Lira sedang duduk termenung di lantai dengan berpangku bantal di pahanya.
Hingga tiba tiba suara mbok Ni membuyarkan lamunan nya dari langit ketuju.
"Ra ... " panggil mbok Ni ikut duduk di samping Lira.
"Eh iya mbok hehehe lagi seru tuh acaranya sampai Lira gak ngeh mbok disini." Ujar Lira terkekeh.
"Emang bagaimana ceritanya?" Pancing mbok Ni yang sedari tadi memang melihat Lira melamun pura pura menonton TV padahal TV yang menonton Lira.
"Hehehe ... " Lira hanya nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena bingung harus menjawab apa.
"Kamu kenapa melamun?" Tanya mbok Ni lembut dan menatap mata Lira dengan intens. "Perut kamu masih sakit?" Tanya mbok Ni di balas gelengan kepala oleh Lira.
"Lira gapapa mbok, cuma lagi pengen melamun aja tadi hehe." Jawab Lira membuat mbok Ni berdecak.
"Ya sudahlah buruan tidur biar besok bisa bangun pagi. Mbok juga mau istirahat udah malam." Kata mbok Ni beranjak dari duduk nya hendak pergi ke kamar.
Setelah mbok Ni pergi, Lira kembali menyenderkan kepalanya di tembok dan memejamkan matanya.
Air mata kembali menetes kala ia teringat dengan masalah yang bertubi.
"Kenapa lo?" Tanya seseorang yang tak lain adalah Bian.
"Gapapa." Jawab Lira dingin dan kembali menutup matanya saat tadi sempat membuka sebentar.
"Butuh temen?" Tanya Bian yang merasa sepertinya Lira tidak seperti biasanya.
"Lira lagi pengen sendiri mas, lagi gak mau debat." Jawab Lira lirih.
Bian menghembuskan nafasnya pelan lalu langsung ikut duduk di samping Lira, membuat Lira langsung membuka matanya karena terkejut.
"Kan Lira udah bilang mau sendiri kenapa mas Bian ikut duduk disini." Kata Lira sedikit kesal.
"Gak usah pake mas mas lah gue bukan mas Yono kang somay di kantin." Kata Bian juga kesal.
"Kenapa sih lo, kusut amat tu muka kaya baju udah seminggu gak di setrika." Ujarnya lagi.
"Kepala gue pusing." kata Lira yang langsung menyandarkan kepalanya di bahu Bian.
"Boleh gak sih gue anggep lo temen gue sebentar aja, ilangin status pembantu sama majikan dulu ya, gue lagi butuh temen curhat." Tanya Lira lirih membuat Bian menyerngitkan dahinya.
"Kenapa?" Tanya Bian sedikit lembut dan membiarkan Lira bersandar pada bahunya.
"Fabian, lo pernah pacaran gak? eh gak perlu lo jawab gue juga udah tau kabar burung tentang playboy kaya lo." Kata Lira membuat Bian kesal namun ia berusaha menahannya karena ia tau sepertinya Lira memang sedang butuh teman ngobrol.
"Gue kan punya pacar, tapi pacar gue ngehamilin sahabat gue hiks dan minggu depan mereka mah merried, gue harus gimana Bi? Gue udah bilang bakalan dateng sama sahabat gue karena gue gak mau dia ngerasa bersalah lagi sama gue, tapi kenapa rasanya sulit banget buat gue bisa nerima ini semua ya. Gue berusaha tidak apa apa di depan sahabat gue tapi hati gue masih perih setiap kali gue lihat mereka berdua.
Makanya gue pengen banget pindah kuliah ke luar negri dan nemuin pacar baru gue si Dylan Wang, tapi orang tua gue gak ngizini gue kesana makanya gue nekad kabur dari rumah dan kerja disini. Dan lo tau Bi gara gara lo kemarin bawa gue kerumah sakit gue ketahuan sama bokap gue dan gue disuruh balik dan bawa lo kerumah, gue dikira beneran keguguran dan hamil anak elo. Kepala gue pusing Bi rasanya kaya mau pecah hiks hiks." Kata Lira tanpa sadar yang curhat tanpa di filter. Membuat Bian tertegun dan mmenyerngitkan keningnya bingung.
Deg!
Sesaat Lira langsung terdiam dalam tangisnya kala menyadari apa yang ia ucapkan barusan. Lira segera menjauhkan kepalanya daru bahu Bian dan menatap mata Bian dengan intens.
"Maksud lo apa?" Tanya Bian menatap Lira dengan tajam.
"Lupakan, gue ngantuk harus tidur besok bangun pagi." Kata Lira yanv langsung bangun dan berlari menuju kamarnya.
'Siapa lo sebenernya?' Gumam Bian dalam hati sambil matanya menatap pintu kamar Lira.
Yang jelas Lira manusia sama kaya mas Bian 🙈🙈💃💃
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Zainab ddi
papamu mau jodohin sama bian aeiel
2023-01-22
0
Ney Maniez
😲🙄🤔
2022-08-12
0
Unhy'x Erwin
🥰🥰🥰🤗
2022-05-07
0