Di luar, di tengah hujan yang mulai mengguyur deras, terdengar ringkik kuda. Kemudian terdengar suara kaki berlari. Dan sebuah suara dari kegelapan berkata, “Apakah ada dukun atau orang sakti di sana!?”
Aku beradu pandang dengan Marbella dengan bingung. “Tidak?” Jawabku, jenis 'tidak' yang berarti “kenapa kamu bertanya?”
"Bagaimana dengan penyihir?" kata suara itu.
“Tidak, tidak ada penyihir,” jawabku lagi.
“Baik.” Ada jeda lagi yang dipenuhi hujan.
“Oke, vampir?”kata suara itu lagi.
“Ini malam yang basah, tentu vampir tidak ingin terbang dalam cuaca seperti ini, bukan? Ada vampir di sana?” nadanya memastikan.
“Tidak!” Jawabku sekali lagi.
“Ya ampun,” gumam Marbella, dan mulai merangkak ke bawah kursi menuju ruang pengintai dilantai.
“Itu melegakan,” kata suara itu lagi. Sedetik berlalu dan sebilah pedang menyelinap diantara dua daun pintu yang tak terkunci dan didorong, dan suara itu berkata, “Uang dan hidupmu. Ini kesepakatan dua-untuk-satu, paham?”
"Uang ada di kotak di lantai atas," terdengar suara Marbella dari lantai.
Pria berperawakan sedang itu melihat sekeliling ruangan yang redup dengan nyala lilin yang bergoyang tertiup angin.
“Siapa yang berbicara?” Dia bertanya.
“Emm... Aku.” Sahutku cepat.
“Aku tidak melihat bibirmu bergerak, Nak!”
“Uang ada di lantai atas. Tapi jika aku jadi kau, aku tidak akan– ”
"Hah, aku hanya berharap kau tidak akan melakukannya," potong perampok itu.
Wajah bertopengnya menghilang dan mulai menapaki anak tangga. Aku mengambil bambu berlubang yang tergeletak di kursi. Itu jenis seruling dengan batang bambu yang bewarna gading.
"Mainkan! "Perampokan dengan kekerasan", Mars.” kata Marbella dengan pelan.
"Tidak bisakah kita memberinya uang?" Sahutku dengan sunggingan senyum.
“Uang adalah untuk diberikan kepada kita," kata Marbella dengan tegas.
Di lantai atas, terdengar suara seperti sesuatu yang diseret ke bawah. Marbella memukul lantai dengan tangannya, memandangiku dengan perintah. Aku dengan patuh mengambil seruling dan memainkan beberapa nada.
Sekarang ada sejumlah suara dari lantai atas. Ada derit, bunyi gedebuk, semacam suara decitan dan kemudian teriakan-teriakan singkat pria perampok itu.
Saat ada keheningan dari lantai atas, ku turunkan seruling ke sisi paha kanan dan menarik napas perlahan. Marbella naik kembali dan duduk di kursi, menjulurkan kepalanya memandang ke lantai atas. “Pria yang malang,” ujarnya.
“Apa kau ingin melihatnya Marbi?” Tawarku.
“Baik. Majulah, aku ingin mengekor dibelakangmu saja. Tapi hati-hati, ya? Kita tidak ingin ada yang panik, bukan?” Marbella mulai menempeli punggungku dan tangannya meraih lenganku.
Perampok itu muncul kembali dalam cahaya yang temaram. Dia berjalan sangat lambat dan hati-hati, kakinya tampak tidak baik-baik saja dengan banyak bekas gigitan dan cakaran, dan itu juga terlihat disebagian besar badan dan wajahnya yang kini tidak ditutupi topeng lagi, puluhan binatang pengerat itu bergerak pelan di dalam celana dan baju perampok itu. Bau amis darahnya menyeruak menyerbu hidungku. Dan dia diam-diam merintih.
“Ah, lihat dia!” Seru Marbella dengan riang.
Pria perampok itu tersentak kaget mendapati kami. “Kau! Penyihir busuk.” Suaranya bergetar.
“Apa paman perampok sudah bertemu peliharaan kami?” Tanya Marbella dengan wajah yang dibuat polos.
Perampok itu mengangguk sangat lambat. Lalu matanya menyipit. “Kau seorang penyihir?” Dia bergumam.
Marbella memutar matanya “Apakah Paman mengatakan sesuatu?” Marbella bertanya dengan mengangkat dagunya.
Wajah pria itu menjadi kosong dan tertunduk.
“Ah, cepat belajar, aku suka itu dari perampok,” ujar Marbella.
“Apa rencanamu selanjutnya, Paman?” Marbella mengalihkan pandangannya ke tangga.
“Kabur,” jawab perampok itu dengan suara serak.
