Kepergian Shena membuat Roy semakin bingung dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Disisi lain, Laura juga mendadak pingsan tanpa sebab. Untunglah, Leo bersedia langsung datang kemari dan mencari Shena. Jadi, Roy hanya berharap agar sahabatnya itu bisa menemukan Shena secepatnya, sementara ia menunggui istrinya hingga sadar kembali.
Mata elang Roy tak pernah berhenti memandang Laura sembari mengingat apa yang barusan dikatakan dokter tentang kondisi Laura saat ini. Roy sendiri tidak menyangka, Laura bakal menjadikannya pria paling bahagia di dunia ini setelah beberapa bulan menunggu. Ia bahkan berjanji pada dirinya sendiri bahwa mulai detik ini, Roy akan menjaga Laura dengan sangat baik.
“Kau sudah sadar Sayang,” ujar Roy saat melihat istrinya mulai sadarkan diri.
“Apa yang terjadi?” tanya Laura lirih, suaranya lemas tak bertenaga.
“Kau mendadak pingsan tadi.” Roy bangun dari tempat duduknya dan berbaring di samping Laura. Tiba-tiba saja, Laura teringat sesuatu.
“Bagaimana dengan Shena? Ada dimana dia? Apa kau sudah menemukannya?” Laura langsung panik karena kejadian terakhir yang dia ingat adalah Shena sedang berlari keluar kearah jalan yang salah.
“Tenanglah Sayang, Leo sedang mencari keberadaan istrinya. Kita berdoa saja supaya ia bisa segera menemukan Shena.” Roy memeluk Laura untuk menenangkannya.
Laura hanya diam dipelukan Roy, kepalanya terasa pusing ditambah lagi ia sangat khawatir pada sahabatnya mengingat Shena saat ini sedang hamil pula. “Aku harap Leo bisa menemukan Shena sebelum ia kenapa-napa.”
“Selama Leo masih hidup, tidak akan terjadi apa-apa pada Shena, Sayang. Jangan khawatirkan mereka, oke. Kalau ada apa-apa, pasti Leo menghubungiku. Kita tunggu saja kabar baik dari mereka. Sekarang istirahatlah, kondisimu juga mengkhawatirkan. Apa yang kau rasakan sekarang?” tanya Roy sambil mengecup kening istrinya.
“Pusing, tubuhku juga serasa lemas sekali.” Laura memegangi kepalanya dan Roy langsung mengambilkan vitamin yang diberikan dokter saat memeriksa Laura tadi.
“Minum ini, Sayang. Setelah itu, tidurlah! Aku akan membangunkanmu kalau Leo dan Shena datang kemari.” Roy membantu meminumkan vitamin itu dan membenahi bantal yang akan dibuat tidur istrinya. Ia sengaja tidak memberitahu Laura dulu tentang kondisinya saat ini. Roy berencana memberitahu Laura sebagai kejutan saat Leo dan Shena kembali.
***
Sementara ditempat lain, Shena mulai kelelahan, sudah lama juga ia berjalan. Shena berhenti dibawah pohon rindang untuk beristirahat sebentar dan mengamati keadaan sekitar yang teramat sangat sepi tak berpenghuni. Karena terlalu merasa bersalah pada Leo dan adik iparnya, Shena jadi tidak bisa berpikir jernih dan malah berlari kejalan yang tidak dia tahu ada dimana dia sekarang. Padahal, Shena bermaksud ingin kembali menemui Leo tapi sepertinya, saat ini Shena sedang tersesat jauh. Sepanjang tempat yang Shena lewati hanya ada hamparan perkebunan cengkeh yang entah ada berapa hektar luasnya.
“Ada dimana ini?” gumam Shena sambil mengamati sekitar. “Kenapa aku bodoh sekali, harusnya aku diam saja di rumah Laura, pasti Leo akan menjemputku.” Shena mulai menangis lagi, betapa bodohnya dia yang sudah berani meragukan cinta Leo untuknya.
