Senja beranjak malam, suasana alun-alun kota Ahem terlihat sedikit lebih hidup dari beberapa waktu sebelumnya.
“Marbi, inikah waktunya?”
“Sebentar lagi, Mars.” jawab Marbella.
“Aku akan berjalan-jalan sebentar, kau jangan melakukan apapun yang akan menarik perhatian orang-orang.” Marbella berjalan dengan empat kakinya menjauh ke arah keramaian.
Aku memandangi sekeliling, mencoba menikmati suasana alun-alun kota yang mulai ramai. Tanpa sengaja pandanganku tertumpu pada sebuah kereta besar bermesin yang berjalan lambat-lambat melewati gedung balai kota dengan kecepatan minimal. Kereta itu membuat lalu lintas tersendat. Sehingga memicu rentetan bunyi klazo. Agak mencolok, kereta besar bewarna hitam pudar setinggi tiga meter yang dilengkapi pintu geser yang dicat kelabu bercampur merah tua.
Aku menjadi penasaran, siapa pengemudi yang mengendarainya lambat-lambat, mungkin mencari alamat? Kalau sudah ketemu, di mana si sopir akan memarkirkan kereta besar itu? Tiba-tiba mataku tertuju pada plakat yang terpasang di kereta besar itu dan menyadarkanku.
Corado. Plakat kendaran kota Corado!
Jantungku langsung berdetak setara kecepatan orang yang berlari kecil. Ada yang salah. Yang benar saja, pikirku. Kendaraan besar kota Corado di alun-alun kota Ahem, di malam ini? Ini bukan sesuatu yang biasa.
Pengawas tidak akan mendatangi kami dengan kendaraan tempur berupa kereta besar hitam ini. Para pengawas seharusnya profesional, bukan?
“Marbi, dimana Marbi?” pandanganku menjelajah mencari keberadaan Marbella. Aku harus segera menemukannya.
Jalan ini memiliki jalur dua arah. Kereta itu mengarah ke barat. Aku hanya perlu berlari ke timur menuju sungai, lalu berbelok beberapa kali, sehingga kereta itu tidak akan dapat menyusul. Tapi kalau begitu aku tidak akan pernah tahu apakah kami menjadi objek pengamatan seseorang. Aku tidak suka bila diriku tidak mengetahui sesuatu. Jadi aku memutuskan akan berlari ke arah barat, bersegera menghampiri Marbella yang terlihat asik berkerumun menyaksikan pertunjukan kartu.
“Marbi, kita harus bergerak.” Aku memangku Marbella yang terkejut.
“Ada apa?”
“Aku tidak tahu pasti, tapi aku rasa kita sedang diikuti.” jawabku sambil mempercepat langkah. Aku sengaja tidak berlari cepat agar kereta itu tidak kesulitan menyusul diantara ramainya kendaraan.
Benar saja, kereta itu meluncur dari posisinya dan membuntuti. Aku mulai menambah kecepatan dan berlari, sebagian untuk mengetahui reaksi kereta itu, sebagian lagi untuk menghangatkan tubuh, suhu malam ini turun menjadi begitu dingin. Sekarang kereta itu berjarak sekitar seratus kaki, terperangkap diantara sederetan kereta kecil.
“Apakah kita korban pengkhianatan dari sebuah rencana?” gerutu Marbella.
“Aku tidak tahu, tapi kemungkinan itu ada.” Sahutku dan terus menambah kecepatan berlari menuju jalan satu arah di depan sana.
Aku menerobos persimpangan, kereta itu berhenti memberi jarak dan mungkin memperhatikan arah pergerakanku. Ketika menoleh aku dapat melihat sedikitnya ada tiga orang di kursi depan kereta. Menyusuri sisi jalan yang sedikit lengang aku memutuskan untuk kembali menyeberang, dan berusaha berjalan setenang mungkin mengambil arah berlawanan dengan kereta itu.
