Atmosfer di ruangan itu sangat tidak bersahabat terasa panas, apa lagi tatapan tajam seorang gadis pada laki laki yang tengah di obati yang ada di hadapan nya saat ini.
"Ada apa ini sebenar nya?" Pak Bonar sekaligus wakil kepala sekolah tengah di buat bingung oleh kelakuan kedua murid nya itu.
"Ssssttttt.... Pelan pelan Mam."
Wanita yang di panggil Mam itu hanya berdecak saat dia membubuhkan obat merah dan perban di kening pria muda yang tengah meringis kesakitan. Terluka akibat hantaman botol kecap.
"Coba kau jelaskan sebenarnya ini ada masalah apa antara kau dan si bule ini Ajeng." Pak Bonar berbicara dengan logat batak nya dan menatap serius pada Ajeng yang masih menatap tajam ke arah pria muda itu.
"Londo gendeng iki nyolong ciuman ku pak!"
Ajeng benar benar tidak terima perlakuan pria muda itu pada nya saat di kantin.Benar benar pelecehan harga diri Ajeng tidak akan mengampuninya sekalipun dia sudah melayangkan satu hantaman botol kecap kaca yang ada di meja kantin di kening bule sedeng itu.
Berani berani nya dia mengambil kesempatan dalam ke dongoan nya, tak akan terampuni.
"Bah ciuman siapa maksud kau, apa nya yang di cium sampai sampai kau menimpuk nya pakai botol kecap."
"Jangan galak galak atuh pak Bonar kasian anak anak nanti pada ketakutan." Suara lemah lembut buk Asih membuat atensi pak Bonar mengarah padanya.
"Saya tidak galak buk Asih yang ehemmm..... cantik saya cuma tegas pada mereka. Sekarang jelaskan semua nya sampai detail sedetail detail nya!" Pak Bonar kembali menatap garang pada Ajeng dan Tezha sesaat setelah dia menatap lembut pada Buk Asih.
"Kita tidak ciuman pak ini hanya salah paham saja."
Brugghh...
suara hantaman di meja membuat mereka berjengkit kaget kecuali si pelaku, siapa lagi kalau bukan pak Bonar yang ter bontak.
"Nahh gituh dong ngomong dari tadi kalau salah paham.Bagaimana pula kalian ini, bikin bapak pusing saja. Tapi kenapa bisa salah paham huh."
Tezha hanya bisa menghela nafas nya, kalau bukan orang tua ingin rasa nya dia memggetok kepala pitak pak Bonar menggunakan kotak PMI.
"Pokok nya dia udah nyolong bibir saya pak! saya gak terima. Ini bukan salah paham dia sudah mengambil kesucian bibir saya secara tidak langsung. Itu pelecehan namanya." Ajeng tetap ngotot ingin Tezha mendapat balasan yang setimpal. Ya elah Jeng baru tukeran bibir di pipet udah geger aja, gimana kalau kecup kecup nya secara langsung bisa masuk pengadilan si Tezha.
"Astaga Tuhan, terus apa yang kau mau huh. Apa kau ingin si bule ini menikahi mu karena sudah mengambil keperawanan bibir mu itu begitu!!" Pak Bonar malah ikut emosi di buatnya. Oh ayolah dia juga pernah remaja seperti mereka. Tukeran bibir di pipet bukan hal yang harus di besar besar kan kecuali kalau laki laki nya memaksa nyosor duluan.
Ajeng yang mendengar ucapan Pak Bonar langsung menggeleng cepat. Sedangkan orang yang berbalut perban di dahinya itu tersenyum seakan memgejek pada Ajeng.
"Sudah bapak sudah capek bisa bisa kepala bapak tambah botak karena rambut bapak rontok akibat memikir kan ciuman di pipet itu. Sudah lah kalian keluar saja urus masalah kalian secara kekeluargaan kalau Ajeng memang tidak bisa menerimanya.Sudah sana hus hus migran bapdk kambuh lagi gara gara kalian."
Ibu Asih hanya bisa menghela nafas nya lalu mengangguk pada kedua anak murid nya itu.
Mereka bertiga keluar dari ruangan yang tidak pernah ingin mereka masuki sebelum nya.
