Dua tahun lalu, Tsania memilih mengakhiri hubungannya dengan Arsen, pria yang sangat ia cintai. Bukan karena cinta itu hilang, melainkan karena sebuah rahasia pahit yang memaksanya pergi tanpa penjelasan. Sejak saat itu, mereka menjalani hidup masing-masing, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang paling menyiksa.
Hari pertama bekerja di perusahaan impiannya berubah menjadi mimpi buruk ketika Tsania mengetahui bahwa CEO muda yang dingin, arogan, dan disegani semua orang adalah Arsen, mantan kekasih yang pernah ia tinggalkan. Kini, Arsen adalah bosnya.
Bagi Arsen, pertemuan itu bukan kebetulan, melainkan kesempatan untuk membalas rasa sakit yang selama ini ia pendam. Ia bersikap dingin, memberi tugas-tugas sulit, dan terus menguji kesabaran Tsania. Namun, di balik tatapan tajam dan sikap tak berperasaannya, masih tersimpan cinta yang tak pernah benar-benar padam.
apakah yang akan terjadi kepada mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tsania 8
Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar rawat inap, menyilaukan mata Tsania yang masih terasa sangat berat. Jarum jam di dinding baru menunjuk pukul setengah enam pagi. Dengan napas yang masih sedikit tersengal dan tubuh yang menggigil pelan, ia mencabut plester penahan selang infus di tangannya.
Maya yang tertidur pulas di sofa seketika tersentak bangun mendengar suara pergerakan. Matanya membelalak sempurna melihat Tsania sudah berdiri mengenakan kemeja dan rok kerja yang disimpannya sebagai cadangan di loker kantor semalam.
"Tsania! Kamu sudah gila?!" jerit Maya panik, bergegas menahan bahu sahabat barunya itu. "Dokter bilang kamu harus dirawat minimal tiga hari! Demammu semalam hampir empat puluh derajat, paru-parumu juga terancam infeksi!"
"Aku sudah merasa jauh lebih baik, Mbak Maya," dusta Tsania pelan. Wajahnya masih sepucat kapas, dan bibirnya pucat pecah-pecah.
"Kalau aku tidak masuk tepat waktu hari ini, Pak Arsen pasti akan menganggapku mangkir dan memotong evaluasi kerjaku. Aku tidak mau memberinya celah sedikit pun."
"Persetan dengan evaluasi dan Pak Arsen! Kesehatanmu jauh lebih penting dari pekerjaan sialan ini, Tsania!" sergah Maya dengan mata berkaca-kaca menahan marah.
"Mas Raihan sudah berpesan sebelum pulang semalam agar kamu istirahat total. Jangan keras kepala, kumohon!"
Tsania menatap Maya lembut, lalu melepaskan pegangan tangan wanita itu dari bahunya.
"Tolong izinkan aku pergi, Mbak. Aku harus membuktikan kepadanya bahwa aku bukan wanita lemah yang bisa dia injak-injak semaunya."
Tepat pukul delapan kurang sepuluh menit, pintu ruang CEO di lantai teratas Pratama Tower diketuk. Arsen yang sedang membaca laporan keuangan mendongak dengan kening berkerut. Semalaman ia meyakinkan diri bahwa wanita itu pasti akan menyerah dan menelepon HRD untuk mengundurkan diri.
"Masuk."
Pintu terbuka perlahan. Langkah sepatu itu tidak mantap seperti biasanya. Tsania berjalan mendekat, membawa map analisis tebal di pelukannya. Wajahnya pias tak berdarah, lingkaran hitam menghiasi matanya yang cekung, dan napasnya terdengar memburu tertahan, namun punggung wanita itu berdiri sangat tegak menantang.
Arsen terpaku selama beberapa detik. Ada denyut ngilu yang tiba-tiba menghantam dadanya saat melihat kondisi mengenaskan wanita di hadapannya. Namun, tembok ego dan gengsinya langsung mengambil alih.
"Saya kira kamu akan bolos setelah pura-pura kelelahan semalam," sindir Arsen dingin, menyandarkan punggungnya angkuh ke sandaran kursi.
Tsania meletakkan map tebal itu tepat di tengah meja bosnya.
