Chapter III

___

___

___

*******

Empat tahun dan kerap hampir tidak memiliki sesuatu untuk ditelan sebagai makanan, tidak ada yang tersisa selain bekas luka di beberapa bagian tubuh dan hidungnya yang sesekali mengeluarkan darah, ingus dan kadang keduanya, dan dia pintar. Dia sangat sombong saat berjalan sehingga enggan menengadahkan tangannya memohon bantuan pada siapapun.

Menuntun tanganku menyusuri setiap sudut kota demi pekerjaan atau berebut makanan yang dibagikan orang-orang kaya yang ingin dikatakan dermawan.

“Tikus busuk, ingin mencuci dosa dengan menyantuni perut kami.” Begitu ejekan Marbella setiap melihat mereka datang.

“Berdiri rapat di belakangku, Mars.” Ucapnya.

“Baik.” Sahutku dan sibuk menyingkirkan juntaian rambut yang menutupi pandanganku.

Marbella menganggap kami hanya harus pintar untuk hidup selama empat tahun di jalanan ini, terutama dengan semua geng liar dan pedagang illegal, yang artinya mereka akan menjual apa saja, termasuk kami jika kami lengah. Itu bukan belum pernah terjadi. Lebam, bibir pecah, berdarah, adakalanya kaki pincang yang ia seret berlari, Marbella selalu bertarung, kadang demi dirinya kadang demi diriku.

Ya, kami harus pintar. Kami juga harus kaya. Begitu tekad Marbella, Ini membutuhkan beberapa penjelasan panjang untukku, tetapi Marbella telah menjelajahi kota dan belajar bagaimana hal-hal bekerja dan uang, katanya, adalah kunci dari segalanya.

Dan kemudian suatu hari dia melihat anak yang tampak bodoh memainkan seruling dengan topi di depannya untuk mendapatkan uang receh, dia punya ide. Ide yang luar biasa. Itu muncul begitu saja, sekaligus.

Seruling, anak yang tampak bodoh itu telah menukar serulingnya dengan setengah kantong kain uang, dan beberapa bungkus makanan hasil kami mengantri hari itu. Ketika anak itu akan berlalu–.

Dan Marbella berkata, “Hei, kamu! Bagaimana kamu dapat dengan senangnya menerima uang kami tanpa melihat kelengkapan barang yang kami beli?” Dan berakhir dengan latihan penuh selama seminggu untukku hingga akhirnya mampu memainkan nada.

“Apakah aku harus memainkan seruling ini setiap hari, Marbi?” Tanyaku polos.

“Kita tidak akan melakukan hal bodoh itu, Mars.” Ucap Marbella yang menyunggingkan senyuman tipis di wajahnya.

___________________

“Binatang apa yang ingin kau jadikan teman, Mars?” Tanya Marbella pagi itu.

“Binatang?” Aku meyakinkan.

'Kenapa hal merepotkan ini harus terpikirkan oleh otak pintar Marbella? Apa debu jalanan membuat isi kepalanya bermasalah?'

“Apa sudah kau putuskan?” Ia kembali dengan sebuah buku coklat kecil ditangannya.

“Tikus, aku mau memelihara tikus.” Jawabku cepat. Setidaknya tikus tidak akan membuat Marbella bekerja dua kali lipat untuk memberinya makan. Aku melihat tikus-tikus itu berebut makanan dari tumpukan sampah di sudut bangunan tempat kami biasa menumpang tidur setiap malamnya kala itu.

“Apa kamu tidak dapat memikirkan binatang lain yang tidak begitu menjijikkan?” Tanya Marbella

“Tidak.” Aku sudah bertekad, dan lagi kenapa aku harus memiliki binatang sebagai teman?

“Well, tikus juga lumayan.” Gumam Marbella. Tangannya mulai sibuk membolak-balik buku ditangannya dengan hati-hati.

