Chapter VII

Senja beranjak malam, suasana alun-alun kota Ahem terlihat sedikit lebih hidup dari beberapa waktu sebelumnya.

“Marbi, inikah waktunya?”

“Sebentar lagi, Mars.” jawab Marbella.

“Aku akan berjalan-jalan sebentar, kau jangan melakukan apapun yang akan menarik perhatian orang-orang.” Marbella berjalan dengan empat kakinya menjauh ke arah keramaian.

Aku memandangi sekeliling, mencoba menikmati suasana alun-alun kota yang mulai ramai. Tanpa sengaja pandanganku tertumpu pada sebuah kereta besar bermesin yang berjalan lambat-lambat melewati gedung balai kota dengan kecepatan minimal. Kereta itu membuat lalu lintas tersendat. Sehingga memicu rentetan bunyi klazo. Agak mencolok, kereta besar bewarna hitam pudar setinggi tiga meter yang dilengkapi pintu geser yang dicat kelabu bercampur merah tua.

Aku menjadi penasaran, siapa pengemudi yang mengendarainya lambat-lambat, mungkin mencari alamat? Kalau sudah ketemu, di mana si sopir akan memarkirkan kereta besar itu? Tiba-tiba mataku tertuju pada plakat yang terpasang di kereta besar itu dan menyadarkanku.

Corado. Plakat kendaran kota Corado!

Jantungku langsung berdetak setara kecepatan orang yang berlari kecil. Ada yang salah. Yang benar saja, pikirku. Kendaraan besar kota Corado di alun-alun kota Ahem, di malam ini? Ini bukan sesuatu yang biasa.

Pengawas tidak akan mendatangi kami dengan kendaraan tempur berupa kereta besar hitam ini. Para pengawas seharusnya profesional, bukan?

“Marbi, dimana Marbi?” pandanganku menjelajah mencari keberadaan Marbella. Aku harus segera menemukannya.

Jalan ini memiliki jalur dua arah. Kereta itu mengarah ke barat. Aku hanya perlu berlari ke timur menuju sungai, lalu berbelok beberapa kali, sehingga kereta itu tidak akan dapat menyusul. Tapi kalau begitu aku tidak akan pernah tahu apakah kami menjadi objek pengamatan seseorang. Aku tidak suka bila diriku tidak mengetahui sesuatu. Jadi aku memutuskan akan berlari ke arah barat, bersegera menghampiri Marbella yang terlihat asik berkerumun menyaksikan pertunjukan kartu.

“Marbi, kita harus bergerak.” Aku memangku Marbella yang terkejut.

“Ada apa?”

“Aku tidak tahu pasti, tapi aku rasa kita sedang diikuti.” jawabku sambil mempercepat langkah. Aku sengaja tidak berlari cepat agar kereta itu tidak kesulitan menyusul diantara ramainya kendaraan.

Benar saja, kereta itu meluncur dari posisinya dan membuntuti. Aku mulai menambah kecepatan dan berlari, sebagian untuk mengetahui reaksi kereta itu, sebagian lagi untuk menghangatkan tubuh, suhu malam ini turun menjadi begitu dingin. Sekarang kereta itu berjarak sekitar seratus kaki, terperangkap diantara sederetan kereta kecil.

“Apakah kita korban pengkhianatan dari sebuah rencana?” gerutu Marbella.

“Aku tidak tahu, tapi kemungkinan itu ada.” Sahutku dan terus menambah kecepatan berlari menuju jalan satu arah di depan sana.

Aku menerobos persimpangan, kereta itu berhenti memberi jarak dan mungkin memperhatikan arah pergerakanku. Ketika menoleh aku dapat melihat sedikitnya ada tiga orang di kursi depan kereta. Menyusuri sisi jalan yang sedikit lengang aku memutuskan untuk kembali menyeberang, dan berusaha berjalan setenang mungkin mengambil arah berlawanan dengan kereta itu.

Semakin jelas terlihat wajah penguntit. Pengemudi keretanya berusia lebih tua, dia memiliki rambut agak panjang dan janggut lebat sewarna abu perapian. Wajah gemuk dan bahunya yang menonjol menunjukkan pria itu berat. Pria di sampingnya terlihat berusia lebih muda, dengan perawakan sedang. Dan seorang lainnya tengah berdiri, pria dengan tubuh tinggi kurus, matanya membelalak, diam-diam melihat kearah ku. Aku bersikeras menolak melakukan kontak mata, seolah yakin belum ketahuan. Aku terus berjalan, mempercepat langkah kembali menuju alun-alun.

