Davira Bellova Osta, sang Ratu Kerajaan Nether, mati di tangan suaminya sendiri.
Pengkhianatan sang Raja Liam mengakhiri hidup yang selama ini ia persembahkan untuk kerajaan.
Namun, ketika takdir memberinya kesempatan kedua, Davira kembali ke masa lalu—tiga tahun sebelum darahnya mengalir di tangan suaminya yang kejam.
Kali ini, ia tidak akan memohon, ia akan melepaskan cintanya. Dan terlebih lagi, ia tidak akan mati untuk kedua kalinya.
“Liam…”
“Dahulu aku bersedia menyerahkan seluruh hidupku untukmu.”
“Tapi setelah kau sendiri yang mengakhirinya, jangan berharap aku masih menjadi wanita yang sama.”
“Kau mengambil hidupku. Maka kali ini, aku akan mengambil kembali semuanya darimu.”
Jika dahulu Davira dikenal sebagai Ratu Jahat, maka kali ini ia akan menunjukkan kepada seluruh kerajaan mengapa seorang ratu tidak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Keheningan malam Kastil Orion terasa begitu menekan. Cahaya rembulan menyusup melalui celah tirai beludru tebal, melukis bayang-bayang samar pada langit-langit kamar yang asing.
Gelisah, Davira membalikkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, menggesek sprei katun yang halus namun tak mampu memberi kehangatan. Rasa kantuknya tak kunjung datang.
Kehadiran Miss Duncan benar-benar merusak ketenangannya. Wanita itu memiliki segala hal yang ideal untuk menjadi pendamping Elliot—latar belakang yang murni, dukungan dari Grand Duchess, serta kekayaan keluarga yang melimpah.
Davira sadar betul, posisinya di kastil ini begitu rentan dan bisa tergantikan kapan saja. Terlebih lagi, bayangan dari kehidupan sebelumnya terus menghantuinya. Di masa lalu, Fiona Duncan adalah wanita yang berhasil menjadi istri Elliot.
"Bagaimana jika takdir itu berulang? Bagaimana jika pria sedingin es utara itu pada akhirnya tetap jatuh cinta pada Fiona?"
"Apakah aku harus merayunya?" bisik Davira pada dirinya sendiri di kegelapan kamar.
Seketika, pipinya terasa panas. Gagasan itu terdengar gila baginya. Jangankan merayu Elliot yang berwajah datar dan sulit ditebak, sepanjang hidupnya Davira bahkan tidak pernah merayu pria mana pun—bahkan tidak pada Liam, pria yang menjadi suaminya selama 5 tahun, di kehidupan sebelumnya.
Davira mendengus pelan, menatap langit-langit kamar yang temaram. "Buku. Aku butuh buku." ucapnya, lalu Ia bangkit dari tempat tidur, mendekati Salah satu peti besar yang tadi siang diangkut para pelayan, lalu membukanya perlahan.
Jika ada satu hal yang selalu bisa diandalkan Davira ketika menghadapi masalah, itu adalah tumpukan kertas bertuliskan tinta.
Jemarinya menyusuri jilid-jilid buku tebal miliknya—mulai dari sejarah hukum, risalah strategi perang, hingga catatan perdagangan. Namun, tak satu pun dari koleksi literatur kerajaannya yang memuat bab tentang 'Cara Memikat Hati Pria Berdarah Dingin'.
Davira menutup peti itu dengan helaan napas pasrah. "Konyol. Bagaimana bisa seorang mantan Ratu kebingungan hanya karena tidak tahu cara bersikap manis di depan suaminya sendiri?"
Karena udara di kamar terasa kian menyesakkan, Davira akhirnya memutuskan untuk mencari angin segar. Ia mengenakan gaun malam yang simpel dan melapisi tubuhnya dengan mantel tebal berbulu, lalu melangkah keluar kamar dengan sangat pelan agar tidak membangunkan Noela.
Koridor Kastil Orion terasa sunyi dan dingin. Langkah kaki Davira menuntunnya menyusuri lorong menuju area pelataran tengah yang terbuka. Namun, baru saja ia mencapai balkon beratap yang menghadap ke halaman kastil, suara berdenting nyaring menghentikan langkahnya.
Cang! Cang!
Suara benturan logam yang tajam membelah keheningan malam.
Davira bersembunyi sedikit di balik pilar batu yang dingin, mengintip ke arah pelataran bawah yang disinari cahaya bulan dan beberapa obor dinding.
Di sana, di tengah pelataran berbatu, berdiri Elliot.
Menghadapi tingginya udara dingin daerah utara, pria itu tetap mengenakan pakaian lengkap—sebuah kemeja kain tebal berwarna gelap dengan lengan panjang, dipadukan dengan celana panjang dan sepatu boot kulit berpipa tinggi.