“Mereka ada dimana-mana, kamu akan mendapatkan banyak teman.” Seringai Marbella mengintip dari sela rambutnya yang berjuntai.

_____________________

”Kita di sini…” Ujar Marbella.

Fajar menyeruak di sela-sela pepohonan yang rapat, ketika kami melangkah memasuki hutan dan terus maju semakin dalam lalu berhenti di sisi tebing, dibawah sebuah pohon rindang yang nyaman. Lembah sungai terbentang di bawah, dengan pemandangan sebuah kota jauh di seberang tebing. Marbella terlihat memandang jauh ke sana, dan meregangkan tubuh. 

“Untuk apa kita di sini, Marbi?” Tanyaku penasaran.

Marbella memasukkan tangan ke dalam mantel yang ia pakai dan membantu seekor tikus putih keluar dari kantongnya. Aku memperhatikan tanpa bertanya. Kami, lebih tepatnya Marbella, dia menghabiskan uang yang ia kumpulkan dengan susah payah hanya untuk membeli seekor tikus putih kecil. Aku melirik tikus itu dengan perasaan menyesal.

“Apa nama kotanya, Marbi? Tanyaku sambil mengarahkan telunjuk jauh kedepan.

”Ahem... haruskah kita pergi ke sana, jika keadaan terus memburuk? balas Marbella mendongakkan kepalanya. Sinar matanya sesaat meredup.

“Hah, tidak akan lebih buruk, aku akan tumbuh cepat dan membantumu mewujudkan semuanya.” Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk melihat senyumannya kembali. Marbella adalah lampu yang tak boleh padam, atau aku akan tersesat.

Marbella terkekeh mendengar ucapanku kala itu.

“Apakah kamu siap, Mars?”. Dia mengajukan pertanyaan itu dengan lembut dengan menyentuh bahuku.

“Emmm... Ya, aku rasa.” Aku menjawab tanpa mengerti arah pertanyaanya.

“Aku akan mengajarimu sihir.” Ia menatapku dalam.

“Sihir!?”

“Ya, ini sihir keluarga, Ibu pernah mengajarkan beberapa sihir padaku ketika aku lebih kecil darimu saat ini.”

Marbella mengeluarkan sebuah gulungan kertas dan sebuah buku dari mantelnya, dan dengan hati-hati menggelar gulungan itu di tanah.

" Ini kertas yang usang, jangan sampai merobeknya.” Ucapnya.

“Dan ini buku yang lebih tua.” Tangannya membuka bagian lembaran yang memperlihatkan jilidnya yang terbuat dari tulang anak sapi yang mewah namun usang. Bagian punggung bukunya bersepuh emas tepat di bagian tengahnya.

Marbella memakai sarung tangan yang entah ia dapat dari mana seperi ahli bedah lalu membungkuk menghadap gulungan yang ia gelar.

“Baiklah, mari kita lihat apa yang bisa kita dapat hari ini,” ucapnya. ”Siapkan serulingnya, Mars!”

“Baik.” Aku memindahkan seruling dari kantong celana ke tanganku.

“Mulailah!”

“Lagu apa yang harus aku mainkan, Marbi?”

“Semua yang sudah kau pelajari dan semua nada yang kau bisa buat.” Jawab Marbella tanpa mengalihkan pandangannya dari gelaran kertas.

Aku mengangguk pelan, menghela napas bersiap untuk konser hutan pertamaku.

Sudah beberapa lagu kumainkan, dan Marbella entah mendengarnya atau tidak, ia terlihat hanya antusias dengan tulisan-tulisan di hadapannya. Aku mengambil jedah untuk bertanya, tapi baru saja aku menurunkan seruling—'

“Apa yang kau lakukan, Mars? Terus mainkan serulingmu!” Bentaknya.

Seruling kembali kuangkat dan memainkan nada sebisanya. Sesekali aku melirik Marbella yang terlihat tak akan memberikan aku waktu untuk minum sekalipun. Aku dapat merasakan denyut nadiku berpacu dan kelembaban menguap dari mulutku.

