NovelToon NovelToon
Tunggu Aku

Tunggu Aku

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ruang Berpikir

Perempuan adalah permata hati dan berlian yang sungguh sangat indah, menawan. Aku adalah laki-laki sederhana yang tidak memiliki paras sempurna atau harta melimpah, yang kupunya hanya segenggam hati yang terpatri dan hanya tertulis satu nama Risna Anzalea Farizal, berlatar keluarga sempurna kalangan aparat. Apalah dayaku yang bukan siapa-siapa dengan perbandingan jauh dibawahnya, kekasih hatiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang Berpikir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TA1_Kenapa ayah pergi secepat ini?

Kerumunan orang-orang berlalulalang, sebagiannya duduk sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Tidak ada senyum, tidak ada tatapan mata teduh dari mereka yang terpancar. Fokus mereka hanya pada tubuh kaku yang terbaring tidak berdaya tanpa nyawa.

"Sudah ya nak. Jangan nangis lagi. Kasian ayah!" Ucap salah satu orangtua desa yang sibuk melumuri serbuk kuning pada kapas putih yang beroma khas, di atas talam.

Ruangan yang tidak seberapa luas, bernuansa putih dan berdinding triplek itu tergantung sebingkai foto keluarga berukuran dua puluh inch, beranggotakan sepasang suami istri, dua anak perempuan dan satu anak laki-laki.

Kini anak laki-laki itu berusia dua puluh satu tahun, berdiri diambang pintu, memegang satu piala besar. Mulutnya tertutup rapat, tubuhnya terasa kaku dan matanya menatap kosong ke depan. Serangkaian manusia menatap dengan pandangan yang bagai menyatu kepadanya.

"Kemari nak! Minta maaf dan lihat ayah untuk terakhir kalinya!" Merentangkan salah satu tangannya sambil jari jemarinya tangannya bergerak memanggil putra sulungnya, putra satu-satunya yang berdiri mematung tanpa ada pergerakan sama sekali walau hanya satu kedipan mata.

"Ma!" Lirih panggil Fariz. Untuk beberapa saat, mulut Fariz terbuka namun beberapa kata yang ingin terucap malah tertahan di tenggorokan. "Apa yang terjadi? Kenapa seperti ini ma? Tadi pagi sewaktu abang pergi ke sekolah, ayah masih baik-baik saja!" Lepas suara Fariz yang akhirnya keluar dalam satu tarikan napas.

Tepukan hangat laki-laki bertubuh berisi, memiliki jenggot sepanjang sekepal tangan yang berwarna putih itu lakukan. Laki-laki tua ini berusia hampir delapan puluh tahunan "jangan nangis ya nak, sayang ayahkan?" Tanya dan peringat Ibrahim.

"Sayang kek!" Jawabnya lemah dan lirih disertai anggukan kepala pelan.

Salah satu dari mereka dalam kerumunan itu, dalam rumah yang telah menyelesaikan tugasnya, menyusun kain putih sebanyak tiga lapis disertai tali enam ikat. "Ikuti kakek ya nak, bantu pangku ayah untuk dimandikan sekarang!" Mengambil alih piala besar yang berada di tangan Hafiz dan menyimpannya di dalam kamarnya.

"Kek, kenapa ayah pergi secepat ini? Apa ayah tidak sayang lagi sama kita?" Menatap sang kakek dan beberapa laki-laki yang sibuk menyiram tubuh tanpa nyawa itu. Wajah Fariz menunduk, matanya menatap sendu wajah sang ayah yang tersenyum, memejamkan mata.

Sang kakek tidak langsung menjawab, ia melirik sang cucu sekilas dengan memberikan senyuman hangat seperti biasanya ia berikan dan setelahnya ia melanjutkan kegiatannya, menyiram tubuh mayat, sambil lirihan kata berbahasa arab terlafadzkan dari mulutnya.

"Fariz, tenang ya nak. Bukan ayah tidak sayang kalian melainkan Allah lebih menyayangi ayah kalian. Tolong ya nak, iklaskan ayah, biarkan ayah pulang dengan tenang ya!" Timpal salah satu laki-laki yang memandikan mayat yang merupakan salah satu kerabat Fariz dan sekaligus tetangganya.

