“Assalamualaikum Wr. Wb.”
“Waalaikumsalam Wr. Wb.”
Aku memberikan salam dan semua murid dalam kelas membalas salam tersebut. Sama seperti murid yang lain. Bagian depan terlihat bersemangat dalam belajar. Berbeda dengan murid pada bagian belakang kelas. Aku tidak tahu apakah akan ada perputaran tempat duduk seperti saat aku SMA dulu.
Hal itu sangat membantu karena aku sudah mulai menggunakan kacamata saat duduk di kelas 2 SMA. Bayangkan betapa susahnya kalian melihat papan tulis yang jauh kalau kalian menggunakan kacamata.
“Selamat pagi anak-anak. Perkenalkan nama saya pak Ray. Guru baru di sini. Saya akan mengajar untuk prodi TKJ dan Multimedia. Sebelum memulai pelajaran ada yang mau ditanyakan?” Sebelum mulai belajar aku bertanya kepada murid apakah ada yang ingin bertanya. Ternyata ada beberapa murid yang tertarik untuk bertanya.
“Bapak lulusan mana pak?” tanya salah satu murid dalam kelas.
“Saya lulusan universitas swasta di Yogyakarta”
“Berapa lama kuliahnya pak?” Murid lainnya mulai bertanya
“Standar lah 4 tahun. lebih dari itu sayang bayarnya” Aku menjawab pertanyaan satu per satu dari para murid.
Pertanyaan yang tidak bisa kujawab adalah mengenai pengalam kerja. Karena kerja sebagai guru ini adalah pekerjaan pertamaku sehingga aku belum memiliki pengalaman kerja pada tempat lain. Karena aku baru saja lulus dari kuliahku, belum pernah kerja di tempat lain selain ekskul kampus.
Memang dulu pernah sih menjadi mentor dalam pendidikan agama saat ngampus. Tapi saat itu bayarnya tidak seberapa. Kerja sebagai guru ini adalah kerja beneran pertama. Bahkan tidak sampai seperempat UMR yogyakarta. hahaha.
“Bapak absen ya….” Aku mulai membuka buku absen dan mulai memanggil nama murid satu per satu. Ada yang memperhatikan dengan semangat, ada juga yang mendengarkan sambil ngobrol dengan temannya. Saat momen itu terjadi aku mengeraskan suara ku untuk lebih terdengar murid.
Ketika mereka sadar kalau absen mereka lewat baru deh mereka panik. Para murid lainnya tertawa akan tingkah laku murid tersebut.
“Jadi, materi bab pertama kali ini adalah...” Aku mulai mengajar kelas. Materi kali ini kurang maksimal aku terangkan. Karena buku paketnya belum ada serta kompetensi dasar dan dokumen lainnya untuk materi ini belum siap. Sehingga aku tidak bisa mengajar secara penuh.
Untungnya ada beberapa murid yang kelihatan serius mencatat dan mendengarkanku saat mengajar. Tapi ada juga murid yang berbuat sebaliknya. Terutama murid cowok. Karena murid cewek kebanyakan lebih banyak diamnya. Tapi sekalinya berisik langsung berisik banget.
Murid cewek ada beberapa yang cantik juga sehingga lumayan untuk menyegarkan mata. Pastinya jangan terlalu sering melirik karena semua murid harus kita perhatikan dengan seksama.
“Sekian untuk pelajaran kali ini, mari kita tutup dengan membaca hamdalah”
“Alhamdulilah”
Akhir pelajaran kututup dengan sesi doa lalu aku pergi kembali ke ruang guru setelah selesai berkemas. Biasanya pada momen menunggu jam berikutnya ada tugas koreksi dan hal lainya. Namun karena ini baru hari pertama. belum banyak tugas yang aku berikan kepada para murid.
“eh, ada pak Ray. Gimana ngajarnya lancar?” Sapa salah satu guru yang ada dalam ruangan.
“”Lumayan pak. Biasalah pada semangat anak-anaknya, ribut terus” Jawabku sambil menaruh barang di atas meja dan mulai duduk di kursi milikku.
“Iya pak Ray, murid kelas sekarang mah..” Guru tersebut mulai membicarakan mengenai pengalamanya mengajar di kelas lain. Tidak hanya anak kelas satu. Ia juga membicarakan murid kelas 2 dan 3 yang lain. Otomatis guru yang lain juga ikut gabung ngobrol saat membahas mengenai murid.
Bagaikan bara api, satu sisi mulai terbakar, mulai menyebar kemana-mana. Sama dengan kalau gosip satu orang mulai, langsung semua orang ikut ghibah bersama-sama.
Padahal dalam agama saya ngak boleh ghibah, apa lagi fitnah. Karena "Fitnah lebih kejam dari pembunuhan". Namun dosa ghibah juga tidak kalah menyeramkan, "bagai memakan daging bangkai saudaranya sendiri."
Karena itulah kalau sudah terlalu lama gosip dan kode saya untuk berhenti tidak digubris. Biasanya saya langsung pergi keluar dengan alasan ke toilet atau cari jajanan.
Siapa kita harus bergaul merupakan pilihan. Kalau ada teman kantor atau rekan yang kurang sreg, kalian punya opsi untuk menghindari orang tersebut. Namun cukup sulit kalau tempat kerja kalian tidak memperbolehkan pergi jalan-jalan seperti satpam dan sejenisnya.
Kali ini saya pergi ke kantin untuk mencari jajan. Namun saya melihat ada murid yang tadi baru saja saya ajar. Namanya Doni, menurut saya dia cukup rajin dan perhatian saat aku mengajar.
"Eh, ada Doni. Lagi jajan apa." Tanyaku sambil memberikan tangan untuk salim
"Biasa pak. Gorengan sama es, laper" jawabnya sambil mencium tangan ku
"Jangan makan dan minum sambil berdiri ya. Sunnah nabi itu. Gak boleh makan dan minum sambil berdiri. Karena kita tidak ada bedanya dengan cara makan hewan kalau begitu."
Setelah ceramah kilat itu aku mulai Jajan Cilok telur. Karena sudah ada air di ruang guru. Aku hanya perlu membeli makanan. Pastinya aku makan setelah sampai ke ruang guru dan duduk di kursi milikku.
Cilok yang kubeli lumayan enak. Bumbunya pas dan kenyalnya enak di mulut. Sayangnya makanan ini terlalu panas sehingga harus perlahan makanya atau sering ditiup.
Sayangnya saat meniup makanan pastinya ada guru cerewet yang selalu komentar makanan jangan ditiup. Betul ini memang kurang sehat. Tapi kalau dikejar waktu mau tidak mau harus dipercepat makannya.
Setelah selesai istirahat aku melanjutkan persiapan untuk kelas selanjutnya. Semoga saja kelas kali ini akan semakin menarik dan muridnya tetap semangat.
*Bersambung
*Chapter ini cukup singkat karena sudah tidak banyak hal yang bisa dibahas dari topik ini. Chapter selanjutnya akan kembali panjangnya seperti chapter biasa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 173 Episodes
Comments
reedha
Nabi shallallahu ' alaihi wa sallam melarang dari minum sambil berdiri. ” (HR.Muslim no. 2024).
2022-08-16
8
🫧Alinna 🫧
Done, semangat author
2022-08-11
2
Arya Hafiz Saputra
ayo saran dan komentar nya
2021-06-04
0