Shena sedang mengamati suaminya yang sibuk ngobrol ditelepon sambil berdiri di jendela menatap sesuatu. Entah siapa yang diajak bicara oleh Leo. Kebanyakan pembicaraan mereka pasti menyangkut masalah bisnis, jadi Shena tak terlalu ingin ikut campur urusan pekerjaan Leo. Saat ini, Shena merasa jadi istri yang payah sekali karena gagal mengejutkan suaminya. Mulutnya terus saja manyun memerhatikan Leo dari belakang.
“Refald sudah memberitahuku, dia memang ada disana. Ehm ... aku tahu. Bantu dia, rahasiakan dulu semuanya. Kalau ada waktu, aku akan menemuimu, bye.” Leo menutup sambungan teleponnya.
Melihat ekspresi wajah Leo, sepertinya sedang terjadi sesuatu. Tapi sekarang Shena sedang dalam mode ngambek, jadi ia pura-pura tidak peduli walaupun ia penasaran pakai banget, ada apakah gerangan?
Nanti saja cari tahu apa masalahnya, sekarang aku ngambek dulu. Hari ini benar-benar menyebalkan sekali, batin Shena kesal. Ia pun memutuskan untuk kembali tidur dan menutup tubuhnya dengan selimut.
Saat Shena sedang bergelud dengan hati dan perasaannya sendiri, tiba-tiba dari belakang, Leo memeluk tubuhnya dan mengusap lembut perut buncit Shena.
“Mana kue ulang tahunku!” bisik Leo sambil mengecup kening Shena. Jelas- jelas Shena sedang tidak ingin bicara, tapi Leo malah bertanya padanya. Tentu saja Shena hanya diam dan tidak mau menjawab. “Kalau kau masih saja diam, maka ronde ke-9 akan terjadi saat ini juga.”
“Ambil saja sendiri diatas meja makan di lantai bawah. Ada kue sebesar ukuranmu disana,” jawab Shena sewot. “Jangan mengajakku bicara lagi, aku sedang ngambek! Dan juga ... ronde ke-9 darimana? Kita hanya main satu kali, tadi?”
“Sisanya nanti, Sayang. Akan aku selesaikan 8 ronde itu hari ini. Sekarang jadi bertambah 9 karena kau ngambek bicara.”
“Sebentar-sebentar, apa kau tidak salah berhitung? kenapa malah tambah banyak? Hah sudahlah lupakan, apa kau tidak ingin tahu kenapa aku ngambek?”
“Kenapa?” Leo masih bersikap sabar, ia malah memainkan rambut Shena. Meski Leo mengetahui alasannya, tapi ia pura-pura tidak tahu daripada ngambeknya Shena jadi bertambah parah.
Shena berbalik badan menghadap suaminya. “Aku merasa aku tidak bisa melakukan apa-apa untukmu. Kau bersikap romantis dan sweet saat aku berulang tahun, tapi ketika tiba giliranmu yang ulang tahun, aku malah mengacaukan segalanya. Kau tidak akan mengerti seperti apa perasaanku sekarang.” Entah karena kecewa pada dirinya sendiri atau karena telah gagal memberikan kejutan untuk suaminya dihari lahirnya, Shena jadi sedih dan mulai berkaca-kaca.
Sejak hamil, ia jadi lebih sensitif dan gampang sekali menangis. Kalau sudah seperti itu, Leo jadi bingung harus bersikap bagaimana pada Shena. Sebab, sikap Shena gampang sekali berubah-ubah.
“Bagaimana kalau ku belikan balon?” bujuk Leo agar Shena tidak jadi menangis.
“Memangnya aku anak kecil apa?” Shena semakin dongkol dengan bujukan Leo.
“Sejak kau mengandung anakku, kau memang kembali seperti anak kecil, Sayang. Atau ... kau mau es krim? Akan aku ambilkan untukmu.”
“Tidak mau! Aku mau mi ayam.”
“Mana ada orang jualan mi ayam jam segini, Sayang.” Leo melirik jam dinding dikamarnya. “Ini baru pukul 04.00 pagi.”
“Kau bisa membuatkannya untukku seperti waktu di Swiss dulu. Mi ayam buatanmu sangat enak. Jika kau nanti bangkrut, jualan mi ayam saja supaya aku bisa makan mi ayam setiap hari.” tiba-tiba saja Shena jadi asal bicara. Entah darimana Shena bisa punya pikiran seperti itu.
“Aku tidak akan bangkrut semudah itu, Sayang. Sampai tujuh turunan aku masih bisa menghidupimu dan semua keturunanku! Kau tidak akan pernah tahu seberapa kayanya suamimu ini.” Leo tersenyum seolah membanggakan dirinya sendiri.
“Terserahlah, pokoknya aku mau mi ayam sekarang.” Mata Shena kembali berkaca-kaca jika permintaannya ini tidak dituruti oleh Leo.
“Baiklah, tunggu disini, akan aku buatkan mi ayam kesukaan istriku yang sedang hamil anakku.” Leo tersenyum sambil mencium bibir Shena lalu ia beranjak keluar.
Saat membuka pintu, tiba-tiba ayahnya sudah ada di depan kamarnya dan membuat keget Leo.
“Kejutaaan!” teriak Byon bersama dengan Biyanca.
Ayah Leo langsung menembakkan semburan pita dan kertas kecil diatas kepala putra semata wayangnya, sedangkan ibunya membawa kue ulang tahun berukuran besar berserta lilin yang siap ditiup oleh Leo.