Meski pakaiannya tertutup, lekuk bahu dan dadanya yang tegap tetap tercetak jelas saat tubuhnya bergerak lincah. Elliot sedang berlatih pedang sendirian.
Gerakannya begitu presisi, cepat, dan mematikan. Ayunan pedang berat di tangannya bergerak selaras dengan setiap pijakan kakinya di atas tanah yang dingin. Setiap tebasan meluncur bagai angin malam utara—dingin, terkendali, tanpa ada satu pun gerakan yang terbuang sia-sia.
Davira terpaku, matanya tak mampu beralih. Pria yang tadi di meja makan tampak begitu tenang, kini bertransformasi menjadi sosok yang begitu dominan dan penuh disiplin. Ada keindahan yang berbahaya dari cara Elliot menguasai senjata di tangannya.
Saat Elliot melakukan satu putaran cepat dan menancapkan pedangnya ke tanah berbatu, ia menyapu keringat di pelipisnya dengan punggung lengan.
Lalu, tanpa berbalik, Elliot memiringkan kepalanya sedikit ke arah balkon.
"Udara malam di wilayah utara terlalu dingin untuk seseorang yang baru saja datang dan menetap," ujar Elliot tenang, suaranya mengalun membelah kesunyian malam, mengejutkan Davira yang mengira keberadaannya tak tertangkap oleh pria itu.
Elliot melangkah mendekat, ia berdiri tepat di hadapan Davira. Jarak mereka kini begitu dekat—begitu erat hingga Davira bisa merasakan hawa panas yang menguar dari tubuh Elliot membelah dinginnya angin utara.
Aroma tajam dari hutan pinus bercampur peluh dan hawa tubuh pria itu menusuk indra penciumannya, membuat kepala Davira mendadak pusing oleh sensasi yang asing.
"Kau belum menjawab pertanyaanku," ulang Elliot pelan. Suaranya yang berat mengalun rendah, hampir berupa bisikan di antara sapuan angin malam.
Matanya yang tajam mengunci pandangan Davira, sebelum perlahan bergulir turun—menatap bibir Davira yang sedikit terbuka, lalu turun lagi ke balik mantel berbulu yang menutupi gaun malam tipisnya.
Davira berusaha menetralkan degup jantungnya yang menggila. Ia menegakkan dagu, membalas tatapan Elliot walau napasnya sendiri mulai tak beraturan.
"Kamarku terasa panas, jadi aku keluar mencari angin," sahut Davira, berusaha keras menjaga agar suaranya tidak gemetar. "Dan aku tak tahu kalau suamiku punya kebiasaan memamerkan... keahlian bertarungnya di tengah malam."
Elliot menyunggingkan senyum tipis—senyum miring yang berbahaya. Tanpa mengalihkan pandangan, ia melangkah satu senti lebih dekat. Ujung jarinya yang kasar dan dingin akibat memegang pedang, menempel di dagu Davira, menyapu lembut garis rahangnya hingga wanita itu tertahan di pilar batu.
"Pamer?" gumam Elliot, ibu jarinya kini mengusap bibir bawah Davira dengan tekanan yang amat halus namun menuntut. "Kalau aku berniat memamerkan sesuatu padamu... aku tidak akan melakukannya dengan membawa pedang."
Jantung Davira rasanya hendak melompat keluar. Kulitnya yang bersentuhan dengan jari Elliot seolah terbakar.
Davira menahan napas sewaktu ibu jari Elliot mengusap bibir bawahnya. Sentuhan itu halus, namun mengirimkan desir aneh yang menjalar hingga ke ujung jarinya.
Davira membuka mulutnya, bersiap melemparkan balasan tajam untuk memotong dominasi suaminya. Namun, sebelum satu kata pun sempat terucap—
Kruuukkk...
Suara nyaring dari perut Davira. Dalam sekejap wajah Davira berubah merah hingga ke ujung telinga.
Jari Elliot di dagunya terhenti. Pria itu menatap Davira, lalu pandangannya perlahan turun ke arah perut istrinya.
"Tampaknya pertempuran di meja makan tadi benar-benar menguras energimu," goda Elliot pelan.
"Ini... hanya respons tubuh biasa," bisik Davira cepat, buru-buru mundur satu langkah untuk membebaskan dagunya dari sentuhan Elliot dan menutupi perutnya dengan mantel. "Suhu dingin di sini membuat pencernaan bekerja lebih cepat."
"Tentu saja," sahut Elliot dengan nada menyetujui yang sangat tidak jujur. Ia menyampirkan kain lapnya ke bahu, lalu membalikkan badan. "Ikut aku."
"Ke mana?"
"Ke tempat di mana kau bisa menutupi 'respons tubuh'-mu itu tanpa harus mengunyah angin dingin," jawab Elliot santai seraya melangkah menuduni tangga.
Davira menggertakkan giginya gemas, namun kakinya tetap melangkah mengekor di belakang suaminya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...