"Di mata dunia, dia adalah pangeran penyelamat. Di mataku, dia adalah sipir penjara yang kejam."
Bagi keluarga besar Aris Baskoro, Aris adalah anak berbakti dan abang idaman. Sebagai seorang Manager Regional sukses dengan gaji puluhan juta, dia tak pernah ragu melunasi cicilan mobil adiknya, membiayai kuliah saudara-saudaranya, hingga memberikan tas-tas branded untuk ibunya tercinta. Aris adalah 'pahlawan' yang selalu diagung-agungkan.
Namun, di balik pintu rumahnya sendiri, Aris adalah monster yang berbeda bagi sang istri, Maya Safira.
Di rumah mewah yang mereka tempati, Maya harus hidup dalam 'kemiskinan' yang dipaksakan. Aris memperlakukannya bukan sebagai istri, melainkan tawanan. Setiap rupiah uang belanja dicatat, setiap struk harus dilaporkan. Sementara Aris royal pada orang lain, dia pelit setengah mati pada istri dan anaknya, Dafa. Maya bahkan harus memutar otak mencari uang seratus ribu untuk SPP anaknya yang menunggak, padahal di saat yang sama, Aris baru saja mentransfer
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwandaMw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*bab 1 Pahlawan Dimata dunia
Pukul tujuh malam, kediaman megah Ibu Ratna tampak benderang. Aroma rendang dan opor ayam menyeruak, menyambut kedatangan Aris, si anak emas yang selalu dinanti.
"Ya Allah, Aris! Kamu datang juga, Le," sambut Ibu Ratna dengan wajah berseri. Beliau langsung memeluk anak laki-lakinya itu, mengabaikan Maya yang berdiri di belakang Aris sambil menggendong Dafa yang terkantuk-kantuk.
Aris tersenyum lebar. Ia menyerahkan sebuah paper bag besar berlogo merek ternama. "Ini buat Ibu. Kemarin Aris lihat di mal, katanya Ibu suka warna marun."
Mata Ibu Ratna berbinar saat mengeluarkan tas kulit asli dari dalamnya. "Wah, ini kan mahal sekali, Ris! Pasti jutaan ya?"
"Cuma dua belas juta, Bu. Kecil itu, yang penting Ibu senang," jawab Aris enteng sambil melirik bangga ke arah adik-adiknya yang langsung mengerubungi tas tersebut.
Maya yang berdiri di sudut ruangan hanya bisa menelan ludah. Angka dua belas juta itu terus berdenging di telinganya. Itu adalah jumlah yang sama dengan total biaya sekolah Dafa selama setahun yang hingga kini belum dilunasi, bahkan untuk uang seragam pun Aris bilang "nanti dulu".
"Mbak Maya, kok diam saja? Sini bantu Ibu di dapur, jangan cuma berdiri kayak patung," tegur Siska, adik bungsu Aris, dengan nada memerintah. Ia sendiri asyik memainkan ponsel barunya—yang juga hadiah dari Aris bulan lalu.
Maya meletakkan Dafa yang sudah tertidur di sofa kecil, lalu melangkah ke dapur. Di sana, ia melihat tumpukan belanjaan mewah: daging sapi kualitas super, buah-buahan impor, hingga stok susu kaleng mahal untuk persediaan di rumah Ibu Ratna.
Hatinya mencelos. Tadi pagi, ia harus berdebat selama tiga puluh menit hanya untuk meminta uang lima puluh ribu rupiah demi membeli ikan dan sayur untuk makan Dafa. Aris mencacinya habis-habisan, menuduhnya sebagai istri yang tidak bisa mengatur keuangan dan hanya tahu cara menghabiskan uang suami.
"Maya!" panggil Aris dari ruang tengah.
Maya bergegas menghampiri. "Iya, Mas?"
"Ini, Siska bilang mau bayar uang semesteran besok. Kamu bawa kartu ATM saya yang satu lagi, kan? Tolong transferkan lima juta sekarang ke rekening Siska," perintah Aris tanpa melihat wajah istrinya.
Maya terpaku. Tangannya bergetar hebat di balik saku dasternya. "Tapi Mas... bukannya itu uang simpanan untuk operasi katarak Bapak minggu depan? Mas sudah janji mau bantu Bapak..."
Seketika, suasana hangat di ruangan itu membeku. Aris meletakkan cangkir tehnya dengan dentingan keras ke meja. Ia menatap Maya dengan mata yang memancarkan kilat kemarahan.
"Bapak kamu lagi? Bapak kamu itu punya anak banyak, kenapa harus saya terus yang susah?" desis Aris, suaranya rendah namun tajam seperti sembilu. "Siska ini adik kandung saya! Masa depannya lebih penting daripada sekadar mata Bapak kamu yang sudah tua itu. Jangan jadi istri yang egois, Maya!"
Ibu Ratna menyahut dari kursi kebesarannya, "Iya, Maya. Kamu itu harusnya bersyukur punya suami royal begini. Jangan malah mau menguras hartanya buat keluarga kamu terus. Ingat, surga istri itu ada di bawah kaki suami, bukan kaki Bapakmu."
Air mata Maya sudah menggenang di pelupuk mata. Ia ingin berteriak bahwa selama tiga tahun menikah, Aris tidak pernah memberikan sepeser pun untuk keluarganya. Namun, di rumah ini, ia tidak punya suara. Ia hanyalah orang asing yang bertugas melayani pahlawan keluarga besar Baskoro.
"Cepat transfer! Jangan bikin saya malu di depan Ibu!" bentak Aris lagi.
Dengan tangan gemetar dan hati yang hancur berkeping-keping, Maya mengeluarkan ponselnya. Ia melakukan perintah itu. Lima juta melayang dalam sekejap—uang yang ia kumpulkan dari sisa-sisa uang dapur yang ia hemat mati-matian demi pengobatan ayahnya.
Malam itu, di tengah tawa bahagia keluarga Aris, Maya menyadari satu hal: di rumah ini, ia bukan lagi seorang istri. Ia hanyalah pelayan bagi ego suaminya yang setinggi langit.