“Menakjubkan!” Tiba-tiba Marbella berseru mengejutkan. Semangatnya langsung terangkat.

“Lihat, Mars!” Marbella menunjuk tikus putih yang entah sejak kapan telah berdiri dengan dua kaki belakangnya diatas batu hitam besar didekat akar.

Aku memandang dengan ekspresi bingung di wajah, tidak mengerti apakah tikus yang bisa berdiri itu terlihat sangat menakjubkan saat ini di mata Marbella? Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

“Mars, arahkan pandanganmu sedikit ke kiri.” Ucap Marbella sambil mengarahkan dengan tatapannya. Aku mengikuti arah pandangan mata Marbella. Aku tercengang melihat puluhan tikus berdiri dengan dua kaki belakang mereka dan berbaris rapat memandang ke arah tikus putih Marbella yang kini tampak seperti sosok komandan sebuah pasukan.

“Mainkan lagi, Mars!”

“Yang mana?” Jawabku bingung.

“Yang terakhir kau mainkan, atau mainkan yang mana saja.” Balasnya cepat.

Satu tarikan nafas, dan aku kembali meniup seruling. Tiba-tiba semua tikus itu berlari cepat dan mengelilingiku.

“Terus mainkan dan jangan berhenti.” Perintah Marbella tegas.

Pikiranku terpecah, tanganku bergetar saat melihat tikus-tikus itu dari dekat seolah menonton konserku dengan khidmat. Nada yang kuhasilkan semakin tidak beraturan ketika semua tikus mulai berdecit. Tak ada penjelasan di awalnya mengenai ini, aku sedikit dilanda rasa panik. Di sisi lain Marbella tampak tersenyum puas.

Tidak kurang dari dua minggu kami tinggal di bawah pohon, sampai Marbella mengatakan bahwa aku sudah mampu mengendalikan semua tikus di hutan sekitar kami berada. Waktunya kembali ke kota.

