⭐⭐⭐
Berjalan dengan menyusuri trotoar siang itu menuju sebuah rumah bercat merah. Marbella merapatkan mantelnya, menyelinapkan kedua tangannya ke saku mantel agar hangat, ini siang yang dingin di kota.
Membuka pintu kayu berpengait dan mendorongnya perlahan. Marbella menatap seraut wajah lelah seseorang yang duduk di bangku kayu menghadap lurus ke pintu.
"Selamat siang, Tuan Adam," sapa Marbella.
Marbella melangkahkan kakinya, ketukan dari tumit tumpul sepatu yang ia pakai bergema mengisi ruangan berdebu itu. Marbella berdiri di sisi walikota Adam lalu mengamati situasi sekilas.
Duduklah," ujar walikota Adam. Suaranya terdengar utuh dan serius.
Marbella duduk di kursi kayu yang tersisa.
Seorang pria tua kurus muncul dari ruangan lain membawakan sebuah gulungan coklat dan menyerahkannya pada walikota Adam.
Marbella melayangkan tatapan bertanya.
"Dia Armate," walikota Adam memperkenalkan pria tua yang baru pertama kali Marbella lihat setelah beberapa pertemuan diam-diam dengan pria nomor satu kota Ahem itu.
Armate membungkuk dan memundurkan langkahnya merapat ke dinding.
Usianya mungkin enam puluhan. Tubuh kurusnya seolah hanya dibalut kulit saja dalam balutan sweater yang dikancingkan hingga ke atas. Ia bertubuh tinggi, canggung, dan memperlihatkan sikap konservatif. Rambutnya yang klimis dibelah rapi. Rahangnya menonjol dan dia memiliki tatapan tanpa belas kasih yang biasa dimiliki oleh seorang misioner atau penganut fanatik—sesuatu seperti itu.
Tuan Adam membuka gulungan coklat itu di pangkuannya, menatapnya lamat-lamat untuk sesaat lalu menurunkannya hati-hati ke lantai.
"Ini benar-benar menantang," Marbella bergumam.
Tuan Adam menatap gadis yang telah ikut berjongkok di lantai itu sekilas.
"Sangat mirip," pikirnya, lalu mengulas seutas senyuman tipis.
Beberapa saat menganalisa lembaran yang tergelatak di lantai itu, Marbella mulai merasa tidak nyaman menyadari tatapan tajam dari pria tua yang setia menunggui mereka.
"Nah, apa maksudnya semua ini?" nada suara Marbella tajam dengan melemparkan pandangannya sekilas pada pria tua yang berdiri kaku di sisi dinding. Ia kembali mengambil posisi duduk di kursi.
Tuan Adam menggulung longgar kertas dan mengikuti Marbella untuk kembali ke kursi.
Tuan Adam memberikan kertas itu kembali pada pria tua dan mengibaskan tangannya pelan untuk isyarat pergi.
"Kita sama-sama memiliki ketertarikan pada titik di kertas tadi, Marbella, itulah maksud semua ini."
Marbella menjaga suaranya tetap tenang. "Aku tak bisa bilang pernah masuk ke sana."
"Tidak banyak yang bisa dilihat... setidaknya sampai seseorang membuka pintunya," ujar tuan Adam.
Marbella tidak ingin terpancing. “Oya!?”
Tuan Adam menggenggam jari-jarinya gelisah, melemparkan pandangan pada ruangan tempat pria tua berada.
Marbella menggerakkan urat-urat lehernya agar kedua orang itu tetap dalam jarak pandangnya.
"Dengar, Tuan, aku tidak tahu apa yang kalian benar-benar ketahui tentangku, atau kalian kira ketahui. Untuk dicatat, aku katakan saja.. aku mungkin bukanlah orang yang tepat untuk membuka pintu itu."
Tuan Adam menjawab cepat. "Kami yakin kau telah membuat kesepakatan itu secara rahasia. Kami juga telah melakukannya. Posisi kami sama rentannya denganmu. Kami memiliki keluarga, masyarakat kota Ahem dan orang-orang yang kami cintai, dan tahu sekali apa yang bisa mereka lakukan. Itu membuat kedudukan kita setara.”
Armate ikut bersuara. “Nasib kita saling bergantung. Aku tidak punya waktu. Tolong, bantulah kami.”
Marbella memandang sinis. “Menurut Tuan, apa yang bisa aku lakukan untuk kalian?”
“Kau sangat mirip dengannya, dan aku yakin kau juga sama kuat dengannya.” imbuh pria tua bernama Armate.
“Lucu, aku hanya ingat kami adalah pengendali hama tikus.” Marbella terkekeh palsu.
“Semua tahu bahwa seluruh garis keturunan Ghoyanta adalah penyihir dengan takdir pembuka batas,” pria tua Armate berucap dengan nada bergetar.
Marbella menggertakkan rahangnya kuat-kuat sampai terasa sakit. “Baik, sudah cukup. Sekarang katakan siapa kalian.”
Satu jam berikutnya, Marbella telah berada di jalanan berumput yang membentang dalam sinar jingga sore di jalanan kota Ahem. Ia meraba dadanya, tempat dimana ia menyimpan lembaran kertas coklat usang yang ia lipat sembarangan.
Beberapa kendaraan kecil yang melintas menerbangkan dedaunan rapuh ke udara senja. Marbella menghentikan langkahnya, telinganya mendengarkan dengan sangat serius sehingga kota itu seakan lenyap.
"Mantra.. mantra.. mantra... ini mantra, sial!" makinya gelisah.
Dari sisi seberang jalan tampak sesosok bayangan bergerak kearahnya. Marbella mempercepat langkahnya.
Sampai— sebuah rangkulan di pundak Marbella menghentikan semuanya.
“Halo, Marbella... aku menemukanmu.
Tidak ada kebetulan tapi tujuan.
Seseorang hanya menemukan apa yang dia cari.
Itulah alasan mengapa seseorang akhirnya bertemu dengan orang yang harus dia temukan. Setuju?” bisiknya sembari menggoreskan bilah tajam dari kukunya pada pipi mulus Marbella.
Air mata mengaliri pipi Marbella yang beku menahan perih yang teramat.
⭐⭐⭐
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
al-del
mantera nya kok sial?
2023-01-24
0
🍒⃞⃟🦅ᶠˢ 🄰🅁ₛᵢₑ💫
semangat kka berkaryanya
2022-09-15
1
Ryuuna
Curiga aing
2022-09-09
1