“Marbi, ada yang tidak benar.”

“Ya, sangat terlihat.” ujar Marbella.

“Jadi, bagaimana menurutmu?” tukasku.

“Bagaimana apanya? Kita lakukan seperti yang dia inginkan.” Marbella menyeringai.

“Marbi, aku ingin penjelasan untuk perubahan rencana jika itu ada.”

“Bawa aku ke sisi yang lebih sepi, aku akan jelaskan dengan cepat.” pinta Marbella.

“Baik. Kereta itu tidak dapat berbelok segera, kita punya cukup waktu.” Aku mempercepat langkah.

*****

“Jangan pernah pergi ke Hutan Gelap, temanku,” Ucapku kepada James. “Ada hal-hal buruk di sana.” Dari sisi terluar kota Ahem, jauh di bawah cakar Marbella, tikus-tikus itu merayap melalui tanah di sepanjang jalur bawah kota Ahem. Kota-kota tua memang seperti itu. Orang-orang membangun di bawah dan juga atas. Ruang bawah tanah berbenturan dengan ruang bawah tanah lain, dan beberapa ruang bawah tanah dilupakan - kecuali oleh makhluk yang ingin tetap tidak terlihat.

Dalam kegelapan yang pekat, hangat, dan lembab, sebuah suara berkata, “Baiklah, siapa yang punya korek api?”

“Aku,” sahut Jae.

“Bagus, tikus muda. Dan siapa yang memiliki lilin?”

“Saya, Pak. Saya Jimmy.”

“Baik. Letakkan dan Mars akan menyalakannya.” suara James menggema.

Terdengar keluhan riuh rendah dalam kegelapan. Tidak semua tikus terbiasa dengan ide membuat api, dan ada pula yang menyingkir.

Ada suara garukan, lalu korek api menyala. Sambil memegang korek api, aku menyalakan api pada benang rintisan lilin. Nyala api membengkak sejenak dan menetap menjadi cahaya yang stabil.

“Ini bagus, semua menjadi terlihat.” James tersenyum puas.

“Ya, terima kasih, manusia tidak mendapat berkat sebaik kalian dalam kegelapan.” ucapku.

“Bisakah kau benar-benar melihatnya?” kata Jisu mendekati James.

“Ya, Pak,” balas James. “Saya tidak sepenuhnya buta. Saya bisa membedakan antara terang dan gelap.” ucapnya dengan wajah yang dibuat sedikit angkuh.

“Kau tahu,”kata Jiso mengamati nyala api dengan curiga, “Saya sama sekali tidak menyukainya. Kegelapan sudah cukup baik untuk kami. Ini akan berakhir dengan masalah. Selain itu, membakar lilin adalah pemborosan makanan yang sangat enak.” sambung Jiso sambil memandangi lilin yang menyala.

"Kita harus bisa mengendalikan apinya, Pak," ucap James dengan tenang.

"Hruh," gerutu Jiso, yang merupakan tanggapannya yang biasa ketika dia tidak mengerti apa yang baru saja diucapkan. Baru-baru ini dia sering mengalami gangguan.

"Aku pernah mendengar tikus-tikus yang lebih muda mengatakan bahwa bayangan itu menakutkan bagi mereka," ucapku.

“Mengapa?” Jiso mendongakkan kepalanya menatapku. “Mereka tidak takut pada kegelapan total, bukan? Berada dalam kegelapan adalah inti dari tikus!”

"Aneh," ucapku.

"kita tidak tahu bayangan itu ada di sana sampai kita mendapatkan cahaya." Salah satu tikus yang lebih muda mengeluarkan suara sambil melangkah menghampiri Jiso. “Um ... dan bahkan ketika cahayanya padam, kita tahu bayang-bayang masih ada,”katanya.

Jiso berbalik ke arah tikus muda itu. “Kau-?”

“Jimmy, Pak!” kata tikus yang lebih muda.

