Mars, bangun... hey, Mars!
Merasakan tepukan pelan di pipi dan mendengar suara yang paling aku rindukan, perlahan mataku terbuka dan mendapati wajahnya yang teduh dan tengah tersenyum menatapku.
"Marbi, kau kah itu!?" Aku mengerjapkan mataku untuk menyesuaikan cahaya yang masuk.
"Bagus, bagus. Akhirnya adikku bangun dan mengenali kakaknya." Marbella tersenyum dan menepuk-nepuk pipiku lembut.
Aku menatap sekeliling dan mendapati para tikus dalam formasi lengkap berbaris menatapku dan Marbella.
"Eh, kalian semua di sini?... eeng, bukankah...?" aku memijat pelipisku yang terasa berdenyut.
"Ayo!" Marbella mengulurkan tangan untuk menarikku bangkit.
Aku berdiri tepat di sisi Marbella tapi semua terasa sedikit tidak nyata. Saat Marbella hendak melepaskan genggaman, aku menahannya. Untuk sementara aku tidak akan melepaskan genggaman tangan Marbella. dia menatap tangan kami sejenak dan tersenyum. Menyimpan tanganku dibelakang punggungnya dan berbalik.
" Kita keluar... sekarang," ucap Marbella pada pasukan.
Para tikus saling menatap, perlahan senyuman terbit di wajah mereka dan riuh bergema. Ruangan lembab itu seketika menghangat oleh semangat dan kebahagian. Dan aku masih berselimut 'bingung'.
"Cepat sekali kau meninggi, huh," Marbella meraih puncak kepalaku dengan berjinjit.
"Benarkah? ummm... Marbi..."
"Hm..!?" ia mengangkat wajahnya menatapku.
Aku segera memeluk Marbella dengan erat, aku harus memastikan bahwa ia nyata.
Marbella membalas pelukanku.
"Bukan mimpi," ucapnya.
"Ya, seharusnya tidak." Aku mengecup puncak kepala Marbella lembut, menghirup aroma dari rambut coklatnya, memastikan bahwa ini aroma yang sama seperti yang aku kenal sebelumnya.
Aku menarik napas lega, walau keyakinan ku tidak penuh. Untuk beberapa saat aku terus memeluknya.
⭐
⭐
Malam hari, lama setelah kami berjalan menyusuri lorong meninggalkan ruang bawah tanah kota Ahem, kini kami telah berada di sebuah rumah dengan dinding kayu coklat tua, lantainya berderit halus saat mendapat tekanan.
Marbella memajukan langkahnya untuk mengetuk. Semenit kemudian, wajah yang tidak asing muncul. Seorang wanita muda, wanita itu langsung melontarkan ucapan cepat tentang pekerjaannya di dapur alih-alih mempersilahkan kami masuk, dan dalam sekejap ia telah berlari pergi meninggalkan kami di depan pintu terbuka. Aku menatap Marbella dan ia mengangkat bahunya untuk mengatakan 'entah'.
Kami semua masuk dan aku duduk di kursi kain hijau pekat sementara Marbella berjalan ke tempat asal suara wanita tadi yang terus terdengar.
Sementara, kelompok tikus telah menemukan tempat yang membuat mereka nyaman dalam sekejap dan beristirahat, kecuali tikus tua putih, James.
James duduk di kursi. Kedua tangan kecilnya tergeletak di atas pahanya dan ia mengeluh mati rasa pada kedua kakinya. Tentu perjalanan tadi tidaklah mudah bagi tikus tua sepertinya, apalagi ia sudah lama terperangkap dalam lorong bawah tanah yang lembab. Kendati tikus pada umumnya hidup pada habitat yang hampir serupa dengan lorong itu, tetapi ia telah dipaksa mengakui usia yang menjajah kemampuan bertahannya.
"Sepi sekali, kemana yang lain?" suara wanita yang sosoknya tiba-tiba muncul di hadapan kami membuatku terhenyak. Ia terkekeh menyadari keterkejutan ku.
"Yang lain sedang beristirahat," James memberikan jawaban.
"Ooh, aku menyimpan satu setengah liter wassail dan sebotol wine tua Cyprus aku rasa itu akan cukup untuk semua," wanita itu meletakkan sebuah mug kaca besar juga sebuah botol di meja dan mengambil beberapa gelas dari bawahnya.
[Wassail: Minuman rempah tradisional yang umum dihidangkan saat perayaan, wassail kadang dibuat dalam resep beralkohol.]
James dan aku saling memandang untuk sesaat, dan wanita itu memergoki kami.
"Heh, jangan berpikir aku ini seorang pemabuk, aku hanya sesekali mengunjungi toko minuman dan beberapa membuatku tertarik untuk membelinya... yah, sekedar mencicipinya... sedikit," ia menjelaskan panjang lebar seolah menjawab isi pikiran kami.
Aku hanya mengangguk-angguk dan tersenyum canggung, sementara James tersenyum dengan aneh.
"Baiklah, aku kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaanku. Anggap rumah sendiri," ucapnya sembari berlalu.
"Dia terlihat berusia tidak jauh darimu, Pak. Tapi sepertinya ia tak peduli apa kata buku pelajaran tentang kecanduan dan pantangan," seloroh James.
"Umm.. James, bisakah kau berhenti memanggilku 'pak'?
"Kenapa, Pak? Bukankah ini panggilan yang sudah lama saya gunakan dalam komunikasi kita?" wajah James terlihat heran.
" Rasanya akan lebih nyaman jika kita saling menyebut nama saja, aku ingin suasana yang tidak menekan," ujarku.
James mengangguk pelan. Kesepakatan kecil telah tercapai.
Wanita tadi kembali muncul dengan membawa sepiring penuh semangka yang dipotong kotak-kotak, meletakkannya di meja dan mempersilahkan kami untuk memakannya. James terlihat bersemangat.
"Moonflower," wanita itu menjulurkan tangannya padaku.
Aku menghentikan tanganku dengan semangka di depan mulutku yang terbuka dan menatapnya.
"A-apa!?" tanyaku memastikan.
"Namaku Moonflower, siapa namamu? Kita belum sempat berkenalan saat berjumpa dulu," ucapnya dengan kembali menyodorkan tangannya padaku.
Aku meletakkan semangka ku segera dan menyambut uluran tangannya.
"Mars," balasku.
"Ok, Mars.. aku kembali ke dapur," ucapnya sambil berlari kecil meninggalkan ruangan.
Aku masih terbengong, James menatapku.
"Namanya Moonflower," bisik James padaku dari kursinya dan kami berdua menutup mulut menahan tawa sampai lelah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Women-Stars🍁 Al-Zha
lah kok bisa, emgnya Marbella gk nyata apa??
2023-03-14
0
lilis herawati
pasti berat jika berpisah
2023-01-31
0
al-del
minum obat...🤭
2023-01-17
0