Kedua pria remaja itu terlihat tengah menatap tajam satu sama lain dengan perbedaan tinggi yang sangat mencolok. Remaja yang di panggil Ko itu setinggi 170 cm sedangkan pria remaja berwajah bule itu mempunyai tinggi 182cm. Sungguh membagongkan tinggi nya di Tezha kawan.
"Kalau berani main tangan jangan sama perempuan. Cari lawan yang seimbang, kalau berani nya cuma sama perempuan mendingan copot tuh celana ganti sama rok tutu."
Suasana di sekitar parkiran menjadi sangat tegang kawan. Siswa dan siswi mulai bergerombol kepo ingin tahu apa yang terjadi antara si bule dan sang penguasa sekolah, lebih tepat nya orang yang sok berkuasa disana.
ggggg
"Prok Prok Prok....Wow pasangan yang sangat manis ya, cocok banget saling tolong menolong......" Remaja yang di panggil Ko itu semakin mengikis jarak pada Tezha dan Ajeng menjeda sejenak ucapan nya.
".....Tapi Aing Richo Mahendra anak dari Juragan Rendi , orang terkaya di desa ini tidak akan pernah menerima semua penghinaan dari siapa pun. Termasuk dari kamu cewek udik plus kere."
Ajeng yang merasa dirinya di tunjuk langsung oleh Richo hanya menanggapi nya dengan wajah tenang. Sabar sabar memang dia kere itu kenyataan nya, mau ngelak gimana pun emang dia kere plus udik. Tapi itu semua tidak menutupi pesona dan inerbeauty seorang Raden Ajeng Ayunda Maheswari di depan seorang Altezha.
"Situ merasa koyok asu gak , kalau gak merasa kenapa harus marah, kenapa harus tersinggung. Tapi kalau memang situ merasa ya itu mah derita anda."
Celetukan Ajeng membuat Richo semakin geram pada gadis berwajah bulat itu. Sedangkan Tezha hanya memperhatikan kelakuan gadis yang ada di samping nya itu, benar benar tidak ada takut nya sama sekali padahal si royco yang ada di hadapan mereka wajah nya sudah merah padam nahan boker, eh maksud nya nahan amarah.
"KAUU.....!"
Telunjuk besar itu berada tepat di depan wajah Ajeng, membuat gadis berwajah bulat itu berjengkit kaget.
"CEWEK KERE UDIK MISKIN BANYAK OMONG, SEHARUS NYA ENYAH SAJA DARI SEKOLAH INI. KAU GAK PANTAS BERADA DI SEKOLAH INI PAHAM!!!"
Richo berteriak lantang tepat di depan wajah Ajeng, dan mengundang banyak siswa serta siswi mengarahkan pandangan pada mereka. Namun kejadian yang tak di duga terjadi saat itu , di saat remaja lelaki yang bernama Richo itu hendak memaki Ajeng lagi belum sempat dia membuka mulut nya satu bogeman mentah mendarat tepat di hidung nya.
Bugghh....
Mereka yang melihat pun merasa kaget apalagi Ajeng yang sedang berada tepat di dekat lelaki remaja sok kaya itu. Richo jatuh tersungkur sedangkan hidung nya perlahan lahan mengalirkan darah segar yang mana membuat dia dan teman teman nya tersentak tak menduga.
"KOOO!"
"RICHOO!!"
Seruan kencang saling bersahutan ketika sang penguasa sekolah yang sok berkuasa terjungkal, terguling, terhempas kan di tanah berumput.
"Akhirnya.... Sebenar nya dari tadi aku ingin melakukan itu padamu tuan sok kaya." Ajeng yang berada tepat di dekat mereka pun sama terkejut nya,baru kali ini Ajeng melihat orang bicara begitu santai setelah memberi bogeman mentah pada orang lain.
"Heh... Denger! yang kayak itu bapak mu, seandai nya tuh si bapak tidak ngasih warisannya pada mu kau tidak akan punya apa apa. Makanya kaya lah dari hasil keringat sendiri bukan ngandelin warisan bapak mu yang katanya juragan orang terrrrkaya di desa ini. Tapi punya anak banci!"
Tezha dengan wajah songong nya berjongkok di hadapan Richo yang masih terduduk di rumput sembari mengelap darah yang terus keluar dari hidung nya.
"Richooo....Ya Ampun kok bisa kayak gini sih." Rasa terkejut mereka bertambah saat tiba tiba ada seorang siswi memeluk tubuh Richo yang masih terduduk di rumput.
Wajah gadis itu terlihat khawatir,dengan pelan dia menyeka darah yang ada di hidung Richo menggunakan sapu tangan nya.
"Kenapa bisa berantem gini sih, nanti kalau paman tahu dia bisa marah." Richo yang tadi nya menatap nyalang pada Tezha yang masih setia di samping Ajeng setelah dia bangkit dari jongkok nya. Kini menatap nyalang pada gadis yang tengah hati hati menyeka darah di hidung nya.
"Kalau kamu gak banyak omong Ayah gak bakalan tahu Nadia!"
Gadis yang bernama Nadia itu hanya mengangguk patuh seperti nya dia adalah gadis sangat penurut atau mungkin lebih tepatnya bisa di kendalikan.
"Ayo pulang, jangan ribut di sekolah nanti guru bisa tau." Saat ini Richo hanya bisa menurut pada gadis yang tengah memapah nya untuk berdiri di karena kan hidung dan kepala nya terasa sakit akibat hantaman yang di berikan oleh Tezha tadi.
