“Aku mencintaimu, Mey. Mari kita menikah.”
Mey seorang gadis yang terpaksa bekerja sebagai ladies companion alias LC di tempat karaoke demi membiayai kebutuhan hidupnya dan Liani, anaknya yang lahir di luar nikah. Ron mengentas Mey dari dunia hiburan malam, menjadikannya kekasih, dan kemudian melamarnya.
Sayang Ron tak bersedia menerima Liani dan meminta Mey tetap menitipkannya di panti asuhan. Pria itu berjanji takkan melarang Mey menemui anaknya dan memakai uang Ron untuk membiayai kebutuhannya. Gadis itu setuju. Dia mempercayakan Liani pada Bu Widya, pengelola panti.
Setelah menikah, karir Ron melejit dari sales biasa hingga menjadi distributor sepatu ternama. Dia dan Mey dikaruniai dua anak bernama Cyll dan Sam. Mey menjadi nyonya sosialita dengan hidup gemerlap hingga kemudian syok berat mengetahui kebobrokan perilaku suaminya.
Apa yang dilakukan Mey selanjutnya? Akankah dia mempertahankan pernikahannya? Lalu bagaimana hubungannya dengan Liani?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sofia Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Dilamar dengan Syarat
“Aku mencintaimu, Mey. Mari kita menikah.”
Ron mengecup kening putih mulus gadis di depannya. Mey tertegun. Apa benar yang baru didengarnya barusan? Pria ini meminangnya? Mereka baru tiga bulan menjadi kekasih. Setelah pertemuan pertama di tempat karaoke satu bulan sebelum Ron menyatakan cinta padanya!
“Kenapa diam saja, Mey? Kamu tidak mau menikah denganku?”
Wajah tirus itu mendongak, pandangannya fokus pada sorot mata sang kekasih. Ron mengangguk pelan. “Aku sungguh ingin memperistrimu, Mey. Umurku sekarang tiga puluh dua tahun. Lebih dari cukup untuk menikah. Penghasilanku memang belum besar, tapi sanggup menghidupi kita berdua dan seorang anak nantinya. Sebelum menikah, kita akan cari rumah kontrakan sederhana. Nanti pelan-pelan kita menabung supaya bisa membeli rumah sendiri.”
Mata bulat Mey berkaca-kaca. Tak diduganya hubungannya dengan Ron akan berujung ke pelaminan. Pria yang selama tiga bulan ini membiayai hidupnya di kamar kos putri sederhana seluas dua belas meter persegi, semenjak dirinya berhenti kerja sebagai LC alias ladies companion di tempat karaoke pria-pria hidung belang. Itu adalah syarat yang dulu diajukan Ron kalau Mey bersedia menjadi kekasihnya. Berhenti bekerja di tempat hiburan malam.
Dan kini pria yang mengentasnya dari lembah hitam ini melamarnya. “Aku...aku takut mengecewakan keluargamu, Bang,” ucap Mey jujur. Gadis berambut hitam panjang lurus itu bergidik. Dia tahu Ron yang lebih tua sebelas tahun darinya ini telah lama hidup mandiri merantau dari satu kota ke kota lain, tanpa campur tangan orang tua. Bisa dibilang mau menikah dengan siapa saja, orang tua Ron takkan menentang.
“Ah, Mey. Apa yang kamu takutkan? Kan sudah kubilang aku cuma punya ibu di kota Surabaya yang hidup sepenuhnya dari uang yang kukirim. Ayahku sudah dua puluh tahun menghilang entah kemana. Aku tak punya saudara. Jadi apalagi yang kamu kuatirkan, Sayang? Percayalah, Mey. Aku akan membuat hidupmu bahagia. Bukankah aku sudah membuktikan selama tiga bulan ini hidupmu tak kekurangan?”