Tidak mungkin seorang Leo mengkhianatinya, karena suaminya itu amatlah sangat mencintainya lebih dari apapun. Saat ini yang sedang ada dipikiran Shena hanya ingin segera bertemu dengan Leo. Memeluknya dengan erat lalu bercumbu mesra seperti yang biasa dilakukan Leo padanya.
Kenangan-kenangan indah saat melalui hari-hari bersama dengan Leo mulai terlintas dibenak Shena satu persatu. Leo yang menyuapinya setiap kali ia susah makan, Leo yang menggendongnya kemanapun ia pergi, Leo yang selalu menciumnya disetiap tempat tanpa merasa malu pada siapapun, Leo yang selalu perhatian padanya, Leo yang berlari membawakan bunga kesukaan Shena, Leo yang dengan wajah bodohnya bersedia mengantri dibarisan antrian demi mendapatkan makanan kesukaan Shena, Leo yang selalu menjaga dan melindunginya serta rela melakukan apa saja agar apa yang diinginkan Shena terpenuhi.
Masih banyak lagi hal-hal kecil yang dilakukan suami tercintanya itu untuk Shena. Namun, bisa-bisanya Shena masih sempat meragukan betapa besar dan tulusnya cinta Leo, dan semakin menangislah Shena sendirian dibawah pohon yang berada ditengah-tengah hamparan perkebunan cengkeh yang amat sangat luas meratapi kebodohannya sendiri.
“Aku benar-benar payah, sekarang harus bagaimana? Tidak mungkin Leo bisa menemukanku ditempat seperti ini. Kali ini, habislah aku!” gumam Shena masih sambil terisak sedih.
Tak berselang lama, tiba-tiba ada segerombolan orang melintas di depan Shena. Awalnya, Shena senang karena akhirnya ada orang yang datang ketempat ini sehingga gadis itu bermaksud meminta tolong supaya bisa keluar dari sini. Namun, senyumnya memudar setelah ia melihat ada seorang anak remaja laki-laki dengan wajah babak belur sedang dicengkeram erat oleh segerombolan orang yang tidak lain adalah para preman.
Gawat, mereka bukan orang baik-baik, batin Shena. Ia merasa iba pada anak remaja laki-laki itu. Anak itu sudah tidak berdaya tapi masih saja diseret paksa untuk berjalan.
Sialnya lagi, para gerombolan preman itu sudah melihat Shena yang langsung berdiri menegang menatap mereka semua. wajah Shena langsung pucat seolah tahu apa yang bakal terjadi setelah ini. Ia berusaha keras memikirkan cara untuk menyelamatkan diri meski itu sangat tidak mungkin bisa Shena lakukan karena ia sedang hamil.
Tidak mungkin Shena bisa lari dari kejaran mereka dalam kondisi seperti ini. Satu-satunya jalan yang ada adalah membiarkan dirinya tertangkap setidaknya sampai ia bisa keluar dari tempat ini, barulah ia memikirkan cara lain untuk kabur dari para preman itu. Pikir Shena yang sudah mulai membuat segudang rencana sampai Leo bisa menyelamatkannya.
“Hai Nona, apa yang kau lakukan di tempat ini?” tanya salah satu preman itu.
Shena terkejut dan sedang berpikir keras, jangan sampai preman-preman ini memanfaatkan kesempatan yang mengarah ketindak kriminalitas. “Ehm, aku sedang menunggu suamiku, dia sedang membelikan sesuatu untukku.” Shena sedikit gugup tapi ia berusaha menutupinya. Apa yang dikatakan Shena memang benar. Saat ini, ia sedang menunggu kedatangan Leo meski Shena sendiri tidak tahu apakah Leo bisa datang tepat waktu atau tidak.
Mata tajam para preman itu melihat Shena dari atas sampai bawah. Mereka semua berbisik-bisik pelan sehingga Shena tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Tapi, anak remaja yang dicengkeram salah satu preman itu masih bisa mendengar dan ia langsung memberikan kode pada Shena agar cepat kabur dari sini sebelum para preman itu menyakitinya.
