Terlalu percaya diri untuk menunggu sesuatu datang adalah kemunafikan terbesar dalam diri seseorang.
Aku berjalan tanpa alasan mengawasi setiap jengkal dinding seolah itu akan memakanku jika aku lengah. Sebenarnya baru beberapa minggu kami berada di sini, tapi beberapa kali pemakaian sihir telah menggulung minggu menjadi tahun-tahun yang melompat begitu saja. Merubah segalanya menjadi siklus yang tidak biasa.
“Hei—luar biasa,” kata Jiso, suaranya yang tak terduga mengguncangku dari lamunanku.
Aku berbalik untuk melihatnya, menemukan dia berkeringat dan terengah-engah saat dia berusaha agar jarak kami mendekat.
“Apa yang kau maksud?” tanyaku.
Jiso memberi waktu pada dirinya untuk mengatur napas.
“Lapor!! Saya telah melihat Marbella. Saya menemukan jalan langsung yang mengarah ke ruang tempat kucing itu berada,” jelas Jiso dengan penuh keyakinan, napasnya masih sedikit tersengal.
Aku tidak menemukan keragu-raguan dalam kalimatnya. Para tikus yang menonton terdengar riuh dalam bisikan.
“Baiklah,” jawabku dengan melangkah meninggalkan Jiso untuk kembali ke sisi lorong pribadiku.
“Kau telah mengatur semua ini dari awal, Marbi.” Aku memungut serulingku.
Aku kembali pada Jiso dan mendapati dia yang tengah memasangkan sabuk pada pinggangnya, tikus hitam itu berbadan tegap tapi tidak gemuk. Sebuah belati disisipkan di sana.
“Beberapa, ikutlah dengan kami,” seru Jiso.
Gelombang tikus bergerak mengajukan diri, tapi Jiso hanya meminta lima. Dan James memberi kendali pada mereka yang tetap harus menunggu. Jiso memimpin jalan.
Menyusuri pipa sepanjang lorong, dua atau tiga kilo meter dari tempat kami menetap selama ini, aku melihat Jiso menggerakkan tangannya agar kami mendekat. Sebuah lubang pada dinding lorong seukuran tubuh tikus dewasa terlihat.
“Saya menemukan lubang ini ketika mencari tambahan makanan untuk kita, dan saya telah melihat Marbella di ujung sana,” Jiso menunjuk ke dalam lubang.
“ Terowongan tikus, ya. Apa kau yang menggali lubang ini,” tanyaku pada Jiso.
“Tidak keseluruhannya, Tuan... lubang ini telah ada setengah pada sisi lain dinding ini. Saya menggali disini karena mendapati aroma makanan dan mencoba mendapatkan itu. Tidak menggali terlalu lama saya telah mendapati lubang terbuka yang terhubung ke ruangan Marbella dan juga ke sebuah ruangan dengan makanan yang cukup,” jelas Jiso.
“Apa lubang yang sudah terbuka itu berukuran besar?”
“Tidak, itu memiliki ukuran yang sama dengan ukuran lubang galian tikus pada umumnya, tapi saya tidak mencium aroma tikus atau menemukan jejak tikus sama sekali disepanjang lubang," jawab Jiso.
“Baiklah, petakan lokasi ini dan buat perencanaan agar kita semua dapat melewati lubang tanpa membuat kegaduhan besar. Dan aku ingin rencana kita tidak akan merubah apapun yang menjadi rencana Marbella,” instruksiku.
Jiso dan lima pasukannya mengangguk serentak, dan dengan aba-aba singkat keenam tikus itu bergerak memasuki lubang di dinding lorong.
Sepuluh menit berlalu dan tidak ada suara apapun yang keluar dari lubang di dinding, aku berusaha mengintip kedalam celah lubang tikus itu. Terlalu gelap.
Aku mengangkat seruling yang sedikit berdebu dari kantung celanaku, mengusapnya beberapa kali dengan sisi baju dan mulai memainkannya. Melodinya memasuki lorong, lubang kecil di dinding untuk mendapatkan posisi Jiso dan kelima pasukannya, tidak dekat sama sekali. Ini lima kilo meter dan masih terus menelusuri, hmmm... akan seberapa jauh lagikah? Enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
lilis herawati
mantap imajinasinya thor
2023-01-31
0
Women-Stars🍁 Al-Zha
keren ya penciuman jiso hihi
2023-01-30
0
Sensasi Senja
tikus nya doyan musik seruling juga
2023-01-18
0