Ujian
Merupakan sebuah kata yang selalu para murid lakukan dalam rentang waktu tertentu.
Biasanya kegiatan ujian atau ulangan dilakukan pada pertengahan semester dan akhir semester.
Ujian kali ini dilakukan pada saat pertengahan semester. Namun pada kegiatan ujian ini, tidak hanya murid yang dibuat paleng. Guru juga tidak kalah dibuat pusing.
Kenapa seperti itu? Karena guru juga harus kerja ekstra pada momen ini. Mulai dari menjadi panitia hingga membuat soal.
Mungkin saja kalau gurunya cuma mengajarkan sedikit mata pelajaran, tidak akan pusing buat soalnya. Bayangkan kalau satu guru harus membuat soal untuk 4 mata pelajaran. Pasti ribet sekali bukan?Itulah yang aku rasakan.
Selain harus membuat soal, aku juga dipilih menjadi salah satu panitia UTS. Hal ini membuat beban kerja bertambah.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat soal. Yaitu materi ujian dan jumlah soal. Untuk UTS biasanya jumlah soal adalah 20 Pilihan ganda dan 5 essay. Format pembuatan soal juga harus sesuai dengan format yang berlaku.
Karena itulah untuk mempercepat pekerjaan biasanya aku minta format ke guru lainya. Setelah itu tinggal mengedit isinya saja. Jangan sampai mata pelajaran dan waktu ujian nya tidak sesuai dengan tanggal ujian untuk semester ini. Soal ujian juga biasanya diambil dari buku paket namun posisi soal dan jawaban nya diacak.
Dengan cara seperti itu saja sudah ada beberapa murid yang kebingungan. Soal essay yang murni kubuat sendiri. Karena hanya membuat lima soal essay menurut saya bukan hal sulit.
Ketika soal sudah dibuat, biasanya soal di print kemudian dikumpulkan ke panitia bersama dengan kisi-kisi soal. Barulah nanti dikirim ke percetakan untuk diperbanyak.
Biasanya kadang ada beberapa guru yang old school atau sok sibuk sehingga meminta tolong staff untuk mengetik soal untuk mereka. Biasanya mereka meminta bantuan staf yang lebih muda non guru seperti staff TU atau penjaga lab. Aku sendiri membuat semua soal sendiri.
Paling repot kalau ada guru yang telat setor soal, harus dikejar-kejar oleh panitia sampai selesai buatnya. Apalagi kalau gurunya sering menghilang, semakin repot lagi itu.
Wajar saja kalau ada guru yang telat mengumpulkan soal. Karena mereka harus mengajar seperti biasa ditambah dengan membuat soal. Biasanya mereka menggunakan waktu luang untuk membuatnya.
Kadang ada juga guru yang lembur dan membuat soal saat mereka libur. Biasanya untuk satu mata pelajaran, membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam. Entah guru lain membutuhkan waktu yang sama atau tidak.
Setelah masalah soal beres tinggal masa lah panitia. Aku ditunjuk menjadi panitia oleh pihak sekolah. Pekerjaan pertama sebagai panitia adalah memastikan bahwa soal telah selesai dibuat pada waktunya dan telah di fotocopy sebelum ujian berlangsung.
"Bagaimana pak? Sudah selesai soal untuk kelas 10? " Tanyaku kepada salah satu guru yang sedang mengerjakan soal.
"Belum pak Ray, sebentar ya. Mungkin besok. Nanti akan saya kumpulkan ke meja pengumpulan. " Jawabnya sambil mengetik soal ke dalam laptop.
"Baik Pak, ditunggu ya soalnya. " Hal itu juga yang ku tanya kan kepada guru lainnya yang belum mengumpulkan soal.
Sama seperti murid, ada juga guru yang rajin dan ada juga yang malas. Tidak semua guru rajin dan tepat dalam mengumpulkan soal.
Setelah masalah soal beres, tinggal memastikan bahwa soal selesai di fotocopy. Sekolah kami memiliki tempat langganan untuk memperbanyak jumlah soal.
Pastinya jangan sampai ada soal yang bocor ke tangan murid. Kalau murid dapat bocoran soal, nanti nilai mereka jadi 100 semua.
Selain soal, panitia juga harus lembur untuk membuat kartu ujian peserta. Untungnya ada teknologi sehingga mudah saat proses mencetak. Namun proses memotong nya masih cukup memakan waktu karena manual dengan tenaga manusia.
"Pak Dani, tolong print kartu ujian ya." Aku minta tolong kepada Pak Dani untuk print kartu ujian menggunakan printer lab.
"Siap pak Ray, ditunggu agak lama ya. Karena kartunya banyak."
"Ok pak. Saya tunggu" aku langsung pergi ke tempat lain untuk melanjutkan kegiatan panitia ujian.
Setelah kartu selesai, kerja sama dengan TU adalah langkah berikutnya. Karena murid harus melunaskan pembayaran SPP dahulu sebelum mendapatkan kartu ujian.
Biasanya prosedur ini harus teliti karena kadang ada murid yang menipu. Bilangnya sudah bayar padahal sebenarnya belum. Kalau kita lengah, bisa ditipu para panitia nanti oleh murid.
Saya heran kenapa kecil-kecil saja sudah berani nipu, mengkhawatirkan. Semoga saja dia akan menjadi orang yang lebih baik lagi di masa depan. Tugas kita sebagai guru untuk memberikan pelajaran moral dan etika kepada para murid. Agar tindakan salah seperti ini tidak akan mereka ulang kembali nantinya.
"Pak, mau ambil kartu ujian." Datang salah satu murid datang ke meja panitia untuk mengambil kartu.
