NovelToon NovelToon
Ranjang Panas Preman Kampus

Ranjang Panas Preman Kampus

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Tamat
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: El khiyori

#tamat
Follow Instagram jane_marry03
Bara Adikara, tumbuh dengan kebencian setelah perselingkuhan ayahnya. Ibunya meninggal dan hidupnya hancur. Ia akan terus disiksa jika tak mau menurut pada peraturan sang ayah. Begitu dewasa, Bara pun menjelma menjadi sosok yang keras dan dingin. Ia berpura-pura menjadi pecundang bodoh yang tak peduli pada semuanya. Tanpa seorangpun tahu kalau sebenarnya Bara sedang merencanakan sebuah balas dendam. Ia akan merebut semua milik ibunya, rumah dan perusahaan. Selain itu, ia juga akan menghancurkan wanita yang sudah membuat keluarganya hancur, dengan memanfaatkan anaknya. Andrea Willona, gadis itu akan Bara hancurkan, tapi disaat hati mulai ikut campur, benarkah semua akan tetap pada alurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El khiyori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Selama tiga hari tiga malam, rumah kontrakan sempit itu tenggelam dalam kesunyian yang mencekam.

Pagi itu Andrea memutuskan untuk tidak bekerja. Ia duduk mematung di tepi ranjang. Matanya yang sembap menatap kosong ke arah jendela yang dibasahi sisa-sisa embun pagi. Ia sengaja membatasi diri untuk tak melihat ponsel, karena ternyata apa yang Bara alami menggemparkan sosial media, dan bayangan bangkai mobil yang hancur serta genangan darah pekat di aspal yang ia lihat dalam vidio amatir dari sosial media, seolah telah terpatri abadi di balik kelopak matanya.

Rasa benci dan rasa bersalah bertarung hebat di dalam dadanya, menciptakan pergolakan batin yang menyiksa. “Dia adalah pria yang sudah menghancurkan masa depanmu, Andrea ... Dia pantas menerima semua ini,” bisik satu sisi hatinya yang dingin. Namun, bayangan Bara yang berdiri menggigil di bawah hujan, berlutut di depan pintunya sambil menahan demam tinggi, terus membayangi kesadarannya.

Setiap kali janin di dalam rahimnya bergerak gelisah, dada Andrea terasa dihantam oleh beban yang teramat berat. Ia telah berusaha mati-matian untuk mengunci hatinya, berpura-pura tidak peduli, dan meyakinkan dirinya bahwa nasib Bara bukan lagi urusannya.

Namun, keteguhan hati itu runtuh sepenuhnya pada hari berikutnya.

Suara ketukan pintu yang tergesa-gesa memecah kesunyian kontrakan.

Saat Andrea membuka pintu perlahan, tampak berdiri seorang pria berstelan kemeja rapi namun kusut di beberapa bagian. Wajah pria itu terlihat sangat lelah, lingkar hitam menumpuk di bawah matanya. Itu adalah Reno, asisten pribadi Bara yang selama bertahun-tahun selalu berada di samping pria itu.

"Nona Andrea ...." suara Reno bergetar. Pria yang biasanya selalu bersikap formal dan tegap itu kini menatap Andrea dengan pandangan memohon yang teramat sangat.

Andrea menegang. Ia refleks mengusap perutnya yang membuncit untuk meredakan debaran jantungnya. "Darimana kamu tahu tempat ini? Tolong pergi, saya tidak ada hubungannya lagi dengan—"

"Tuan Bara kritis, Nona!" potong Reno cepat. Tanpa mempedulikan harga dirinya, Reno mendadak menurunkan kedua lututnya, berlutut tepat di atas lantai semen teras rumah kontrakan Andrea.

Andrea terperanjat. Ia langsung mundur satu langkah. "Apa yang kamu lakukan?! Bangun!"

"Saya mohon, Nona ... Saya mohon ikut saya ke rumah sakit," tangis Reno akhirnya pecah. Pria dewasa itu menunduk dalam-dalam. "Tuan Bara mengalami pendarahan hebat di kepala dan patah tulang rusuk. Tiga hari dia koma di ruang ICU, dan kondisinya makin memburuk karena masa kritisnya tak kunjung lewat."

Bulu kuduk Andrea meremang. Tenggorokannya mendadak terasa tersumbat. "Lalu kenapa kamu kemari? Di mana Angel? Di mana keluarganya? Mereka yang berhak ada di sana, bukan saya!"

Reno mendongak, menatap Andrea dengan mata yang memerah dan berkaca-kaca.

"Nyonya Angel dan keluarganya sudah membatalkan semua kerja sama dan pergi setelah skandal malam itu, Nona. Tuan Bara tidak punya siapa-siapa lagi di sana ...." Reno menghela napas panjang, suaranya parau dan terbata-bata. "Tapi bukan itu alasan saya datang kemari. Dokter bilang ... semangat hidup Pak Bara sangat rendah, dan sejak semalam, di dalam tidurnya yang menyiksa ... Tuan Bara terus-menerus memanggil nama Nona."

Deg.

Jantung Andrea seolah berhenti berdetak. Kalimat Reno menghantam dadanya bagaikan batu raksasa.

"'Andrea ... Hanya nama itu yang keluar dari bibirnya yang pucat di antara selang pernapasannya, Nona," lanjut Reno sambil terisak pelan. "Saya tahu apa yang sudah dilakukan Pak Bara pada Anda teramat kejam. Saya tahu Anda membencinya. Tapi saya mohon ... sekali ini saja, Nona ... Tolong selamatkan nyawanya. Kalau bukan demi Tuan Bara ... Setidaknya Anda melakukannya demi bayi yang ada di dalam kandungan Anda, agar dia bisa melihat ayahnya."

Andrea membeku. Matanya membelalak menatap Reno.

"Kamu ... tahu tentang kehamilan ini?" bisik Andrea dengan suaranya yang bergetar hebat.

"Tuan Bara menyuruh saya mencari tahu keberadaan Anda beberapa bulan lalu, tapi kemudian beliau membatalkannya karena tidak ingin mengganggu Anda lagi," jawab Reno jujur. "Tapi malam sebelum kecelakaan ... Tuan Bara menelepon saya dengan suara hancur. Beliau bilang, beliau sudah menemukan hartanya yang paling berharga, tapi beliau sudah terlambat karena wanita itu sangat membencinya."

Air mata yang dipaksa berhenti mengalir oleh Andrea selama berhari-hari akhirnya meluncur deras membasahi pipinya yang tirus. Pertahanan mental yang ia bangun dengan dinding ketegaran yang tebal kini luruh berkeping-keping.

Perutnya mendadak bergetar. Janin di dalam sana menendang dengan kuat, seolah merespon tangisan ayahnya yang memanggil nama ibunya di balik ruang steril rumah sakit.

Andrea memejamkan mata rapat-rapat. Ia meremas bajunya di bagian dada yang terasa begitu remuk dan nyeri. Rasa benci, dendam, dan kenyataan bahwa pria itu adalah ayah dari anak yang dikandungnya menyatu menjadi guncangan emosi yang luar biasa dahsyat.

"Nona Andrea ... saya mohon ...." mohon Reno lagi.

Setelah hening yang terasa begitu menyiksa, Andrea perlahan membuka matanya. Dengan jemari gemetar, ia mengusap air matanya, lalu menatap Reno dengan pandangan yang pasrah.

"Ambilkan blazerku di dalam ...." ucap Andrea lirih. suaranya hampir tenggelam dalam isak tangisnya sendiri. "Bawa aku ke tempat Tuanmu berada!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!