NovelToon NovelToon
ANAK RAHASIA SANG SUPERSTAR (REVISI)

ANAK RAHASIA SANG SUPERSTAR (REVISI)

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Anak Genius
Popularitas:12.7k
Nilai: 5
Nama Author: HANA ADACHI

Bertemu kembali dengan Althan Alaric, mantan pacarnya yang sekarang menjadi aktor terkenal, bukanlah kabar baik bagi Vivi. Ia berusaha menjauh, tapi pria itu seolah sengaja mendekatinya untuk membalas dendam.

Vivi bisa memahami alasan Althan bersikap demikian. Namun masalahnya bukan itu. Jika Althan terus berada di dekatnya, Vivi takut pria itu akan mengetahui keberadaan Mikaila, anak yang dirahasiakan Vivi selama ini. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Sanggupkah Vivi terus menyembunyikan anak itu dari sang superstar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA ADACHI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Pertemuan Yang Tak Diinginkan

"Vi, kamu nanti gantikan Maya pergi ke lokasi syuting ya, soalnya hari ini dia harus anterin suaminya ke rumah sakit,"

Ucapan Farida, bos salon tempatnya bekerja, membuat Vivi yang sedang mengaplikasikan foundation ke seorang customer mendongak.

"Hah? Saya, mbak?" tanyanya dengan nada tak percaya.

"Iya, kamu.." jawab Farida enteng. Tangannya sedang sibuk mengeblow rambut customer lain.

"Tapi mbak, aku mana bisa.." ucap Vivi ragu. "Aku kan selama ini belum pernah terjun langsung ke lokasi syuting, apalagi gantiin Mbak Maya yang udah sangat ahli. Aku takut bakal ngecewain mbak,"

Farida menghentikan aktivitasnya dan menatap Vivi. "Yaelah Vi, sampai kapan sih kamu bakalan merendah terus? Aku itu menyuruh kamu ya karena sudah tau kemampuan mu. Nggak mungkin aku menyuruh orang yang nggak bisa. Aku yakin kemampuan make-up kamu itu nggak jauh beda sama si Maya, cuma kalah di pengalaman aja,"

"Tapi mbak-"

"Udah, diterima ajalah Mbak Vivi," sahut customer nya tiba-tiba. "Make-up Mbak Vivi bagus kok. Buktinya, udah dua tahun ini timku langganan terus sama Mbak Vivi kan, dan kami semua suka hasilnya,"

Vivi menoleh ke arah customer nya. Wanita yang sedang ia poles wajahnya itu adalah seorang pemain teater. Memang, biasanya sebelum tampil, tim teater mereka akan menyewa jasa salon tempat Vivi bekerja untuk membantu make up sesuai karakter yang mereka perankan. Dan biasanya, Vivi lah yang mendapat tugas untuk mendandani wajah mereka. Menurut mereka, tangan Vivi begitu terampil, dan mereka sangat puas dengan hasilnya.

"Tuh, dengar kan? percaya diri lah Vi," ujar Farida berusaha meyakinkan.

Vivi menghela napas panjang. "Tapi teater sama film itu kan beda mbak. Film jangkauannya lebih luas. Gimana kalau ternyata hasilnya nggak sesuai ekspetasi mereka?"

"Ya kamu mana tau sih kalau belum mencoba Vi," kata Farida. "Kalaupun nggak cocok, nantikan mereka bisa cari alternatif lain. Yang penting dicoba dulu lah, jangan pesimis dulu. Toh, ini bakalan jadi portofolio yang bagus buat kamu loh,"

Vivi menelan ludah. Ucapan Farida masuk akal. Sebenarnya, jauh di lubuk hatinya, Vivi pernah membayangkan akan mendapatkan pekerjaan ini. Merias artis adalah salah satu impiannya sejak kecil. Tapi itu dulu, sebelum semua kejadian tragis yang menimpanya di masa lalu. Dan ia benar-benar tak ingin mengambil resiko untuk dapat bertemu dengan 'orang itu'.

