NovelToon NovelToon
Dua Hati,Satu Pilihan

Dua Hati,Satu Pilihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:168
Nilai: 5
Nama Author: Azqia putri

Amira tiba-tiba diperhatikan Dimas — cowok paling populer di sekolah. Tapi di sisi lain, ada Farhan, sahabat sejak kecil yang diam-diam udah lama menyayanginya.

Dua hati sama tulus, dua cara beda sayang. Dan Amira harus memilih — tanpa menyakiti salah satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azqia putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Hal Kecil yang Dihafal

"Mir? Ada apa?" Farhan ikut berhenti, natap ke arah yang sama.

Gue kedip-kedip pelan, takut emang salah lihat. "Tadi... di balik pohon besar itu. Ada perempuan berdiri. Natap ke sini."

Farhan mengerutkan kening, memandang sekeliling. "Di mana? Gak ada siapa-siapa, Mir."

Dia bener. Jalanan di depan udah sepi. Cuma daun-daun yang bergoyang kena angin.

"Mungkin lewat aja kali ya?" Gue coba yakinin diri sendiri, walau hati masih berdebar aneh. "Atau gue kurang tidur."

Farhan senyum pelan, jari telunjuknya lembut sentuh ujung alis gue. "Bisa jadi. Lo udah jalan jauh banget minggu ini. Pasti mata lo lagi main-main."

"Mungkin..." Gue senyum balik, tapi di kepala masih nempel — wajah perempuan itu gak asing. Kayak pernah gue lihat di foto lama, atau di cerita orang.

Dia pelan-pelan genggam tangan gue lagi. "Yuk jalan? Matahari udah makin tinggi. Nanti lo lelah lagi."

Kita jalan pelan beriringan, tangan masih saling pegang. Rasanya aneh tapi indah — kayak dulu kita sering jalan bareng, tapi sekarang beda. Sekarang gak ada yang disembunyikan. Sekarang gak ada yang ditahan.

"Lo tau gak," buka Farhan pelan, matanya ke depan tapi suaranya lembut banget, "selama ini gue hafal hal-hal kecil soal lo."

"Hal kayak apa?" Gue natap dia penasaran.

"Lo selalu buka buku di halaman sama dulu sebelum mulai baca. Lo suka mainin ujung rambut kalau lagi mikir berat. Kalau senang, lo senyumnya di sebelah kanan dulu." Dia berhenti sebentar, senyum sendiri. "Dan kalau gue jauh, lo sering natap punggung gue tanpa sadar."

Gue kaget, pipi rasanya hangat. "Lo perhatiin dari kapan?"

"Dari kelas sepuluh. Pertama kali gue sadar... gue gak bisa lagi natap lo cuma sebagai temen." Dia natap sekilas ke gue, malu dikit tapi gak berhenti. "Gue kira kalau gue diem, perasaan ini bakal hilang. Ternyata makin dalam."

"Gue juga punya hal yang gue hafal dari lo," jawab gue pelan. "Lo selalu tarik napas lewat hidung kalau lagi gugup. Kalau senang banget, lo diam aja sambil senyum — gak bisa ngomong. Dan lo selalu jalan di sebelah kiri gue, biar lo yang di pinggir jalan."

Dia kaget, lalu senyum lebar banget. "Lo perhatiin juga ya?"

"Selalu." Gue genggam tangannya lebih erat. "Cuma gue kira itu biasa. Ternyata... lo emang jaga gue dari awal."

Sampai di taman kecil yang biasa kita lewati, kita duduk di bangku kayu di bawah pohon rindang. Angin berhembus pelan, bawa bau rumput basah dan bunga kamboja. Sepi, tenang, kayak dunia sengaja kasih kita waktu buat napas.

"Besok ke sekolah gimana?" tanya gue tiba-tiba. "Semua orang udah tau kan?"

Farhan mengangguk pelan. "Mungkin. Gue gak peduli siapa yang bakal ngomong apa. Yang penting gue udah bersih di hati lo."

"Dan di hati Dimas juga," tambah gue.

"Iya. Dimas..." Dia menghela napas pelan. "Gue harap dia baik-baik. Dia orang baik, Mir. Cuma jalannya aja yang salah."

"Dan lo orang baik juga. Cuma caranya aja yang salah." Gue senyum tipis. "Kita semua sama — belajar dari salah."

Farhan menoleh ke gue, tatapannya lembut dan dalam. "Boleh gue tanya sesuatu?"

"Boleh. Apa aja."

"Kalau kemarin... kalau semuanya gak terbongkar. Kalau gue tetap diem. Lo bakal tetap nunggu?"

