NovelToon NovelToon
Monster In Me

Monster In Me

Status: tamat
Genre:Zombie / Teen School/College / Persahabatan / Horor / Tamat
Popularitas:16.6k
Nilai: 5
Nama Author: Elmira Rahma

FB author: Edelmira (Elmira Rahma) ♥

Kekacauan terjadi saat Adira dan teman-temannya sedang merayakan kenaikan kelas di suatu taman bermain yang baru beroperasi. Banyak orang berlarian dengan panik, sebagian besar di antaranya tampak saling menyerang. Anak-anak menangis, mencari orang tua mereka yang sibuk menggigit dan meraung kencang. Sementara petugas keamanan yang kalah jumlah tidak mampu berkutik dan berakhir terkapar.

"Zombie! Ini pasti serangan zombie!"

"Zombie itu tidak nyata!"

"Maka bagaimana kamu akan menjelaskan semua ini?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elmira Rahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kekacauan di Taman Bermain

Suara derap langkah menggema bersama jeritan yang terdengar semakin nyaring. Para pengunjung melebarkan mata, tidak mampu memercayai apa yang terjadi di hadapan mereka. Sekumpulan manusia berteriak penuh kegilaan dan menerjang satu sama lain. Membuat siapa pun yang melihat terdiam oleh keterkejutan. Hanya insting yang membawa setiap kaki untuk melangkah sejauh mungkin dari sana.

Kepanikan menular dengan cepat hingga jumlah orang yang berlarian tidak tentu arah semakin bertambah hanya dalam beberapa detik. Beberapa orang tampak saling menyerang dan berakhir terluka serta merusak berbagai patung maskot hingga wahana terdekat.

“Cepat! Tahan dan tangkap mereka semua!”

Petugas keamanan berompi kuning terang yang berjumlah tidak seberapa berusaha keras menghentikan kekacauan. Namun, mereka pun tidak luput dari amukan para manusia yang tidak lagi tampak rapi dan layak. Anak-anak menangis mencari orangtua mereka di tengah orang-orang yang sibuk menggigit dan meraung.

Dalam sekejap bau amis menyapa indera penciuman mereka yang masih berdiri di tempat. Berusaha memahami peristiwa yang terjadi di depan mata.

Termasuk seorang gadis yang hanya terus terdiam sambil mengerutkan kening.

“Dir, Dira! Ayo, cepat lari!” Dengan panik Firda terus menarik lengan Adira. Mencoba menyadarkan temannya itu untuk tidak lagi terpaku di tempat.

Sadar dari lamunan, Adira menggenggam tangan sahabatnya dan ikut berlari menyusul rombongan mereka yang telah pergi lebih dulu.

“Apa yang terjadi?! Apa mereka ketakutan oleh kebakaran tadi?” tanya Adira sambil berteriak. Padahal ia sudah meninggikan suaranya sekuat tenaga, tetapi ucapannya hampir tidak terdengar di tengah semua kebisingan yang terjadi.

Sekilas gadis itu menolehkan kepalanya ke samping. Jumlah orang-orang yang berteriak sambil berjalan dengan gerakan kaku tetapi cepat semakin bertambah. Gadis itu meringis saat melihat seorang pemuda tiba-tiba membenturkan kepalanya sendiri pada tiang besar bianglala. Sementara beberapa orang lainnya berguling dan menggeliat di atas tanah.

“Aku juga sama tidak tahunya dengamu! Kebakaran yang tadi terjadi hanya kebakaran kecil dan sudah diatasi dengan baik oleh petugas! Entah apa lagi yang membuat orang-orang itu menggila!” jawab Firda dengan napas terengah-engah. “Tapi yang pasti kita harus segera mencari tempat sembunyi! Bu Danita ada di depan dan akan menunjukkan jalan!”

Kedua gadis itu terus berlari hingga kini mereka berada dekat dengan teman-teman mereka. Sesekali rombongan berseragam itu terpencar oleh seseorang yang tiba-tiba menerjang mereka dengan histeris. Namun, sebisa mungkin Adira dan teman-temannya mencoba untuk tidak terpisah.

