Chapter V

"Pulau tanpa manusia atau kucing akan menjadi tempat yang bagus," gumam Jiso. 

Marbella tidak membiarkan senyumnya memudar, meskipun dia tahu apa arti kucing. 

"Dan kami tidak ingin menghalangi Marbella dari pekerjaan barunya yang luar biasa dengan tukang sulap," ucap Jae.

Mata Marbella menyipit. Untuk sesaat dia hampir saja melanggar aturan besinya untuk tidak memakan siapa pun yang bisa berbicara. 

"Bagaimana denganmu, Mars?" katanya sambil menatapku yang masih sibuk memoles seruling. 

"Aku tidak keberatan," jawabku melempar pandangan padanya sekilas.

“Tidak keberatan apa?” tanyanya. 

"Tidak apa-apa, sungguh," aku berusaha meyakinkan. "Asalkan tidak ada yang menghentikan ku bermain dan membaca."

“Tapi kau harus memikirkan masa depan!” sambungnya dengan nada datar.

“Aku?” ucapannya membuatku terpana. “Aku ingin terus memainkan musikku di masa depan. Tidak ada biaya apapun untuk bermain. Mungkin ada sedikit untuk buku.”

Marbella menatap tajam padaku untuk melihat apakah aku sedang membuat lelucon, tetapi aku belum pernah melakukan hal semacam itu sebelumnya. Dia menyerah. Yah, tidak sepenuhnya menyerah. Marbella tidak sampai ke tempatnya dengan menyerah pada masalah. Dia hanya menempatkannya di satu sisi. Bagaimanapun, selalu ada sesuatu yang muncul. Aku berusaha mengabaikan itu untuk saat ini.

“Oke, baiklah,” katanya. “Kita akan melakukannya sekali lagi dan membagi uang dengan tiga cara. Baik. Bukan masalah. Tapi jika ini akan menjadi yang terakhir kali, mari kita buat untuk diingat, eh?” Dia menyeringai. 

Tikus, sebagai tikus, tidak tertarik untuk melihat penyihir yang bisa berubah menjadi kucing menyeringai, tetapi mereka mengerti bahwa keputusan yang sulit telah dibuat. 

Mereka menghela napas lega. “Apakah kau senang dengan itu, Mars?” ujar Marbella dengan memangku tangannya memandang kearah ku.

 “Aku bisa terus memainkan serulingku setelah itu dan membaca?” tanyaku sekenanya.

 “Benar.”

“Oke,” balasku.

Uang itu, berkilau seperti matahari dan bersinar seperti bulan, dengan sungguh-sungguh dimasukkan kembali ke dalam tasnya. Tikus menyeret tas ke bawah semak-semak dan menguburnya. Tidak ada yang bisa mengubur uang seperti tikus, dan tidak ada gunanya menghabiskan terlalu banyak uang di kota.

Lalu ada kudanya. Itu adalah kuda yang berharga, dan Marbella sangat, sangat menyesal telah melepaskannya. Tapi, seperti yang dikatakan Jae, itu adalah kuda perampok, dengan pelana dan kekang yang sangat indah. Mencoba menjualnya di kota bisa berbahaya. Orang-orang akan berbicara. Mungkin menarik perhatian pemerintah.

Ini bukan waktunya untuk menempatkan Jam pasir di belakang mereka. 

Marbella berjalan ke halaman dan melihat ke jauh ke sekeliling, yang sedang bangun di bawah matahari terbit. "Kalau begitu, mari kita jadikan ini yang besar, eh?" katanya, saat para tikus kembali.

“Kami pikir mengotak-atik barang tidak benar-benar-” James memulai.

“Uhuk!”sela batuk buatan Jae, dan James melanjutkan: “Oh, saya kira, jika ini terakhir kali…” ia kehilangan kata-katanya.

"Saya telah mengabaikan segalanya sejak saya keluar dari sarang," lanjut Jiso. “Sekarang mereka memberi tahu bahwa itu tidak benar. Jika itu yang dimaksud dengan berpikir, saya senang saya tidak melakukan apa pun.”

“Mari kita biarkan mereka takjub,” kata Marbella menyemangati dirinya dan kami juga.

“Tikus? Mereka pikir mereka pernah melihat tikus di kota itu? Setelah mereka melihat kita, mereka akan mengarang cerita.” semangat Jiso terbakar.

_______________

Tuan Jhonatan punya banyak teman di pulau ini. Keramahannya selalu dipahami sebagai kebaikan hatinya ditambah dengan berbagai perjamuan yang sering ia adakan untuk menyambut kedatangan siapapun yang dianggapnya penting.

