Siapa yang akan menyadari bahwa waktu telah bergerak sangat jauh saat waktu dihentikan oleh sihir. Melewati tahun-tahun tanpa merasa memasukinya.
Kecuali para tikus dengan kelebihannya, yang telah mendatangkan kegusaran dihati dan pikiran mereka karena kesadaran mereka yang tak pernah berkurang.
Jiso yang tidak bisa berhenti murung dan pasukannya yang akan memucat setiap angin sihir berhembus.
"Siapa yang masih mampu bertahan melawan waktu?" Gumam Jiso memandang kosong dinding coklat di seberangnya.
"Kita para tikus normalnya hanya akan bertahan hidup untuk dua tahun saja, sehingga setiap detik, menit, jam, hari, bulan adalah sangat berharga dan bisa mengubah siapa saja. Termasuk dia, Rosa."
Jiso menoleh pada Jimmy yang tengah berbicara dan memandanginya lekat.
"Apa kau menyesal karena hidup dengan jumlah tahun yang lebih banyak?" Tanya Jiso.
"Saya tidak akan mengelak dari perasaan menyesal ini, Pak... saya sama sekali belum tua tapi saya telah terlambat untuk dia, apalagi yang akan menjadi tujuan saya setelah semua ini berakhir? Pulau itu adalah tempat dimana saya ingin menghabiskan hari-hari bersama Rosa dan kalian dengan waktu yang layak untuk seekor tikus. Menghadiri pernikahan, melihat anak-anak tumbuh dan berlari, lalu .... ." Jimmy menerawang.
"Kita berbeda karena kita istimewa, dan tidak ada hal biasa untuk makhluk istimewa." Jiso tersenyum.
James melangkah mendekati dua junior berbeda generasi yang tengah berbincang itu.
"Tidak perlu jatuh ke dalam apa yang saudara kita jatuh ke dalamnya, yang menderita untuk seekor tikus ketika ledakan populasi masih di dominasi oleh para tikus. Itu jauh melebihi kemampuan makhluk yang berjumlah 7,8 miliar di dunia ini." Ucap James dalam upayanya menghibur Jimmy.
"Selain itu, tidak terlalu buruk untuk hidup sendiri. Saya bersenang-senang, setiap saat memutuskan apa yang ingin saya lakukan, dan berkat kesepian saya mengenal diri saya sendiri, sesuatu yang mendasar untuk hidup." Kali ini James terdengar seperti sedang menghibur dirinya sendiri.
Jiso dan Jimmy meringis bersamaan untuk James.
"Jangan jatuh ke dalam apa yang ayah tetanggaku jatuh ke dalamnya, yang merasa tua karena dia berusia 70 tahun, dan lupa bahwa Musa mengarahkan eksodus pada usia 80, Rubinstein memainkan Chopin tidak seperti orang lain di usia 90, Kolonel Harland David Sanders berkontribusi membangun waralaba yang mendunia pada usia 65, hmm.. itu memang lebih muda 5 tahun dari ayah tetanggaku.
Yaaa... ini hanya untuk mengutip tiga kasus yang diketahui umum." Ucapku sambil menimbang-nimbang ingatanku sendiri.
"Umm... izinkan saya bertanya Tuan Mars, apakah kau pernah tertekan untuk hal-hal seperti yang saya rasakan? Patah hati? Atau karena situasi saat ini." Tanya Jimmy ragu-ragu.
Sejenak aku memandangi tiga tikus dihadapanku. Wajah Jiso yang biasanya kaku dan garang terlihat sendu. Jimmy, tikus muda tampan, tidak ada garis tawa di wajahnya, apa ini normal? pikirku. Dan James.. tidak ada gambaran lain lagi, ia tikus putih tua yang terlihat tua. Ya, hanya tua saja.
" Usiaku saat ini adalah 17, walaupun aku tidak begitu yakin memang. Dan aku... aku belum melihat siapapun yang membuatku jatuh cinta, jadi aku rasa kalian tahu apa yang aku maksud... hmm." Aku berusaha menekan perasaan malu yang tiba-tiba menyerang.