Marbella menjulurkan kepalanya melongok ke jendela. “Bagaimana menurutmu?” dia berkata. “Paman perampok ini memiliki dua kuda yang menarik keretanya, mungkin ada beberapa barang berharga di tas dan keretanya... bisa jadi, oh, seribu Sickle atau lebih.” Marbella menebak dengan wajah berbinar dan melompat kecil diatas kakinya.
“Ingin memeriksanya?” Tanya Marbella.
Aku kembali memandangi raut pria yang masih meringis memegangi tungkai kakinya itu. Pria itu mendengus kasar.
"Itu mencuri, Marbi," ujarku.
“Seperti itu tidak dapat dikatakan mencuri, Mars.” jawab Marbella ringan.
“Ini... menemukan, pengemudinya kabur, jadi seperti… penyelamatan. Marbella berjalan seolah berpikir. Hei, itu benar, kita bisa menyerahkannya sebagai hadiah. Itu lebih baik. Warga desa juga akan berpihak. Bolehkah kita?”
“Orang-orang akan mengajukan terlalu banyak pertanyaan,” ujarku dengan mengedikkan bahu.
"Jika begitu mari kita biarkan saja, cukup satu orang yang meneriaki kita pencuri, itu juga kalau dia mampu untuk berteriak," senyum licik menghiasi wajah Marbella.
“Bukankah jauh lebih baik jika kita menerimanya, eh? Kami bukan pencuri, OK!!” Suara Marbella meninggi memandangi paman perampok yang terlihat jengah.
“Ayolah kita lupakan saja ide itu Marbi," ucapku.
“Kalau begitu, mari kita curi kuda perampok itu," Marbella masih berusaha bernegosiasi seolah malam tidak akan selesai dengan baik kecuali kami mencuri sesuatu. 'Mencuri dari pencuri, begitulah'
"Kita tidak bisa membiarkan paman ini tinggal di sini sepanjang malam," ucapku mengingatkan.
"Dia benar!” Sahut paman perampok itu dengan mendesak. “Aku tidak bisa tinggal di sini sepanjang malam!”
Marbella menghela nafas, dan menjulurkan kepalanya ke luar jendela lagi. “Oke,” katanya.
“Ini kemurahan hati untukmu, perampok. Mulailah berdiri diam sambil menatap lurus ke depan sana, dan jangan mencoba trik apa pun karena jika kau melakukannya, aku
hanya perlu mengucapkan kata- ”
“Jangan mengucapkan sepatah kata pun!” Mohon perampok itu lebih mendesak lagi.
“Baiklah, kau benar-benar cepat paham. Dan kami akan mengambil salah satu kudamu sebagai hukuman dan kau dapat memiliki satu kuda dan keretanya. Cukup adil?” Marbella kembali terlihat luar biasa dengan kata-katanya.
“Apa pun yang kamu katakan!” Jawab paman perampok itu, lalu terlihat dia memikirkan hal lain dan menambahkan dengan tergesa-gesa, “Tapi tolong jangan ucapkan kata sihir apapun padaku!" Dengan pandangan matanya terus menatap lurus ke depan dari tempatnya berdiri.
Marbella berjalan mendahului menuruni tangga dengan paman perampok dan aku mengekori langkahnya menuju kereta kuda. Marbella bargerak memisahkan seekor kuda putih, dan dia juga mengambil sebilah pedang dari dalam kereta. Lalu berbalik menuntun kuda dan kereta membelakangi kami.
“Baiklah, waktunya pergi sekarang, dan kau harus berjanji untuk tidak akan menginjakkan kaki di sini atau mengingat kejadian dan tempat ini lagi, kata-kataku dapat mengejarmu sampai sejauh apapun, Janji?”
“Kalian dapat memegang kata-kataku sebagai pencuri,” ucap perampok itu, perlahan-lahan menurunkan tangan kesisi tubuhnya, menunggu.
“Baik. Kami pasti bisa mempercayai itu,” seraya tangan Marbella mengayun pelan dan aku membalas dengan anggukan kecil.
Pria itu merasa celana dan bajunya meringan saat tikus-tikus itu keluar dan berlari pergi. Dia menunggu sebentar, lalu berbalik, membungkuk dan berlalu, menghilang dalam pekat malam dan suara hujan.
Begitulah kakakku Marbella yang luar biasa mengakhiri kisah perampokan tanpa memakan hari. Selanjutnya, apa yang ditulis wali kota kali ini untuk kami.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Ney Maniez
ohhh penyihir tooo...
penyihir brsaudara
2023-12-25
0
🅚🅘🅘Kᵝ⃟ᴸ𝐙⃝🦜
aku salut blu, tulisanmu panjang dan rapi. Pertahankan!
2023-06-03
0
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻𝘼𝙎𝙍𝙄k⃟K⃠
hmmmm seruling gading ya
2023-04-10
0