Di tengah pelariannya, Adira melihat tali sepatunya tidak terikat dengan benar. Meskipun begitu, ia tidak cukup berani untuk berhenti dan membetulkannya. Gadis itu hanya sesekali melihat ke bawah, memastikan ia tidak akan berakhir terjatuh hanya karena menginjak tali sepatunya sendiri. Namun, saat ia kembali melihat ke depan, seorang pria tua dengan luka menganga di kepala menerjangnya dengan kekuatan penuh hingga ia terjatuh.

Beban berat yang tiba-tiba menimpa tubuhnya membuat Adira mengerang. Punggungnya yang terbanting keras ke atas tanah beraspal terasa ngilu dan perih. Adira memejamkan matanya erat, sementara tangannya dengan putus asa menahan pria yang berada di atasnya untuk tidak menghimpitnya lebih jauh.

“Adira!” Firda berteriak dan mendorong kuat pria yang menyerang temannya. Kedua tangannya yang bergetar ia paksa mengerahkan tenaga yang besar, hingga akhirnya pria itu terjatuh sambil menggeram hebat.

Seakan tidak merasakan rasa sakit apa pun, pria mengerikan itu kembali berdiri.

Gerakannya yang tidak biasa membuat Adira dan Firda yang tengah bersiap kabur terpaku di tempat. Mata kedua gadis itu melebar saat menyaksikan pria itu menekuk setiap sendi tubuhnya ke arah yang tidak seharusnya.

“Pak … Pak, ada apa denganmu?” tanya Adira, berusaha berkomunikasi dengan sang penyerang. Ia melangkah mendekat tetapi ditahan oleh Firda.

Tanpa menjawab, pria itu bangkit dengan tubuh yang condong ke depan. Lengannya melipat jauh ke belakang bersama kepalanya hingga terdengar suara retakan tulang yang mengerikan. Sekilas, Adira melihat bola mata sang pria berlumuran darah itu terputar penuh hingga hanya menyisakan warna putih kemerahan. Dalam hitungan detik, pria itu kembali berlari ke arah Adira dan Firda, dan berakhir terjatuh sendiri sebelum mencapai kedua gadis itu.

Mulut Adira masih menganga saat ia merasakan tangannya ditarik dengan kencang.

“Kalian kenapa? Ayo, cepat!” Abian, teman sekelas mereka datang dan segera menyeret paksa kedua gadis itu untuk kembali berlari. Disusul oleh beberapa pemuda lainnya yang juga mengenakan seragam putih abu-abu.

“Zombie, mereka semua pasti sudah berubah menjadi zombie!” Teriak Abian kemudian. “Akal mereka sudah hilang, percuma kita mencoba berkomunikasi dengan mereka!”

Mendengar itu membuat kedua lutut Adira terasa lemas. Gadis itu hampir saja jatuh terduduk jika Firda tidak dengan sigap menggenggam erat tangannya untuk menguatkannya. Sekuat tenaga mereka mempercepat lari mereka sambil tetap waspada, menghindari benda-benda yang berjatuhan.

Rombongan manusia yang tidak lagi bersikap layaknya manusia berada jauh di belakang mereka. Namun, dampak dari perilaku para makhluk yang terus merusak berbagai wahana di sekitar masih mencapai tempat mereka.

Adira dan kawan-kawan harus selalu waspada. Lengah sedikit saja, bisa-bisa mereka mati tertimpa benda-benda berat yang beterbangan akibat ledakan yang terus menerus terjadi. Tatapan nanar Adira menyapu sekitar. Masih banyak manusia normal yang berlari bersama mereka. Namun, ia ragu akan sampai kapan mereka akan bertahan.

Keadaan memaksa para manusia yang berhasil kabur untuk terus berlari menjauhi bianglala. Adira dapat melihat wahana Roller Coaster berdiri jauh di depannya. Gadis itu merasakan sakit di hatinya saat kedua matanya menatap kereta cepat itu teronggok di atas rel, tanpa satu pun penumpang. Padahal beberapa waktu lalu Adira masih melihat wahana itu beroperasi mengantar penumpang yang menjerit oleh seramnya jalur yang tersedia. Tanpa menyadari kengerian berkali lipat yang ternyata sedang menunggu mereka.