Gue mikir sebentar, terus jujur. "Gue gak tau. Mungkin gue bakal bingung terus. Mungkin gue bakal capek. Tapi di dalam hati... gue rasa gue gak bisa pergi jauh dari lo."

Dia diam sebentar, lalu jari-jarinya pelan menyentuh punggung tangan gue. "Makasih ya. Udah gak nyerah sama gue."

"Gue gak nyerah karena gue tau... di balik semua rahasia itu, ada lo yang gue kenal. Yang baik, yang tulus." Gue berhenti, lalu tambah pelan. "Dan gue sayang."

Wajahnya merah dikit, senyumnya malu-malu tapi bahagia. "Gue juga sayang banget, Mir. Lebih dari yang gue bisa bilang."

Jam di menara gereja jauh bunyi. Siang udah dekat.

"Lo mau pulang sekarang?" tanyanya pelan.

"Mau sebentar lagi. Di sini enak banget." Gue sandarkan punggung ke bangku, natap langit. "Dimana Rina ya? Gue harap dia juga ketemu jalannya."

"Gue denger dari Dimas tadi... orang tuanya Rina udah tau. Mereka mau jemput dan bawa pulang ke kampung halaman. Dia minta maaf ke semua orang lewat pesan. Termasuk ke gue." Farhan menghela napas pelan. "Dia cuma takut dan kesepian. Kayak kita semua."

"Semoga dia bahagia ya. Dimanapun dia."

"Iya."

Kita diem lagi, nikmatin hening yang damai. Gak perlu banyak kata buat saling ngerti sekarang.

Tiba-tiba HP gue bunyi. Bukan pesan dari teman. Notifikasi dari grup kelas — ada pengumuman penting.

"Besok upacara khusus. Ada perwakilan dari dinas pendidikan datang. Dan satu hal lagi — ada murid baru pindah, masuk ke kelas kita."

Gue tunjuk layar ke Farhan. "Murid baru? Kok tiba-tiba?"

Dia baca pelan, lalu mengangkat bahu. "Bisa aja biasa. Sekolah baru buka pendaftaran. Gak aneh."

"Mungkin ya..." Gue masukin HP ke saku. Tapi entah kenapa, hati gue berdebar lagi — sama kayak tadi pas lihat perempuan di balik pohon.

Farhan berdiri, ulurin tangan ke gue. "Yuk pulang? Nanti Ibu lo khawatir."

Gue pegang tangannya, berdiri. "Oke."

Jalan pulang terasa lebih pendek dari biasanya. Setiap langkah gue rasanya ringan, kayak gak bawa beban apa-apa lagi. Sampai di depan pagar rumah, kita berhenti.

"Besok gue jemput ya?" tanyanya pelan, matanya berharap. "Bareng aja."

"Bareng," jawab gue senyum. "Pagi-pagi dikit."

"Dijanjikan." Dia mau melangkah pergi, tapi berhenti, balik sebentar. "Mir?"

"Iya?"

"Senang banget hari ini. Terima kasih."

"Gue juga."

Dia senyum, lalu berjalan pelan pergi. Gue natap punggungnya sampai hilang di tikungan jalan, baru masuk ke dalam rumah.

Di ruang tamu, Ibu lagi merapikan bunga di vas. Pas lihat gue masuk, dia senyum. "Wajahmu cerah sekali hari ini, Nak."

Gue senyum malu dikit. "Banyak hal yang selesai, Bu."

"Syukurlah." Ibu mendekat pelan, pegang bahu gue. "Tapi Ibu mau bilang sesuatu."

"Apa itu, Bu?"

"Tadi pagi sebelum kamu keluar... ada seseorang datang ke sini. Nenek-nenek. Dia bertanya soal kamu, soal Farhan." Ibu berhenti sebentar, keningnya berkerut pelan. "Dia bilang... dia kerabat jauh keluarga Farhan. Katanya mau mengunjungi dari kota lain."

Darah di tubuh gue terasa dingin pelan.

"Apa dia... pakai jaket cokelat, Bu?"

Ibu mikir sebentar, lalu mengangguk. "Iya. Bagaimana kamu tahu?"

Gue mundur selangkah, napas tertahan.

Itu dia. Perempuan di balik pohon tadi.

"Dan dia bilang satu hal lagi," tambah Ibu pelan, suaranya jadi lembut dan serius. "Dia bilang... Farhan sebenarnya bukan anak yang kita kenal selama ini. Bahwa ada rahasia besar soal siapa dia sebenarnya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!