung menyita perhatian beberapa staf pria di ruangan tersebut, namun Hani tetap fokus menuju meja kerja barunya.

Seorang staf senior mengantarnya ke sebuah meja yang terletak tepat di luar ruangan kerja berpintu kaca buram bertuliskan Kepala Divisi - Reza Baskara.

"Ini mejamu, Hani. Sebagai asisten administrasi utama, tugasmu adalah menangani seluruh jadwal, dokumen, dan kebutuhan harian Pak Reza secara langsung," jelas staf senior tersebut sebelum meninggalkannya.

Hani mengembuskan napas perlahan. Menjadi asisten pribadi Reza berarti ia harus berinteraksi dengan pria itu setiap jam, setiap hari. Ia harus menyiapkan mentalnya untuk tetap bersikap sedingin es, tidak peduli apa pun yang dilakukan Reza untuk mengambil hatinya.

Saat Hani mulai merapikan barang-barangnya, matanya tertuju pada sudut mejanya. Di sana, terletak sebuah kotak beludru hitam berukuran sedang yang sangat mewah. Tidak ada nama pengirim, hanya ada sebuah kartu ucapan kecil berwarna emas yang terselip di bawahnya.

Dengan dahi berkerut heran, Hani mengambil kartu tersebut dan membaca tulisan tangan yang rapi di atasnya.

Selamat datang di hari pertamamu, Hani. Kotak ini adalah milikmu yang sempat hilang delapan tahun lalu. Aku menyimpannya dengan baik, menunggumu kembali untuk mengambilnya sendiri.

Jantung Hani mendadak berdegup kencang dengan irama yang tak beraturan. Rasa penasaran sekaligus firasat buruk menyelimuti benaknya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia membuka penutup kotak beludru hitam tersebut.

Begitu kotak terbuka, napas Hani seketika tercekat. Matanya membelalak lebar menatap isi di dalam kotak tersebut. Tubuhnya mendadak kaku, dan rasa dingin yang luar biasa menjalar dari ujung kaki hingga ke kepalanya.

Di dalam kotak itu, terbaring sebuah buku harian usang bersampul merah muda dengan gembok kecil yang sudah rusak terpajang di sampingnya. Itu adalah buku harian masa SMA-nya yang hilang delapan tahun lalu.

Buku harian yang berisi semua rahasia terdalamnya, termasuk sebuah rahasia kelam tentang malam badai yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun di dunia ini.

Hani mendongak dengan tatapan ngeri, tepat saat pintu kaca ruangan Reza perlahan terbuka dari dalam.

1
Bu Dewi
up lagi kak😍😍😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!