Dari sebuah perjamuan bersama Tuan Benny lah rencananya ini dimulai. Dan itu rencana yang bagus. Tuan Benny memberikan usul untuk memindahkan wabah tikus ke kota Ahem, dan mereka membuat rencana licik yang rinci secara bersama. Dari sanalah awal surat itu datang.

Bahkan tikus, bahkan aku, harus mengakui bahwa itu berhasil. Semua orang tahu tentang wabah tikus. Ada banyak cerita terkenal tentang pengendali tikus, yang mencari nafkah dari kota ke kota menyingkirkan wabah tikus. Tentu saja tidak hanya ada wabah tikus - terkadang ada wabah ulat, teror surat kaleng, atau ikan - tetapi itu adalah tikus yang diketahui semua orang.

Sebenarnya tidak membutuhkan banyak tikus untuk wabah, tidak jika mereka tahu bisnis mereka. Seekor tikus, muncul di sana-sini, mencicit keras, merusak simpanan padi dan melubangi kantong-kantong penyimpanan warga, beberapa ekor saja bisa menjadi wabah di sebuah kota.

Setelah beberapa hari ini, sungguh menakjubkan betapa senangnya orang-orang melihat anak muda dengan pipa tikus ajaibnya. Dan mereka takjub ketika tikus-tikus keluar dari setiap lubang untuk mengikutinya ke luar kota. Mereka sangat kagum sehingga mereka tidak terlalu peduli dengan kenyataan bahwa hanya ada beberapa puluh tikus. Mereka akan sangat kagum jika mereka tahu bahwa tikus dan aku bertemu dengan kucing penyihir di suatu tempat di semak-semak di luar kota, dan dengan sungguh-sungguh menghitung uangnya.

Dan rencana sempurna Tuan Jonathan tidak mengetahui jika kami tidak akan memindahkan tikus seperti yang dimintanya, hanya membuatnya terlihat seperti yang ia inginkan.

Kami sungguh tidak butuh mengangkut wabah dari kota lain ke ke kota Ahem, kami akan membuatnya sederhana, kami akan datang sebagai wabah dan mendapatkan bayaran besar seolah telah mengangkut ribuan tikus dari berbagai penjuru menuju kota Ahem. Pekerjaan besar untuk bayaran besar. Ini akan menjadi pesta diakhir karir.

Kota Ahem. Sepertinya hari ini adalah hari pasar, tapi tidak banyak warung dan kebanyakan menjual, yah, rongsokan. Wajan tua, panci, sepatu bekas… hal-hal yang harus dijual orang saat mereka kekurangan uang.

Marbella dan aku telah melihat banyak pasar, dalam perjalanan kami melewati kota-kota lain, dan kami tahu bagaimana mereka harus pergi.

“Harusnya ada wanita gemuk yang menjual ayam,” ujar Marbella.

"Dan orang-orang yang menjual manisan untuk anak-anak, pita, juga atraksi badut. Bahkan pemain sulap, jika kau beruntung.” tukas ku.

“Tidak ada yang seperti itu. Hampir tidak ada yang bisa dibeli,” aku menatap sekeliling dengan sedikit kecewa. "Kupikir kau mengatakan ini kota yang kaya, Marbi."

"Yah, kelihatannya kaya," ujar Marbella menerawang.

“Semua ladang besar di lembah itu, semua perahu di sungai itu ... kau akan mengira jalanannya akan dilapisi dengan emas!” Marbella mempercepat langkahnya.

“Lucunya,” kekehku.

“Apa?”

“Orang-orang terlihat miskin,” ucapku.

"Bangunannya yang terlihat kaya." Sahut Marbella didepanku.

“Aku tak memiliki simpati lagi untuk kota ini.” Aku memandang sinis kesekitar.

"Sudah kubilang ini akan menjadi yang terbesar," kata Marbella dengan riang. "Kita akan duduk di atas tumpukan emas sebelum minggu ini berakhir! Kita akan jadikan kota ini rumah tikus.”

“Apa rumah tikus?” tanyaku dengan ragu.

“Semua bangunan bagus ini bisa menjadi rumah bagi tikus, bukan?” sahut Marbella tak peduli.

“Dan mengapa semua orang menatapmu?” Aku melirik tak senang pada barisan pemuda yang duduk dan berdiri di sepanjang jalan yang kami lewati.

"Aku gadis yang cantik," bisik Marbella menghampiriku.

Meski begitu, itu sedikit mengejutkan. Orang-orang saling menyenggol dan menunjuk ke arahnya.

"Kamu pasti mengira mereka belum pernah melihat gadis cantik sebelumnya," gumamku sambil menatap gedung besar di seberang jalan.

Itu adalah bangunan persegi yang besar, dikelilingi oleh orang-orang, dan papan nama bertuliskan: AHEM. Ini balai kota.