"Kamu laki-laki. Jangan lemah, tugasmu bukan hanya meratapi nasib, mengeluh doang. Tanggungjawabmu bukan hanya untuk dirimu sendiri, ada tiga perempuan yang butuh perlindunganmu. Mama dan adek-adek butuh kamu Fariz, biarkan mereka menjadikan kamu sebagai tumpuan hidup mereka!"

"Dengar itu Fariz, saring di otakmu lalu simpan di hati!" Suara ngebas sang kakek yang tiba-tiba bersuara dalam senyapnya.

Fariz yang larut dalam kesedihan, jiwanya jadi terhenyak, sesuatu dalam dadanya bergejolak seakan ingin meledak. Matanya memerah, menatap sendu sang kakek "maaf kek!" Lirihnya.

"Tolong jangan siksa menantu kesayanganku dengan kesedihanmu, Fariz Al Hafiz bin Muhammad Irsyad Rauf!" Menatap nyalang cucu laki-laki satu satunya itu namun dibalik ketegasan yang ia pancarkan juga terdapat rasa kesedihan dan kehilangan mendalam yang tidak dapat ia jabarkan. Apalagi beberapa bulan lalu ia juga baru saja ditinggalkan oleh wanita tercintanya, selamanya.

...###...

Rumah setengah permanen, berdinding beton ke bawah dan berdinding kayu triplek bagian atasnya, bercat putih cerah bagian dalam dan luarnya.

Bagian dalam rumah masihlah banyak orang berlalulalang, keluar masuk rumah, melayat pada almarhum yang sekarang sedang proses mengkafani.

Rumah ini tidaklah besar, bahkan untuk ukuran lima orang penghuni di dalamnya, hanya tersedia dua kamar tidur, satu ruang kamar mandi, dapur dan ruang keluarga yang kadang-kadang beralih fungsi jadi ruang tamu. Salah satu kamar di dalamnya sudah dikosongkan terlebih dahulu untuk kenyamanan bersama mereka dalam proses mengkafaninya dan kini yang terbuka bagian muka yang belum terkafani.

Istri dan dua anak perempuannya dipersilahkan masuk, duduk diatas kaki mereka sendiri, berdekatan dengan mayat. Sang istri tersenyum, menatap suaminya "abang, sayang, suamiku tercinta, yang tenang ya di sana. Tunggu aku ya, sayang. Persoalan anak-anak abang jangan khawatir ya, InsyaAllah aku mampu mengurusnya dan lagi masih ada ayah di sini yang akan membantuku mengawasi mereka, anak-anak kita!" Menciumi jenazah suaminya.

Cuplikan bab selanjutnya -->

membisikkan kata tepat di daun telinga sang ayah "ayah, kakak tidak manangis. Kakak kuat seperti yang ayah bilang dulu, walaupun aku ini perempuan tapi aku kuat, aku tangguh ayah!" Mengusap pelan sudut matanya yang mengeluarkan setetes air namun di bibir tetap ada senyum yang terpancar tulus.

1
ABANG D, MACCO
alurnya susah di tebak thoor,menarik banget jalan ceritanyaa,novel terbaik...
sehat selalu untuk kakak thor yaang cantik and maniss😘😘😘🤗🤗🤗
ABANG D, MACCO
memang bener bener novel terbaik...
masuk banget sama realnyaa
terbaik thor....semangat teruss🥰🥰🥰😘😘😘
ABANG D, MACCO
akhirnya,novel idamanku..
update lagi...
thanks thoor🥳🥳🥳🥳🥰🥰🥰
ABANG D, MACCO
tidak sabar menunggu lanjutannnyaa thorr...terbaok🤗🤗😍😍😍
Ruang Berpikir
Terima kasih sayang😍
ABANG D, MACCO
semangat thor💪
ABANG D, MACCO
semangaat thor💪💪
ABANG D, MACCO: sama sama thor🤗
total 3 replies
RisnaAnzela
Thorr..... Lanjuttt
Penasaran nih, kelanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!