"Ini laporan analisis kompetitor yang Bapak minta semalam. Semua data, grafik, dan proyeksi sudah saya validasi ulang sesuai standar," jawab Tsania dengan suara parau dan serak yang terdengar menyakitkan.
Arsen melirik tumpukan kertas rapi itu, lalu kembali menatap wajah Tsania lekat-lekat. Sorot matanya menajam.
"Wajahmu pucat. Kamu sakit?"
"Hanya sedikit kurang sehat, tapi itu tidak akan mengganggu profesionalitas kerja saya, Pak," balas Tsania lugas, menolak memalingkan wajah dari tatapan intimidasi Arsen.
"Ada dokumen lain yang harus saya kerjakan pagi ini?"
Arsen mengatupkan rahangnya rapat-rapat hingga urat di lehernya menegang. Di bawah meja yang tertutup rapat, kedua tangan pria itu mengepal kuat, menahan gejolak emosi yang entah ditujukan pada siapa, pada Tsania yang begitu keras kepala memelihara luka, atau pada dirinya sendiri yang kini meragukan batas balas dendamnya.
Matahari bergerak makin tinggi, memancarkan terik yang menusuk dari balik dinding kaca megah lantai teratas Pratama Tower. Jarum jam dinding menunjuk pukul sebelas lewat empat puluh lima menit. Suasana di dalam ruang kerja CEO terasa begitu sunyi, hanya didominasi oleh denting pelan papan ketik laptop Tsania yang diselingi napasnya yang terasa semakin berat.
Tsania meremas jemarinya yang dingin di bawah meja. Keringat dingin terus menetes di pelipisnya, membakar kulitnya yang kini semakin pucat pasi. Setiap kali ia mencoba menegakkan punggung, rasa pusing yang hebat kembali menghantam kepalanya. Di sudut ruangan lain, Arsen tampak sibuk memeriksa tumpukan dokumen, sesekali matanya mencuri pandang ke arah Tsania yang terlihat sangat bersusah payah mempertahankan kesadarannya.
Tiba-tiba, pintu ruangan berdesain elegan itu terbuka tanpa ketukan terlebih dahulu.
"Arsen, honey!"
Suara nyaring nan manja memecah keheningan ruangan. Seorang wanita berpenampilan sangat modis melangkah masuk dengan penuh percaya diri. Ia mengenakan blazer tanpa lengan berwarna nude yang dipadukan dengan celana kulot senada, tas desainer ternama menggantung anggun di lengannya, dan riasan wajahnya terlihat sangat sempurna.
Arsen mendongak, raut wajahnya yang tadinya kaku sedikit mengendur walau tetap datar. "Aurelia? Kenapa tidak memberitahu dulu kalau mau datang?"
Aurelia, putri tunggal dari salah satu pemegang saham utama Pratama Group melangkah mendekati meja Arsen dengan senyum merekah.
"Aku kan mau kasih surprise! Hari ini jadwal kamu makan siang sama aku, ingat? Aku sudah book meja di restoran Italia favorit kita jam dua belas."
"Saya ada beberapa berkas yang harus diselesaikan, Aurelia," sahut Arsen tenang, namun tidak menolak kehadiran wanita itu.
"Ah, tinggal ditinggal sebentar kan bisa," rajuk Aurelia seraya menyandarkan tubuhnya di tepi meja kerja Arsen.
Namun, saat Aurelia memutarkan badannya, pandangannya tak sengaja berbenturan dengan sosok Tsania yang duduk di meja kecil di sudut ruangan. Sorot mata Aurelia seketika berubah heran. Ia menyipitkan mata, memperhatikan Tsania dari ujung rambut hingga ujung kaki, menilai pakaian kerja Tsania yang terlihat sedikit kusut dan wajahnya yang terlalu pucat tanpa riasan sedikit pun.
Aurelia melangkah pelan mendekati meja Tsania, tumit sepatu high heelsnya berdetak nyaring di atas lantai marmer.
"Tunggu dulu... Arsen, siapa dia?" tanya Aurelia dengan nada penuh kecurigaan yang terselubung ramah.
"Setahuku, sekretaris kamu itu Pak Danu yang usianya sudah empat puluh tahunan. Sejak kapan ada staf wanita yang ditaruh di dalam ruangan kamu begini?"