"Kelas dan jurusan?" Tanyaku sambil bersiap mengambil kartu.
"Kelas X TKJ, Siti Handaroh." Jawab murid sambil menyerahkan kwitansi pembayaran.
Aku lihat kwitansi terlebih dahulu, setelah itu aku mengecek kartu ujian dengan nama yang sesuai. "Sebentar ya, bapak cari dulu." Aku mencari kartu milik murid tersebut. Pencarian cukup mudah karena urutan kartu sudah sesuai abjad. Jadinya kalau mulainya Siti tinggal cari dari paling belakang.
“Siti Handaroh ya. Ini coba dicek udah sesuai belum, kalau sudah, jangan lupa untuk simpan dengan baik jangan sampai hilang atau ketinggalan karena nanti saat ujian akan dipakai.” Jawabku sambil menyerahkan kartu kepada murid.
“baik pak, terima kasih”
“Sama-sama”
Murid tersebut langsung kembali ke kelas setelah selesai mengambil kartu. Biasanya para murid mengambil kartu saat jam istirahat atau pulang sekolah. Kadang ada juga yang datang saat sebelum jam mereka masuk sekolah. Contohnya ketika kelas mereka mendapatkan jadwal masuk siang hari. Biasanya murid tersebut akan mengambil kartu jam 11 siang. Tepat satu jam sebelum jadwal masuk kelas siang, jam 12.
Karena itulah untuk penjaga kartu ujian biasanya bergiliran, jangan sampai sepi karena tidak bisa kita prediksi kapan murid akan datang untuk mengambil kartu. Untungnya para panitia memiliki jam mengajar yang berbeda sehingga pengambilan kartu tidak pernah kosong.
Kartu ujian ini biasanya sampai hari H ujian masih saja ada yang belum mengambil. Ada yang karena belum bayar karena orang tuanya belum ngasih uang, ada juga yang datang saat pagi hari ujian dan marah-marah karena anaknya belum mendapatkan kartu. Padahal anaknya sendiri yang lupa untuk mengambilnya.
“masih banyak ya kartu ujian nya. pada belum mengambil.” Tanyaku kepada guru panitia di sebelah.
“Iya pak Ray. Pernah ada murid yang ngambil saat hari ujian bareng orang tuanya. Datangnya subuh lagi”
“masa iya bu? terus?”
“Datang marah-marah gitu orangtua murid. Setelah kita jelaskan dan orangtuanya paham. Baru deh muridnya yang gantian dimarahi” Cerita guru senior tentang kejadian tersebut sambil tertawa.
Pada hari Sabtu, sebelum hari ujian tiba. Biasanya murid yang masuk jadwal sore mendapatkan pengumuman.
“Kepada para murid dan guru untuk membersihkan kelasnya masing-masing. Karena akan digunakan untuk ruang ujian. Mohon bapak ibu guru dalam kelas untuk mengawasi kelasnya sudah rapi dan bersih sebelum memulangkan para murid” Begitulah isi pengumuman dari speaker sekolah.
“Yesss.” Sontak semua murid teriak senang mendengar hal tersebut. Mungkin saja ada juga guru yang ikut seperti mereka..
“Baik anak-anak. Sekarang ayo bantu beres-beres biar bisa cepat pulang” Aku memberikan instruksi sambil mengawasi murid bersih-bersih.
Seperti biasa, ada yang malas-malasan saat kegiatan membersihkan kelas. Diteriakin dulu baru jalan. Menyapu sebentar terus berhenti lagi. Daripada capek teriakin mereka terus menerus, akumembantu murid lain yang rajin saja. Murid yang rajin bersih-bersih nanti akan aku berikan nilai tambahan.
..
..
..
Kegiatan bersih-bersih sudah selesai dan para murid sudah pada pulang. Guru lain yang tidak menjadi panitia juga ikut kembali ke rumah masing-masing. Sedangkan saya dan guru panitia yang lain masih harus muter keliling kelas untuk menempelkan nomor meja ujian.
“Yang teliti ya pak Ray, jangan sampai salah pasang nomor”
“Siap bu”
Dengan bantuan semua panitia, proses pemasangan ini tidak berlangsung lama. Yang membuat lama adalah saat selotip habis dan hal teknis lainnya. Sebelum maghrib, panitia sudah selesai menampilkan nomor ujian untuk setiap meja.
“Alhamdulillah sudah selesai. Tinggal sholat maghrib lalu pulang”. Aku pergi menuju mushola sekolah dan sholat di sana bersama dengan panitia yang lain.
Allahuakbar..”
..
..
..
Setelah selesai shalat aku pamit dengan semua murid yang masih ada di kantor.
“Izin pamit ya bapak-bapak dan ibu-ibu, saya pamit pulang dulu” Semua orang sudah bersiap-siap untuk pulang sama seperti aku.
Ada yang menggunakan kendaraan pribadi, ada juga yang pulang dengan ojek online. Aku sendiri menggunakan motorku sendiri yang sudah dipakai sejak zaman kuliah dahulu.
Akhirnya persiapan ujian sudah selesai. Tinggal memastikan acara hari H berjalan dengan lancar.
*bersambung
*terima kasih sudah membaca novel ini. Mohon bantuan nya untuk like, share, dan komen novel ini ke teman-teman kalian. sampai jumpa pada chapter berikutnya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 173 Episodes
Comments
reedha
Jadi ingat, temanku pernah dapet fotocopy soal ujian di tempat FC sekitar kampus. Jadilah hari itu hari paling siap hadapi ujian 😂
2022-08-25
2
📸
Mampir kak jan lupa bck
2022-06-13
2
Arya Hafiz Saputra
👍
2021-06-15
0