Mey berkata lirih, “Lalu bagaimana dengan anakku yang tinggal di panti asuhan, Bang? Bisakah dia tinggal bersama kita? Aku sebenarnya ingin membawanya tinggal di kos ini sejak aku tidak bekerja tiga bulan yang lalu. Tapi aku kuatir dia sendirian pas malam hari karena kamu sering mengajakku pergi jalan-jalan....”
Ron menghela napas panjang. Ini agak sulit baginya. Dia tak mempermasalahkan masa lalu Mey yang dulu hamil tanpa suami, hingga anak di luar nikahnya itu dititipkan di panti asuhan. Ron pun tak keberatan uang yang diberikannya pada Mey sebagian dipakai untuk menghidupi anak itu. Tapi menerima anak yang bukan darah dagingnya dalam rumah tangga yang akan dibinanya bersama Mey...ah, tak semudah itu.
Kemudian pria bertubuh tinggi besar dan berkulit sawo matang itu berkata tegas, “Aku tak yakin bisa menganggapnya sebagai anak sendiri, Mey. Daripada nanti aku pilih kasih terhadap anak kandungku sendiri, lebih baik anakmu sejak awal tidak masuk dalam kehidupan rumah tangga kita. Tapi aku berjanji tak mempermasalahkan jika kamu mau membiayai hidupnya dari penghasilanku. Aturlah sebisamu, aku tidak perlu diberitahu detilnya. Asalkan kamu memprioritaskan kebutuhan keluarga kita sendiri. Bagaimana?”
Mey tertunduk. Hatinya bagai teriris sembilu. Dia mengerti tak semua pria mau menerima anak sambung, apalagi yang lahir di luar nikah. Tapi Liani adalah darah dagingnya. Masa dia tetap tinggal di panti asuhan sementara ibunya sudah menjalani hidup baru?
Ron berusaha membujuk sang kekasih. “Aku memang bukan penyuka anak kecil, Mey. Jadi daripada nanti aku tidak bisa memperlakukan anakmu dengan penuh kasih sayang, kasihan nanti hatinya terluka. Lebih baik dia tetap tinggal di panti asuhan. Aku berjanji takkan pernah melarangmu menemuinya. Tapi tolong jangan menghadirkannya dalam kehidupan rumah tangga kita. Karena yah, belum tentu ibuku akan menerimanya sebagai cucu sendiri. Aku nanti juga bingung bagaimana menjelaskan asal-usul anak itu pada ibuku. Kamu mengerti kan, Sayang?”
Mey paham Kekasihnya ini tak mungkin bercerita pada ibunya tentang pertemuan mereka pertama kali di tempat karaoke. Waktu itu Ron sedang menemani Pak Den, customer papan atas untuk bersenang-senang di tempat hiburan malam. Mereka datang bersama teman-teman hidung belang Pak Den. Mey merupakan salah satu LC yang ditugaskan menemani pria-pria mata keranjang itu minum dan menyanyi.
Ron menaruh hati pada pandangan pertama. Mey adalah LC termuda dan paling tidak genit diantara rekan-rekannya. Ternyata gadis itu baru bekerja selama empat bulan di sana dan terkenal paling alim. Dia tidak menerima job lain disamping menemani minum dan karaoke. Waktu menyanyi suaranya paling merdu. Hati Ron tergerak untuk mendekatinya. Satu bulan kemudian mereka resmi menjadi kekasih dan pria itu meminta Mey untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya.
“Mey, apa kamu tidak percaya padaku?” tanya Ron membuyarkan lamunan sang kekasih. “Atau kamu marah karena aku tak menyanggupi menerima anakmu?”
Dengan berat hati Mey berkata, “Aku takut, Bang. Kalau kita menikah nanti, kamu masih akan pergi ke tempat hiburan malam....”
Ron tertawa. “Jadi kamu tidak percaya aku bisa menjaga diri?”
“Pak Den kan nakal, Bang.”
“Buktinya aku selama ini cuma menemani dia minum dan karaoke saja, kan? Tak lebih dari itu. Coba kamu tanya eks mamimu di tempat karaoke, apa pernah aku pergi dengan cewek-cewek di sana setelah aku pacaran denganmu?”