“Well, Jimmy,” James menyela dengan suara ramah, “takut pada bayangan adalah bagian dari cara kita semua menjadi lebih cerdas, menurutku. Pikiran kita sedang memikirkan bahwa ada kita, dan juga segala sesuatu di luar kita. Jadi sekarang kita tidak hanya takut pada hal-hal yang dapat kita lihat dan dengar dan cium, tetapi juga pada hal-hal yang kita dapat… semacam… lihat di dalam kepala kita. Belajar menghadapi bayangan di luar membantu kita melawan bayangan di dalam. Dan kita bisa mengendalikan semua kegelapan. Ini kemajuan. Sudah dilakukan dengan baik.”

Jimmy tampak sedikit bangga, tetapi sebagian besar gugup mendapat tanggapan dari tikus utama dikelompok, James.

"Saya sendiri tidak mengerti maksudnya," kata Jiso. “Kami dulu melakukan semua yang benar di tempat pembuangan sampah. Saya tidak pernah takut pada apa pun.” Ujarnya.

"Kami menjadi mangsa setiap kucing liar dan anjing lapar, Pak," ucap Jimmy.

“Oh, baiklah, kalau kita akan membicarakan kucing,”geram Jiso.

"Saya pikir kita bisa mempercayai Marbella." ujar James.

“Mungkin tidak dalam hal uang, saya akui. Tapi dia sangat pandai tidak memakan yang berbicara, lho. Dia memastikan itu, setiap saat.” James tersenyum.

“Kau bisa mempercayai kucing untuk menjadi kucing,” ucap Jiso sinis. “Berbicara atau tidak!”

“Ya pak. Tapi kita berbeda, begitu juga dia. Saya percaya dia adalah kucing yang baik hati.” tukas James.

“Hmmm.... Itu masih harus dilihat,” sela ku menggoda kedua tikus yang sulit untuk saling setuju itu. Aku sungguh merasa lucu para tikus kadang melupakan Marbella adalah seorang manusia. Mungkin karena seringainya yang terlalu meyakinkan sebagai seekor kucing.

"Tapi sekarang kita di sini, mari kita bereskan apa yang sudah menjadi rencana"! Ucapku

“Lakukan seperti yang ia perintahkan.” suara Jiso mejadi lantang dan dingin.

“Ya, Pak,” gemuruh suara kelompok menggema.

“Bersiaplah,” gumamnya. Dan dia berjalan ke dalam bayang-bayang.

Aku melihat ke sekeliling ruang bawah tanah, yang dipenuhi bayangan gemetar yang diciptakan oleh cahaya lilin. Tetesan air mengalir di salah satu dinding berkerak. Di sana-sini batu-batu berjatuhan, meninggalkan lubang. Tanah menutupi lantai, dan tidak ada jejak kaki manusia di dalamnya.

Ini rencana diluar rencana yang direncanakan Marbella beberapa saat yang lalu.

____________________

Terpopuler

Comments

꧁☠︎𝕱𝖗𝖊𝖊$9𝖕𝖊𝖓𝖉𝖔𝖘𝖆²꧂

꧁☠︎𝕱𝖗𝖊𝖊$9𝖕𝖊𝖓𝖉𝖔𝖘𝖆²꧂

ajaib, tikus dan kucing bisa berdiskusi dan saling bekerja sama.
dan untuk susunan rencananya patut di acungi jempol 👍

2023-03-31

0

✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻ɢ⃟꙰ⓂSARTINI️⏳⃟⃝㉉

✤͙❁͙⃟͙Z͙S͙༻ɢ⃟꙰ⓂSARTINI️⏳⃟⃝㉉

waspadalah marbella,jaga keamanan diri sendiri

2023-03-22

0

Milktea_Girl

Milktea_Girl

"dia berlari dengan ke empat kakinya" dia itu manusia atau kucing?

