Bagi Mila, hidup adalah perencanaan. Dan dalam rencana itu, Tyas adalah pilihan yang sempurna. Rasa aman, masa depan jelas, jawaban dari segala doanya.
Namun hidup punya selera humor yang aneh.
Tepat saat ia bersiap melangkah ke arah Tyas, Arya kembali muncul. Mantan kekasihnya itu datang membawa kembali aroma masa lalu yang seharusnya Mila kubur dalam-dalam.
Untuk pecinta second-chance romance dengan drama kantor, chemistry yang explosive, dan heroine yang nggak mau kalah, ini cerita kamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrettyDucki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan
...Camila Hapsari (28 Tahun)...
Kalau ada berita yang sama pahitnya dengan berita kematian, mungkin itu adalah berita bahwa kamu diselingkuhi. Itu yang terjadi pada Mila saat tiba-tiba Nina berbisik di telinganya.
"Pssstt.. Tyas mau kencan buta di Hotel Avenue."
Jantung Mila langsung berdegup kencang. Perlahan ia menoleh ke Nina dengan alis terangkat tinggi. "Serius lo?"
Nina mengangguk, lalu mendekatkan wajahnya lagi. "Jimmy tadi bilang. Mamanya Tyas yang atur. Katanya gara-gara lo nggak mau diajak nikah."
Bisa-bisanya Nina membawa kabar busuk seperti itu di tengah suasana khidmat serah terima jabatan Direktur Utama. Momen yang seharusnya haru bagi Mila karena Pak Rendra (bosnya selama lima tahun terakhir) akhirnya mundur untuk fokus membangun bisnisnya sendiri.
Mila menggigit bibir. Rasa sesak naik ke dada. Bukan karena perpisahan dengan si bos, tapi karena ingat Tante Ira, mamanya Tyas, wanita yang sejak dulu memang tidak terlalu menyukainya. Se-tega itu kah dia sampai harus menjodohkan Tyas dengan perempuan lain?
Otaknya berputar cepat. Acara ini seharusnya selesai pukul 21:00. Sekarang baru pukul 20:15. Masih ada sambutan dari Direktur Utama yang baru, sesi foto, dan jamuan makan.
Tapi bayangan Tyas yang sedang duduk berhadapan dengan wanita lain terus menghantui pikirannya.
Mereka sedang mengobrol, tertawa. Lalu Tyas memandangi wajah wanita itu sambil tersenyum.
No way in hell. Mila tidak akan diam saja.
"Gue harus ke sana," bisiknya pada Nina.
"Sekarang? Pak Rendra gimana?"
Mila melirik jam tangannya.
Kalau ia pergi sekarang, ia masih bisa kembali untuk pamit pada Pak Rendra secara pribadi nanti. Lagipula, acaranya sudah hampir selesai. Tinggal jamuan makan yang sifatnya lebih santai.
"Lo bilangin ke Pak Rendra kalau gue ada urusan mendadak. Gue harus cepet-cepet pulang."
Nina menghela napas. "Ya udah, hati-hati."
Mila mengambil clutch-nya dan menyelinap keluar dari ballroom. Langkahnya cepat menuju lobi, jemarinya sudah membuka aplikasi ojek online.
Sepanjang perjalanan, Mila tidak bisa berhenti memikirkan skenario terburuk. That's just how her brain worked, selalu lari ke kemungkinan paling gelap dari segala situasi.
Bagaimana kalau Tyas tertarik pada wanita itu? Bagaimana kalau wanita itu jauh lebih baik darinya? Lebih cantik, lebih mapan, dan.... lebih siap untuk menikah?
.
.
...Aryasthana Pradipta (30 Tahun)...
Mila langsung melompat turun dari motor segera setelah membuka helm. Dengan langkah lebar ia masuk ke lobi hotel dan mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.
Kalau mereka sedang makan malam, maka seharusnya ia mencari di restoran hotel. Tapi instingnya berkata lain. Tyas orangnya sopan dan kaku kalau urusan begini. Dia pasti lebih memilih tempat yang lebih privat untuk pertemuan semacam ini. Mungkin salah satu lounge atau--
Oh. There he is.
Sosok tinggi berkulit putih dengan kemeja hijau army yang familiar muncul di dekat area lounge. Tyas berdiri agak canggung, tangannya dimasukkan ke saku celana. Di sampingnya ada seorang wanita berambut panjang bergelombang dengan dress merah muda yang terlihat elegan.
