Sofia tidak pernah menyangka akan terbangun di dalam dunia novel yang ia kenal dan lebih buruknya lagi, ia kini menjadi Christine Daaé.
Mengetahui kisah tragis yang menantinya, Sofia bertekad mengubah takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricca Rosmalinda26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Antara Mimpi dan Kenyataan
Aku masih bernyanyi ketika suara terakhir itu perlahan menghilang.
Nada yang keluar dari bibirku bergetar sebelum akhirnya larut ke dalam keheningan.
Aku membuka mata.
Cermin besar di hadapanku masih memantulkan sosok Christine.
Tidak ada siapa-siapa di sana.
Tidak ada suara lembut yang selama ini kupanggil sebagai Malaikat Musik.
Hanya aku.
Dan kesunyian.
“Malaikat?”
Aku menunggu.
Tidak ada jawaban.
“Malaikat Musik?”
Sekali lagi, tidak ada jawaban.
Dadaku terasa sesak.
Aku ingin memanggilnya lagi, tetapi suaraku seolah tertahan di tenggorokan.
Kemudian sesuatu yang aneh terjadi.
Suara dari kejauhan mulai terdengar.
Bukan suara orang-orang di gedung opera.
Bukan suara langkah kaki.
Bukan alunan musik.
Melainkan suara yang sangat familiar.
Suara dengungan mesin.
Suara kendaraan.
Suara samar dari televisi.
Aku mengerutkan kening.
Apa itu?
Aku mencoba membuka mata lebih lebar.
Namun pandanganku semakin kabur.
Gedung opera di hadapanku perlahan menghilang.
Dinding tua.
Cermin.
Lilin.
Kostum.
Semuanya seperti ditarik menjauh oleh kabut.
Aku mencoba meraih sesuatu.
“Malaikat...”
Namun tanganku tidak menemukan apa-apa.
Gelap.
...----------------...
Aku tersentak bangun.
“Hah...?”
Aku menarik napas dalam-dalam. Dadaku naik turun dengan cepat. Aku menatap sekeliling dengan mata yang masih berat.
Langit-langit putih.
Dinding apartemen.
Lampu ruang tamu yang belum kumatikan.
Sofa tempat aku tertidur.
Aku terdiam.
Beberapa detik berlalu sebelum pikiranku benar-benar mampu memahami tempatku berada.
Aku berada di apartemen. Apartemenku.
Bukan gedung opera. Bukan Paris pada abad yang lalu.
Aku mengusap wajah.
“Apa...?”
Suara yang keluar dari bibirku terdengar serak.
Aku memandang kedua tanganku.
Tidak ada gaun.
Tidak ada sarung tangan.
Tidak ada kain kostum.
Aku mengenakan pakaian rumah yang tadi kupakai sebelum tidur.
Aku menundukkan kepala.
Kemudian sesuatu membuatku membeku.
Buku itu.
Buku tua yang selama dua hari terakhir selalu berada di dekatku.
Buku yang entah mengapa membawa begitu banyak mimpi aneh.
Buku itu masih berada di pangkuanku.
Tanganku bahkan masih menggenggam bagian sampulnya. Aku menatap benda itu cukup lama. Jantungku berdetak sedikit lebih cepat.
Perlahan, aku mengangkatnya. Sampulnya masih sama. Elegan. Tua. Dengan ukiran yang begitu halus.
Tidak ada perubahan sedikit pun.
Namun entah mengapa, sekarang buku itu terlihat jauh lebih menyeramkan daripada sebelumnya.
Aku menelusuri permukaannya dengan ujung jari.
“Jadi...”
Aku berhenti, “Semua itu hanya mimpi?”
Pertanyaan itu terdengar bodoh bahkan bagi diriku sendiri.
Aku baru saja mengalami sebuah kisah yang terasa begitu nyata.
Aku berbicara dengan Meg.
Aku bertemu kembali dengan Raoul.