2023-01-18

1

lihat semua
Episodes
1 Chapter I
2 Chapter II
3 Chapter III
4 Chapter IV
5 Chapter V
6 Chapter VI
7 Chapter VII
8 Chapter VIII
9 Chapter IX
10 Chapter X
11 Chapter XI
12 Chapter XII
13 Chapter XIII
14 Chapter XIV
15 Chapter XV
16 Chapter XVI
17 Chapter XVII
18 Chapter XVIII
19 Chapter XIX
20 Chapter XX
21 Chapter XXI
22 Chapter XXII
23 Chapter XXIII
24 Chapter XXIV
25 Chapter XXV
26 Chapter XXVI
27 Chapter XXVII
28 Chapter XXVIII
29 Chapter XXIX
30 Chapter XXX
31 Chapter XXXI
32 Chapter XXXII
33 Chapter XXXIII
34 Chapter XXXIV
35 Chapter XXXV
36 Chapter XXXVI
37 Chapter XXXVII
38 Chapter XXXVIII
39 Chapter XXXIX
40 Chapter XL
41 Chapter XLI
42 Chapter XLII
43 Chapter XLIII
44 Chapter XLIV
45 Chapter XLV
46 Chapter XLVI
47 Chapter XLVII
48 Chapter XLVIII
49 Chapter XLIX
50 Chapter L
51 Chapter LI
52 Chapter LII
53 Chapter LIII
54 Chapter LIV
55 Chapter LV
56 Chapter LVI
57 Chapter LVII
58 Chapter LVIII
59 Chapter LIX
60 Chapter LX
61 Chapter LXI
62 Chapter LXII
63 Chapter LXIII
64 Chapter LXIV
65 Chapter LXV
66 Chapter LXVI
67 Chapter LXVII
68 Chapter LXVIII
69 Chapter LXIX
70 Chapter LXX
71 Chapter LXXI
72 Chapter LXXII
73 Chapter LXXIII
74 Chapter LXXIV
75 Chapter LXXV
76 Chapter LXXVI
77 Chapter LXXVII
78 Chapter LXXVIII
79 Chapter LXXIX
80 Chapter LXXX
81 Chapter LXXXI
82 Chapter LXXXII
83 Chapter LXXXIII
84 Chapter LXXXIV
85 Chapter LXXXV
86 Chapter LXXXVI
87 Chapter LXXXVII
88 Chapter LXXXVIII
89 LXXXIX
90 Chapter XC
91 Chapter XCI
92 Chapter XCII
93 Chapter XCIII
94 Chapter XCIV
Episodes

Updated 94 Episodes

1
Chapter I
2
Chapter II
3
Chapter III
4
Chapter IV
5
Chapter V
6
Chapter VI
7
Chapter VII
8
Chapter VIII
9
Chapter IX
10
Chapter X
11
Chapter XI
12
Chapter XII
13
Chapter XIII
14
Chapter XIV
15
Chapter XV
16
Chapter XVI
17
Chapter XVII
18
Chapter XVIII
19
Chapter XIX
20
Chapter XX
21
Chapter XXI
22
Chapter XXII
23
Chapter XXIII
24
Chapter XXIV
25
Chapter XXV
26
Chapter XXVI
27
Chapter XXVII
28
Chapter XXVIII
29
Chapter XXIX
30
Chapter XXX
31
Chapter XXXI
32
Chapter XXXII
33
Chapter XXXIII
34
Chapter XXXIV
35
Chapter XXXV
36
Chapter XXXVI
37
Chapter XXXVII
38
Chapter XXXVIII
39
Chapter XXXIX
40
Chapter XL
41
Chapter XLI
42
Chapter XLII
43
Chapter XLIII
44
Chapter XLIV
45
Chapter XLV
46
Chapter XLVI
47
Chapter XLVII
48
Chapter XLVIII
49
Chapter XLIX
50
Chapter L
51
Chapter LI
52
Chapter LII
53
Chapter LIII
54
Chapter LIV
55
Chapter LV
56
Chapter LVI
57
Chapter LVII
58
Chapter LVIII
59
Chapter LIX
60
Chapter LX
61
Chapter LXI
62
Chapter LXII
63
Chapter LXIII
64
Chapter LXIV
65
Chapter LXV
66
Chapter LXVI
67
Chapter LXVII
68
Chapter LXVIII
69
Chapter LXIX
70
Chapter LXX
71
Chapter LXXI
72
Chapter LXXII
73
Chapter LXXIII
74
Chapter LXXIV
75
Chapter LXXV
76
Chapter LXXVI
77
Chapter LXXVII
78
Chapter LXXVIII
79
Chapter LXXIX
80
Chapter LXXX
81
Chapter LXXXI
82
Chapter LXXXII
83
Chapter LXXXIII
84
Chapter LXXXIV
85
Chapter LXXXV
86
Chapter LXXXVI
87
Chapter LXXXVII
88
Chapter LXXXVIII
89
LXXXIX
90
Chapter XC
91
Chapter XCI
92
Chapter XCII
93
Chapter XCIII
94
Chapter XCIV

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!