Terpopuler

Comments

Erarefo Alfin Artharizki

Erarefo Alfin Artharizki

halo bqng blu, aku mampir bertahap ya

2023-06-13

0

🅚🅘🅘Kᵝ⃟ᴸ𝐙⃝🦜

🅚🅘🅘Kᵝ⃟ᴸ𝐙⃝🦜

Marbella pintar banget ya, aku jadi pengen diskusi sama dia deh

2023-06-03

0

꧁☠︎𝕱𝖗𝖊𝖊$9𝖕𝖊𝖓𝖉𝖔𝖘𝖆²꧂

꧁☠︎𝕱𝖗𝖊𝖊$9𝖕𝖊𝖓𝖉𝖔𝖘𝖆²꧂

saatnya beraksi, dimulai dari sihir pengendalian tikus. 😊

2023-03-27

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter I
2 Chapter II
3 Chapter III
4 Chapter IV
5 Chapter V
6 Chapter VI
7 Chapter VII
8 Chapter VIII
9 Chapter IX
10 Chapter X
11 Chapter XI
12 Chapter XII
13 Chapter XIII
14 Chapter XIV
15 Chapter XV
16 Chapter XVI
17 Chapter XVII
18 Chapter XVIII
19 Chapter XIX
20 Chapter XX
21 Chapter XXI
22 Chapter XXII
23 Chapter XXIII
24 Chapter XXIV
25 Chapter XXV
26 Chapter XXVI
27 Chapter XXVII
28 Chapter XXVIII
29 Chapter XXIX
30 Chapter XXX
31 Chapter XXXI
32 Chapter XXXII
33 Chapter XXXIII
34 Chapter XXXIV
35 Chapter XXXV
36 Chapter XXXVI
37 Chapter XXXVII
38 Chapter XXXVIII
39 Chapter XXXIX
40 Chapter XL
41 Chapter XLI
42 Chapter XLII
43 Chapter XLIII
44 Chapter XLIV
45 Chapter XLV
46 Chapter XLVI
47 Chapter XLVII
48 Chapter XLVIII
49 Chapter XLIX
50 Chapter L
51 Chapter LI
52 Chapter LII
53 Chapter LIII
54 Chapter LIV
55 Chapter LV
56 Chapter LVI
57 Chapter LVII
58 Chapter LVIII
59 Chapter LIX
60 Chapter LX
61 Chapter LXI
62 Chapter LXII
63 Chapter LXIII
64 Chapter LXIV
65 Chapter LXV
66 Chapter LXVI
67 Chapter LXVII
68 Chapter LXVIII
69 Chapter LXIX
70 Chapter LXX
71 Chapter LXXI
72 Chapter LXXII
73 Chapter LXXIII
74 Chapter LXXIV
75 Chapter LXXV
76 Chapter LXXVI
77 Chapter LXXVII
78 Chapter LXXVIII
79 Chapter LXXIX
80 Chapter LXXX
81 Chapter LXXXI
82 Chapter LXXXII
83 Chapter LXXXIII
84 Chapter LXXXIV
85 Chapter LXXXV
86 Chapter LXXXVI
87 Chapter LXXXVII
88 Chapter LXXXVIII
89 LXXXIX
90 Chapter XC
91 Chapter XCI
92 Chapter XCII
93 Chapter XCIII
94 Chapter XCIV
Episodes

Updated 94 Episodes

1
Chapter I
2
Chapter II
3
Chapter III
4
Chapter IV
5
Chapter V
6
Chapter VI
7
Chapter VII
8
Chapter VIII
9
Chapter IX
10
Chapter X
11
Chapter XI
12
Chapter XII
13
Chapter XIII
14
Chapter XIV
15
Chapter XV
16
Chapter XVI
17
Chapter XVII
18
Chapter XVIII
19
Chapter XIX
20
Chapter XX
21
Chapter XXI
22
Chapter XXII
23
Chapter XXIII
24
Chapter XXIV
25
Chapter XXV
26
Chapter XXVI
27
Chapter XXVII
28
Chapter XXVIII
29
Chapter XXIX
30
Chapter XXX
31
Chapter XXXI
32
Chapter XXXII
33
Chapter XXXIII
34
Chapter XXXIV
35
Chapter XXXV
36
Chapter XXXVI
37
Chapter XXXVII
38
Chapter XXXVIII
39
Chapter XXXIX
40
Chapter XL
41
Chapter XLI
42
Chapter XLII
43
Chapter XLIII
44
Chapter XLIV
45
Chapter XLV
46
Chapter XLVI
47
Chapter XLVII
48
Chapter XLVIII
49
Chapter XLIX
50
Chapter L
51
Chapter LI
52
Chapter LII
53
Chapter LIII
54
Chapter LIV
55
Chapter LV
56
Chapter LVI
57
Chapter LVII
58
Chapter LVIII
59
Chapter LIX
60
Chapter LX
61
Chapter LXI
62
Chapter LXII
63
Chapter LXIII
64
Chapter LXIV
65
Chapter LXV
66
Chapter LXVI
67
Chapter LXVII
68
Chapter LXVIII
69
Chapter LXIX
70
Chapter LXX
71
Chapter LXXI
72
Chapter LXXII
73
Chapter LXXIII
74
Chapter LXXIV
75
Chapter LXXV
76
Chapter LXXVI
77
Chapter LXXVII
78
Chapter LXXVIII
79
Chapter LXXIX
80
Chapter LXXX
81
Chapter LXXXI
82
Chapter LXXXII
83
Chapter LXXXIII
84
Chapter LXXXIV
85
Chapter LXXXV
86
Chapter LXXXVI
87
Chapter LXXXVII
88
Chapter LXXXVIII
89
LXXXIX
90
Chapter XC
91
Chapter XCI
92
Chapter XCII
93
Chapter XCIII
94
Chapter XCIV

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!