Pernikahan Keyla dan Edwin yang didasari oleh perjodohan terasa dingin sejak awal. Namun, waktu telah perlahan menumbuhkan benih-benih cinta di hati Edwin. Tepat saat Keyla merasa pernikahan mereka mulai membaik, badai datang dari masa lalu.
Seorang wanita dari masa lalu Edwin, cinta pertamanya, kembali muncul. Kehadirannya yang tak terduga seketika menggoyahkan hati Edwin yang tadinya sudah mulai mencintai Keyla. Edwin, yang masih menyimpan sisa-sisa perasaan, mulai bimbang antara janji pernikahan dan nostalgia.
Di sisi lain, Keyla tengah berjuang meraih impiannya di dunia modeling, sebuah profesi yang tidak disukai dan dianggap tabu oleh Edwin. Keputusan Keyla untuk tetap mengejar karier ini semakin memperkeruh rumah tangga mereka, membuat Edwin merasa tidak dihargai.
Keyla kini berada di ujung tanduk. Ia harus berjuang mempertahankan suaminya dari bayangan masa lalu yang memikat, sambil berusaha membuktikan bahwa pilihannya sebagai seorang model tidak akan menghancurkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarMaker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab1
Keyla menghela napas kasar, embusan udara panas yang sarat kejengahan. Matanya menyalang tajam ke arah sahabatnya yang sedang berulah. Sungguh, tingkah polah gila yang dilakukan gadis itu sukses merusak momen sakralnya: menikmati serial kartun favorit di layar datar.
Gadis yang berdiri di tengah ruang tamu, bergerak bak cacing kepanasan dengan headphone menyumpal telinga, adalah Hana Auristela. Cantik, workaholic sukses di dunia kuliner, dan… seorang fangirl akut yang hidupnya dipenuhi halusinasi. Sementara yang kesal setengah mati di sofa adalah Keyla Deolinda, si jelita berstatus istri sah dari Edwin Pradipta Siswanto, CEO muda yang dinginnya melebihi kutub utara.
“Hana! Berisik!” Keyla menjerit, melempar bantal sofa. “Ya ampun! Kenapa sih joget-joget nggak jelas kayak orang kerasukan? Apa faedahnya, hah?!”
Hana, yang baru menyadari keberadaan Keyla, melepas headphone-nya dan tertawa terbahak-bahak, suara nyaringnya memenuhi ruangan. “Faedahnya? Aku terhibur, Dugong!”
“Cara kamu menghibur diri itu unfaedah banget! Nonton video cowok Korea sambil joget-joget sinting. Dasar fangirl halu!” cibir Keyla, bibirnya melengkung jijik.
“Suka-suka aku, dong! Daripada kamu, kayak bocah, nontonnya kartun!” Hana membalas, tangannya bersedekap, menantang.
“Biarin! Yang penting aku nggak halu kayak kamu!” tukas Keyla cepat. Sebenarnya, Keyla sedang dalam suasana hati buruk, makanya ia mencari ‘korban’ untuk diganggu. Dan Hana, adalah sasaran empuk favoritnya.
“Yeah, Dugong. Nggak suka? Pulang sana!”
Keyla mendelik. “Kamu ngusir aku, Han?”
“Bukan ngusir. Tapi daripada kamu ngedumel terus kayak nenek-nenek, mending rebahan cantik di rumahmu. Enak kan?” usul Hana, matanya penuh kelicikan.
“Di rumahku nggak ada teman yang bisa aku recokin sampai emosi. Mending di sini, ada kamu!”
“Makanya, punya anak! Biar ada yang nemenin,” celetuk Hana santai.
Seketika, tawa Keyla lenyap, digantikan keheningan pahit. Kalimat Hana menusuk telak. Punya anak? Bagaimana mungkin? Suaminya sendiri, Edwin, bahkan nyaris tak pernah menyentuhnya, bahkan melirik pun enggan. Mood-nya yang sudah buruk kini meluncur bebas ke dasar jurang.
Melihat perubahan ekspresi Keyla, Hana mematikan video di ponselnya dan duduk di samping Keyla. Aksinya kini berubah serius. “Key, wait. Kamu kenapa sih? Lagi ada masalah?” tanyanya, nada suaranya berubah lembut, penuh perhatian.
“Aku… aku nggak ada masalah sama sekali,” bohong Keyla, menatap kosong ke layar TV. Ada ganjalan besar di hatinya, namun lidahnya terasa kelu untuk menceritakannya.
“Come on, Key. Jangan bohong, deh. Aku kenal kamu. Kalau kamu lagi ada masalah, kamu pasti nyolot nggak jelas kayak tadi,” desak Hana, menunjuk bekas bantal lemparan Keyla.
Keyla menghela napas panjang, berat, seolah baru saja mengangkat beban berton-ton. Mungkin menceritakan unek-unek ini jauh lebih baik daripada memendamnya sendirian sampai sesak. Emosi Keyla mulai tumpah.
“Aku… aku cuma kesel karena Edwin nggak pernah kasih kabar. Nggak pernah tanya aku gimana, lagi ngapain. Dia selalu… cuek. Menurutmu, kenapa dia gitu terus, Han? Apa… apa dia nggak suka aku yang jadi istrinya?” tanya Keyla, suaranya sedikit bergetar, tatapan matanya memancarkan keputusasaan.
Hana mengedikkan bahu. “Kalau kamu jadi istrinya, itu takdir. Tapi kalau Edwin cuek, ya itu… kesialan kamu.” Hana tertawa lagi, tawa yang sedikit menyebalkan di telinga Keyla. “Aku bisa bayangin betapa kakunya kalian berdua. Jangan-jangan, kamu belum pernah dijamah, ya?”