Sejauh yang Adira tahu, posisi Roller Coaster berada di wilayah terdalam Taman Bermain Cakrabuana. Meski tidak memperhatikan denah tempat ini dengan jelas, Adira yakin bahwa pada situasi normal saja butuh waktu untuk mencapai gerbang luar. Apalagi dengan situasi saat ini?

Sebenarnya, kenapa wisata perayaan kenaikan kelas mereka bisa berakhir seperti ini?

Brak!

Adira mengerem laju kedua kakinya mendadak. Tubuhnya terjatuh ke belakang, menyisakan sedikit jarak dengan sekumpulan orang yang memadati gerbang berbelok wahana yang memacu adrenalin itu.

Beberapa orang saling berdesakan memasuki ruang kecil yang biasanya disediakan untuk penjaga wahana. Memanjat dan merusak pagar hingga saling sikut serta berteriak tentang siapa yang paling pantas bersembunyi di sana. Sementara yang lainnya berpencar mencari tempat berlindung lain. Para wanita dan anak-anak yang putus asa terduduk di atas tanah sambil menangis dan berdoa. Beberapa memegang ponsel, berusaha menghubungi siapa pun yang mereka kenal. Meminta bantuan dengan tangan bergetar.

Adira termenung beberapa saat sebelum refleks merogoh saku roknya sendiri.

Gawat. Ponselnya tidak ada.

Tiba-tiba Firda menepuk pundaknya pelan. “Ssstt, Bu Danita menemukan tempat untuk kita. Jangan berisik dan cepat ikuti aku.”

***

1
Nini 🐻
aku mampir kak, mampir juga ya ke novelku ☺️
Maveera
huwaaaa gak terduga banget endingnya parah bagus bgt
Henrietta
Mampir
Edelmira: makasih banyak kak ♥ 😆
total 1 replies
AdindaRa
Hai kak

Like, subscribe, rate 5 dan secangkir kopi mendarat buat Kakak. Semangat berkarya kakak
Edelmira: terima kasih banyak kaak. 😭💕💕
total 1 replies
AdindaRa
Hai kak. Karyamu keren banget 😍😍😍
Edelmira: makasih banyak kak 😘💕
total 1 replies
Yuresia Ca
seru banget thor ... suka banget
Edelmira: waaah makasih banyak kak. ikutin terus ceritanya kak 😆💕
total 1 replies
Chacha shyla
karyamu keren luar biasa
Edelmira: terima kasih banyak kak 😭💕
total 1 replies
Emak_Gemoy 🍉
bagus
Edelmira: aaah makasih banyak kakk ^^
total 1 replies
Pucukbiru
elmiraaaa aku mampir yaaaa 😍
Edelmira: waaah senangnyaaa ♥
total 1 replies
ʀɦʊ¢ɦǟռ
ku hadir kak 🖐️ semangat yuk kak 🤗
Edelmira: aaah makasih banyak kak 💕 semangat jugaaa ♥
total 1 replies
Salmahaneev
Berisik ye si Adira
Edelmira: wkwkwk 😂
total 1 replies
Salmahaneev
Kasian Abian. Pasti gereget banget sama temen²nya yg ga percaya 🤧
Edelmira: bener juga 🤧
total 1 replies
Salmahaneev
Mantap Thor. Tegangnya berasa 🥲🙏🏻
Salmahaneev
Jangaaan
Edelmira: jangan apa kak? 😂
total 1 replies
Salmahaneev
Kirain Adiranya bakal ditinggal 🥲
Edelmira: hehe enggak kak kasian 🤭
total 1 replies
Salmahaneev
Baru baris pertama aja udah deg-degan 😱
Edelmira: hehe semoga suka ya kaak
total 1 replies
lencan
hai Thor🤗
Edelmira: hiiii ♥
total 1 replies
lencan
Semangat ya Thor 🥰🤗
Edelmira: siap terima kasih kaak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!