"Sungguh hanya ditulis sebagai Ahem tanpa tambahan kalimat lainnya, lucu. Kedepannya itu ditambahakan kata 'Rathouse'.” Marbella tertawa dengan menundukkan wajahnya.

“Kamu benar-benar tahu banyak kata, Marbi,” ujarku dengan memasang raut kagum.

"Terkadang aku membuat diriku takjub," sahut Marbella dan melemparkan senyuman usilnya.

“Selanjutnya apa, Marbi? Kita sudah berjalan cukup jauh di kota ini.”

Marbella menghentikan langkahnya dan memandangi antrian orang-orang yang berdiri di depan salah satu pintu besar yang terbuka. Mereka semua membawa roti.

“Apakah kita harus mengantri juga?” tanyaku.

“Menurutku tidak," kata Marbella hati-hati.

“Kenapa tidak?”

“Lihat orang-orang di pintu itu? Mereka terlihat seperti penjaga. Mereka punya pentungan besar. Dan semua orang menunjukkan kepada mereka secarik kertas saat mereka lewat. Aku tidak suka tampilan itu, 'kata Marbella. "Bagiku itu terlihat seperti pemerintahan."

"Kita tidak melakukan kesalahan apa pun," ujarku. "Lagipula tidak di sini saat ini."

“Kau tidak pernah tahu, dengan pemerintah. Duduk saja di sini, Mars. Aku akan melihatnya.”

Orang-orang memang melihat Marbella ketika dia berjalan ke dalam gedung, tampaknya di kota gadis cantik cukup populer. Aku tersenyum tipis menyaksikan itu. Seorang pria terlihat berbincang formal dengan Marbella.

Marbella berbalik memandangi antrian berbelit-belit menuju aula besar dan lewat di depan meja penyangga yang panjang. Di sana, setiap orang menunjukkan selembar kertas mereka kepada dua wanita di depan nampan besar roti, dan diberi sedikit roti. Kemudian mereka pindah ke seorang pria dengan tong berisi sosis, dan mendapatkan sosis yang jauh lebih sedikit. Menjaga semua ini, dan sesekali mengatakan sesuatu kepada pelayan makanan, adalah walikota Ahem, Tuan Adam.

Marbella langsung mengenalinya karena dia memiliki rantai emas di lehernya. Dia telah bertemu banyak walikota sejak bekerja dengan tikus. Yang ini berbeda dari yang lain. Dia lebih kecil, rautnya jauh lebih khawatir, dan memiliki titik botak yang dia coba tutupi dengan tiga helai rambut. Dia jauh lebih kurus daripada walikota lain yang pernah dilihat Marbella.

Jadi… makanan langka, pikir Marbella. Mereka harus menjatahnya.

Dia keluar lagi, tetapi kali ini sedikit lebih cepat, karena dia menyadari bahwa seseorang sedang memainkan musik. Itu, seperti yang Marbella takutkan, aku. Aku meletakkan topi di tanah di depanku, dan mengumpulkan beberapa koin dan satu atau dua anak kecil benar-benar menari.

Dan orang-orang mengetukkan kaki mereka ketika mendengar alunan nada. Mereka tersenyum sebentar. Marbella menunggu sampai aku menyelesaikan lagunya. Sementara kerumunan bertepuk tangan, dia menyamping kebelakang ku, menyentuh bahuku dan mendesis, “Bagus sekali, ikan-untuk-otak! Kita seharusnya tidak mencolok. Ayo, pergi. Oh, ambil uangnya juga.”

“Dia memimpin jalan melintasi alun-alun sampai dia berhenti begitu tiba-tiba sehingga aku hampir menginjak kakinya. "Ups, waktunya pulang," katanya.

Terpopuler

Comments

Rina_Ibnu_Hajar

Rina_Ibnu_Hajar

mantap ceritanya kak

2023-04-05

1

꧁☠︎𝕱𝖗𝖊𝖊$9𝖕𝖊𝖓𝖉𝖔𝖘𝖆²꧂

꧁☠︎𝕱𝖗𝖊𝖊$9𝖕𝖊𝖓𝖉𝖔𝖘𝖆²꧂

bisnis yg sangat menguntungkan 👍

2023-03-29

1

𝐀⃝🥀Jinda🤎Team Ganjil❀∂я🧡

𝐀⃝🥀Jinda🤎Team Ganjil❀∂я🧡

miskin penampilan tapi bangunan nya terlihat mewah ya. penampilan tidak seperti yang kita duga. penampilan miskin tapi ternyata kaya raya. yang kaya ternyata miskin juga banyak hihi