Tsania menahan napas. Ia mencoba berdiri dari kursinya untuk memberi penghormatan secara profesional, namun lututnya mendadak lemas hingga ia harus berpegangan pada tepi meja.
"Selamat siang, Bu. Saya Tsania, Senior Brand Strategist yang baru," sapa Tsania dengan suara serak namun sebisa mungkin diusahakan tetap sopan.
Aurelia menaikkan satu alisnya, melipat kedua tangannya di dada. Matanya menatap Tsania penuh selidik.
"Senior Brand Strategist? Bukannya tim Marketing dan Brand ditaruh di lantai delapan? Kenapa meja kamu bisa ada di sini, persis di dalam ruangan CEO?"
Pertanyaan itu meluncur tajam, membuat suasana ruangan mendadak makin tegang. Aurelia memutar tubuhnya kembali menghadap Arsen dengan raut wajah menuntut penjelasan.
"Arsen, is there something I should know? Sejak kapan kamu mengizinkan karyawan wanita bekerja seruangan sama kamu? Kamu kan paling risih kalau ada orang lain di ruang kerjamu."
Arsen yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Tsania yang makin mengkhawatirkan, akhirnya angkat bicara dengan nada dingin dan lugas.
"Dia bertugas menangani proyek peluncuran produk baru secara langsung di bawah pengawasanku, Aurelia. Memindahkan mejanya ke sini hanya untuk efisiensi komunikasi, tidak ada hal lain," potong Arsen cepat, mencoba menyamarkan perhatiannya.
Aurelia mendekat lagi ke arah Tsania, matanya memicing semakin curiga.
"Tapi wajah dia pucat sekali, Arsen. Lihat deh, bibirnya saja sampai putih begitu. Kamu yakin dia tidak punya niat lain? Atau sengaja akting sakit supaya menarik perhatian kamu?"
Kata-kata tajam Aurelia menghantam Tsania bagai sentilan yang menyakitkan. Tsania menggigit bibirnya yang pecah-pecah, mengepalkan jemarinya kuat-kuat hingga kukunya memutih.
"Saya murni bekerja di sini secara profesional, Mbak Aurelia," tegas Tsania, matanya menatap lurus ke arah Aurelia meski pandangannya mulai kabur berpendar.
"Saya tidak pernah memiliki niat untuk mencari perhatian siapa pun. Bahkan kalau di izinkan, saya juga jauh lebih nyaman bekerja di kubikel saya di lantai delapan bersama dengan tim lainnya. Semoga Ibu bisa meyakinkan Pak Arsen untuk memindahkan saya ke kubikel saya sendiri, Bu...."
"Nah, sayang... Mendingan kamu pindahkan dia lagi ke kubikelnya. Aku nggak mau kalau sampai ada yang berani menggoda kamu di kantor! Karena kamu hanya akan menjadi miliku!"
Arsen berdiri dari kursi eksekutifnya, memotong interaksi yang makin memanas itu.
"Sudah cukup, Aurelia. Jangan membuat drama di ruang kerja saya. Kita pergi makan siang sekarang."
Aurelia tersenyum puas merasa menang. Ia mengibaskan rambutnya yang tertata rapi lalu merangkul lengan Arsen tanpa ragu.
"Nah, gitu dong dari tadi. Yuk, nanti restorannya penuh."
Saat Arsen membiarkan tangannya dirangkul oleh Aurelia dan melangkah menuju pintu keluar, matanya sempat tertuju pada Tsania. Wanita itu berdiri mematung di samping mejanya, tubuhnya gemetar hebat menahan demam dan rasa sakit hati yang kembali diiris oleh kehadiran wanita lain di sisi Arsen. Dan Arsen mengira jika Tsania menhan cemburu melihat dia bersama dengan Aurela.
Pintu kaca tebal itu akhirnya tertutup rapat, menyisakan keheningan yang dingin. Begitu Arsen dan Aurelia menghilang dari pandangan, Tsania tidak mampu lagi menopang berat tubuhnya. Kedua tangannya terlepas dari tepi meja, dan tubuh mungilnya ambruk, terkulai lemas di atas lantai marmer yang dingin tanpa ada seorang pun yang menyaksikan.