Aku menyiapkan barang apa saja yang aku bawa. Karena aku tidak membawa banyak barang. Cukup satu ransel saja menjadi senjataku untuk pulang kampung. Seperti mahasiswa lainnya. Hal yang kubawa adalah laptop, handphone, dan perlatan pendukung lainnya. Pastinya tidak lupa dompet, KTP, SIM, dan dokumen identitas diri lainnya.
Kali ini aku akan menggunakan pesawat untuk pulang kampung. Masakapi yang kupilih adalah waterasia. Maskapai ini merupakan langganan yang sering kupakai karena harganya yang murah dan pelayanan memuaskan. Reputasi keamanan juga cukup baik daripada maskapai macanair. Perjalanan dari rumah nenek ke bandara kutempuh dengan sepeda motor bersama adikku sebagai ojek.
“Dek. Lagi sibuk ngak deK?” Aku menghampiri adikku yang sedang santai bermain HP
“ada apa mas?”
“Anterin ke Bandara dek, mas mau pulang”
“Jam Berapa kak?”
“Nanti Sore”
“Oke, aku bisa kalau jam segitu. Pas lagi ngak ada kelas”
Setelah memberitahukan adikku, aku pergi menemui nenek dan anggota keluarga yang lain mengenai keberangkatanku.
“ada apa Ray? Mau pulang ya?” Tanya Nenekku yang sedang duduk santai menonton tv
“Iya yangti, aku akan pulang nanti sore”
“Bareng siapa ke sana?”
“Bareng Farid eyang”
Farid adalah nama adikku. Ia saat ini juga sekolah di salah satu perguruan tinggi negeri di Jogja. Saat ini ia sudah Semester 6 dan sebentar lagi akan menghadapi skripsi. Sama sepertiku, ia juga memiliki rambut hitam dengan paras tubuh tinggi dan kurus. Aku saja tingginya sudah kalah dari adikku. Menurut ibuku, mungkin gen kakek buyut ia wariskan karena dahulu semasa hidupnya kakek buyut badannya tinggi sekali.
“hati-hati ya di jalan, sudah pamit sama Siti?”
“Belum yang, habis ini baru akan pamitan”
Setelah konflik tempo hari, hubungan kami tidak ada perubahaan. Kami tetap bersapa kalau bertemu dan ngobrol sesekali kalau ada moment yang pas. Namun saya pribadi berusaha secepat mungkin untuk mengakhiri pembicaraan. Setelah itu aku pergi ke dapur untuk menghadapi tanteku.
“Tante, aku nanti sore akan pulang kampung?”
“Sama siapa? Sama Lucas?”
Lucas adalah anak satu-satunya anak dari tante Siti. Ia telah lulus dari perguruan tinggi negeri namun hampir DO karena sudah terlalu lama kuliah. Saat ini ia bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jogjakarta.
“Bukan, sama Farid nanti sore pake motor”
“oh..”
Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi di antara kita. Aku kembali ke kamar sambil bermain laptop untuk menunggu sore hari tiba.
“Sudah siap semuanya mas?” Tanya adikku saat aku sedang mengemas barang.
“Sepertinya sudah, tidak banyak yang mau aku bawa. Sisanya taruh sini saja dulu.” Aku sengaja meninggalkan beberapa barang karena tidak mau menggunakan fitur bagasi dalam pesawat. Aku juga tidak mau banyak bawa barang saat bepergian.
“Hati-hati ya Ray di jalan. Jangan ketiduran dan hati-hati sama copet”
“Baik yang”
“Salam juga untuk keluarga di kampung ya”
“Oke yang, kami pergi dulu. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Adiku menyetir dan aku duduk di belakang. Kami menggunakan motor Bario berwarna hitam untuk melakukan perjalanan. Karena rumah Eyangku tidak memiliki mobil sehingga kami menggunakan kendaraan roda dua untuk ke bandara.
Perjalanan cukup mulus dan tidak banyak kemacetan yang kami temui. Jogja memang tidak pernah sepi. Hari biasa saja sudah ramai, saat liburan panjang kota ini akan semakin ramai lagi. Karena banyak orang pergi liburan ke sini. Perjalanan menuju bandara tidak terlalu rama, sekitar 30 menit.
“Makasih dek udah nganterin” Kataku sambil menyerahkan helm dan tanganku untuk dia salim.
“Iya mas, hati-hati di jalan ya. Salam buat yang di rumah” Adikku langsung kembali ke tempat nenek setelah menyalami dan melihatku masuk ke dalam bandara.
Aku mencari pintu masuk dan menyerahkan karcisku ke petugas. Karena aku menggunakan handphone untuk membeli tiket, tidak perlu repot-repot membawa tiket untuk boarding. Teknologi memang mantap.
Setelah berhasil masuk ke ruang tunggu, aku menanti pesawat datang sambil bermain gawai milikku. Aku biasanya membaca beberapa novel atau berita sambil menunggu jam keberangkatan pesawat.
“Pesawat Waterasia dengan nomor penerbangan …” Pengumuman keretaku sudah tiba. Aku langsung beranjak dari kursiku dan pergi mengantri untuk memasuki pesawat. Tidak ada insiden berarti dalam perjalanan kali ini. Semua baik-baik saja dan pramugari seperti biasa cantik dan enak dipandang. Aku memejamkan mata setelah membaca sekilas majalah yang ada di depanku.
Penerbangan ini adalah penerbangan pendek sehingga gawai tidak diperbolehkan saat berada dalam pesawat ini. Apalagi saat take-off dan landing. Harus pakai sabuk pengaman dan juga tidak boleh menyalakan alat elektronik.