Aku mendengar suara Malaikat Musik.
Aku bahkan dapat merasakan ketakutan Christine.
Semuanya terasa terlalu nyata untuk disebut mimpi.
Namun bagaimana mungkin?
Aku berada di apartemenku.
Di zaman modern.
Aku menoleh ke arah jendela. Langit di luar masih gelap. Lampu-lampu kota terlihat dari kejauhan. Suara kendaraan sesekali terdengar dari jalan.
Semuanya normal. Semuanya seperti biasa. Aku meraih ponsel yang tergeletak di meja.
Layar menyala.
01.07
Aku mengerjapkan mata.
“Jam satu pagi?” Aku menatap layar sekali lagi, “Serius?”
Rasanya aku baru saja menutup mata beberapa menit lalu.
Aku menguap.
Tubuhku terasa sangat berat.
Aneh.
Aku bahkan tidak merasa seperti baru saja tidur. Aku merasa seperti baru pulang dari perjalanan panjang. Aku menyandarkan kepala ke sofa.
Ingatan tentang mimpi itu kembali muncul. Aku memejamkan mata.
“Tidak.” Aku menggeleng pelan.
“Aku tidak mau memikirkannya.”
Semakin kupikirkan, semakin banyak pertanyaan yang muncul.
Mengapa aku bisa mengingat percakapan yang begitu panjang?
Mengapa wajah mereka begitu jelas?
Mengapa aku dapat merasakan ketakutan Christine seolah-olah itu adalah perasaanku sendiri?
Dan yang paling menggangguku—
Mengapa aku merasa kehilangan ketika Malaikat Musik tidak menjawabku?
Aku membuka mata, “Ini cuma mimpi.”
Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri.
“Cuma mimpi.” Aku mengatakannya sekali lagi.
“Tidak lebih dari itu.”
Aku berdiri dari sofa. Kakiku terasa sedikit lemas. Aku hampir kehilangan keseimbangan ketika berjalan menuju kamar.
Aku berhenti sebentar. Buku itu masih berada di tanganku. Aku menatapnya.
Untuk beberapa saat, ada keinginan untuk membukanya.
Mungkin aku bisa mencari bagian tentang Phantom.
Mungkin aku bisa memastikan apakah semua yang kulihat memang berasal dari buku tersebut.
Namun kemudian aku menguap lagi, “Besok saja.”
Aku terlalu lelah.
Aku berjalan menuju meja kecil di ruang tamu dan meletakkan buku itu di atasnya. Aku bahkan memastikan buku itu tertutup rapat. Tidak ada alasan bagiku untuk membukanya lagi malam ini.
Aku menatapnya sejenak, “Jangan membuatku bermimpi aneh lagi.”
Aku tertawa kecil.
Tentu saja buku itu tidak mungkin menjawab.
Aku berbalik.
Namun baru beberapa langkah aku berjalan, aku berhenti.
Entah mengapa, aku kembali menoleh.
Buku itu masih berada di atas meja.
Diam.
Tidak bergerak.
Aku menghela napas.
“Besok aku harus bekerja.”
Kalimat sederhana itu cukup untuk membuatku kembali sadar pada kenyataan.
Meeting.
Laporan.
Pekerjaan.
Dan rutinitas kantor yang membosankan.
Aku menggeleng.
“Tidak ada Phantom.”
Aku berjalan menuju kamar.
“Tidak ada gedung opera.”
Aku membuka pintu kamar.
“Tidak ada Malaikat Musik.”
Aku berhenti sejenak.
“Dan tidak ada Christine.”
Aku tersenyum tipis.
“Namaku Sofia.”
Seolah perlu mengingatkan diriku sendiri.
Aku masuk ke kamar dan duduk di tepi ranjang.
Namun sebelum berbaring, aku kembali mengambil ponsel. Ada satu nama yang tiba-tiba terlintas dalam pikiranku.