2023-03-21

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter I
2 Chapter II
3 Chapter III
4 Chapter IV
5 Chapter V
6 Chapter VI
7 Chapter VII
8 Chapter VIII
9 Chapter IX
10 Chapter X
11 Chapter XI
12 Chapter XII
13 Chapter XIII
14 Chapter XIV
15 Chapter XV
16 Chapter XVI
17 Chapter XVII
18 Chapter XVIII
19 Chapter XIX
20 Chapter XX
21 Chapter XXI
22 Chapter XXII
23 Chapter XXIII
24 Chapter XXIV
25 Chapter XXV
26 Chapter XXVI
27 Chapter XXVII
28 Chapter XXVIII
29 Chapter XXIX
30 Chapter XXX
31 Chapter XXXI
32 Chapter XXXII
33 Chapter XXXIII
34 Chapter XXXIV
35 Chapter XXXV
36 Chapter XXXVI
37 Chapter XXXVII
38 Chapter XXXVIII
39 Chapter XXXIX
40 Chapter XL
41 Chapter XLI
42 Chapter XLII
43 Chapter XLIII
44 Chapter XLIV
45 Chapter XLV
46 Chapter XLVI
47 Chapter XLVII
48 Chapter XLVIII
49 Chapter XLIX
50 Chapter L
51 Chapter LI
52 Chapter LII
53 Chapter LIII
54 Chapter LIV
55 Chapter LV
56 Chapter LVI
57 Chapter LVII
58 Chapter LVIII
59 Chapter LIX
60 Chapter LX
61 Chapter LXI
62 Chapter LXII
63 Chapter LXIII
64 Chapter LXIV
65 Chapter LXV
66 Chapter LXVI
67 Chapter LXVII
68 Chapter LXVIII
69 Chapter LXIX
70 Chapter LXX
71 Chapter LXXI
72 Chapter LXXII
73 Chapter LXXIII
74 Chapter LXXIV
75 Chapter LXXV
76 Chapter LXXVI
77 Chapter LXXVII
78 Chapter LXXVIII
79 Chapter LXXIX
80 Chapter LXXX
81 Chapter LXXXI
82 Chapter LXXXII
83 Chapter LXXXIII
84 Chapter LXXXIV
85 Chapter LXXXV
86 Chapter LXXXVI
87 Chapter LXXXVII
88 Chapter LXXXVIII
89 LXXXIX
90 Chapter XC
91 Chapter XCI
92 Chapter XCII
93 Chapter XCIII
94 Chapter XCIV
Episodes

Updated 94 Episodes

1
Chapter I
2
Chapter II
3
Chapter III
4
Chapter IV
5
Chapter V
6
Chapter VI
7
Chapter VII
8
Chapter VIII
9
Chapter IX
10
Chapter X
11
Chapter XI
12
Chapter XII
13
Chapter XIII
14
Chapter XIV
15
Chapter XV
16
Chapter XVI
17
Chapter XVII
18
Chapter XVIII
19
Chapter XIX
20
Chapter XX
21
Chapter XXI
22
Chapter XXII
23
Chapter XXIII
24
Chapter XXIV
25
Chapter XXV
26
Chapter XXVI
27
Chapter XXVII
28
Chapter XXVIII
29
Chapter XXIX
30
Chapter XXX
31
Chapter XXXI
32
Chapter XXXII
33
Chapter XXXIII
34
Chapter XXXIV
35
Chapter XXXV
36
Chapter XXXVI
37
Chapter XXXVII
38
Chapter XXXVIII
39
Chapter XXXIX
40
Chapter XL
41
Chapter XLI
42
Chapter XLII
43
Chapter XLIII
44
Chapter XLIV
45
Chapter XLV
46
Chapter XLVI
47
Chapter XLVII
48
Chapter XLVIII
49
Chapter XLIX
50
Chapter L
51
Chapter LI
52
Chapter LII
53
Chapter LIII
54
Chapter LIV
55
Chapter LV
56
Chapter LVI
57
Chapter LVII
58
Chapter LVIII
59
Chapter LIX
60
Chapter LX
61
Chapter LXI
62
Chapter LXII
63
Chapter LXIII
64
Chapter LXIV
65
Chapter LXV
66
Chapter LXVI
67
Chapter LXVII
68
Chapter LXVIII
69
Chapter LXIX
70
Chapter LXX
71
Chapter LXXI
72
Chapter LXXII
73
Chapter LXXIII
74
Chapter LXXIV
75
Chapter LXXV
76
Chapter LXXVI
77
Chapter LXXVII
78
Chapter LXXVIII
79
Chapter LXXIX
80
Chapter LXXX
81
Chapter LXXXI
82
Chapter LXXXII
83
Chapter LXXXIII
84
Chapter LXXXIV
85
Chapter LXXXV
86
Chapter LXXXVI
87
Chapter LXXXVII
88
Chapter LXXXVIII
89
LXXXIX
90
Chapter XC
91
Chapter XCI
92
Chapter XCII
93
Chapter XCIII
94
Chapter XCIV

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!