Semakin jelas terlihat wajah penguntit. Pengemudi keretanya berusia lebih tua, dia memiliki rambut agak panjang dan janggut lebat sewarna abu perapian. Wajah gemuk dan bahunya yang menonjol menunjukkan pria itu berat. Pria di sampingnya terlihat berusia lebih muda, dengan perawakan sedang. Dan seorang lainnya tengah berdiri, pria dengan tubuh tinggi kurus, matanya membelalak, diam-diam melihat kearah ku. Aku bersikeras menolak melakukan kontak mata, seolah yakin belum ketahuan. Aku terus berjalan, mempercepat langkah kembali menuju alun-alun.
“Marbi, ada yang tidak benar.”
“Ya, sangat terlihat.” ujar Marbella.
“Jadi, bagaimana menurutmu?” tukasku.
“Bagaimana apanya? Kita lakukan seperti yang dia inginkan.” Marbella menyeringai.
“Marbi, aku ingin penjelasan untuk perubahan rencana jika itu ada.”
“Bawa aku ke sisi yang lebih sepi, aku akan jelaskan dengan cepat.” pinta Marbella.
“Baik. Kereta itu tidak dapat berbelok segera, kita punya cukup waktu.” Aku mempercepat langkah.
*****
“Jangan pernah pergi ke Hutan Gelap, temanku,” Ucapku kepada James. “Ada hal-hal buruk di sana.” Dari sisi terluar kota Ahem, jauh di bawah cakar Marbella, tikus-tikus itu merayap melalui tanah di sepanjang jalur bawah kota Ahem. Kota-kota tua memang seperti itu. Orang-orang membangun di bawah dan juga atas. Ruang bawah tanah berbenturan dengan ruang bawah tanah lain, dan beberapa ruang bawah tanah dilupakan - kecuali oleh makhluk yang ingin tetap tidak terlihat.
Dalam kegelapan yang pekat, hangat, dan lembab, sebuah suara berkata, “Baiklah, siapa yang punya korek api?”
“Aku,” sahut Jae.
“Bagus, tikus muda. Dan siapa yang memiliki lilin?”
“Saya, Pak. Saya Jimmy.”
“Baik. Letakkan dan Mars akan menyalakannya.” suara James menggema.
Terdengar keluhan riuh rendah dalam kegelapan. Tidak semua tikus terbiasa dengan ide membuat api, dan ada pula yang menyingkir.
Ada suara garukan, lalu korek api menyala. Sambil memegang korek api, aku menyalakan api pada benang rintisan lilin. Nyala api membengkak sejenak dan menetap menjadi cahaya yang stabil.
“Ini bagus, semua menjadi terlihat.” James tersenyum puas.
“Ya, terima kasih, manusia tidak mendapat berkat sebaik kalian dalam kegelapan.” ucapku.
“Bisakah kau benar-benar melihatnya?” kata Jisu mendekati James.
“Ya, Pak,” balas James. “Saya tidak sepenuhnya buta. Saya bisa membedakan antara terang dan gelap.” ucapnya dengan wajah yang dibuat sedikit angkuh.
“Kau tahu,”kata Jiso mengamati nyala api dengan curiga, “Saya sama sekali tidak menyukainya. Kegelapan sudah cukup baik untuk kami. Ini akan berakhir dengan masalah. Selain itu, membakar lilin adalah pemborosan makanan yang sangat enak.” sambung Jiso sambil memandangi lilin yang menyala.
"Kita harus bisa mengendalikan apinya, Pak," ucap James dengan tenang.
"Hruh," gerutu Jiso, yang merupakan tanggapannya yang biasa ketika dia tidak mengerti apa yang baru saja diucapkan. Baru-baru ini dia sering mengalami gangguan.
"Aku pernah mendengar tikus-tikus yang lebih muda mengatakan bahwa bayangan itu menakutkan bagi mereka," ucapku.
“Mengapa?” Jiso mendongakkan kepalanya menatapku. “Mereka tidak takut pada kegelapan total, bukan? Berada dalam kegelapan adalah inti dari tikus!”
"Aneh," ucapku.