" Dan situasi kita saat ini, aku masih bisa mengatasinya." Sambungku.
"Aku hanya sedikit tertekan dengan aroma maskulin yang terlalu kental di sepanjang lorong ini." Aku mengunci kalimat itu di kepalanya.
Aku duduk menyandarkan tubuhnya pada dinding, berusaha tidak merasakan apapun.
James berjalan mendekat pada Jimmy, menepuk pelan pundak tikus muda lesu itu.
"Jimmy, kau tidak tertekan, kau terganggu, itu sebabnya kau pikir kau kehilangan sesuatu, yang tidak mungkin, karena semuanya diberikan padamu.
Kau tidak membuat sehelai rambut pun di kepalamu sehingga kau tidak dapat memiliki apa pun.
Selain itu, hidup tidak mengambil hal-hal darimu, itu hanya membebaskanmu dari hal-hal yang tidak kau butuhkan." James menyentak isi kepala Jimmy dengan ucapannya.
Tapi itu satu lemparan untuk tiga, Jiso dan aku menunduk semakin dalam.
Tikus tua itu telah mencerahkan ketiga rekannya tanpa dikira, sehingga dalam sekejap dalam kepala tertunduk mereka terbang lebih tinggi, mencapai kepenuhan.
"Ibu saya, yang percaya bahwa kemiskinan lebih dekat dengan cinta, karena uang mengalihkan perhatian kita dengan terlalu banyak hal, dan kita menjauh... karena itu membuat kita tidak percaya siapapun dengan tulus. Berada di lorong ini entah sudah berapa lama, telah menjauhkan kita dari pengejaran terhadap uang dan menjadi dekat satu sama lain." James terlihat bijak dalam bayangan dan wujudnya.
"Bagaimana dengan Marbi, bukankah kau tahu kakakku dan uang adalah saudara kandung setelah aku." Aku menyeringai.
"Marbella hanya melakukan apa yang dia sukai dan dia selalu dipenuhi tekad. Dia yang melakukan apa yang dia sukai diberkati untuk sukses, yang akan datang ketika itu harus datang, karena apa yang seharusnya terjadi, akan datang secara alami.
Marbella tidak hanya melakukan apa pun karena kewajiban atau komitmen, tetapi karena cinta. Marbella Mencintai adiknya dan juga kita, dalam cara yang tidak biasa tapi aku mengenalnya.
Tuhan menempatkan seorang manusia yang bertanggung jawab atas Marbella, dan itu adalah dirinya sendiri. Marbella membuat dirinya bebas dan kuat, kemudian dia akan dapat berbagi kehidupan sejati dengan orang lain. Kebahagiaan untuk semua orang.
Karena itulah saya James, Mars, Jiso dan semua pasukan kita harus memahami nilai perjuangan ini, untuk memulai kebahagian dan membagikannya.
Kebahagiaan bukanlah hak tetapi kewajiban, karena jika kita tidak bahagia, kita menyakiti semua orang yang mencintai kita. Dalam sejarah seorang pria lajang yang tidak memiliki bakat atau keberanian untuk hidup, telah membunuh enam juta saudara Yahudi.
Ada begitu banyak hal untuk dinikmati dan diperjuangkan, waktu kita di dunia ini sangat singkat sehingga penderitaan hanya membuang-buang waktu." Kalimat James membangunkan apa yang perlahan tertidur di dalam hati mereka.
"Kita tidak depresi, kita menganggur." Jiso tiba-tiba bangkit, suaranya lantang menggema memenuhi lorong.
Tikus-tikus bergerak dari pose santai mereka.
“Ya, kita menganggur,” ujarku pelan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Women-Stars🍁 Al-Zha
eksodus itu apa thor?
2023-01-30
0
lilis herawati
Imajinasi author hebat.
2023-01-24
0
Sensasi Senja
ganggu tikus lagi santai aja
2023-01-18
0