“Pesawat kali ini sudah sampai ke bandara…” Pesawat telah sampai ke tempat tujuan. Aku membuka mataku dan menunggu pesawat agak sepi sebelum turun dari pesawat.
“tap tap…” Suara kakiku melangakah turun tangga pesawat sambil mengikuti barisan penumpang yang lainnya. Sepertinya dari sini kami harus menaiki bus untuk sampai ke terminal kedatangan. Aku melihat ada berbagai macam orang yang menaiki pesawat ini. Ada yang naik seorang diri, bersama keluarga, ada juga yang sepertinya sedang dalam perjalanan dinas.
Aku melanjutkan langkahku menuju stasiun DAMRI. Dari sini aku tinggal naik bus untuk sampai ke daerah kampungku berada. Sambil menunggu aku membeli makanan untuk kusantap karena perutku sudah mulai lapar.
Terdapat banyak jajanan yang bisa kupilih. Namun aku memilih snack seperti Chitota untuk sedikit mengisi perut. Karena agak sulit kalau makan berat sambil menunggu bus tiba. Tidak lupa untuk membeli menuman bersoda Caco-caco untuk melengkapi snack yang kubeli.
“Damri damri ayo naik serang, merak,…” busku sudah tiba. Aku langsung buru-buru naik karena takut ketinggalan bus. Bus ini tidak memiliki nomor kursi sehingga penumpang bebas duduk selama kursi kosong. Jumlah penumpang kali ini cukup sepi, mungkin karena saat ini belum musim liburan.
Aku mencari tempat duduk dekat jendela untuk bisa melihat pemandangan. Meskipun pemandanganya selalu sama, namun cukup menghibur melihat mobil-mobil lewat sambil mendengarkan musik kesukaan. Akhir-akhir aku sering mendengarkan lagu dari jepang. Apalagi yang dijadikan sebagai soundtrack anime.
Perjalanan selama dua jam lamanya kutempuh. Aku berusaha untuk tidak terlalu lelap dan menjaga barang bawaan dengan memeluk satu-satunya tas yang aku bawa. Setelah sampai ke pangkalan DAMRI aku melanjutkan perjalanan dengan menaiki angkot. Setelah itu tinggal melanjutkan jalan kaki dari tempat turun angkot.
“Assalamualaikum, aku pulang”
“Waalaikumsalam, gimana nak perjalananya?” Tanya ibuku dengan wajah tersenyum.
“Aman ibu, tidak ada masalah. Semuanya lancar” Jawabku sambil melepaskan sepatu dan menaruh barang-barangku ke kamar.
“Gimana, sudah dapat pekerjaan belum”
“belum bu, kan aku baru sampai. Memangya ada apa bu nanya soal kerjaan?”
Ibuku menyuruhku duduk di sampingnya dan ia mengatakan kalau tanteku di kampung menawari aku posisi pekerjaan sebagai guru pengganti. Menurut ibuku, kalau materinya seputar komputer harusnya saya mampu karena dulu juga sempat mengajar. Saat kuliah juga aku pernah menjadi pemandu agama untuk prodi kampus.
“boleh juga itu bu, sambil kerja bisa terus nyari kerja juga yang lebih sesuai” Kataku kepada ibuku.
“Baiklah kalau gitu, nanti malam tante Nia akan datang ke sini untuk secara resmi mengangkatmu sebagai guru.”
“Baik, bu”
Sambil menunggu tanteku datang, aku istrirahat terlebih dahulu. Meskipun perjalanan tidak terlalu lama (sekitar 4 jam), badanku yang anak rumahan ini lumayan merasakan lelah.
“Assalamualaikum”
“waalaikumsalam, ayo masuk tante”
Tanteku datang untuk bertemu denganku dan menjelaskan apa saja yang akan aku lakukan. Aku akan mengajar ke sebuah SMK Swasta dengan mata pelajaran TKJ. Karena aku dari bidang komputer seharusnya bidang ini cocok sekali denganku. Aku langsung menerima tawaran tersebut dan akan mulai masuk nanti hari Senin.
Ia bercerita mengenai kejadian salah satu guru mereka tiba-tiba berhenti. Dari cerita yang saya dengar. Kemungkinan besar hanya terjadi sedikit salah komunikasi sehingga masalah menjadi seperti ini.
“Semoga betah ya, memang jadi guru gajinya tidak besar. Tapi insyaallah nanti ganjaran pahalanya banyak” Jawab tante Nia kepadaku untuk meyakinkanku menerima pekerjaan ini.
“iya tante, sebagai pengganti saja. Kalau nanti sudah ada yang menggantikan. Saya bersedia kapanpun tergantikan” Kataku untuk memperjelas bahwa aku tidak permanent kerja sebagai guru.
“baiklah kalau begitu” Jawab tanteku sambil melanjutkan obrolan ke hal-hal yang lain. Beberapa menit kemudian, tanteku pamit khawatir menganggu karena terlalu lama berkunjung ke sini.
Sambil menunggu hari Senin tiba, aku mempersiapkan apa yang akan aku ajarkan nanti di kelas.
*bersambung*
*Terima kasih sudah membaca chapter ini. Jangan lupa untuk bantuan like dan bagikan novel ini ke teman-teman kalian. Kritik dan saran dari kalian saya tunggu.
*Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 173 Episodes
Comments
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻Stargirl✨
Memang sekarang kebanyakan lebih tinggi Adek di bandingkan Kaka... 🤧
2022-07-11
1
SoVay
semangat thoorrr
2022-06-14
2
Rose Yura🌹
cerita yang sangat seru
2022-05-17
2