Ketegangan merambat di sekujur tubuh Mila. Ia melangkah cepat, matanya terkunci pada Tyas sementara kemarahannya memuncak. Ia bahkan tidak peduli lagi dengan orang-orang di sekitarnya yang mulai melirik ke arahnya. Seorang perempuan dengan dress hitam satin yang berjalan terburu-buru dengan wajah penuh emosi.
Semakin dekat.
Lima meter lagi.
Sampai tiba-tiba...
BRAKKK!!
Tubuhnya menghantam keras tubuh seorang pria jangkung yang sedang membawa kopi panas di depan dada.
"Shit!" umpat pria itu.
Mila terhuyung ke belakang, nyaris kehilangan keseimbangan. Saat ia mendongak, matanya bertemu dengan sepasang mata hitam yang menatapnya dengan campuran rasa terkejut dan waspada.
"Maaf... saya nggak lihat," ucap Mila refleks, napasnya masih tersengal.
Mila terpaku.
Wajah orang ini sangat familiar.
Jantung Mila berhenti sesaat.
Tidak mungkin.
"Masih sama aja…" gumam si pria sambil mengusap noda di kemejanya. Suaranya rendah, tapi terselip nada gurau saat ia bicara. "Sebelas tahun nggak ketemu, kamu masih suka nabrak-nabrak ya kalau jalan?"
Arya.
Mantan pacarnya. Orang yang menghilang tanpa jejak sebelas tahun lalu. Orang yang tidak pernah ia pikir akan bertemu lagi, tapi sekarang malah berdiri di hadapannya, dengan noda kopi di kemeja mahalnya dan senyum culas di wajah menyebalkannya.
"Arya..." suaranya serak.
"Hai, Mila." Pria itu tersenyum, kepalanya miring ke satu sisi. "Long time no see."
Otak Mila blank total. Dari sekian banyak kemungkinan yang ia bayangkan malam ini, bertemu Arya bukan salah satunya.
"Ngapain kamu di hotel sendirian jam segini?" Arya menaikkan sebelah alisnya, matanya menyipit seolah sedang menilai.
Voila. Pertanyaan itu justru membuyarkan keterkejutan Mila. Ia langsung teringat tujuan awalnya. Tyas dan wanita itu.
"Bukan urusan kamu! Aku lagi buru-buru!" sahut Mila, suaranya masih tinggi karena adrenalin yang belum reda.
Mila sudah hendak melangkah pergi, namun Arya menarik lengannya. "Mau ke mana? Kamu nggak berniat tanggung jawab sama apa yang kamu lakuin ke baju aku? Ini kemeja Brioni."
Mila berdecak kesal. "Nanti aku ganti uang laundry-nya, tapi sekarang aku ada urusan!"
"Selalu gitu dari dulu." Arya menaikkan volume suaranya. "Urusan sama aku nggak pernah penting untuk kamu." Pria itu menyilangkan tangan di depan dada.
Mila melirik tajam. "Kamu lagi ngomong apa sih? Bukannya kamu yang tiba-tiba hilang dan bersikap seolah-olah aku nggak pernah ada?"
Mata mereka saling menatap. Mila bisa merasakan ketegangan di antara mereka, seperti ada cerita lama yang terbuka kembali.
"Sayang kamu ngapain di sini?" Tyas muncul dengan wajah bingung, lalu menaruh tangan di bahunya.
Mila langsung menepisnya kasar. "Kamu bilang mau ketemu Mama? Kenapa malah ke hotel sama perempuan?!"
Tyas tersentak, wajahnya langsung pucat. "Kami cuma mau dinner. Dipaksa blind date sama ibu kami. Aku bisa kenalin dia ke kamu kalau nggak percaya." Tyas menunjuk ke arah lounge, di mana wanita berambut panjang tadi sedang melambai canggung.
"Tapi kamu bohong, Yas!"
"Aku cuma nggak mau kamu mikir yang enggak-enggak."
Mila menghentakkan kakinya dan pergi meninggalkan Tyas yang langsung mengejarnya.
Sedangkan Arya... pria itu masih berdiri diam di tempatnya. Satu tangannya menggantung di sisi tubuhnya, yang lain masih kaku memegang gelas kopi yang sudah kosong. Matanya mengikuti kepergian Mila hingga menghilang di pintu lobi.
Ia mendengus pelan, lalu bibirnya membentuk senyum samar.
.
.
...Tyas Mahardika Bachtiar (29 Tahun)...
Pintu mobil dibanting keras. Mila melempar tasnya ke dashboard dengan wajah memerah menahan marah. Tyas yang duduk di kursi pengemudi hanya bisa menghela napas panjang, tangannya masih mencengkeram setir meski mesin belum dinyalakan.