Leo.
Aku membuka aplikasi pesan. Aku menatap layar beberapa detik. Kemudian mengetik.
Sofia:
Leo, besok pagi jemput aku ya. Aku mau berangkat kerja bareng kamu.
Aku membaca pesan itu sekali.
Kemudian menekan tombol kirim.
Tidak lama kemudian, tanda pesan terkirim muncul.
Aku menunggu.
Satu menit.
Dua menit.
Tidak ada balasan.
Aku menghela napas.
“Dia pasti sudah tidur.”
Aku meletakkan ponsel di atas meja samping ranjang. Aku menarik selimut. Tubuhku terasa sangat lelah.
Padahal hari ini tidak ada sesuatu yang luar biasa. Aku hanya bekerja.
Pulang.
Membaca buku.
Lalu tertidur.
Tetapi mimpi itu terasa seperti perjalanan yang sangat panjang.
Aku menarik selimut hingga ke dada. Mataku mulai terasa berat.
Aku mencoba tidak memikirkan apa pun.
Namun wajah-wajah dari gedung opera kembali muncul dalam pikiranku.
Aku membuka mata.
“Jangan.” Aku memalingkan wajah ke bantal.
“Aku tidak mau memikirkannya.”
Beberapa detik kemudian, aku mulai teringat suara Malaikat Musik.
Bernyanyilah untukku, Christine.
Suara itu begitu lembut. Begitu nyata.
Aku menarik napas panjang. Kemudian perlahan mengembuskannya.
Mungkin aku hanya terlalu larut dalam cerita.
Mungkin setelah membaca buku itu berulang kali, pikiranku menciptakan sebuah dunia sendiri.
Ya. Itu pasti penyebabnya.
"Aku seorang karyawan biasa."
"Aku tinggal di Paris modern."
"Aku memiliki pekerjaan."
"Aku memiliki kekasih."
"Aku memiliki kehidupan nyata."
"Tidak mungkin aku tiba-tiba menjadi Christine."
"Tidak mungkin aku berbicara dengan Phantom."
"Tidak mungkin ada Malaikat Musik yang menungguku di balik cermin."
Aku menggerutu sendiri lalu tersenyum kecil.
“Besok semuanya akan terasa normal.”
Aku memejamkan mata. Tubuhku semakin rileks. Namun tepat ketika kesadaranku hampir sepenuhnya tenggelam dalam tidur, sebuah pikiran kecil muncul.
"Bagaimana jika itu bukan mimpi?"
Aku membuka mata. Aku terdiam.
Kemudian aku menggeleng. “Sudahlah.”
Aku terlalu lelah untuk memikirkan hal-hal seperti itu.
Aku menarik selimut lebih tinggi dan akhirnya membiarkan kantuk mengambil alih.
Perlahan, suara dunia modern menghilang.
Aku tidak lagi mendengar kendaraan di luar.
Tidak lagi mendengar suara pendingin ruangan.
Tidak lagi memikirkan pekerjaan, Leo dan yang lainnya.
Aku tertidur.
Namun di ruang tamu yang gelap, sebuah benda masih tergeletak di atas meja.
Buku tua itu. Tertutup rapat. Diam dalam kegelapan.
Beberapa saat kemudian, cahaya bulan menyelinap melalui celah tirai dan jatuh tepat di atas sampulnya.
Ukiran pada permukaannya tampak berkilauan sesaat.
Lalu...
seolah-olah disentuh oleh tangan yang tak terlihat—
halaman buku itu bergerak sendiri.
Satu lembar terbuka.
Kemudian lembar berikutnya.
Berhenti pada sebuah halaman yang menggambarkan gedung opera Paris.
Halaman itu bergerak perlahan.
Seolah-olah buku tersebut sedang menunggu seseorang kembali.
Atau mungkin...
seolah-olah seseorang di dalamnya sedang menunggu Sofia.