"Awas sia bakalan di bales ku aing!"( awas kamu akan ku balas)
Ajeng merapatkan tubuhnya ke Tezha saat melihat mata Richo dan teman teman nya menatap tajam penuh dendam kepadanya dan Tezha .
Semua orang berseru saat melihat Richo di papah oleh satu teman nya keluar dari area parkir sedangkan teman nya yang lain sibuk memgeluarkan motor mahal mereka.
'*Huuu teu seru!!!"
'Nonjok na kurang loba'
'Aaahhh pertunjukan telah selesai kawan kawan bubar bubar!!!'
'Ihh gak nyangka nyak si bule keren pisan, berani ngelawan si Richo yang suka semena mena dan sok berkuasa."
"Ih si Ajeng aja yang sok kecentilan, palingan maneuh na yang sok cari gara gara sama Richo."
"Aaahhhkkk kalau aku mah tidak apa apa aa bule kere juga yang penting bisa memperbaiki keturunan kelak*."
Madih banyak lagi kusak kusuk yang terdengar oleh Ajeng. Aahh horak ngurus selagi itu tidak merugikan dia Ajeng akan tahan agar tangan dan mulut cantik nya tidak menonjok atau sekedar mengatai para heters nya di sini sekarang.
"Ayo pulang!" Ajeng tersentak dari lamunan nya saat tiba tiba ada sebuah tangan besar menepuk pundak nya. Dengan menghela nafas kasar Ajeng segera memundurkan sepedanya. Sedangkan Tezha bule tengil itu terlihat tengah memundurkan motor antik nya agar bisa keluar dari himpitan motor motor yang ada di sebelah kanan dan kirinya.
🌺
🌺
🌺
"Assalamualaikum....!"
"Waalaikumsallam....!"
Tezha sudah sampai rumah setelah dia diam diam mengikuti Ajeng agar sampai di rumah nya dengan selamat. Tezha tahu manusia macam Richo tidak akan main main dengan ancaman nya dia pasti akan membalas rasa malu nya pada Ajeng dan dirinya nanti.
"Lah udah pulang Zha, itu kenapa muka kamu mani kusut kayak baju yang belum di setrika."
Tezha menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu " Kok Om gak ke perkebunan, bolos ya! Aku bilangin Papih loh nanti kalo Om makan gajih buta!"
Tezha tidak mengindahkan ucapan Zae, dia malah balik mengancam sang Om
Bughh...
Sebuah bantal sofa berbentuk bunga mendarat tepat di wajah Tezha
"Sembarang kamu ngomong, Om baru pulang ini teh mau ngisi bensin dulu makan siang dulu. Emang kamu yang suka makan gajih si buta!"
Tezha berdecak mendengar ucapan Zae, dia malah bangkit dari duduk nya menyambar tas dan melenggang masuk kedalam kamar.
"Jang kaseup emak, hayuk urang tuang heula."( anak ganteng emak, ayok kita makan dulu)
Zae yang merasa terpanggil langsung menyahut seketika " Enyak mak, Zae hayang tuang." ( iya mak, Zae mau makan,)
Dengan wajah sumringah Zae berjalan menuju dapur, namun senyum nya luntur saat mendengar ucapan emak
"Lain maneh bujang kolot, tapi incu emak. Mana aya rarai nu jiga si Dewala di sebut kaseup." ( bukan kamu bujang tua, tapi cucu emak. Mana ada muka kayak Dewala( sodara cepot) di bilang ganteng)
Sungguh Zae seketika terhempas, terjungkal, terseret ,tergampar dengan kenyataan bahwa sang emak pun tidak mau mengakui ketampanan nya.
"Aahhkkk...Emang cuma Puspa yang bilang Zae ganteng, semua orang yang ada di sini mah pada rabun gak bisa lihat betapa ganteng nya seorang Zaenudin Abraham." Zae mulai dengan kealayan nya sembari menyendokan nasi serta sayur kedalam piring nya.
"Orang ganteng itu gak harus ngaku ganteng biar di sebut ganteng Om. Orang rabun juga tahu mana yang ganteng mana yang genteng, ya kan Mak."
Zae mendengus mendengar ucapan nyelekit keponakan kampret nya itu.
"Jadi kamu teh mau bilang Emak rabun gituh!"
Eehhh.....Tezha salah ngomong kayak nya ya...Sedangkan si bujang lapuk di sebelahnya terlihat angkuh mengangkat dagu nya tinggi tinggi.
"Enggak emak Ezha yang cantik, itu yang rabun mah si Abah. Iya si Abah bukan emak."
Tezha merasa salah moment melihat sang nenek menatap nya tajam. Sumpah tatapan sang nenek sama persis seperti tatapan sang mimih saat dia marah pada nya.
"Abah mah bukan rabun, tapi teu ngadele, teu nempo ".( gak ngelihat)
SINIS AMAT SIH NENG
YAKIN AA ZAE GAK GANTENG MAK, YUK URANG BELI KACA MATA KUDA DULU BIAR JELAS LIAT NYA
***JANGAN LUPA VOTE,LIKE DAN KOMEN YANG SERUUUUUU BIAR NENG OTHOR SEMANGATTTTT BIKIN CERITANYA
MAAF KALO GAJE ALUR NYA YA...
HATUR NUHUN***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Erna Masliana
ah Emak tega..Emak lebih sayang incu🤣🤣🤣🤣🤣
2024-07-06
1
Erna Masliana
kemarin 185 sekarang 182..memendek 3cm
2024-07-06
0
Alexandra Juliana
Aduh Mak tega pisan..sakitu Zae kasep jiga oppa oppa korea oge malah di sebut jiga Dewala..
2023-09-09
1