Mey meringis. Dia sudah tak mau berhubungan dengan orang-orang dunia hiburan malam lagi. Semenjak mengundurkan diri dari tempat karaoke, Mey pindah kos dan ganti nomor ponsel. Gadis itu malah mulai rajin beribadah ke gereja. Tak henti-hentinya dia bersyukur Tuhan telah mengentasnya dari dunia hiburan malam melalui tangan Ron.
“Baiklah, Bang. Aku mau menjadi istrimu.”
Ron gembira sekali. Dipeluknya tubuh ramping sang kekasih erat-erat. “Aku berjanji akan membuatmu bahagia, Mey. Aku berjanji.”
Mey tersenyum. Saat ini saja hatinya sudah bahagia. Tak apalah anak kandungnya masih tinggal di panti asuhan. Yang penting dia masih diperkenankan menemui dan membiayai hidup anak itu dari uang yang diberikan Ron.
***
“Saya titip Liani ya, Bu,” ucap Mey dengan hati berat.
Bu Widya, pengurus panti asuhan, menghela napas panjang. Diperhatikannya Mey yang mengelus-elus rambut halus anak perempuan berusia satu setengah tahun yang tertidur pulas di atas ranjang. Bu Widya tahu Mey sangat menyayangi anaknya. Oleh karena itulah dia sampai rela menjadi LC di tempat karaoke demi membiayai kebutuhan Liani di panti. Karena Mey tak mau anaknya diadopsi. Akhirnya pemilik panti mengharuskan dia membiayai kebutuhan Liani selama dititipkan di sana.
Mey bekerja apa saja. Mulai dari tukang setrika di kios laundry kiloan, pelayan di kedai kopi, hingga penjaga toko kelontong. Tapi penghasilannya hanya tersisa sedikit untuk membiayai kebutuhan hidup Liani di panti, karena terpotong untuk biaya kos dan kebutuhan Mey sendiri. Bu Widya-lah yang diam-diam membantunya tanpa sepengetahuan pemilik panti. Perempuan baik hati itu menambahi uang yang diberikan Mey sehingga pemilik panti membiarkan Liani tetap tinggal di sana dengan status bukan calon adopsi.
Mey sangat berterima kasih atas bantuan Bu Widya. Tapi dia tak mau menggantungkan diri terlalu lama pada kebaikan janda tanpa anak itu. Akhirnya Mey menerima tawaran teman kosnya untuk bekerja sebagai LC di tempat karaoke. Teman kosnya itu bernama Shinta, sudah satu tahun bekerja di dunia hiburan malam.
Sejak saat itulah Mey mulai bisa membiayai kebutuhan hidup Liani di panti. Gadis itu tak menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya dari Bu Widya. Pun pengurus panti tersebut tak menghakimi jalan hidup yang dipilih Mey.
Tapi kali ini Bu Widya merasa kuatir. “Mey, apa kamu yakin akan menikah dan meninggalkan Liani di sini? Kalau calon suamimu itu benar-benar mencintaimu, kenapa dia tak menerima Liani sebagai anaknya?”
Mey tersenyum getir. “Bang Ron takut nanti pilih kasih kalau punya anak sendiri, Bu. Lagipula ibunya belum tentu mampu menerima keberadaan Liani. Nanti Bang Ron juga bingung bagaimana menjelaskan tentang keadaanku yang punya anak di luar nikah. Aku tak mau menyusahkan Bang Ron, Bu. Yang penting dia tidak keberatan aku masih menemui Liani. Bang Ron juga tak mempermasalahkan penghasilannya dipakai buat membiayai kebutuhan Liani, Bu.”
Bu Widya meringis. Dia tak tahu harus merasa senang atau prihatin. Senang karena Mey telah menemukan pasangan hidup yang akan melindunginya. Prihatin karena harga yang harus dibayar adalah tinggal terpisah dengan anak kandungnya sendiri entah sampai kapan.
***