Keyla memutar bola mata, geram. “Nyesel aku cerita sama kamu!” bukannya pencerahan, ia malah mendapatkan ledekan super pedas.
“Woles! Positive thinking, Key. Cowok kayak suamimu itu… terlalu arogan buat nunjukin sikap manis. Dia itu tipikal gunung es yang enggan luluh. Kamu harus sabar, ekstra sabar,” ujar Hana, mencoba memberi sedikit ketenangan.
“Aku udah sabar banget! Tapi kenapa dia nggak pernah mau memulai obrolan duluan sama aku?” Keyla merengek.
“Mungkin dia Gengsi,” tebak Hana.
“Hampir setahun kita hidup bareng, masa gengsi terus-terusan?!” Keyla membantah, suaranya naik satu oktaf.
“Cewek aja suka gengsi, apalagi cowok kayak suamimu. Gengsi itu nggak ada batas kedaluwarsanya, Key. Seumur hidup juga bisa,” Hana terkekeh.
Keyla menghela napas pelan lagi. Benar juga. Mengalahkan ego pria sedingin Edwin pasti seperti menaklukkan Puncak Everest.
“Sejak kemarin, Edwin nggak ngabarin aku sama sekali. Bahkan sekadar chat pun nggak ada. Selalu begitu! Gimana aku nggak kesel coba?” Keyla mencurahkan segalanya, wajahnya ditekuk dalam-dalam.
“Kamu sudah chat duluan?” tanya Hana.
Keyla hanya menggeleng. “Gengsi, ah! Masa aku yang harus ngechat duluan terus? Sekali-kali, dia dong yang inisiatif!” Keyla mendengus. Ia sudah lelah dicap istri murahan yang selalu caper meski diabaikan.
“Kamu minta uang aja nggak gengsi, masa cuma ngechat doang gengsi?” cibir Hana, senyumnya menyeringai.
Keyla mendelik, matanya membesar. “Ya, itu beda!”
“Tapi bener, kan?”
“Terserah kamu, deh! Pusing kepala aku!” Keyla mendadak bangkit, perutnya tiba-tiba ikut-ikutan kesal dan minta segera dikosongkan isinya.
“Heh! Mau ke mana?!” teriak Hana.
“Mau boker! Mau ikut?!” jawab Keyla tanpa dosa, segera melesat masuk ke kamar mandi, mengabaikan umpatan kecil dari Hana.
Mata Hana tertuju pada ponsel Keyla yang tergeletak di meja. Senyum licik merekah di bibirnya. Sebuah ide jahil, sebesar bom, tiba-tiba meledak di otaknya.
“Sekali-kali ngerjain Keyla, nggak apa-apa lah,” bisik Hana, terkikik, dan segera menjalankan aksinya.
—BADAI—
Beberapa menit kemudian, Keyla keluar dari kamar mandi. Ia mendapati Hana sedang tertawa terbahak-bahak, matanya terpaku pada layar ponselnya.
“Kamu sinting? Ketawa-ketawa sendiri,” ucap Keyla, kembali duduk di sofa.
“Apaan sih, serah aku!” jawab Hana, menahan tawa, pandangannya tak lepas dari layar.
Tingg!
“Hp kamu bunyi, tuh!” seru Hana, menyodorkan ponsel Keyla.
Keyla mengambilnya santai, tapi aksi Hana yang malah semakin cekikikan membuatnya curiga.
“What the hell!” Keyla mengumpat setelah melihat notifikasi di layar, kemudian menatap Hana tajam, seolah bisa melubangi kening sahabatnya itu.
“Gimana?” tantang Hana, menaik-turunkan alis, ekspresinya nakal.
“Hana, kamu tega! Siapa yang nyuruh ngechat Edwin?! Kamu tuh jahat banget!” Keyla menggerutu, bibirnya mengerucut, mencak-mencak seperti anak kecil yang permennya direbut.
“Makanya, jangan gengsian! Sana, balas! Suami tercinta sudah nungguin,” ejek Hana, tertawa puas.
“Aish! Punya sahabat kok nyebelin banget!” Keyla mengangkat tangan, siap menoyor kepala Hana, namun diurungkan. Ponselnya lebih penting.
Keyla membuka ruang obrolan, matanya membelalak kaget membaca pesan yang dikirim Hana atas namanya:
Keyla: Sayang, kangen! Cepat pulang, ya. Rindu kamu, emuachh...
Read
“Hanaaaa! Harga diri aku, woy! Harga diri aku jatuh berkali-kali lipat!” teriak Keyla, melempar ponselnya ke meja. Ia ingin sekali mencekik leher Hana, tapi, ah, nanti dia tidak punya teman lagi untuk diganggu.
“Asal kamu tahu, aku nggak pernah panggil Edwin ‘Sayang’, apalagi pakai kata-kata alay itu! Dan sekarang, kamu buat aku tambah malu gara-gara pesannya cuma di-read doang!” frustrasi Keyla meledak.
“Tabahkan dirimu, Nak,” ucap Hana dramatis, menepuk-nepuk punggung Keyla.
“Kamu tega sama aku! Aku musuhan sama kamu!” Keyla mengambil tas dan ponselnya, lalu berjalan cepat menuju pintu, meninggalkan Hana.
“Terserah kalau mau musuhan! Emang sekarang kamu mau pulang naik apa? Jalan kaki? Ini udah malam, dan kamu nggak bawa mobil, Keyla Sayang!” seru Hana dari dalam rumah, diakhiri tawa mengejek.
Keyla seketika menghentikan langkah. Ia berbalik, menatap Hana dengan wajah paling kesal yang pernah ada.
“Anterin aku pulang, Kampret!” bentaknya, menghentak-hentakkan kaki, persis seperti anak kecil yang sedang merajuk.