"Vi? Vivi!"

Vivi terperanjat mendengar suara Farida. "Y-ya mbak?"

"Kok malah bengong sih? Mau ya? nanti jam 5 sore kamu disuruh langsung ke sana,"

"Hah? t-tapi mbak?"

"Alah, nggak usah pake tapi tapi deh. Detail karakternya udah aku kirim ke WA kamu ya. Nanti baca aja sambil jalan,"j

Vivi menghela napas panjang. Farida benar-benar tidak mau mendengarkan alasannya sama sekali. Itu berarti, mau tidak mau Vivi harus menuruti ucapannya.

Maka, setelah ia selesai merias wajah para pemain karakter, Vivi pun dengan segera meraih ponsel dan mulai membaca detail karakter yang dikirimkan Farida. Tak lupa, ia juga terlebih dulu mencari tahu tentang siapa saja aktris, terutama aktor yang akan terlibat. Ia memastikan, bahwa nama 'orang itu' tidak ada di sana.

Film yang akan menjadi projek Vivi untuk pertama kalinya ini bertemakan horor, dan Vivi bertugas untuk merias salah satu hantu figuran.

Baguslah, batin Vivi. Orang yang akan aku rias hari ini pasti bukanlah aktor terkenal. Beda dengan 'orang itu'.

Vivi kemudian mulai menyiapkan segala peralatan yang ia butuhkan, sembari menunggu waktu yang sudah ditentukan.

----------------

Jam lima kurang lima belas menit, Vivi sampai di lokasi syuting. Ia bertemu salah satu staf yang menghubungi salon dan langsung di arahkan ke ruang makeup. Tak membuang waktu, Vivi pun segera membuka isi tasnya dan menata semua peralatan di atas meja.

Saat sedang sibuk menata, Vivi mendengar ada suara berisik dari luar ruangan. Tak berselang lama, pintu pun terbuka dan beberapa orang masuk.

"Ya ampun! makasih banyak ya, aktor besar kaya kamu mau jadi special appearance di film kita!" terdengar suara seorang pria paruh baya sembari tertawa terbahak-bahak.

"Kalau bukan karena dipaksa sama manajer saya, saya juga nggak mau kesini," balas pria lain, kali ini dari suaranya terdengar lebih muda dari pria sebelumnya.

Sebenarnya, percakapan itu terdengar biasa saja bagi orang lain. Tapi, saat Vivi mendengar suara yang terakhir, ia langsung terhenyak. Tangannya yang awalnya sedang menata kuas mematung di udara.

Suara ini, aku seperti mengenalnya...

"Ah, ayolah Althan, jangan begitu. Aku tau kamu sebenarnya sangat menyayangi aku kan, hahahhaha!" suara pria paruh baya itu terdengar lagi, dan kali ini pria lain yang ia ajak bicara hanya terdengar berdecak kesal.

"Ya ampun, gantengnya Althan! Baru kali ini aku liat secara langsung, ternyata jauh lebih ganteng daripada di TV!" Bisikan beberapa staf wanita di sekitar Vivi tidak membuat wanita itu merasa tenang. Malah, sekarang tangannya terasa bergetar hebat.

Mana mungkin, di antara semua kebetulan yang ada di dunia ini, dia akan bertemu orang yang harusnya paling ia hindari? Bukankah ini nggak masuk akal?

"Kamu mau apa, Althan? Makan? minum? atau dipijit? Tenang saja, saya sudah menyiapkan semuanya,"

"Nggak usah," tolak Althan. "Saya langsung di makeup saja,"

Dengan napas memburu, Vivi bisa mendengar langkah kaki pria itu mendekat. Vivi memejamkan mata. Keringat mulai membasahi pelipisnya.

Vivi masih tak bergeming bahkan saat kursi rias yang berada tepat di sampingnya ditarik, lalu terdengar suara orang duduk. Vivi bahkan tak berani menoleh sekalipun.

