"Dimana aku pernah berjumpa dengan wanita ini, James?"
"Saya tidak memiliki ingatan apapun tentangnya, maaf tidak membantumu, Mars."
"Hmm.. tidak apa," aku berusaha keras mengingat-ingat.
Rambut merah dengan bintik-bintik kecil di hidungnya sama sekali tidak terasa asing, tapi entah di mana aku pernah bertemu dia sebelumnya, dan bagaimana Marbella terlihat cukup mengenal wanita itu dan juga rumah ini cukup membuatku pusing. Banyak hal yang tidak hadir lengkap dalam ingatanku.
Sudahlah, aku lelah dan ingin tidur.
________________
Mars masih tertidur saat Marbella datang untuk mengajaknya makan. Ia terlihat pulas, Moonflower datang dengan tergesa, Marbella memberi isyarat padanya agar tidak berisik.
"Aku akan pergi keluar, kau yang bertanggung jawab untuk mereka," ucap Marbella mendekat pada Moonflower. Sebuah anggukan sebagai jawaban. Marbella pun pergi.
Moonflower berjalan pelan dan mulai mengisi meja makan dengan beragam makanan dalam gerakan pelan dan perlahan. Menaruh piring dan mangkuk satu persatu dengan kehati-hatian layaknya meletakkan pajangan berharga di museum. Lalu tersenyum puas pada hasil akhirnya.
"Menakjubkan!" ucapnya dengan merapatkan kedua tangannya puas.
Mengintip sekilas untuk memastikan keberadaan Mars dan James yang tertidur di kursi kemudian berlalu ke ruangan lain, Moonflower menghilang untuk membersihkan dirinya.
Ruangan kembali lebih sunyi, namun aroma makanan menguap memenuhi ruangan mengusik indera penciuman.
Mars mengerjapkan mata, menggeliat untuk mengendurkan otot-otot yang terasa kaku. James masih terlihat pulas dan mendengkur halus.
Mars berjalan celingukan mencari kamar kecil, panggilan alam. Sebuah pintu coklat dengan ventilasi terlihat seperti toilet atau kamar mandi. Mars mendorong pintu dengan perlahan, mendapati ruangan lembab dengan pancuran besi Mars yakin ini adalah kamar kecil yang ia butuhkan, ia melangkah masuk.
Selesai, Mars menyalakan kran untuk membasuh wajahnya dan menghilangkan sisa kantuk.
Suara sesuatu yang jatuh menghentikan Mars yang tengah membasuh wajahnya dan segera berpaling ke sumber suara. Sosok wanita dengan hidung berbintik menggunakan shower cap di kepalanya terlihat terbelalak dengan mulut terbuka yang tak bersuara menatap Mars dari bak mandinya.
Mars tertegun dengan tangan masih menempel di pipi terhenti pada gerakan usapan saat ia membasuh wajahnya.
Wajah Mars memerah karena malu.
"Oh, maaf.. a-aku, tidak melihat apapun." Mars berusaha mengalihkan pandangannya dengan canggung.
Dari ekspresi bingung di wajah pemuda itu, Moonflower sadar bahwa ia tidak mengetahui keberadaannya yang tengah berada di bak mandi. Dengan isyarat tangan perlahan Moonflower meminta Mars untuk keluar.
Mars berjalan menghadap dinding melewati Moonflower dengan melontarkan ucapan maaf pelan berkali-kali. Keluar dan kembali menutup pintu coklat itu perlahan. Mars berjalan cepat dan kembali ke kursi.
" Huuuft, oh astaga..." Mars meraih gelas dan mengisi penuh lalu meminumnya cepat.
Mars meraih buku yang tersusun beberapa buah di meja kecil di sisi kiri kursi James yang sedang tertidur. Buku itu sedikit terasa berat, Mars menggunakan kedua tangannya untuk menariknya secara hati-hati dan meletakkannya di atas meja.
Mars mencoba membuka halaman buku itu, tapi ia merasakan denyut jantungnya berpacu dan kelembapan menguap dari mulutnya. Mars kembali mengisi gelas dan meminumnya sebagian, perlahan indera penciumannya memberi kesadaran pada apa yang telah ia telan. Mars menaruh gelas perlahan dan memilih menyandarkan tubuhnya di kursi, memejamkan matanya dan berusaha keras untuk kembali tertidur. Gagal.
Mars kembali pada buku, membalik halaman demi halaman sambil berkomentar pelan dan telunjuknya yang menunjuk ke sana sini. Mars tenggelam dalam lembaran buku yang tengah ia baca, ia menemukan nama-nama asing seperti nama-nama Yunani, Spanyol, Inggris Portugis serta banyak sekali kata-kata asing dalam bahasa Cyrillic, Yahudi, China, Swahili dan Yunani. Mars hanya bisa menebak-nebak lainnya dan menggumamkan sesuatu dalam dialek Afrika.
Mars sedang merenungkan, kota macam apa yang memiliki keragaman populasi seperti ini, dan buku ini memperlihatkan jilid primitif yang menyerupai buku sihir milik Marbella.
"Buku itu berasal dari abad pertengahan," suara milik Moonflower seketika mengejutkan Mars.
Wanita itu telah duduk di kursi tunggal dan terlihat segar. Jaraknya yang tidak jauh membuat Mars dapat mencium aroma lembut vanilla yang menguar dari wanita di sampingnya.
"Ya, itulah kesanku." Mars berusaha fokus dan terlihat tenang.
"Buku ini barang istimewa, unik dan menggelitik keingintahuan." Sambung Mars.
"Kolektor suka keunikan." Moonflower menatap Mars sejenak.
Mars tersenyum kaku.
" Ayo, bangunkan James dan tikus lainnya untuk makan," ajak Moonflower. Dan ia pun bangkit menuju meja makan.
Mars membangunkan James yang telah terbangun beberapa menit lalu. James menggeliat yang dibuat-buat.
"Saya akan memanggil tikus lainnya, kau tunggulah di sana." Ucap James bersegera meninggalkan Mars.
Mars menuju meja makan dan memilih kursi terjauh dari tempat Moonflower duduk. Moonflower meliriknya sekilas dan terlihat duduk dengan tenang.
Kedatangan James dan pasukan tikus menyelamatkan Mars dari kekakuan suasana meja makan. Dalam sekejap suana kikuk berubah meriah, decitan dan celotehan terdengar riuh rendah. Makan siang berlalu dengan gembira dan semua kenyang.
"Marbella kemana?" tanya James.
"Marbella keluar untuk berbelanja," jawab Moonflower.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Women-Stars🍁 Al-Zha
si James nyari Marbella nie urusan ap itu haha
2023-03-14
0
al-del
jangan ngintip nanti bintitan ...
2023-01-17
1
🫧Alinna 🫧
Mars yg lugu dan polos 😊
2022-11-16
0