Shena yang sebelumnya sudah tahu bahwa mertuanya akan datang hanya tersenyum senang dari dalam kamarnya. Kejutan yang diberikan orang tua Leo ini benar-benar membuat Leo tercengang, ia tidak menyangka kedua orangtuanya masih mengingat ulang tahunnya, biasanya mereka selalu lupa.
Belum sempat Leo meniup lilin, tiba-tiba kue yang dibawa ibunya itu diserahkan paksa padanya dan langsung nyelonong masuk ke kamar Leo menghampiri Shena. Begitu pula dengan Byon. Alhasil, Leo hanya bengong karena ternyata, orang tuanya lebih suka menemui Shena daripada menunggu dirinya selesai meniup lilin kue ulang tahunnya.
“Apa-apaan mereka itu? Anaknya ulang tahun malah dtinggal gitu aja, tanpa ucapan selamat ulang tahun lagi?” gumam Leo sambil meniup lilinnya sendiri lalu meletakkan kuenya diatas meja. Meski Leo kesal, tapi ia bahagia melihat orangtuanya begitu menyayangi Shena melebihi anak kandungnya sendiri.
“Kenapa wajahmu seperti itu, Shena? Apa yang dilakukan Leo padamu? Kau habis menangis?” tanya Byon sambil terus mengamati Shena yang langsung menunduk.
Kilatan mata tajam seorang Byon langsung mengarah ke Leo. Biyanca juga ikut memerhatikan wajah menantunya dan jadi marah juga pada Leo.
“Kau apakan menantuku, Leo? Kau buat dia menangis? Apa kau mau cari mati, ha?” geram Biyanca penuh emosi, ibunya menatap tajam putranya sambil mengusap air mata Shena yang tersisa.
“Aku tidak apa-apakan dia? Sungguh, justru aku mau buatkan mi ayam untuknya. Mana mungkin aku menyakiti wanita yang sangat aku cintai dan sedang mengandung cucu kalian!” Leo membela diri.
"Lalu kenapa dia menangis?" bentak Byon.
"Ehm ... itu ...." Leo jadi bingung bagaimana menjelaskannya pada kedua orang tuanya. Nggak mungkin Leo mengatakan kalau ia habis mengajak Shena bermain bulan tertusuk ilalang.
"Jawab!" bentak Byon lagi. Sepertinya ayah mertua Shena ini benar-benar marah.
"Bulan tertusuk ilalang," jawab Leo cepat.
"Apa itu?" tanya Byon bingung.
"Masa Ayah tidak tahu? Ayah sering melakukannya dengan ibu hingga terciptalah aku."
"Apa?" teriak Byon dan Biyanca bersamaan. Mereka berdua pun saling pandang. Untung saja Byon dan Biyanca tidak punya darah tinggi, jika saja punya, mungkin mereka sudah jantungan.
"Dasar anak nggak ada akhlak? Apa cara mainmu kasar, ha? Bagaimana bisa kau membuatnya menangis seperti itu? Makan apa kau, ha?"
"Makan nasilah, masa makan rumput. Lagian aku mainnya halus sehalus sutera, Ayah. Shena tidak mungkin tersakiti, yang ada malah ... nikmat." Leo masih saja membela diri sekaligus menggoda ayah dan ibunya.
Dan benar saja, semua jawaban yang diberikan Leo, bukannya menenangkan kemarahan Byon tetapi malah membuat ayahnya semakin kesal. Hampir saja Byon melempari putranya dengan kursi kalau saja Shena tidak segera mencegahnya.
“Ayah, hentikan. Itu benar ...." sergah Shena. Tapi ia langsung sadar kalau jawabannya telah menimbulkan kesalahpahaman.
"Apa?" tanya Byon dan Biyanca kompak lagi. Mata mereka kini tertuju pada Shena.
"Ehm ... maksudku ... aku menangis bukan karena Leo menyakitiku, tapi karena aku sudah gagal memberikan kejutan ulang tahun untuknya, dan malah membuat kekacauan disini, maafkan aku.” Wajah Shena kembali terlihat sedih. Lagi-lagi, ia mulai merasa jadi istri yang tidak berguna.
“Kenapa kau minta maaf, Shena. Kau tidak salah, jangan sedih begitu Sayang, kau boleh buat kekacauan apapun yang kau mau, biar Leo yang membereskannya." Biyanca memeluk Shena untuk menenangkannya.
“Ibu, tidakkah ini keterlaluan? Disini aku yang berulang tahun, kenapa aku terus yang jadi tertuduh!” Leo mulai protes.
“Diam kau! Buat mi ayam, sana! Kalau tidak, akan aku cincang kau jadi pindang!” ancam Biyanca.
Sementara itu, Byon langsung mendorong tubuh Leo keluar ruangan sebelum putranya itu bersuara. "Turuti Ibumu, daripada kau kena lemparan sendalnya," bisik Byon. Ia merangkul bahu putranya dan membantunya membuat mi ayam yang diinginkan Shena. Leopun akhirnya luluh dan menurut apa yang dikatakan ayahnya.
BERSAMBUNG
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 323 Episodes
Comments
Silla
oh...ibu mertua idaman bat ya😍
2022-07-20
0
Silla
jadi jawabnya kek orang latah yak🤭😂😂😂
2022-07-20
0
Ita Rahmawati
hahahahaha
2021-11-08
0