"kita tidak tahu bayangan itu ada di sana sampai kita mendapatkan cahaya." Salah satu tikus yang lebih muda mengeluarkan suara sambil melangkah menghampiri Jiso. “Um ... dan bahkan ketika cahayanya padam, kita tahu bayang-bayang masih ada,”katanya.
Jiso berbalik ke arah tikus muda itu. “Kau-?”
“Jimmy, Pak!” kata tikus yang lebih muda.
“Well, Jimmy,” James menyela dengan suara ramah, “takut pada bayangan adalah bagian dari cara kita semua menjadi lebih cerdas, menurutku. Pikiran kita sedang memikirkan bahwa ada kita, dan juga segala sesuatu di luar kita. Jadi sekarang kita tidak hanya takut pada hal-hal yang dapat kita lihat dan dengar dan cium, tetapi juga pada hal-hal yang kita dapat… semacam… lihat di dalam kepala kita. Belajar menghadapi bayangan di luar membantu kita melawan bayangan di dalam. Dan kita bisa mengendalikan semua kegelapan. Ini kemajuan. Sudah dilakukan dengan baik.”
Jimmy tampak sedikit bangga, tetapi sebagian besar gugup mendapat tanggapan dari tikus utama dikelompok, James.
"Saya sendiri tidak mengerti maksudnya," kata Jiso. “Kami dulu melakukan semua yang benar di tempat pembuangan sampah. Saya tidak pernah takut pada apa pun.” Ujarnya.
"Kami menjadi mangsa setiap kucing liar dan anjing lapar, Pak," ucap Jimmy.
“Oh, baiklah, kalau kita akan membicarakan kucing,”geram Jiso.
"Saya pikir kita bisa mempercayai Marbella." ujar James.
“Mungkin tidak dalam hal uang, saya akui. Tapi dia sangat pandai tidak memakan yang berbicara, lho. Dia memastikan itu, setiap saat.” James tersenyum.
“Kau bisa mempercayai kucing untuk menjadi kucing,” ucap Jiso sinis. “Berbicara atau tidak!”
“Ya pak. Tapi kita berbeda, begitu juga dia. Saya percaya dia adalah kucing yang baik hati.” tukas James.
“Hmmm.... Itu masih harus dilihat,” sela ku menggoda kedua tikus yang sulit untuk saling setuju itu. Aku sungguh merasa lucu para tikus kadang melupakan Marbella adalah seorang manusia. Mungkin karena seringainya yang terlalu meyakinkan sebagai seekor kucing.
"Tapi sekarang kita di sini, mari kita bereskan apa yang sudah menjadi rencana"! Ucapku
“Lakukan seperti yang ia perintahkan.” suara Jiso mejadi lantang dan dingin.
“Ya, Pak,” gemuruh suara kelompok menggema.
“Bersiaplah,” gumamnya. Dan dia berjalan ke dalam bayang-bayang.
Aku melihat ke sekeliling ruang bawah tanah, yang dipenuhi bayangan gemetar yang diciptakan oleh cahaya lilin. Tetesan air mengalir di salah satu dinding berkerak. Di sana-sini batu-batu berjatuhan, meninggalkan lubang. Tanah menutupi lantai, dan tidak ada jejak kaki manusia di dalamnya.
Ini rencana diluar rencana yang direncanakan Marbella beberapa saat yang lalu.
____________________
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
꧁☠︎𝕱𝖗𝖊𝖊$9𝖕𝖊𝖓𝖉𝖔𝖘𝖆²꧂
ajaib, tikus dan kucing bisa berdiskusi dan saling bekerja sama.
dan untuk susunan rencananya patut di acungi jempol 👍
2023-03-31
0
✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻ɢ⃟꙰ⓂSARTINI️⏳⃟⃝㉉
waspadalah marbella,jaga keamanan diri sendiri
2023-03-22
0
Milktea_Girl
"dia berlari dengan ke empat kakinya" dia itu manusia atau kucing?
2023-01-18
1