Shena yang sedikit paham maksud kode dari anak itupun jadi panik. Apalagi salah satu preman itu mulai maju mendekatinya pelan-pelan sehingga Shena terpaksa berjalan mundur sambil memegangi perutnya.
“Mau apa, kau! Jangan mendekat!” sergah Shena tapi tentu saja preman tersebut tidak mengindahkan larangan Shena. “Suamiku bakal membunuhmu kalau kau sampai menyakitiku!” bentak Shena lagi karena preman itu terus saja berjalan mendekatinya.
“Oh iya? Mana ada suami yang tega meninggalkan istrinya sendirian di padang cengkeh seperti ini? Suami macam apa itu? Kau pasti sudah dibuang olehnya. Hidupmu sudah tidak ada artinya lagi, sebaiknya kau ikut saja dengan kami dan jadi budak kami. Kau juga boleh melahirkan di tempat kami dan nantinya, kau juga akan melahirkan anak-anak kami yang lainnya.” Preman itu tertawa terbahak-bahak mendengar kata-katanya sendiri.
“Apa?” Shena langsung shock berat. Preman itu benar-benar tidak tahu diri. “Beraninya kau bicara seperti itu padaku! Kalau sampai Leo tahu, habislah kalian semua! Kalian belum tahu siapa suamiku!” bentak Shena penuh emosi.
“Memangnya, siapa yang peduli? Kau milik kami sekarang, hahaha.” preman itu semakin keras tertawa diikuti tawa teman-tamannya yang ada dibelakangnya.
Shena semakin cepat berjalan mundur menghindari tangkapan preman yang sejak tadi berusaha mendekatinya. “Jangan mendekat! Berhenti disitu atau aku akan berteriak!” ancam Shena.
“Teriak saja! Tidak akan ada yang bisa mendengar teriakanmu!” gertak preman itu tak pantang mundur. Ia malah semakin cepat berjalan kearah Shena.
Akhirnya, Shena pun nekat berteriak memanggil-manggil nama suaminya walaupun ia tahu tidak mungkin Leo bisa mendengar teriaknnya. Tapi dalam hati, Shena berharap kejadian saat diperkebunan teh yang terjadi setahun lalu, bisa benar-benar membawa Leo kemari. Saat itu, Shena memanggil nama Leo dan tidak disangka, Leo beneran muncul dihadapannya. Kali ini, Shena pun berharap demikian walau ia sendiri tidak yakin seratus persen bahwa hal yang sama, bisa terjadi disini.
Namun, tidak ada salahnya bila dicoba. “Leoooo! Leooooo! Tolong aku!” teriak Shena sekencang-kencangnya sampai tenggorokannya serak. “Leooooo!” teriak Shena lagi.
Para preman itupun tertawa semakin keras mendengar teriakan Shena dan tak berselang lama, terdengar suara helikopter mendekat kearah mereka. Hembusan angin kencang dari baling-baling helikopter itupun menerjang semua orang yang ada disekitar Shena termasuk para preman-preman itu. Semuanya mendongak keatas untuk melihat siapa orang yang ada dalam helikopter tersebut.
Helikopter itupun berhenti mengudara tepat diatas Shena dan preman yang hendak mendekatinya. Sebuah tangga tali diturunkan dan Leopun muncul dari balik pintu helikopter yang ada diatas Shena dengan ciri khas gaya kerennya.
“Aku datang, Sayang! Apa kau merindukanku?” teriak Leo dengan lantang dan tentu saja membuat Shena tersenyum senang karena pahlawannya, benar-benar sudah datang.
BERSAMBUNG
***
Apa yang terjadi selanjutnya, tunggu diepisode berikutnya ya .... love you all forever.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 323 Episodes
Comments
agustin puspita
selalu keren
2023-11-18
0
Ita Rahmawati
baru kali ini baca novel keren banget aksinya...😍😍
2021-11-08
1
clararine
benar2 suami siaga leo ter segalagalanya
2021-10-29
0