"Ini beneran aku cuma dapat satu peran, kan? Habis itu udah, kan? Awas aja kalau setelah ini tiba-tiba aku jadi pemeran utama,"

"Astaga, tenang saja Althan, semuanya akan sesuai yang kamu mau. Saya berani bersumpah, kalau kamu benar-benar cuma jadi special cameo saja,"

"Oke deh, kalau gitu," Althan menghempaskan punggungnya ke bantalan kursi. "Yuk, kita mulai aja," katanya kemudian.

Vivi terhenyak. Sampai sekarang, tangannya masih tak berhenti gemetar. Dengan jantung berdebar dan napas memburu, ia buru-buru meraih masker yang ada di tas riasnya, dan memasangnya untuk menutupi wajah, lalu ia pun berbalik.

Kaki Vivi langsung terasa lemas, saat ia melihat kalau pria yang ada di hadapannya saat ini ternyata benar-benar Althan, sang mantan pacar yang telah ia campakkan lima tahun lalu.

Meski perasaannya tak karuan, Vivi tak ingin membuat masalah. Ia akhirnya berusaha menenangkan diri sendiri.

Ayo Vivi, kamu pasti bisa, toh dia juga nggak tau kalau ini kamu... batinnya pada diri sendiri.

Masih dengan tangan gemeteran yang berusaha ia tenangkan, Vivi meraih kuas dan mengarahkan ke arah pria itu.

"Eh, tunggu,"

Vivi terhenyak saat Althan tiba-tiba menahan lengannya. "Kamu..."

Jantung Vivi serasa mau melompat saat itu juga.

1
Shee_👚
makanya jangan emosi mulu
Shee_👚
salah lah, ngapain kamu ngikutin kemauan nenek lampir
Shee_👚
nyeseknya gak ketulungan denger Mikail ngomong gitu😭
irma hidayat
jangan egois vivi, anakmu butuh ayahnya juga cukup jgn dipisahkan
irma hidayat
lanjut up nya thor💪
Muft Smoker
waaaah althan mau ngapain tuuh 🫣🫣🫣🫣🫣🫣 ,,
semoga aj althan atau Roni tau kelakuan Selina ,,
yg sengaja bikin vivi pergi waktu itu ,,
Shee_👚
ngakak PeDe nya gak ketulungan. ampun dah🤣🤣🤣
Shee_👚
kebiasaan cewe suka baperan😏
Shee_👚
cari tau ron, althan sama vivi kan sama² bodoh. percaya gitu aja dengan semua kejadian yang ada
Shee_👚
vivi ni beneran bodoh gak ketulungan ngapain ngomong sama selina althan mau tes DNA.
Vivi² itu selina si ular kadut, dia mengeruk keuntungan banyak dari althan jadi artis. harusnya kamu gak usah mau di ajak ngomong sama selina pergi dan abaikan
Shee_👚
biasa saja itu menurut anda, tapi tidak menurut althan😤😤😤

rasanya pengin aku guyur aja mukanya selina sama air got😤
Shee_👚
Vivi dulu dan sekarang ternyata masih sama bodohnya. harusnya kamu berfikir kenapa selina melakukan itu semua, gk mungkin kalau hanya alasan kamu mengganggu karir althan. bisa jadi si selina suka, atau hanya ingin mengambil keuntungan dari semua pengorbananmu
Shee_👚
harusnya itu kata² buat mu sendiri selina😏
Shee_👚
gak usah takut Vivi, harusnya kamu berfikir kenapa wanita tua bangka itu melakukan itu semua. karena dia takut sama kamu. hajar aja dia kesel aku🤣
Shee_👚
althan dan Vivi korban dari kw keserakahan Selina 😤
Shee_👚
betul, belajar berfikir dewasa dan logis althan.
Shee_👚
kalau Mikaila kak🤭🙏
Shee_👚
aku mendukungmu althan
Shee_👚
setidaknya disini orang tulus sayang althan sebagai adik
Shee_👚
betul, kehancuran karir kamu ketakutan buat ceo serakah itu. jadi hancurkan segalanya althan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!