"Loh Aiden, mana om Bian?" Tanya Tamara saat melihat Aiden tengah bermain bersama baby twin J di ruang keluarga.
"Gak tau tadi sih lagi nemuin mbak Lira." Jawab Aiden tanpa mengalihkan pandangannya dari baby twin J.
"Haiss anak itu di suruh beli biskuit ke Alpa malah nyuruh orang balik." Ucap Tamara menggerutu. "Emang dimana mbak Lira nya?" Tanya Tamara.
"Tadi sih lagi nyiram tanaman di taman." Jawab Aiden singkat.
Tamara pun segera berjalan menuju taman untuk mencari keberadaan Bian dan juga Lira, namun saat sampai di taman, Tamara tidak menemukan siapapun disana. Hanya ada selang air yang masih mengucur diantara tanaman dan bunga.
"Haiss mereka berdua malah kemana sih?" Tanya Tamara pada dirinya sendiri.
"Loh Nyonya ada apa sampai sini?" Tanya Alya yang melihat Tamara sedang celingak celinguk mencari cucunguk bungsu nya.
"Alya apa kamu melihat Bian dan juga Lira?" Tanya Tamara.
"Enggak Nya, ini saya juga lagi mau nyari Lira ... " jawab Alya.
🍂
"Mas, buruan kita puter balik sekarang, Lira gapapa Lira gak mau kerumah sakit." Ucap Lira menahan nyeri pada pinggangnya yang sepertinya terkena benturan batu.
"Gapapa gimana!" seru Bian dengan raut wajah panik. "Gue gak sengaja tadi ngerjain lo begitu gue gak mau terjadi apa apa sama lo." Katanya lagi.
"Tapi Lira gapapa mas. Ayo pulang ajaaaa." Ujar Lira menangis karena begitu susah mengajak Bian pulang dan begitu susah untuknya menjelaskan situasinya saat ini.
"Sakit banget ya? lo tenang dulu sabar sebentar lagi kita sampai ya ... " Ujar Bian yang semakin panik melihat Lira menangis dan mengira bahwa Lira sedang menahan sakit.
Beberapa saat kemudian mobil sudah sampai di halaman Rumah Sakit, Bian segera menggendong Lira dan membawanya masuk ke dalam UGD.
"Kak Maya ... " panggil Bian yang tak sengaja melihat Dokter Maya berjalan melewati lobi.
"Loh Bian, ada apa?" Tanya Dokter Maya menyerngitkan keningnya kala melihat raut wajah Bian yang panik dan khawatir ditambah tengah menggendong seorang gadis. "Siapa dia?"
"Kak tolong teman Bian." Ucap Bian panik karena melihat Lira memeluknya dengan erat dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang nya. Bian merasa bahwa Lira sangat kesakitan padahal Lira sedang menahan malu.
"Dia kenapa?" Tanya Dokter Maya.
"Ta tadi gak sengaja jatuh dan lihat." Kata Bian sambil matanya menatap ke arah bagian bawah Lira yang sudah berwarna merah.
"Astaga!" Seru Dokter Maya. "Cepat kamu bawa ke UGD!"
Dokter Maya dan Bian segera berlari menuju ruang UGD untuk segera menangani keadaan Lira.
Saat sampai di ruang UGD dokter Maya menyuruh Bian untuk menunggu di luar.
"Dok ... " panggil Lira lirih saat di dalam ruangan hanya ada dirinya dan Dokter Maya.
"Eh, kamu berbaring saja dulu biar saya periksa keadaan kamu." Ucap Dokter Maya.
"Hemm gak perlu Dok, saya gapapa beneran deh. Emang dasar si Bian aja yang lebay. Saya bingung bagaimana harus menjelaskan nya." Ujar Lira panjang lebar sambil menundukkan wajahnya karena malu.
"Ada apa? kamu bisa menjelaskan pelan pelan sama saya, apakah itu anak Bian?" Tanya Dokter Maya semakin membuat Lira terpojok.
"Hah!" Jawab Lira terkejut. "Bukan Dok bukan. itu hemm saya itu gak hamil Dok, apalagi keguguran. Lagian bagaimana saya bisa hamil kalau saya masih perawan." Ucap Lira lirih.
"Hah!" Pekik dokter Maya terkejut. "lalu ?" Dokter Maya mengernyitkan dahinya karena bingung lalu sesaat kemudian matanya membulat sempurna sambil menatap Lira yang mengangguk seolah mengerti akan tatapan nya.
"Astaga!" Ucap Dokter Maya menepuk jidat nya.
"Ya sudah kamu tunggu disini sebentar." Ucap dokter Maya lalu keluar untuk menemui Bian.
Ceklek!
"Kak Maya bagaimana keadaan teman Bian? Dia baik baik saja kan? Bayinya juga baik baik aja kan? mereka gak kenapa kenapa kan?" Tanya Bian beruntun membuat Maya berusaha mati matian menahan tawanya.
"Apa kamu ayah nya?" Tanya Dokter Maya usil.
'Entah kenapa anak keluarga Pranata pada bodoh dalam hal wanita. Astaga! Sekalian aja aku kerjain.' Gumam Dokter Maya terkekeh dalam hatinya.
"Enggak!" Jawab Bian dengan cepat. "Bian sama sekali belum pernah menyentuhnya, sembarangan kalau ngomong!" Kesal Bian tidak terima di tuduh seperti itu.
"Tapi dia bilang bahwa kamu Ayahnya." Kata Dokter Maya.
"Enggak!!!" Jawab Bian dengan cepat.
"Lalu kenapa kamu segitu paniknya?" Tanya Dokter Maya. "Dan juga kemana ayahnya?"
"Itu, emm anu kak haduh gimana ya ..." Bian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena bingung harus menjawab bagaimana pertanyaan Dokter Maya.
"Ya sudah sekarang kamu balik ambilkan baju ganti atau kamu belikan baju untuk pacar kamu, jangan lupa dalaman sama sekalian belikan pembalut juga." Ucap Dokter Maya menahan tawanya.
"Apakah dia harus menginap disini? apakah keadaan nya parah? apakah bayinya tertolong?" Tanya nya lagi beruntun.
"Pokoknya cepet kamu bawakan pesanan ku tadi secepatnya!" Seru dokter Maya.
"Yaudah sebentar, 10 menit paling lama." ucap Bian langsung berlari mengambil keperluan Lira seperti yang di perintahkan Dokter Maya.
'Astaga rasanya aku pengen tertawa sekenceng kenceng nya. Bisa bisa nya orang lagi menstruasi disangka keguguran astaga!' Gumam Dokter Maya tertawa geli melihat raut wajah panik dan khawatir Bian saat baru datang tadi.
Hay sayang2 nya mommy,,, Mommy izin dulu ya sehari besok gak Up 🙊 Sehari aja jangan kangen sama Bian dan Lira apalagi mommy hehehe GR dkit 😂💃
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Rita Novrita
ngakak wkwkwkwk...
2024-02-02
0
Devi Hikmawati
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2023-12-08
0
Farida Wahyuni
🤣🤣🤣🤣🤣
2023-05-02
0