"Sekarang kalian damai ya jangan di perpanjang lagi. Tezha kamu harus minta maaf pada Ajeng karena sudah usil pada nya. Dan kamu Ajeng, minta maaf juga pada Tezha karena sudah memukul nya hingga dia cedera."
Ajeng hanya memalingkan wajah nya ke arah lain dia enggan menatap wajah menyebalkan Si bule tengil itu.
"Ayo maafan kok malah pada diam. Kalian sudah kelas tiga SMA bukan anak SD lagi yang harus di bujuk"
"i'am sorry".
Tezha mengulur kan tangan nya tepat di depan Ajeng namun gadis itu memilih mengabaikan nya lalu pergi meninggalkan Tezha dan Buk Asih tanpa berniat membalas uluran tangan Tezha. Seperti nya Ajeng benar benar tidak terima dengan tindakan Tezha itu.
💞
💞
💞
Teeettttt.....Teeetttt....Teeetttt......
Suara bell berbunyi tiga kali, itu artinya semua warga sekolah bersiap untuk kembali ke rumah masing masing.
Di dalam kelas nya Tezha bergegas membereskan buku buku nya dan segera berlari menuju luar kelas. Dengan langkah cepat Tezha berjalan menuju kelas si gadis yang tengah marah pada nya itu. Namun sayang seribu sayang gadis itu sudah tidak ada di kelas nya. Dengan berlari kecil Tezha menuruni tangga dan berjalan menuju parkiran di mana motor antik nya itu berada.
Binggo gadis galak itu ternyata sudah ada di parkiran. Dengan wajah sumringah Tezha menghampiri nya.
"Maaf..!"
Mendengar seseorang bergumam lirih di belakang nya Ajeng pun memutar tubuhnya ke belakang. Mata nya menelisik memindai dari ujung rambut sampai ujung kaki orang yang tengah menunduk lesu di hadapan nya itu.
Ajeng menghela nafas nya kasar, mereka berdua masih saling diam saat ini.
"Jangan di ulangi lagi." Tezha mengangkat wajah nya saat mendengar suara Ajeng
"Aku minta maaf."
Ajeng menganggukan kepalanya " Jangan di ulangi lagi, bukan hanya sama aku tapi sama orang lain juga. Itu gak sopan namanya, ini Indonesia bukan di negara asal mu. Ini juga di kampung rak ilok. Pergaulan di kampung sama di kota itu beda jadi kamu harus tau dan paham ngerti!".
Giliran Tezha yang menganggukan kepalanya sekarang. Dia merasa seakan akan tengah di ceramahi sang Mimih saat ini.
"Jadi kamu udah maafin aku." Lagi lagi Ajeng menganggukan kepalanya sembari tersenyum kecil.
"Thank you."
Rasanya ingin sekali Tezha memeluk tubuh kecil gadis yang ada di hadapan nya ini. Tapi sayang dia masih ingin hidup damai di sini.
"Kamu pulang sendiri?" Tezha memilih memulai untuk berbicara pada Ajeng
"Sama sepeda." Bule tengil itu malah memggaruk pelipis nya saat mendengar ucapan Ajeng
"Maksud aku bukan itu Ayy, maksud nya kamu pulang sama siapa?"
Ajeng yang tengah mengangkat sepeda gunung nya agar keluar dari himpitan para motor pun langsung menoleh.
"Gak usah Ayy Ayy an deh manggilnya. Nanti kalo udah baper malah di ghosting."
Tezha malah terkekeh mendengar gerutuan yang keluar dari bibir tipis milik gadis itu. Ajeng yang melihat itu hanya bisa terdiam, ternyata saat terkekeh pun londo sedeng ini ganteng nya nambah berlipat lipat. Lalu matanya tidak sengaja mengarah pada kening Tezha yang terbalut kain kasa.
"Maaf ya, ini pasti sakit." Entah dorongan dari mana Ajeng menyentuh pelan kain kasa yang ada di kening Tezha.
"Tidak apa apa, aku memang pantas mendapatkan ini." Ajeng malah ikut tersenyum kecil mendengar ucapan Tezha.