"Sayang, dengerin aku dulu--"
"Dengerin apa lagi, Yas?!" Mila memotong tajam. "Kamu bohong! Bilangnya mau ketemu Mama, ternyata kencan sama perempuan!"
"Mila, aku nggak kencan. Itu mama yang atur. Mama ulang tahun dan minta aku ketemu Nisya sebagai kadonya." Tyas mencoba meraih tangan Mila, tapi ditepis kasar.
"Nggak ada yang tanya namanya!" Mila menyalak kesal. Lagipula untuk apa Tyas melafalkan nama perempuan lain di tengah pertengkaran mereka?
Tyas hanya diam sambil susah payah menelan liurnya seolah sedang menelan kerikil.
"Dan kamu nurut aja sama permintaan ngaco kayak gitu?!"
"Sayang--"
"Mama kamu segitu nggak sukanya ya sama aku sampe jodohin kamu sama orang lain? Selama ini aku berusaha loh, Yas! Kamu kan tau aku bukan tipe yang bisa cari muka sama orang, tapi aku selalu sempetin dateng ke rumah kamu setiap weekend, bahkan waktu kamu nggak ada. Aku juga berusaha tampil jadi perempuan lembut dan penurut kayak yang mama kamu suka! Kenapa itu semua nggak cukup?!" Mila berusaha sekuat tenaga menahan air matanya. Menahan rasa frustrasi yang selama ini ia pendam.
"Sayang... Kamu tau apa yang Mama harapin dari kita," nada suara Tyas lembut, tapi matanya tajam menatap Mila. "Mama mau kita nikah."
Oh sial! Masalah ini lagi.
"Aku belum bisa Yas..." desis Mila, napasnya tertahan.
"Iya aku tau. Tapi itu penjelasan kenapa Mama mau jodohin aku sama orang lain. Aku sama sekali nggak tertarik sama siapapun pilihan Mama. Aku cuma mau kamu. Tapi sampai kapan hubungan kita stuck kayak gini? Kalau emang ada hal yang kamu nggak suka dari aku, kita bisa bicarain. Kalau ada masalah yang ganggu kamu, kita bisa diskusiin. Kita saling sayang kan? Kenapa kita nggak nikah aja?"
Mila menggigit bibirnya. Tentu saja dia ingin menikah. Apalagi dengan Tyas. Siapa yang tidak mau?
Dia tampan, mapan, calon dokter spesialis, lembut, perhatian. Dia punya semua bendera hijau. Tapi masalahnya... Mila tidak punya cukup uang. Biaya gedung, make up, pakaian, seserahan, itu semua butuh uang.
Uang memang bukan masalah bagi keluarga mapan Tyas, tapi Mila tidak mungkin tidak berkontribusi apapun.
She doesn't want to come to his family bringing nothing but her vagina.
Harga dirinya sangat tinggi untuk bilang bahwa dia terlalu miskin untuk bisa menikah.
"Atau kamu nggak semau itu sama aku?"
Bibir Mila langsung bergetar. "Yas, kamu ngomong apa sih?" Rengeknya. "Aku sayang banget sama kamu, tapi aku perlu waktu. Kamu kan tau adikku belum selesai kuliah. Seenggaknya kasih aku waktu untuk bisa temenin dia sampai wisuda. Kalau aku nikah, tanggung jawabku pasti terpecah."
Tyas menghembuskan napasnya berat. "Oke. Aku ngerti. Aku nggak akan paksa kamu. Aku akan tunggu sampai kamu ngerasa siap."
"Makasih." Mila tertunduk.
"Sini..." Tyas membentangkan lengan lebar-lebar, mengundang Mila ke dalam pelukannya.
Sebagai jawaban, Mila menyambut dengan pelukan erat.
Mila tau ia beruntung punya Tyas. Tapi sampai kapan pria ini bisa menunggunya? Ia hanya berharap Bimo bisa lulus kuliah cepat dan bisa mandiri. Syukur-syukur bisa membantunya menanggung keperluan rumah ibu mereka.
...***...
Disclaimer : Di cerita ini ada banyak banget karakter yang bikin keputusan nyebelin, egois, bahkan gak bertanggung jawab. Itu bukan berarti aku menganggap perilaku mereka benar atau mau menormalisasinya ya guys. Mereka cuma manusia dengan segala baik-buruknya, dan itu yang ingin aku ceritakan. Jadi kalau ada tokoh yang ngeselin, silakan kesel dan jangan ditiru yaaa 😂🙏
aahhh... bapak Arya ini emng suami idaman 😆