"Ya itu karena aku berusaha melindungi diri aku sendiri, jadi reflek aja kebetulan ada botol kecap di sana.Coba kalau ada nya pisau mungkin tuh pisau udah nancep di jidat kamu."
Tezha malah terkekeh lagi mendengar ucapan Ajeng sembari mengacak gemas rambut nya.
"Ihhh!!! berantakan tau!!" Ajeng menggeplak tangan besar milik Tezha yang tengah mengacak ngacak rambut nya. Kalau di lihat lihat mereka seperti sepasang kekasih yang baru saja berbaikan.
"Wah wah wah lihat si bule kere sama cewek udik, cocok dah mantap pisan."
Ajeng dan Tezha yang mendengar orang berbicara di dekat mereka pun langsung mengalihkan atensi nya.
"Tempo ( lihat) Ko bule kere jeung awewe udik eker bobogohan." ( sama cewek udik/ kampungan lagi pacaran)
Ajeng dan Tezha yang mendengar ucapan serta hinaan mereka hanya diam mendengar dan melihat saja tanpa ingin membalas nya.
"Tampang doang bule gak tau nya kere huuuu, ganti motor butut nya dong kayak kita kita. Pasti gak sanggup ya beli nya haaaa."
Mereka tertawa senang seakan tengah melihat pertunjukan sirkus. Tezha terlihat tenang dan memindai satu persatu wajah wajah manusia sampah di hadapan nya ini. Baru motor seperti itu saja sudah sombong apa lagi kalau mereka punya motor yang seperti dia miliki saat di Kanada dulu. Bisa bisa kepala mereka membesar.
"Udah lah Ko kita tinggalin aja pasangan penomenal ini. Aing gatel lama lama kalo deket sama mereka."
Laki laki yang di panggil Ko oleh teman nya itu pun hanya memandang sinis pada Tezha. Ok dia boleh saja kalah tampang, tapi sayang jaman sekarang tampang bukan jaminan dan uang adalah segalanya begitu pikir nya saat ini. Bule ganteng tapi kere buat apa cewek mana yang mau dengan cowok kere termasuk bule yang ada di depan nya saat ini.
"Heh cangkemu gak pernah di ajari sopan santun yo. Lek orak pernah mrene tak ajari!"
Semua orang yang ada di sana menghentikan langkah nya saat suara geram seorang gadis yang ada di belakang mereka.
"Heh Koe sing jenenge Ko Ko Ko Royco ,masako , opo wong coco. Ajari lambene koncomu ben orak koyok wedokan, lemeszzz!! Lanang kok koyok asu!!" ( heh kamu yang namanya Ko Ko Ko royco, masako, apa wong coco. Ajari mulut teman mu biar gak kayak cewek, lemes!!!! cowok kok kayak Anj*ng)
Ucapan Ajeng yang no filter membuat orang orang yang mengerti ucapan nya pun menganga tak percaya. Kecuali Tezha, sedangkan mereka yang menghina Ajeng serta Tezha tadi menatap nya tajam. Orang yang di panggil Ko itu berbalik dan berjalan menghampiri Ajeng . Saat dia sudah berada tepat di depan gadis itu, tanpa perasaan laki laki itu melayangkan tangan nya di udara hendak menampar entah memukul Ajeng. Namun tanpa di duga satu buah tangan besar dan kekar menahan nya padahal Ajeng sudah siap memejam kan kedua matanya.
"Jangan pernah berani menyentuh nya sedikit pun."
Ajeng membuka kedua mata nya saat mendengar suara rendah penuh ancaman berada tepat di samping nya.
"Tezha.."
***JANGAN LUPA VOTE,LIKE DAN KOMEN NYA YAAAAA
HARI INI NENG UP DOUBELLLLLLLL SEMOGA BESOK BISA DOUBELL JUGA YA
HATUR NUHUN***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Ani Mak NitaAdelia
aduh visual bule Sunda gantengnya kebangetan,,neng author mah pinter banget cari visual nya🤭
2024-06-22
1
Tri Nur hasanah
wah,asu ne metu thorr🤣
iki sing nulis wong jawa apa sunda??kok iso basa loro2 ne,.
2022-07-13
1
Is Wanthi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣😂😂😂😂
2022-06-08
0